Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 199


Sudah tiga hari Ratna menambah waktunya di kampung. Tanpa permisi atau izin pada Wildan selalu atasannya. Ratna tidak perduli, saat ini dia hanya butuh ketenangan.


Setelah melalui beberapa hari ini, Ratna merasa waktunya sudah cukup. Dia sudah siap menghadapi masa depan tanpa Wildan. Ratna juga sudah menyusun strategi hidupnya.


Sore ini Ratna kembali ke Jakarta dengan kereta dari Semarang menuju Jakarta. Sebelumnya dia naik travel dari Kota Pati menuju stasiun kereta di Semarang.


Sekitar jam tiga subuh Ratna sudah sampai di kota Jakarta. Dia naik taxi online menuju gedung apartementnya. Sebelum masuk ke dalam apartementnya Ratna sempat menatap pintu apartement Wildan yang berada tepat di sampingnya.


Ratna menarik nafas berat hingga akhirnya dia membuk pintu apartementnya. Matanya tak bisa tertidur lagi. Untung saja tadi dia sudah tidur nyenyak di kereta. Pagi ini Ratna siap untuk masuk kantor kembali.


Pagi - pagi sekali Ratna sudah siap berangkat menuju ke kantornya. Dia sengaja berangkat lebih cepat karena tidak mau bertemu Wildan di pintu apartement.


Ratna memilih naik bus ke kantornya. Dia harus mulai kembali berhemat karena Ratna sudah bertekad untuk secepatnya membayar hutang keluarganya pada Wildan, walau harus dengan mencicilnya.


Sebelum jam delapan lagi Ratna sudah sampai di kantornya. Beberapa karayawan menyapanya dan terkejut melihat Ratna datang sendiri tanpa Wildan.


Ratna menarik nafas panjang dan mencoba untuk menguatkan dirinya. Dia harus kuat untuk menjalani hari - hari ke depan. Ratna sudah bertekad dalam hati.


Sesampainya di meja kerjanya Ratna langsung memeriksa pekerjaannya yang sudah tertunda selama tiga hari. Untung saja Ratna dikaruniai otak cerdas, mungkin ini adalah turunan dari Bapaknya.


Ratna bisa menyelesaikan tugasnya dengan cepat. Sekitar jam setengah sembilan pagi Wildan sampai di kantornya. Alangkah terkejutnya dia saat melihat Ratna sudah ada di depan meja kantornya.


"Kamu sudah datang? Kapan kamu sampai di Jakarta?" tanya Wildan lembut.


"Tadi subuh Pak" jawab Ratna formal.


Wildan terkejut mendengar jawaban Ratna. Ratna kembali memanggilnya dengan sebutan Bapak. Padahal hanya mereka berdua disini.


"Masuk ke ruangan saya, ada yang ingin saya bicarakan" perintah Wildan.


"Baik Pak" jawab Ratna sambil menunduk hormat.


Ratna berusaha keras bersikap profesional. Dia dan Wildan sudah tak punya hubungan lagi, jadi tidak ada alasan untuk bersikap manja seperti dulu lagi, walau sebenarnya Ratna memang bukan tipe wanita manja.


Wildan masuk ke ruangannya. Dia meletakkan tas kerjanya dia atas meja. Lalu duduk di kursi kebesarannya sebagai Dirut di Perusahaan keluarganya ini.


Tak lama Ratna masuk setelah mengetuk pintu sebelumnya. Wildan menatap wajah Ratna dengan dalam. Tapi Ratna hanya menundukkan wajahnya tak mau membalas tatapan Wildan.


"Duduk dulu Rat, aku ingin bicara tentang kita" ucap Wildan.


"Maaf Pak ini dikantor, saya gak mau membahas masalah pribadi di sini" elak Ratna.


"Rat tolong jangan bersikap seperti ini" pinta Wildan.


"Saya rasa Bapak sangat tau apa keputusan saya beberapa hari yang lalu. Saya mohon maaf kalau beberapa hari ini saya tidak memberi kabar jelas mengapa saya tidak masuk. Saya siap jika Bapak menghukum saya, atas jika Bapak memang harus memecat saya, saya sudah siap" ucap Ratna.


"Ratna" panggil Wildan dengan nada yang tinggi.


Walau Ratna sangat terkejut, jantungnya juga berdetak sangat kencang tapi Ratna berusaha bersikap normal. Dia menekan semua perasaannya saat ini dan mencoba bekerja secara profesional.


"Maaf Pak saya rasa tak ada lagi yang harus kita bahas selain masalah kantor. Ini jadwal Bapak hari ini dan ini bahan untuk meeting dengan klien kita siang nanti. Jika tak ada yang Bapak butuhkan lagi saya pamit balik ke ruangan saya" ucap Ratna.


Ratna langsung membalikkan tubuhnya tanpa sekalipun menatap mata Wildan. Membuat emosi Wildan rasanya mendidih. Dia sangat kesal sekali dengan sikap Ratna yang seperti ini.


"Akh.... sial" umpat Wildan kesal.


