
Saat ini mereka sedang sarapan pagi di restoran hotel. Semua berkumpul menikmati hidangan sarapan pagi.
"Pak ada yang ingin saya sampaikan pada Bapak" ujar Wildan.
"Apa itu? Sampaikan saja Nak Wildan gak usah sungkan?" tanya Pak Ramlan.
"Sebenarnya saya minta maaf karena tidak meminta izin kalian dulu tapi orang tua saya mendesak. Mereka tau kalau saat ini saya sedang di Kota ini untuk bertemu dengan keluarga Ratna. Tadi malam Papa Mama saya menghubungi saya dan mereka memaksa untuk datang ke sini. Sebentar lagi orang tua saya akan sampai. Mereka naik pesawat dari Jakarta ke Semarang dengan penerbangan pertama lalu lanjut ke Kota ini" ungkap Wildan.
Traaaang...
Sendok yang Ratna pegang tak sengaja terjatuh di atas piring. Suaranya terdengar sangat nyaring.
"Ka.. kamu serius Mas? Om dan Tante mau datang ke sini?" tanya Ratna.
"Iya, maaf Rat aku belum sempat bilang ke kamu" jawab Wildan.
Ratna menatap Bapak dan Ibunya. Wajahnya terlihat khawatir, bukan dia takut tapi dia cemas keluarganya belum siap untuk bertemu dengan orang tua Wildan.
Begitu juga dengan Papa dan Mama Wildan apakah mereka bisa menerima keadaan keluarganya yang seperti ini? Ratna terlihat sangat khawatir.
"Oh silahkan Nak Wildan, Bapak tidak masalah. Cepat atau lambat kami memang harus bertemu kan untuk membicarakan hubungan kalian? Bapak sudah siap" sambut Pak Ramlan.
"Syukurlah kalau Bapak tidak masalah. Satu jam lagi mereka akan sampai di hotel ini" ujar Wildan.
"Tapi kami tidak melakukan penyambutan Nak Wildan. Rumah masih belum selesai, dan ruko juga masih berantakan. Bapak jari merasa tak enak dengan orang tua Nak Wildan" sahut Pak Ramlan.
"Tidak apa Pak, gak perlu repot - repot juga. Nanti kan bisa kumpul di sini kita bicarakan semuanya. Sekalian Bapak, Ibu dan adik - adik liburan di sini" ujar Wildan.
Pak Ramlan menarik nafas panjang. Sebenarnya dia juga sedang membangun rasa percaya diri untuk bertemu dengan kedua orang tua Wildan yang akan menjadi calon besannya.
Tapi demi kebahagiaan putrinya, Pak Ramlan harus bertingkah lebih bijaksana dan bertanggung jawab. Selama ini dia sudah banyak membuat anaknya menderita. Kali ini dia tidak mau membuat Ratna merasa kecewa.
Setelah selesai sarapan pagi, adik - adiknya Ratna asik bermain di kolam renang hotel. Sedangkan Melodi, Cinta, Wildan, Ratna dan kedua orang tuanya menunggu kedatangan Bapak dan Ibu Raharjo di loby hotel.
Tiba-tiba Pak Ramlan merasa sakit perut.
"Rat Bapak ke kamar dulu ya, perut Bapak sakit sekali. Nanti kalau orang tuanya Nak Wildan sudah datang panggil Bapak" ucap Pak Ramlan.
"Iya Pak, nanti Bapak akan Ratna jemput ke kamar" jawab Ratna.
"Bapak permisi dulu ya" pamit Pak Ramlan pada semua yang ada di sana.
Pak Ramlan segera berjalan menuju kamar dia dan anak - anaknya. Perutnya terasa sangat melilit dan tak bisa ditahan lagi. Pak Ramlan setengah berlari menuju kamarnya.
Sepeninggal Pak Ramlan dari loby hotel tak lama kemudian orang tua Wildan sudah sampai.
"Nah itu dia Papa Mama sudah sampai" ucap Wildan.
Ratna dan Ibunya langsung berdiri begitu juga dengan Melodi dan Cinta. Mereka menyambut kedatangan orang tua Wildan dengan senyuman.
"Akhirnya sampai juga Om" sambut Melodi.
"Iya alhamdulillah" jawab Pak Raharjo.
Melodi dan Cinta menjabat tangan Papa dan Mama Wildan.
"Pa, Ma, kenalin ini Ibunya Ratna" ucap Wildan.
Bu Ramlan menyodorkan tangannya dan langsung di sambut Pak Raharjo dan Bu Raharjo.
"Selamat datang Pak, Bu di Kota kami" ucap Ibu Ratna.
"Jangan panggil begitu Jeng, sebentar lagi kan kita akan besanan" sahut Mama Wildan ramah.
"Kalau begitu saya panggil Mbak Yu aja ya" ujar Bu Ramlan.
