
Setelah selesai belanja Melodi dan Wildan membayar belanjaan mereka ke kasir.
"Total semuanya lima belas juta Pak" ucap kasir.
"Apa belanja cuma segini semahal itu?" tanya Melodi terkejut.
"Iya Pak, satu jaket ini saja harganya lima juta Pak" jawab kasir sambil mengangkat jaket milik Cinta.
Melodi melirik ke arah Cinta tapi Cinta langsung buang muka pura - pura tidak tau.
"Udah Od kamu keberatan? Sini aku aja yang bayar" potong Wildan
"Tidak.. tidak.. biar aku saja yang bayar. Harga segitu sih belum seberapa. Aku hanya terkejut saja mendengar angkanya tadi. Aku hanya tidak menyangka belanjaan kita sebanyak itu" tolak Melodi.
Pinter juga kamu pilih barang bagus ya.. Cih dasar cewek matre, gayanya aja yang sok polos ternyata suhu. Umpat Melodi kesal.
Melodi mengekuarkan kartu ATM nya untuk membayar semua belanjaan mereka.
"Wil lebih baik kamu antar semua barang belanjaan ini ke mobil. Biar aku yang temani Cinta belanja bahan makanan" perintah Melodi.
"Okey... " sambut Wildan.
Duh gawat, itu artinya hanya kami berdua yang belanja. Aku harus menangis apa bahagia ya.. berasa jalan sama ayank diajak belanja keperluan rumah. Tapi aku gak mau punya ayank sedingin gunung di Kutub Utara. Teriak hari Cinta.
Wildan membawa semua barang belanjaan mereka ke mobil dan kini hanya Cinta dan Melodi yang tinggal.
"Ayo tunjukkan dimana supermarket yang menjual bahan makanan" perintah Melodi.
"I.. Iya Pak. Mari.. " ajak Cinta.
Mereka berjalan berdua dan bersisian. Melodi sengaja memperlambat langkahnya untuk menyesuaikan dengan langkah Cinta.
Cinta mengambil satu troli dan mendorongnya, Melodi mengikuti nya dari belakang.
"Kita belanja untuk makanan hari ini saja atau... ?" tanya Cinta.
"Untuk makanan tiga hari selama aku ada di Mes" jawab Melodi tegas.
"Oh baiklah Pak" jawab Cinta cepat.
Cinta mulai memilih bahan - bahan makanan yang dia butuhkan. Melodi memperhatikan mimik wajah Cinta yang tampak serius.
Kalau diam seperti ini sebenarnya kamu cantik, tapi kalau udah ngomel uh ngeselin. Apalagi kalau manja - manja dengan pria itu. Geli aku melihatnya. Batin Melodi.
Sudah banyak belanjaan yang ada di dalam troli membuat Cinta kesulitan untuk mendorongnya. Melodi mengambil alih dan memegang troli.
Tanpa sengaja tangan mereka saling bersentuhan sesaat. Ada getaran aneh di hati keduanya. Cinta langsung menarik tangannya sedangkan Melodi kini yang mendorong troli.
"Sudah selesai belanjanya?" tanya Melodi.
"Sudah Pak" jawab Cinta.
"Ya sudah kita ke kasir untuk membayarnya" ajak Melodi.
Mereka berjalan menuju meja kasir. Hati Cinta terasa berbunga - bunga.
Apa begini ya rasanya belanja dengan suami. Uh so sweet banget yak, punya suami ganteng, kaya dan... ah tidak.. tidak.. Di Bos sangat kaku dan dingin. Bantah hati Cinta segera.
Melodi membayar semua belanjaan mereka kemudian menghubungi Wildan.
"Dimana kamu?" tanya Melodi.
"Di mobil" jawab Wildan.
"Mengapa tidak kembali?" tanya Melodi kesal.
Telepon terputus, Wildan tersenyum menang.
Hahaha aku sengaja meninggalkan kalian belanja berdua saja. Agar kalian semakin dekat. Aku harap kalian tidak bertengkar di sana. Batin Wildan.
"Pak Wildan dimana Pak?" tanya Cinta.
"Di mobil" jawab Melodi.
"Sini Pak biar saya aja yang dorong troli nya" pinta Cinta.
Melodi menyerahkan troli kepada Cinta. Tiba - tiba ada ibu - ibu yang menegur sikap Melodi tersebut.
