Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 52


Keesokan harinya cuaca di daerah proyek Sanjaya Corp juga mendung dan udaranya semakin dingin. Saat hendak keluar untuk memulai pekerjaan mereka. Semua memakai jaket tebal.


Saat Cinta keluar dari kamarnya dia keluar dengan jaket barunya.


"Jaket baru Cin?" tanya Loli.


"Iya kemarin baru di beli" jawab Cinta.


"Barang bagus ini Cin, pasti mahal?" tanya Suri.


"Nggak kok harganya lima ratus ribu" jawab Cinta.


Tak sengaja Melodi mendengar percakapan mereka.


Apa? Enak banget dia bilang harga jaketnya lima ratus ribu? Woi harga jaket kamu lima juta tauuuk. Kamu sengaja boong atau memang kamu salah lihat kemarin? Melodi merasa bingung sendiri.


Apa Cinta gak lihat dengan baik ya kalau harga jaket itu lima juta. Pikir Melodi lagi.


"Udah yuk kita keluar, yang lain udah pada nunggu" ajak Cinta.


Cinta dan teman - teman satu timnya berkumpul di depan Mes. Menunggu kedatangan Wildan dan Melodi. Baru mereka bersama - sama jalan ke lokasi proyek.


Tak lama kemudian Melodi dan Wildan juga keluar dari Mes. Baru Melodi bisa melihat secara jelas penampilan Cinta.


"Cie.. Pd jaket yang kamu belikan di pakai sama Cinta. Cantik, Cinta emang pintar memilih" puji Wildan sambil berbisik di samping Melodi.


"Itu karena memang jaketnya bagus, harganya aja mahal" sahut Melodi.


Mereka berdiri di depan para karyawan yang akan bertugas.


"Semua sudah siap?" tanya Melodi.


"Sudah Pak" jawab yang lain serentak.


"Ya sudah mari kita bekerja" perintah Melodi.


Mereka berjalan menuju lokasi proyek.


"Hati - hati cuaca tidak bersahabat. Kemarin baru hujan pasti jalan becek. Jangan sampai ada yang terpeleset dan terluka" ucap Wildan mengingatkan.


"Baik Pak" sahut yang lainnya.


Mereka menggunakan helm dan sepatu proyek untuk memantau perkembangan proyek perusahaan. Tanpa terasa sudah sampai tengah hari mereka bekerja.


Siang harinya mereka makan siang di lokasi proyek. Cinta dan teman - temannya dengan sigap menyiapkan semua perlengkapan makan untuk Wildan dan Melodi selaku atasan dan Bos mereka.


"Ini Pak silahkan makan" ucap Cinta.


Wildan dan Melodi menyambut kotak makanan yang diberikan Cinta. Mereka duduk di bawah pohon rindang.


Tak jauh dari mereka Cinta dan teman - teman wanitanya makan dibawah pohon lainnya.


"Cin yuk cuci tangan ke sungai" ajak Santi.


"Ayok" sahut Cinta.


Mereka berdua berjalan menuju sungai yang tak jauh dari teman - teman lainnya berkumpul. Karena lokasinya yang turunan dan becek sehingga membuat langkah mereka melambat dan akhirnya.


"Bup.. aduh" ucap Cinta.


"Cin kamu gak apa - apa?" tanya Santi yang melihat Cinta terjatuh.


Santi segera berusaha membantu Cinta berdiri.


"Aduh San.. Kakiku sakit sekali. Sepertinya kakiku terkilir" rintih Cinta.


"Kalau begitu kita harus minta pertolongan, aku tidak bisa membantu kamu sendirian" ujar Santi.


Cinta mulai mencari - cari keberadaan teman - temannya.


"Tolooong.. ada yang dengar gak? Toloooong" teriak Santi.


Teman - teman mereka dari kejauhan mendengar suara minta tolong.


"Sepertinya ada yang minta tolong, apa kalian dengar?" ucap teman pria mereka.


"Siapa ituuuu?" teriak Baim bertanya.


"Toloooooong Cinta jatuuuuh" balas Santi sambil berteriak.


"Apa Cinta jatuh. Cinta jatuh woy.. yuk kita bantu" sambut Baim.


Cinta jatuh? Batin Melodi.


Melodi langsung menghentikan makannya dan berjalan menuju arah suara teriakan Cinta.


Melodi dan Baim yang pertama kali sampai bersamaan.


"Cinta kamu gak apa - apa?" tanya Melodi panik.


"Kaki sepertinya terkilir" jawab Cinta.


"Kok bersyukur Pak?" tanya Baim terkejut.


"Eh maksud saya mari kita saya bantu" Melodi langsung memapah Cinta.


"Biar saya saja Pak" pinta Baim.


