Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 184


Persidangan kasus Sofia sudah berlangsung. Hari ini akan dilakukan sidang akhir untuk memutuskan hukuman yang akan Sofia dapatkan.


Cinta dan Melodi hadir ke persidangan bersama Pak Ilham dan Bik Sumi. Ratna dan Wildan kemudian menyusul mereka ke lokasi persidangan.


Tampak ruangan persidangan sudah ramai. Karena Melodi adalah pengusaha sukses banyak wartawan yang ingin mencari berita dalam kasus tersebut.


Persidangan dimulai tepat pukul sepuluh pagi. Semua aparat pengadilan sudah hadir begitu juga dengan Sofia selaku tersangka utama dalam kasus ini.


"Berdasarkan saksi - saksi dan bukti - bukti, tersangka yang bernama Sofia telah terbukti melakukan tindakan kejahatan pembunuhan berencana atas korban bernama Cinta Aurora yang mengakibatkan korban keguguran dan kehilangan calon bayinya. Sesuai dengan padal 340 KUHP yang isinya. Barangsiapa sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam, karena pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun. Oleh sebab itu kami memutuskan tersangka akan dijatuhi hukuman penjara selama dua puluh tahun" ucap Hakim persidangan.


Pria itu mengambil palu yang ada di hadapannya dan mengetuknya.


Tok.. Tok.. Tok..


Sofia tampak tertunduk di kursi pesakitan. Air mata mengalir dari sudut matanya. Cinta yang melihatnya dari kejauhan merasa iba.


"Oh ya Allah semoga di dalam penjara Sofia menemukan hidayah dan bertaubat kepada Allah" ucap Cinta.


"Semoga saja sayang" sambut Melodi.


"Silahkan tersangka, anda diberi kesempatan untuk berbicara kepada korban" perintah Hakim.


Sofia mengangkat kepalanya dia menatap Melodi, pria yang pernah dia cintai. Bahkan saat ini pun cintanya masih ada kepada pria itu. Hanya saja cintanya tak berbalas.


Sofia bersyukur dirinya pernah masuk ke dalam hidup Melodi. Walau tidak mendapatkan hatinya tapi Melodi tidak pernah memperlakukannya dengan buruk.


"Melodi aku meminta maaf kepada kamu. Aku sudah banyak merusak hidup kamu. Cinta.. aku.. aku.. juga minta maaf karena telah menyebabkan kamu keguguran. Aku telah dikuasai dendam dan cemburu. Dulu Papaku sering sekali bercerita tentang keluarga kamu. Papaku berjanji akan mengenalkan aku dengan kamu dan Kakak kamu tapi keinginannya itu tidak pernah tercapai. Tolong maafkan perbuatan Papaku pada kalian ya, pada keluarga kalian semua. Aku mewakili nama Papa dan aku juga sendiri meminta maaf kepada kalian dengan sepenuh hatiku. Tolong maafkan Papaku agar dia bisa tenang di sana. Kesalahan Papaku memang sangat besar, tapi namanya anak pasti tidak tega membayangkan siksaan yang akan diterima Papaku" Sofia menangis terisak.


Sepertinya dia sudah menyadari kesalahannya dan sudah berubah.


"Aku lelah hidup seperti ini, tolong jangan benci aku. Sejak tujuh tahun yang lalu aku kehilangan kasih sayang Papaku. Yang aku tau kamu Melodi yang sudah melakukan kesalahan karena memenjarakan Papaku, hingga akhirnya Papaku meninggal di dalam penjara. Dan kamu Cinta kalau kamu mati mungkin kesalahan Papaku tidak akan terbongkar. Makanya aku berniat untuk membunuh kamu. Kini aku menyesal dan menyadari semua kesalahanku. Aku ingin terlahir kembali dengan pribadi baru. Menyambut hari - hariku dimasa yang akan datang. Aku sudah ikhlas menjalani kehidupan di penjara, disana mungkin aku tidak akan melakukan dosa - dosa besar seperti sebelumnya" ungkap Sofia.


Ada jeda beberapa menit karena Sofia masih menangis terisak.


"Apa sudah cukup?" tanya Hakim.


"Sudah yang mulia terimakasih" jawab Sofia santun.


"Dari para korban, ada yang ingin kalian ucapkan?" tanya Hakim.


Melodi berdiri dan memegang mikrofon.