"Mas jadi cowok kok gak perhatian banget sih sama istrinya. Lihat istri kewalahan dorong troli dibiarin aja. Masnya donk yang dorong. Jadikan istri itu sebagai ratu Mas dalam rumah tangga pasti hidup Mas akan bahagia Tampang ganteng kok tegaan sih" ucap pria itu
Sontak Melodi menatap tajam wajah ibu - ibu itu. Tapi yang namanya ibu - ibu tidak akan ada yang menang melawannya. Melodi hendak bicara tapi langsung di cegah Cinta.
"Suami saya lengannya sedang sakit Bu. Kalau tidak sedang sakit suami saya paling perhatian kok sama istrinya. Mungkin suami ibu kalah di banding suami saya. Mana suami saya ganteng dan kaya lagi. Mungkin ibu iri ya melihat saya karena punya suami seganteng ini" balas Cinta.
Melodi menatap Cinta dengan mata melotot. Dia tidak menyangka Cinta akan membalas kata - kata wanita itu dengan cara seperti itu.
"Yuk Mas gak usah di dengerin omongan ibu ini. Mungkin dia kurang piknik, buktinya jalan - jalan ke Mall sendirian gak ditemani suaminya" ajak Cinta sambil tetap membalas ibu - ibu tadi.
Dengan cuek Cinta mendorong troli berisi belanjaan mereka. Melodi mengikutinya dari belakang. Tanpa Melodi sadari bibirnya tak berhenti tersenyum karena Cinta sudah membelanya tadi di hadapan ibu - ibu julid itu.
Melodi juga baru menyadari kalau baru kali ini dia pergi berbelanja dengan seorang wanita seperti ini. Biasanya dia hanya ajak para wanitanya makan, ke diskotik dan berakhir di ranjang. Selebihnya dia hanya memberikan uang kepada wanita - wanita itu untuk membeli apa yang mereka butuhkan.
Dan Melodi tidak pernah perhitungan dengan uang. Baginya itu bukan merupakan sebuah masalah. Karena uang bisa dia cari. Dia punya perusahaan besar dan karir bisnis yang bagus. Melodi tidak pernah takut jatuh miskin.
"Maaf Pak kalau tadi saya berkata begitu" ucap Cinta sungkan.
"Tidak apa, kamu kan berusaha membantu saya. Hampir saja tadi saya semprot ibu - ibu itu" sambut Melodi.
"Manusia seperti itu sudah biasa Pak. Sirik tanda tak mampu. Mungkin dia lagi kesal pergi ke Mall gak ditemani suaminya" ujar Cinta tersenyum.
Kamu keren tadi Cin saat membela aku. Kata - kata kamu ngena banget tuh sama si ibuk. Pasti ibu itu kesal banget mendengar omongan kamu, hebaaat. Puji Melodi dalam hatin
Mereka berjalan sampai ke parkiran mobil. Wildan yang menatap dari kejauhan bagaimana Cinta dengan susah patah mendorong troli sedangkan Melodi santai berjalan di sampingnya.
Wildan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Melodi.
Dasar si kunyuk ini, gak ada perhatiannya lihat si Cinta kesusahan seperti itu. Umpat Wildan dalam hati.
Wildan langsung keluar mobil dan menyambut troli Cinta.
"Kamu ini memang Odiiii... Odi... gak ada perhatiannya. Gak lihat Cinta kesulitan gini malah kamu biarin sendirian dorong troli. Sini Cin biar aku aja yang bawa" pinta Wildan.
Cinta meregangkan otot tangannya yang pegal.
"Kamu udah kayak ibu - ibu tadi, cerewet banget" bantah Melodi.
"Ya cerewet lah wong perbuatan kamu gak pas. Harusnya kamu yang bawain troli ini bukan Cinta" balas Wildan.
"Cinta aja gak keberatan kok kamu yang sewot" protes Melodi.
"Sebenarnya aku udah keberatan dari tadi Pak, cuma gak mungkin aku biarin Bapak yang bawa. Kan tadi aku bilang sama ibu - ibu itu kalau tangan Bapak lagi sakit. Makanya aku yang bawa troli ini sampai ke sini" potong Cinta.
Cinta langsung mendekati Wildan dan membantunya memasukkan belanjaan mereka ke bagasi mobil. Sedangkan Melodi diam terpaku mendengar ucapan Cinta barusan.
.
.
BERSAMBUNG