"Gak usah saya sendiri juga bisa" jawab Melodi.


Cinta merangkul kan tangannya bahu Melodi. Dia berjalan di bantu Melodi sambil menahan sakit.


"Kamu bisa jalan seperti ini? Atau mau saya gendong?" tanya Melodi.


"Bi.. bisa Pak, jangan di gendong Pak.. saya bisa kok jalan seperti ini" jawab Cinta langsung.


Wildan yang tak kalah panik setibanya di bawah dan melihat apa yang dilakukan Melodi dia langsung tersenyum mengerti.


Waaah ternyata sengsara membawa nikmat rupanya. Dibalik bencana ada kesempatan dalam kesempitan. Ujar Wildan dalam hati.


"Kalian lanjut makan saja, biar saya dan Wildan yang akan bawa Cinta ke Mes. Saya selaku CEO akan bertanggungjawab kalau ada kecelakaan seperti ini pada karyawan saya" ucap Melodi.


"Baik Pak" sahut yang lain.


Melodi dan Wildan membawa Cinta ke dalam Mes. Cinta tampak masih merintih. Kakinya terlihat bengkak saat sepatunya dibuka.


"Sakit ya?" tanya Melodi iba.


"Ya sakitlah, kamu gak lihat kakinya Cinta bengkak gitu" sambut Wildan.


"Ya sudah kalau begitu kita bawa saja Cinta ke rumah sakit terdekat. Setelah itu kita langsung balik ke Jakarta. Dalam keadaan seperti ini Cinta juga pasti tidak bisa bekerja di sini" perintah Melodi.


"Tapi Pak teman - teman saya?" tanya Cinta tak enak hati.


"Saat sakit begini masih juga bertanya teman - temannya. Sudahlah kamu itu harusnya pikirkan diri kamu sendiri" omel Melodi.


"Iya Cin, lebih baik kita cepat ke rumah sakit sebelum kaki kamu semakin bengkak. Nanti tambah sakit lho" ujar Wildan.


"Baik Pak, tapi barang - barang saya?" tanya Cinta.


"Wil telepon si Ibrahim, suruh teman sekamar Cinta balik. Biar nanti temannya yang susun barang - barang Cinta" perintah Melodi.


"Oke tunggu sebentar" sahut Wildan.


Wildan menghubungi Baim dan meminta Santi teman sekamar Cinta balik ke Mes. Tak lama kemudian Santi sudah tiba di Mes.


"Ya Pak?" tanya Santi saat melihat Cinta, Melodi dan Wildan duduk di ruang santai seperti sedang bermusyawarah.


"Tolong kamu susun barang - barang Cinta. Di akan kami bawa ke Rumah sakit secepatnya dan setelah itu kami akan kembali ke Jakarta. Dalam keadaan seperti ini Cinta pasti belum bisa jalan" perintah Melodi tegas.


Tentu saja Santi takut dan langsung patuh dengan perintah Melodi.


"Ba.. Baik Pak" jawab Santi.


"Tolong ya San, pleaseee... " pinta Cinta memohon.


"Oke Cin gak apa" balas Santi.


Santi langsung ke kamar mereka dan tak lama kemudian Santi keluar membawa semua barang - barang Cinta.


"Tolong sampaikan pada teman - teman aku pamit duluan ya San" ucap Cinta dengan sungkan.


"Iya Cin" jawab Santi.


"Ibrahim, Cinta kami bawa ke Jakarta. Kamu dan yang lainnya lanjut tugas di sini sampai minggu depan ya. Sampai ketemu minggu depan di Jakarta" ucap Wildan kepada Baim.


"Baik Pak, tapi apakah keadaan Cinta parah?" tanya Baik khawatir.


"Tidak sepertinya kakinya hanya terkilir tapi dalam keadaan seperti ini tentu dia tidak bisa bekerja dalam beberapa hari ini. Untuk apa dia sendirian di sini sedangkan kalian bekerja. Biarlah dia kami bawa duluan ke Jakarta" jawab Wildan.


"Baik Pak. Titip salam buat Cinta. Semoga dia cepat sembuh" balas Baim.


Telepon terputus. Melodi kembali memapah Cinta berjalan ke arah mobil mereka.


"Ayo kita berangkat" ajak Melodi.


Cinta duduk di kursi penumpang sedangkan Melodi dan Wildan duduk di depan.


"Aku pulang duluan ya San" ucap Cinta sambil melambaikan tangan ke arah Santi.


"Hati - hati ya Cin" balas Santi.


Mobil mulai bergerak dan melaju menuju Rumah Sakti terdekat dan setelah Cinta mendapatkan pertolongan mereka kembali pulang ke Jakarta.


.


.


BERSAMBUNG