Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 192


"Gimana Pak keadaannya sekarang?" tanya Ratna.


"Alhamdulillah Bapak merasa seperti terlahir kembali. Bapak mendapatkan banyak pelajaran yang sangat berguna dan berarti dalam hidup Bapak" jawab Pak Ramlan.


"Alhamdulillah.. " sahut Ratna.


"Bapak sudah berusaha dengan bekerja keras untuk sembuh. Buktinya gak sampai tiga bulan Bapak sudah sembuh. Padahal pihak rehab bilang minimal enam bulan lho" ungkap Wildan.


Pak Ramlan tersenyum tipis menatap calon menantunya.


"Kalau Bapak kelamaan sembuhnya kalian mau pernikahan kalian di tunda selama itu?" tanya Pak Ramlan.


Wildan dan Ratna saling tatap.


"Bapak buat impian yang ingin segera tercapai sebagai motivasi Bapak agar cepat sembuh. Bapak ingin melihat kalian segera menikah. Tak baik kalau tidak ada ikatan resmi sedangkan kalian tinggal di apartement yang bersebelahan, dikantor selalu bersama. Kesempatan berbuat dosa dan bujukan rayu setan sangat besar" ungkap Pak Ramlan.


"Bapaaaaak" ucap Ratna terkejut.


Pak Ramlan tersenyum penuh kelembutan kepada putrinya.


"Disana Bapak banyak mendapatkan ilmu agama Nduk. Kami di didik dan dituntun untuk belajar agama lebih dalam. Agar bisa jari pondasi dalam hidup. Sehingga saat kami keluar dari panti rehabilitasi kami tidak akan kembali ke jalan sesat yang dulu kami jalani" ungkap Pak Ramlan.


"Alhamdulillah" sahut Ratna dan Wildan.


"Disana belajar apa aja Pak?" tanya Cinta penasaran.


"Bapak fokus belajar bersawah saja karena di kampung kan rata - rata pekerjaan masyarakat bersawah. Bapak diajarkan memilih bibit unggul, merawat tanaman, membunuh hama, cara panen yang baik dan juga belajar menjual hasil panen dengan baik agar tidak dibohongi oleh para tengkulak" jawab Ramlan.


"Waaah bagus itu" sambut Wildan.


"Iya, setelah selesai pembangunan rumah dan semua berjalan normal Bapak akan mulai mengerjakan sawah ibu" ujar Pak Ramlan.


"Sawah kita Pak" sahut Ibu.


"Iya sawah kita" jawab Pak Ramlan.


Ratna tersenyum bahagia melihat Keluarganya kini lebih harmonis dan lebih bersemangat.


"Kamu sudah bisa mulai masak Bu. Ada tamu kok gak disambut dengan baik" ujar Pak Ramlan.


"Gak perlu Pak, nanti kita semua makan diluar aja ya. Lagian sudah hampir maghrib" cegah Wildan.


"Bapak jadi malu Nak Wildan, kalian jarang - jarang datang ke sini. Apalagi Nak Cinta dan Nak Melodi baru kali ini datang ke rumah kami" sahut Pak Ramlan malu.


"Tidak apa Pak, gak perlu repot. Anggap saja kami ini keluarga Bapak" jawab Melodi.


"Ya sudah kalau begitu Bapak bersiap dulu ya sebentar lagi mau ke Mesjid shalat maghrib" ujar Pak Ramlan.


"Silahkan Pak, nanti kita bareng aja perginya" sambut Wildan.


"Iya boleh" jawab Pak Ramlan.


Tiga puluh menit kemudian Pak Ramlan, Wildan dan Melodi sudah sampai di Mesjid yang tak jauh dari rumah Pak Ramlan. Mereka melaksanakan shalat maghrib berjama'ah.


Setelah shalat magrib mereka lanjut shalat sunat rawatib. Pak Ramlan tampak sangat khusyuk shalatnya. Wildan dan Melodi menunggu beliau di luar.


"Lihat itu si Ramlan, katanya baru pulang dari panti rehabilitasi kecanduan alkohol" ujar seorang warga


"Syukur banget ya, akhirnya dia bertaubat" sambut pria kedua.


"Halaaah paling pencitraan. Sebentar lagi lihat aja paling dia balik lagi minum - minum sama teman - temannya" ucap pria ketiga.


"Husss.. kamu gak boleh begitu, namanya dia mau usaha. Lebih baik dari pada sama sekali tidak pernah mencoba. Mudah - mudahan dia tetap istiqomah" bantah pria kedua.


"Katanya semua yang kasih dana calon mantunya dari Jakarta, orang kaya" ucap pria pertama lagi.


"Paling anaknya jadi istri simpanan atau istri kedua" sahut pria ke dua.


