
Wildan hendak makan siang diluar dengan relasinya siang ini. Dia bersiap untuk pergi. Wildan memakai jasnya dan meraih posel dan kunci mobil lalu berjalan keluar ruangannya.
"Rania nanti sore diundang Mama ke rumah" ujar Wildan kepada Rania.
Ratna mendengar ucapan Wildan tapi tak berani melirik. Entah mengapa dia merasa sedih mendengar perkataan Wildan. Ternyata Rania sudah sangat dekat dengan keluarga Wildan sampai di undang ke rumahnya.
Rania yang mendengar perkataan Wildan langsung tersenyum senang.
"Baik Pak pulang kerja saya akan ke sana. Apakah Bapak juga kesana?" tanya Rania sambil melirik ke arah Ratna.
Ini kesempatan langka untuk menyadarkan Ratna bahwa dia lebih diterima oleh keluarga Bosnya. Pikir Rania.
"Ya saya juga akan ke sana, Mama mengajak kita makan malam bareng" jawab Wildan sambil tersenyum penuh arti.
"Apa nanti Bapak kembali ke kantor lagi sebelum pulang?" tanya Rania.
Dia berharap bisa pergi bersama dengan Wildan sore ini ke rumah orang tua Wildan.
"Tidak, kamu bawa mobil kan? Kamu langsung aja ke rumah orang tuaku" jawab Wildan, dia sangat tau kemana arah pertanyaan Rania.
Wildan melirik ke arah Ratna yang sedang sibuk mengerjakan tugasnya.
"Rat aku pergi dulu" pamit Wildan.
"Iya Pak" jawab Ratna.
Wildan pergi meninggalkan dua sekretarisnya. Sambil berjalan menuju basement, Wildan mengirim pesan kepada Ratna.
Wildan
Nanti malam kamu gak usah masak ya. Aku mau makan malam di rumah orang tuaku. Nanti kamu pulang naik mobil kantor aja, aku langsung ke rumah Mama.
Ratna yang masih asik menatap layar ponselnya tiba - tiba terkejut karena mendengar suara ponselnya berbunyi. Dia segera meraih ponselnya dan membaca pesan dari Wildan.
Ratna menarik nafas berat lalu menjawab pesan Wildan tanpa semangat.
Ratna
Baik Pak.
Tiba - tiba Rania menghampiri meja kerjanya.
"Nanti malam aku mau makan malam bersama calon suami dan calon mertuaku. Kira - kira ada yang patah gak ya... " sindir Rania.
Saat ini dia benar - benar senang karena tiba - tiba saja mendapat undangan makan dari orang tua Wildan. Sebenarnya Rania juga baru tau kalau dia dan Wildan dijodohkan oleh orang tua mereka. Kabar itu dia ketahui tepat sehari sebelum Wildan menggantikan jabatan Papa nya sebagai CEO.
Walau memang bukan perjodohan di paksa. Papa Rania berpesan agar Rania bisa mendekatkan diri dengan Wildan. Rania tentu saja sangat senang sekali mendapatkan perintah seperti itu.
Makanya saat dia tau Wildan datang ke Perusahaan ini dengan membawa wanita yang akan menjadi saingannya sebagai sekretaris, Rania sangat marah dan kesal.
Awalnya Rania gak takut karena melihat penampilan Ratna yang menurutnya kampungan. Tapi lama kelamaan dia khawatir karena Wildan kelihatannya sangat perhatian kepada Ratna.
Apalagi Wildan sepertinya pilih kasih, kalau bekerja dia lebih sering suruh Ratna begini dan begitu. Sedangkan padanya Wildan hanya bertanya jadwal dia seharian saja.
Hari ini Rania kembali bersemangat karena tiba - tiba mendapat kabar gembira. Dia sudah tidak sabar untuk makan malam bersama calon suami dan calon mertuanya.
Ratna tidak menanggapi ucapan Rania. Dia fokus pada pekerjaannya yang sebentar lagi kelar. Setelah itu dia akan turun makan siang bersama teman - teman barunya di PT. Raharjo Group.
"Rat aku titip kantor ya.. Pak Wildan kan gak balik lagi katanya. Aku juga mau cabut, mau ke salon. Biar kelihatan cantik dan kinclong di depan calon mertua" ujar Rania.
Ratna tidak perduli Rania mau kemana dan apa yang ingin dia lakukan. Yang penting Ratna selesai menyiapkan berkas yang diminta Wildan besok.
Setelah selesai makan siang dan shalat Ratna melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Rania sudah pergi sebelum makan siang. Tiba - tiba saja Wildan kembali ke kantor.
