
Kini Rania sudah menjadi Direktur di Perusahaan milik keluarganya yang masih menjadi anak perusahaan Wildan. Setiap hari Rania menunjukkan perubahan yang baik.
Ternyata Rania benar - benar berubah menjadi sosok wanita yang baik. Dia sudah meninggalkan masa lalunya yang kelam dan memperbaiki dirinya.
Rania tetap hidup sederhana membeli rumah kecil - kecilan hasil dan gajinya bekerja sebagai Direktur di anak perusahaan PT. Raharjo Group. Rania juga mengirimi orang tuanya uang setiap bulan dan rutin menjenguk kedua orang tuanya yang tinggal di desa.
Rania dan Ratna juga sudah berteman baik. Mereka sering pergi bersama - sama mengikuti kajian agama bersama Cinta.
Tanpa terasa sudah menginjak dua tahun pernikahan Ratna dan Wildan. Belum ada tanda - tanda Ratna hamil. Ratna dan Wildan sudah pernah berobat ke dokter dan hasilnya keduanya baik.
Sejak saat ini Ratna dan Wildan sepakat untuk tidak memikirkan masalah anak. Mereka hanya membujuk Sang Pencipta lewat doa - doa mereka agar diberikan kepercayaan untuk memiliki anak.
Tapi tidak dengan kedua orang tua Wildan yang masih terus berharap segera mendapatkan cucu. Bu Raharjo semakin rajin memberikan makanan dan minuman yang sehat untuk kesuburan anak dan menantunya.
Hingga entah ide dari mana Pak Raharjo mencoba mengungkapkannya kepada Wildan.
"Wil, sudah dua tahun kalian menikah. Lihat Melodi anaknya sudah bisa berjalan. Apa kamu tidak ingin seperti dia?" tanya Pak Raharjo.
"Ya pasti ingin Pa, tapi Allah belum kasih kami kepercayaan untuk memiliki anak. Papa kan tau kalau kami sudah periksa ke dokter dan hasilnya kami berdua sehat" jawab Wildan.
"Iya, mungkin ada ketidak cocokan diantara kalian. Kamu sehat, Ratna juga sehat tapi kalau kalian bersatu benihnya gak cocok Wil. Kalau sampai hal itu terjadi sampai kapanpun kalian tidak akan memiliki anak" ujar Pak Wildan.
"Ya kalau hal itu terjadi kami kan bisa adopsi anak Pa. Zaman sekarang banyak anak - anak yatim yang terlantar. Tinggal bilang Papa mau berapa cucu biar kita cari" sahut Wildan.
"Papa tidak mau mereka. Kalau kamu mau bantu mereka silahkan bantu karena niat kamu itu baik tapi jangan diadopsi. Kamu berikan saja sedekah setiap bulannya ke panti asuhan. Berikan bantuan atau beasiswa untuk mereka sekolah. Kalau soal cucu Papa maunya ya cucu kandung. Bibit kamu langsung bukan bibit orang lain" ujar Pak Raharjo.
"Ya sabar Pa, aku dan Ratna kan terus berusaha" sahut Wildan.
"Iya tapi sampai kapan Wil, Papa dan Mama sudah ingin punya cucu" balas Pak Raharjo.
"Jadi mau gimana Pa. Adopsi anak Papa gak mau tapi Papa ingin punya cucu dari kami. Sementara kami berdua juga tidak sakit, kami berdua sehat dan tidak kurang suatu apapun?" tanya Wildan kesal.
"Papa ingin kamu menikah lagi" ungkap Pak Raharjo.
"Apa? Pa jangan pinta yang aneh - aneh. Aku hanya mencintai Ratna Pa, aku hanya ingin punya anak dari Ratna tidak dari wanita manapun" tegas Wildan.
"Ya kamu tidak harus menceraikan Ratna. Laki - laki kan boleh punya istri lebih dari satu" ucap Pak Raharjo.
"Papaaa... aku sudah bilang kalau aku hanya mau punya anak dari Ratna, titik" ulang Wildan.
"Iya tapi sampai kapan kami menunggu?" desak Pak Raharjo.
"Ah Papa semakin ngawur. Kalau Papa terus meminta ini aku dan Ratna akan pindah dari rumah ini" ancam Wildan.
Wildan langsung berdiri dan berjalan masuk ke kamarnya. Wajahnya terlihat sangat kesal mendengar permintaan aneh Papanya.