"Nggak, yang aku dengar pengusaha sukses dan masih muda" bantah pria ke dua.


"Mana ada pria mau menikah dengan anak pemabuk miskin dan banyak hutang. Pasti anaknya itu jadi simpanan, aku yakin itu" ucap pria ke tiga lagi.


Wildan mengepalkan tangannya geram, kalau gak ingat ini di mesjid udah dia pukul wajah pria ke tiga yang selalu ngomong sembarangan menjelek - jelekkan Pak Ramlan.


"Yuk Nak Wildan, Nak Melodi kita pulang" ajak Pak Ramlan.


Wildan menatap ke arah tiga pria yang berada di dekat mereka.


"Setauku shalat tempat orang beribadah, sejak kapan jadi tempat ghibah?" tanya Wildan kearah Melodi.


Mereka berdua berjalan mengikuti Pak Ramlan dari belakang. Mereka berjalan menuju ke arah rumah Pak Ramlan. Tiga pria tadi tampak pucat saat menyadari kalau Wildan dan Melodi mendengar apa yang mereka bahas tadi.


"Kamu sih suka banget jelekin Pak Ramlan" ucap pria kedua pada pria ketiga.


"Apa salah satu dari dua pria tadi calon mantunya Pak Ramlan?" tanya Pria pertama.


"Bu.. bukannya pria tua, tapi mereka masih sangat muda dan tampan" jawab pria ketiga terkejut.


Pak Ramlan berjalan bersama Wildan dan Melodi menuju rumahnya.


"Jangan di dengarkan omongan orang Nak Wildan. Semua memang salah Bapak. Bapak memang seorang pendosa" ujar Pak Ramlan.


"Ya tapi Pak kata - kata mereka sudah sangat kelewatan" sahut Wildan.


Pak Ramlan tersenyum tipis.


"Biar saja, lebih baik diam dan bekerja. Nanti mereka akan lihat sendiri. Biasa itu manusia iri. Sebaik apapun kita berusaha, dihadapannya kita tetap salah, terus seperti itu. Mending gak usah diladenin" jawab Pak Ramlan.


"Bapak yang kuat ya, semoga istikomah" ujar Melodi.


"Aamiin" sambut Pak Ramlan.


Akhirnya mereka sudah sampai di rumah. Para wanita sudah bersiap - siap, mereka akan pergi makan malam bersama diluar. Adik - adik Ratna sangat senang sekali. Karena seluruh keluarga bisa berkumpul dengan utuh tanpa ada yang kurang.


Kedua orang tua Ratna beserta adik - adiknya memesan taxi online sedangkan Ratna dan rombongan naik di satu mobil. Mereka menuju sebuah Restoran besar di kota Pati.


Ratna dan Cinta memesan banyak menu untuk hidangan makan malam mereka. Semua bergembira dan makan bersama.


Usai makan malam bersama Wildan mengajak mereka untuk mencari hotel dan mereka semua menginap di hotel. Tentu saja adik - adik Ratna bersorak kesenangan.


"Nak Wildan jangan seperti ini, Bapak jadi tidak enak. Kami pulang saja ya ke rumah" ujar Pak Ramlan.


"Jangan donk Pak, bareng aja sama kami di sini" jawab Cinta.


"Iya Pak" sambut Ratna.


"Tapi ngapain kami nginap di Hotel. Kan kami punya rumah" elak Pak Ramlan.


"Tidak apa - apa Pak sekali - sekali. Anggap aja kita sedang liburan" jawab Wildan.


Pak Ramlan menatap wajah istrinya, dia tampak sungkan sekali dengan calon mantunya. Bu Ramlan tersenyum sambil menganggukkan wajahnya membalas tatapan suaminya.


"Ya sudah kalau begitu" ujar Pak Ramlan.


"Asiiiiik... " teriak adik - adik Ratna.


Wildan dan Ratna langsung memesan tiga kamar hotel. Satu kamar untuk Melodi dan Cinta. Satu kamar untuk Wildan dan satu kamar lagi, kamar yang super besar untuk keluarga besar Ratna.


Ratna ingin dia bersama kedua orang tuanya juga adik - adiknya berada dalam satu kamar. Dia ingin merasakan kehangatan keluarganya malam ini. Pasti seru mereka bisa berkumpul dan bercerita panjang malam ini.


Ratna tidak bisa melukiskan bagaimana perasaannya hari ini. Persis pelangi, perasaan Ratna campur aduk. Ada rasa haru dan bahagia melebur jadi satu.


Lagi - lagi Ratna menatap wajah Wildan penuh rasa sayang sambil berucap


"Terimakasih Mas" ujar Ratna.


"Sama - sama calon istriku" balas Wildan sambil tersenyum manis.


.


.


BERSAMBUNG