"Saya Melodi Sanjaya selalu anak dari Sanjaya, atas nama orang tua saya, saya pribadi dan atas nama seluruh keluarga istri saya ingin mengatakan kalau kami sudah memaafkan kamu dan Papa kamu. Semoga kamu istikomah dalam memperbaiki diri kamu. Dan kami juga turut mendoakan semoga kamu berhasil untuk menjalani kehidupan baru kamu. Aku juga meminta maaf kepada kamu, selama kita berteman jika ada perbuatan aku yang salah aku mohon maaf. Cukup sampai di sini permasalahan kita. Kita tutup saja lembaran masa lalu. Kelak di kemudian hari jika kita masih di kasih umur panjang dan punya kesempatan untuk bertemu lagi. Semoga kita bisa menjadi teman kembali" jawab Melodi dengan tulus dari dalam hatinya.


Cinta menggenggam tangan suaminya memberikan dukungan atas kelapangan hati Melodi memaafkan Sofia. Selama ini Cinta mengenal Melodi adalah pria penuh emosi dan pendendam.


Cinta bangga melihat sosok suaminya sekarang. Melodi benar - benar berubah, begitu juga dia harap dengan Sofia. Setiap manusia tak luput dari dosa. Tapi jika kita benar - benar mau berubah Allah pasti akan beri kesempatan.


Hidayah bisa datang kapan saja, hanya saja tinggal kita harus pintar - pintar untuk meraih hidayah itu. Jika hidayah itu datang tapi kita tidak segera meraihnya bisa saja hidayah itu pergi lagi dan tak akan pernah kembali lagi.


Melodi membalas genggaman tangan Cinta. Mereka saling pandang sesaat. Cinta melemparkan senyuman termanis yang dia miliki. Membuat hati Melodi terasa lebih tenang dan tentram.


"Baiklah kalau begitu semua sudah selesai. Korban dan terpidana sudah saling memaafkan. Saatnya terpidana menjalani hukumannya. Sidang kita akhiri sampai di sini" ucap Hakim


Tok.. tok..


Hakim mengetuk palu tanpa persidangan sudah berakhir. Melodi dan Cinta menatap wajah Sofia. Beberapa detik mereka saling pandang hingga akhirnya Sofia dibawa oleh bagian keamanan untuk dibawa ke penjara.


Air mata penyesalan mengalir dari pipi Sofia. Dia berjalan sambil menundukkan wajahnya mengikuti para polisi yang akan membawanya menuju mobil tahanan. Setelah itu Sofia akan diantar kepenjara.


Cinta menarik nafas panjang, akhirnya rahasia masa lalu keluarganya dan keluarga Melodi selesai hari ini. Mudah - mudahan tidak akan ada kelanjutan ataupun dendam turunan untuk anak - anak mereka.


Cukup mereka yang menderita, cukup mereka yang kehilangan orang - orang yang disayangi. Baik Cinta, Melodi ataupun Sofia sama - sama kehilangan orang tua karena masalah tujuh tahun yang lalu.


Jangan sampai anak - anak mereka mengalami hal yang sama sehingga dendam itu tak pernah usai. Berulang dan berulang kembali tak selesai - selesai.


Cinta dan Melodi keluar dari ruangan pengadilan negeri sambil bergandengan tangan. Sejak tadi mereka belum ada berbicara, masih saling diam dengan pikiran masing - masing.


Akhirnya mereka sampai di parkiran dan masuk ke dalam mobil. Bik Sumi dan Pak Ilham sudah duduk di kursi belakang. Melodi diam sesaat di atas kursi kemudinya.


"Bagaimana sekarang perasaan kalian berdua?" tanya Pak Ilham.


Melodi menarik nafas panjang sambil memegang setir mobil.


"Lega Pak, lega sekali. Akhirnya semuanya selesai" jawab Melodi.


Pak Ilham menepuk bahu Melodi dari belakang.


"Syukurlah, kata maaf itu memang sangat mudah diucapkan tapi begitu berat melakukannya butuh keikhlasan dan kelapangan dada. Kamu bisa memaafkan wanita itu Bapak acungkan jempol pada kalian. Semoga Allah melihat kebaikan hati kalian dan membalasnya dengan kebaikan juga" sahut Pak Ilham.


"Aamiin... " sambut Wildan, Cinta dan Bik Sumi.


.


.


BERSAMBUNG