Mana mungkin dia menikah lagi karena hanya Ratna lah satu - satunya wanita yang dia cintai. Mengingat beratnya cobaan saat ingin menikahi Ratna tidak mungkin semudah itu Wildan akan berpaling pada wanita lain hanya karena ingin mendapatkan keturunan.
Ratna tidak salah, dia sehat dan kalau dilihat dari keturunan orang tuanya punya banyak anak. Malah Wildan sendiri yang anak tunggal. Harusnya itu yang jadi pertanyaan mengapa hanya dia saja anak Papa dan Mamanya. Mengapa dia tidak mempunyai adik lagi?
Wildan berbaring sambil menatap langit - langit kamarnya. Ratna yang baru saja keluar dari kamar mandi merasa heran melihat wajah suaminya yang tidak seperti biasanya. Wildan seperti sedang berpikir keras.
Apa ada masalah di kantor? Kalau memang ada mengapa dia tidak tau? tanya Ratna dalam hati.
"Ada apa Mas?" tanya Ratna penuh kelembutan.
Ratna menyentuh wajah Wildan dengan tangannya.
"Ah tidak, aku hanya sedang memikirkan masalah kantor" jawab Wildan berbohong.
"Masalah yang mana? Apa ada masalah baru?" tanya Ratna penasaran.
"Tidak, aku hanya sedang memikirkan proyek baru dengan perusahaan Melodi" jawab Wildan berbohong lagi.
Maafkan hamba ya Allah harus berbohong pada istri hamba. Pinta Wildan dalam doa.
"Oo aku kira ada masalah serius. Wajah kamu itu lho Mas, banyak banget kerutannya" ujar Ratna.
Wildan menarik tubuh istrinya lalu mencium kening Ratna. Wangi sabun dan shampoo tercium Wildan, rasanya sangat segar dan menggugah selera.
Ciuman Wildan pindah ke bibir Ratna. Ratna hanya pasrah tapi semakin lama ciuman Wildan semakin dalam dan membuat Ratna khawatir.
"Maaas masih sore sebentar lagi adzan maghrib" cegah Ratna.
Wildan melirik jam dinding. Nafas Wildan sudah kadung memburu dan tidak bisa dia cegah lagi.
"Masih ada satu jam setengah lagi sayang, aku rasa waktunya cukup. Kamu tidak keberatan kan kalau harus mandi lagi?" goda Wildan.
Ratna melihat kilauan gairah dari sinar mata Wildan. Tentu saja Ratna tak tega menolaknya. Dengan malu - malu Ratna menggelengkan kepalanya yang artinya dia tidak keberatan kalau harus mandi lagi.
Wildan langsung tersenyum dan dengan semangat membuka bathrobe yang Ratna pakai. Tidak sulit baginya untuk memulai karena dibalik bathrobe Ratna tidak mengenakan apapun lagi.
Wildan mengangkat tubuh ramping Ratna ke atas tempat tidur dan dia mengambil kendali atas kepemilikannya pada Ratna. Ingat kata - kata Papanya tadi Wildan jadi semangat untuk berenang dalam lautan asmara bersama istrinya dari pada harus membayangkan wanita lain.
Sungguh dia tidak menginginkan siapapun lagi kecuali Ratna. Hanya Ratna seorang wanita yang dia inginkan menjadi satu - satunya pendamping hidupnya dan ibu dari anak - anaknya kelak.
Semoga Allah mendengar doa Wildan di dalam hati. Semoga aktivitas sore mereka membuahkan hasil.
Dengan semangat empat lima Wildan dan Ratna saling berkejar - kejaran mencapai puncak ke langit ketujuh. Hanya fokus ingin mendapatkan buah hati yang mereka inginkan.
Hingga keduanya sama - sama mencapai puncak berbarengan. Dan akhirnya mereka saling berpelukan di bawah selimut.
"Maaas kita tidak bisa bersantai lagi. Sudah sore ini" ucap Ratna mengingatkan.
Wildan langsung bangkit dari tidurnya dan mengangkat Ratna masuk ke dalam kamar mandi. Mereka harus melakukan pendinginan di kamar mandi dan mengakhiri aktivitas panas sore ini dengan sentuhan - sentuhan manis di kamar mandi.
Dengan mandi bersama konon katanya bisa menghilangkan stres pasangan suami istri. Semoga saja benar adanya.
.
.
BERSAMBUNG