Sementara Ratna begitu dia duduk di kursi kerjanya dia langsung mengambil tisu dan menghapus air matanya. Dia tak boleh menangis lagi. Sudah cukup waktu tiga hari untuk menangisi Wildan, menangisi semua keputusannya. Dia harus kuat, harus! Harus lebih kuat lagi.


Itu yang berulang kali Ratna katakan pada dirinya sendiri. Dia harus bisa melewati semua ini.


"Kamu ikut" perintah Wildan.


"Maaf Pak, di jadwal sebelumnya tidak ada intruksi saya ikut. Saya tidak bisa ikut Pak, saya harus menyelesaikan pekerjaan saya yang tertunda beberapa hari ini" tolak Ratna.


"Kamu benar - benar menguji kesabaran saya Ratna" ucap Wildan kesal.


Wildan akhirnya pergi meninggalkan Ratna. Wildan sudah hapal sifat Ratna yang sama keras seperti dirinya. Mungkin karena Ratna anak sulung dan hidup dengan keras juga mandiri yang menuntut dan membentuk karakternya keras seperti itu.


Wildan tak bisa memaksanya karena apa yang Ratna katakan benar. Jadwalnya siang ini dia meeting sendiri tanpa harus ditemani Ratna.


Wildan juga harus bersikap profesional dalam bekerja karena disini adalah kantor. Apalagi Ratna sudah membangun benteng yang tinggi sebagai batasan mereka. Wildan tak bisa sesuka hatinya melewati batasan itu.


Setelah Wildan pergi, Ratna kembali meraih tisu untuk mengeringkan sudut matanya yang hampir basah. Dia tidak ingin air matanya sampai menetes ke pipinya.


Ini tidak bisa terjadi dalam waktu yang lama. Aku takut aku akan rapuh dan tidak bisa berbuat apapun. Aku harus ambil keputusan lain. Batin Ratna.


Ratna mulai mencari - cari informasi lowongan pekerjaan di perusahaan - perusahaan besar lainnya. Ratna mengirimkan beberapa surat lamaran ke beberapa perusahaan.


Sore harinya sampai jam kantor selesai Ratna langsung mematikan layar monitornya. Dia segera bergegas turun ke lantai dasar dan berjalan menuju halte bus yang tak jauh dari kantornya.


Ratna menyapa ramah beberapa karyawan yang dia temui di jalan. Semua menatapnya dengan tatapan curiga. Tapi Ratna bersikap masa bodoh. Dia sudah memutuskan untuk harus bersikap kuat melewati semua ini.


Sesampainya di halte bus apartement Ratna singgah terlebih dahulu ke supermarket yang ada di dekat gedung apartementnya untuk membeli bahan - bahan makanan.


Setelah selesai berbelanja Ratna langsung pulang ke apartementnya. Dia bergegas berganti pakaian dan lanjut memasak makan malam.


Setelah selesai memasak Ratna memberanikan diri untuk masuk ke apartement Wildan. Dia membawa masakan yang tadi dia masak dan menatanya di atas meja makan.


Dugaan Ratna benar, Wildan belum pulang. Ratna bisa bernafas lega. Dia segera mencari kertas dan pulpen. Lalu menulis memo untuk Wildan.


Dear Pak Wildan.


Ini adalah masakan saya terkahir Pak, mulai besok saya tidak akan memasakan Bapak lagi makan malam karena hal itu tidak ada dalam tugas saya sebagai sekretaris Bapak dan juga ini sudah diluar jam kantor. Saya harap Bapak bisa mengerti.


Terimakasih atas perhatian Bapak selama ini.


Ttd


Ratna


Setelah selesai Ratna meletakkan kertas itu telat diatas piring yang sudah dia tata di meja makan. Ratna kembali ke apartementnya dan menguncinya dari dalam. Jaga - jaga kalau Wildan tiba - tiba menerobos masuk, karena Wildan tau kata sandi pintu apartementnya.


Sekitar jam delapan malam Wikdan tiba di apartementnya. Dia sudah berusaha untuk cepat pulang. Selesai meeting Wildan langsung menuju kantornya tapi sayang ternyata Ratna sudah pulang setengah jam sebelumnya.


Wildan langsung pulang ke apartement dan sayangnya dia terjebak macet. Akhirnya jam segini baru dia bisa sampai apartement.


Wildan menatap sekeliling apartement, berharap dia menemukan Ratna di sana. Tapi ternyata tidak ada, Wildan berjalan ke dapur dan dia sangat senang melihat makanan sudah tersaji di atas meja makan. Masih hangat dan wanginya menggugah selera.


Ratna memasak makanan favoritnya, ikan kakap asam manis. Heeem.. pasti enak. Tapi tiba - tiba mata Wildan fokus pada selembar kertas yang terletak di atas piring makan. Wildan membacanya lalu meremas kertas itu dengan kertas.


"Sial.. apa yang kamu mau Ratna? Kamu benar - benar ingin kita putus?" ucap Wildan kesal.


.


.


BERSAMBUNG