
Cinta sudah sampai di apartement Melodi tapi apartement ini masih gelap gulita. Itu artinya Melodi atau Wildan belum pulang.
Cinta menyalakan semua lampu agar terang benderang.
"Tumben si Bos belum sampai, padahal tadi aku lihat mobilnya sudah keluar kantor?" gumam Cinta sendiri.
Cinta memperhatikan hasil kerja Ratna dihari pertamanya.
Bagus, Ratna sudah bekerja dengan baik. Semua ilmuku akan aku turunkan kepadanya. Termasuk memasak nanti, aku akan ajari Ratna memasak makan malam untuk si Bos. Jadi aku tidak perlu lagi repot - repot setiap hari pulang kerja mampir ke sini. Batin Cinta.
Cinta langsung ke dapur dan melihat bahan - bahan makanan yang dipesankan Cinta kepada Ratna untuk dikeluarkan. Ratna juga sudah membantu sedikit pekerjaan Cinta.
Agar mempermudah Cinta dan membuat Cinta lebih cepat masak. Itu akan membuat Cinta juga cepat pulang. Kemarin malam dia sangat letih sekali karena sampai rumah jam sembilan malam.
Tak sampai satu jam Cinta sudah selesai memasak.
"Alhamdulillah akhirnya selesai juga, untung Ratna sudah bantuin aku sebelumnya. Aku hanya tinggal meracik dan memasak. Semuanya sudah dipersiapkan Ratna" gumam Cinta.
Cinta mengambil makanan untuk dia dan Ratna malam ini. Cinta sudah meminta izin Melodi membawa makanan untuk Ratna juga setiap harinya. Sebelum pulang Cinta tak lupa mengirimkan pesan kepada Melodi.
Bos...
Stok makanan di kulkas dan apartement sudah hampir habis. Besok kan weekend. Boleh tidak aku ditemani Ratna berbelanja bulanan? Nanti setelah pulang dari berbelanja kami masak bersama. Aku janji kami tidak akan lama karena semua tugas dilakukan berdua.
Jangan lupa tinggalin ATMnya ya Bos.
Ttd
Cinta ❤
Cinta menempelkan memo itu seperti bisa di pintu kulkas agar Melodi bisa membacanya. Setelah itu barulah Cinta pulang.
Sementara di diskotik.
"Od kamu gak lapar? pesan makanan yuk" ajak Wildan.
"Aku mau makan di rumah aja" jawab Melodi dingin.
Sudah aku duga kamu pasti tidak akan mau makan selain masakan Cinta. Ayolah Od akui kalau kamu sudah tergantung pada Cinta. Batin Wildan.
"Kalau begitu kita pulang yuk, aku udah laper. Aku rasa Cinta juga sudah pulang dari apartement kamu" ajak Wildan.
"Okey" Sambut Melodi.
Melodi membayar minuman mereka. Lalu melangkah pergi.
"Hai Melodi tumben jam segini udah mau pulang?" sapa wanita yang tak lain adalah Sofia.
"Kepalaku pusing dan aku mau pulang" jawab Melodi.
"Gak perlu aku temani?" tanya Sofia memberi tawaran.
"Maaf ada aku bersamanya" potong Wildan langsung.
Sofia tampak tidak suka melihat sikap Wildan yang menghalang - halangi dia mendekati Melodi. Melodi dan Wildan berjalan keluar dari diskotik.
Sial... pria itu selalu saja menggangguku mendekati Melodi. Lihatlah suatu saat aku akan menjadi Nyonya Melodi. Dan kamu akan aku jauhkan darinya. Lihat saja Wildan. Ucap Sofia dalam hati.
Melodi dan Wildan akhirnya pulang dan sampai di apartement Melodi. Karena mereka sudah lapar, mereka langsung berjalan menuju dapur dan memeriksa hari ini Cinta masak makanan apa.
"Wah enak nih" gumam Wildan dan langsung duduk di depan meja makan.
Melodi juga melakukan hal yang sama dan mereka berdua mulai menyantap hidangan makan malam yang di masak Cinta.
Setelah selesai makan Melodi hendak mengambil sesuatu di kulkas dan dia membaca pesan Cinta di pintu kulkasnya. Melodi tersenyum tipis membaca pesan itu karena sudah hampir seminggu dia tidak mendapatkan pesan seperti ini lagi. Ada rasa kehilangan selama beberapa hari ini.
"Nggak, siapa yang senyum?" elak Melodi.