"Kalau itu boleh" jawab Mama Wildan.
"Om, Tante.. maaf kampungku jauh ya" ucap Ratna sungkan.
"Tak apa Ratna, sekalian kami liburan. Sudah lama juga gak jalan - jalan" sambut Bu Raharjo.
"Bapak kamu mana?" tanya Pak Raharjo.
"Bapak sedang diatas. Tiba - tiba sakit perut dan balik ke kamar. Sebentar lagi juga akan turun" jawab Ratna.
"Ooo.. " sahut Pak Ramlan.
"Eh iya iya... " sambut Bu Raharjo.
"Om dan Tante mau minum apa? biar saya pesankan" tanya Ratna.
"Kopi aja Rat" jawab Papa Wildan.
"Tante?" sambung Ratna.
"Tante teh hangat aja" jawab Mama Wildan.
"Oke tunggu sebentar ya" sahut Ratna.
"Gimana perjalanannya Tante?" tanya Cinta.
"Seru Cin, dari dulu Tante suka liburan begini. Tapi udah tua baru bisa, habis waktu muda Om sibuk urusin kantor melulu. Sekarang mau jalan - jalan jauh udah gak kuat" jawab Mama Wildan.
Bu Ramlan memperhatikan sikap calon besannya. Pantas saja Wildan terlihat sangat baik ternyata dia lahir dan dididik oleh orang tua yang seperti mereka.
Walau kaya Papa dan Mama Wildan tampak sangat menghargai orang lain. Selain mereka rendah hati, baik dan ramah, mereka juga terlihat asik diajak ngobrol. Bukan tipe orang yang pendiam juga.
Mudah - mudahan mereka sayang pada Ratna. Doa Bu Ramlan dalam hati.
"Adik - adik Ratna mana? Kata Wildan punya tiga adik perempuan?" tanya Mama Wildan.
"Mereka sedang berenang Mbak Yu, maklumlah anak - anak" jawab Bu Ramlan.
"Oh bukan hanya anak - anak saja, saja sudah setua ini juga masih suka main air, suka berenang" sambut Mama Wildan akrab.
Bu Ramlan tersenyum lebar mendengar jawaban wanita yang ada di depannya. Wanita kaya tapi tampilannya tidak berlebihan. Tampak berkelas tapi tidak lebay.
Wanita yang tampak bernilai dengan anggun tapi tetap terlihat humoris dan sangat hangat. Sebenarnya di dalam hati Bu Ramlan sudah bisa menduga kalau Mamanya Wildan pasti cocok banget dengan Cinta dan Ratna.
Karakter mereka hampir sama suka bercanda dan bicara ceplas - ceplos. Tapi walau begitu Bu Ramlan tetap cemas karena mereka berasal dari keluarga sederhana. Apakah benar mereka bisa menerima Ratna apa adanya.
Tak lama Ratna kembali dengan seorang pelayanan restoran yang membawa minuman Bapak dan Ibu Raharjo. Wanita itu menghidangkannya tepat di depan tempat duduk Bapak dan Ibu Raharjo.
"Bapak kamu kok lama ya Rat?" tanya Bu Ramlan sungkan.
"Santai aja Bu, mungkin Bapak memang beneran sakit perutnya" jawab Wildan.
Tak lama kemudian dari kejauhan Pak Ramlan berjalan menuju restoran dan langsung bergerak menuju meja tempat keluarganya duduk tadi
"Nah itu Bapak" tunjuk Wildan.
"Maaf kalian lama menunggu ya" ucap Pak Ramlan.
"Tidak apa Pak. Pak kenalkan ini orang tua aku" sambut Wildan.
"Oh ya udah datang rupanya. Maaf saya terlambat. Ramlan" ujar Pak Ramlan sambil menyodorkan tangannya ke arah Papa dan Mama Wildan.
Papa dan Mama Wildan langsung berdiri untuk menghormati calon besannya dan menyambut uluran tangan Pak Wildan
"Ah tidak apa, saya Raharjo" sambut Pak Raharjo.
Sontak Pak Ramlan seperti sedang memikirkan sesuatu sambil mengenali wajah pria yang ada di hadapannya. Pak Raharjo menyipitkan matanya dan mengingat sesuatu.
"Raharjo dari PT. Raharjo Pelangi?" tanya Pak Ramlan.
"Ya, kamu mengenal anak salah satu anak perusahaan saya?" tanya Pak Raharjo terkejut.
Pak Ramlan sontak melepaskan tangannya begitu saja. Wajahnya tampak berubah serius dan marah. Dia menatap wajah istrinya.
"Bu kita pulang" ajak Pak Ramlan.
.
.
Ada apa dengan Pak Raharjo?
Lanjut baca bab selanjutnya ya guys..
Sabar tunggu hari esok... 😍😍
BERSAMBUNG