"Lho Pak kok balik, tadi katanya langsung pergi ke rumah orang tua Bapak?" tanya Ratna terkejut saat melihat Wildan berjalan melewati meja kerjanya.
"Iya ada yang kelupaan" jawab Wildan.
Wildan kemudian berhenti dan melirik ke meja Rania.
"Rania mana?" tanya Wildan.
"Saya gak tau dia kemana Pak" jawab Ratna.
"Sebelum makan siang Pak" jawab Ratna jujur.
Wildan tersenyum tipis.
"Ya sudah biarkan saja dia, saya juga cuma sebentar" ujar Wildan dan berlalu dari hadapan Ratna.
Ratna sedikit kecewa Wildan terlihat sangat cuek padanya hari ini. Apa ada hubungannya dengan kemarin Papa dan Mama Wildan datang ke apartement? Mereka juga tiba - tiba mengundang Rania ke rumah. Apa itu artinya Rania memang calon istrinya Wildan seperti yang Rania katakan tadi?.
Ratna tak berani menatap Wildan, dia berusaha menyibukkan dirinya. Sedangkan Wildan tersenyum penuh makna sambil melirik Ratna.
Wildan mengambil beberapa berkas yang ingin dia diskusikan dengan Papanya nanti malam. Setelah berkas yang ingin dia bawa sudah didapatkan. Wildan segera keluar lagi dari ruangannya.
"Aku pergi lagi Rat, jangan lupa nanti pulang pakai mobil kantor" pesan Wildan.
Walau Ratna merasa pesan Wildan itu dengan nada cuek tapi tidak dengan Wildan. Dia menyuruh Ratna naik mobil kantor agar Ratna sampai di apartement dengan selamat.
"Baik Pak" jawab Ratna.
Wildan berlalu dari hadapan Ratna hingga tubuhnya hilang di balik pintu liftm
Ngapain juga peduliin aku pulang Pak. Sana bersenang - senang dengan wanita itu yang sepertinya memang sudah mendapatkan restu dari orang tua Bapak. Batin Ratna sedih.
Wildan kini sudah dalam perjalanan ke rumah orang tuanya. Saat dia sampai bersamaan dengan Rania tiba.
"Eh Pak Wildan sehati banget ya kita, tanpa janjian bisa sampai bersamaan" ujar Rania menyapa Wildan.
Wildan hanya diam dan dingin berlalu dari hadapan Rania.
Duh kenapa sih dia dingin lagi. Padahal tadi waktu di kantor mesra banget suruh aku datang kesini. Batin Rania.
"Eh kalian sudah datang rupanya" sambut Mama Wildan.
"Ma.. " Wildan mencium pipi Mamanya dengan penuh kasih sayang.
"Tante.. ini aku ada bawa buah tangan" ucap Rania sambil memberikan sekantong plastik buah - buahan.
"Aduh pas banget, Wildan suka banget lho Ran buah - buahan. Gimana kalau kamu kupas kulitnya" pinta Bu Raharjo.
Waduh mati aku.. aku tadi baru dari salon pedi mani malah disuruh kupas buah. Hancur deh kukuku. Batin Rania.
Mama Wildan mengedipkan sebelah matanya kepada Wildan dan putranya itu tersenyum tipis. Wildan mengerti apa maksud Mamanya karena dia bisa melihat secara jelas bagaimana wajah Rania.
"Papa mana Ma?" tanya Wildan.
"Tuh ada di teras belakang" jawab Bu Raharjo.
Wildan bergegas hendak menghampiri Papanya tiba - tiba dia mendapat ide yang lebih baik lagi dari Mamanya.
"Ma katanya mau ajak Rania masak hari ini?" tanya Wildan pura - pura.
"Yaaa maksudnya sih begitu" jawab Mama Wildan.
Sontak wajah Rania memucat.
"Mau masak apa Ma?" tanya Wildan iseng.
"Makanan kesukaan kamu. Gurami asam manis. Ran kamu bisa kan bersihin ikan gurami? Habis kupas buah tolong bantuin Tante bersihin ikan gurami yang baru di tangkap Om dari kolam" perintah Mama Wildan.
Sontak buah apel yang ada di tangan Rania jatuh ke lantai dan menggelinding ke dekat kaki Wildan.
"Waaah Rania setuju tuh Ma" sambut Wildan dengan tersenyum menang.
Wajah Rania semakin pucat dikerjain Wildan dan Mamanya.
.
.
BERSAMBUNG