"Ya kamu, aku melihat tadi kamu tersenyum. Hemmm... baca pesan dari Cinta ya? Kalau dipikir - pikir Cinta itu romantis ya.. Cara dia berinteraksi itu sangat manis. Tidak seperti gadis biasa. Sekarang ada ponsel, kirim pesan sudah selesai semuanya. Tapi Cinta melakukan komunikasi seperti zaman dulu, surat - suratan. Jaman sekarang hal ini sudah sangat langka dan ajaibnya jadi lebih menarik" komentar Wildan.
Melodi membenarkan dalam hati ucapan Wildan barusan. Karena dia juga tanpa sadar menikmati cara komunikasi mereka seperti ini.
Makanya kemarin waktu Cinta kirim pesan panjang lebar Melodi hanya menjawab satu kata saja. Entah mengapa dia kecewa saat Cinta mengirim pesan melalui HP.
Padahal situasinya memang tidak memungkinkan Cinta untuk mengirimkan pesan tertulis seperti ini.
Melodi mengambil kertas memo dan pulpen yang sudah disiapkan Cinta di dekat dinding kulkas.
Ya sudah kamu dan teman kamu datang dan bawa kartu ATM ku. Aku dan Wildan akan pergi main golf. Kalian bisa berbelanja, memasak dan membersihkan apartement ini bersama - sama.
Beli semua keperluan apartement ini dan juga isi stok makanan di kulkas. Jangan ada yang tertinggal karena aku tidak suka orang lalai apalagi pelupa.
Kalau kalian datang berdua jangan buat keributan di apartement, aku tidak mau mendengar komplain para tetangga karena keributan kalian.
Ttd
Melodi
Wildan mengintip apa isi pesan Melodi.
"Besok kita main golf?" tanya Wildan.
"Iya" jawab Melodi.
"Yaaah padahal aku mau kenalan dengan temannya si Cinta. Siapa tau temannya itu se frekuensi dengan Cinta. Pas banget itu untuk calon Ibu dari anak - anakku" sambut Wildan.
"Temannya tidak bisa masak seperti Cinta" sambut Melodi mematahkan keinginan Wildan sekaligus memuji keahlian Cinta.
"Ya nanti kan bisa minta ajarin si Cinta. Aku yakin temannya pasti tidak jauh beda dengan Cinta makanya mereka bisa sahabatan. Kata Cinta penggantinya di sini itu teman kuliah dan teman satu kosnya. Aku yakin mereka pasti berteman dekat. Kita juga kan teman dekat kan, pas banget" ucap Wildan gembira.
"Maksud kamu apa hubungannya?" tanya Melodi tidak mengerti.
"Double date, kamu sama Cinta biar aku sama temannya. Gak apa - apa deh aku ngalah demi kamu" jawab Wildan.
"Siapa juga yang mau ngedate sama pembokat" tolak Melodi.
"Mereka bukan sembarang pembokat Od. Mereka asisten rumah tangga yang berpendidikan, lulusan terbaik di Universitas ternama di Jakarta ini. Mereka pasti gadis - gadis yang pintar tidak seperti cewek - cewek di diskotik tadi. Aku yakin mereka semua hanya mengandalkan tubuh dari pada otak mereka" balas Wildan.
"Ah selera kamu memang rendahan, sukanya cewek kampung" ejek Melodi.
"Cewek kampung lebih original dan bersih. Mereka masih belum terjamah oleh para lelaki hidung belang di kota besar ini" bela Wildan.
"Aku tidak menyangka selera kamu sudah berubah" sambut Melodi.
"Sesuai usia Od. Kita harus berubah serius menatap masa depan. Tidak mungkin selamanya kita hidup seperti ini. Kita harus punya penerus dan aku mau penerusku itu lahir dari wanita baik - baik. Bukan dari wanita yang hanya menjual tubuh mereka untuk kepuasan dunia. Aku tidak mau anak - anakku kelak akan rusak karena aku memilih Ibu yang salah untuk mereka" ucap Wildan.
Melodi terdiam mendengar perkataan Wildan. Akhir - akhir ini Wildan selalu bicara tentang masa depan. Sepertinya dia memang serius untuk berubah.
Kalau Wildan hidup bahagia seperti apa yang dia rencanakan tadi, terus dia harus hidup bersama siapa? Apakah dia harus terus sendiri? tanya Melodi dalam hati.
Melodi mengambil kartu ATM nya dari dalam dompet dan meletakkannya di meja makan beserta memo yang tadi dia tulis. Kemudian dia pergi menuju ke depan.
"Aku pulang ya Od udah malam aku mau istirahat. Besok pagi ya kita main golf nya" Wildan pergi meninggalkannya sendirian.
.
.
BERSAMBUNG