Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 202


"Maaf Pak, sepertinya saya memang harus segera pulang" ucap Ratna.


Ratna hampir gagal menahan air matanya yang akan jatuh. Dia segera berbalik dan pergi meninggalkan ruangan Wildan.


Dengan tubuh yang bergetar Ratna meraih tasnya dan segera turun melalui lift. Jantungnya berdetak kencang, wajahnya pucat dan seluruh tubuhnya berkeringat.


Ternyata wanita itu adalah masa lalu Wildan. Dirinya dan wanita itu tak bisa Ratna berani untuk membandingkannya. Dari segi manapun Ratna sudah kalah telak.


Wanita yang sangat cantik, elegan, berkelas, pintar dan kaya. Dia dan wanita itu bagaikan bumi dan langit. Ratna setengah berlari meninggalkan gedung perkantoran PT. Raharjo Group.


Begitu sampai di halte Ratna segera memanggil taxi kosong karena air matanya akan segera jatuh. Dia tidak ingin banyak orang yang melihat dia menangis di tengah keramaian Kota ini.


Begitu masuk ke taxi Ratna menangis sejadi - jadinya. Tak kuasa menahan sakitnya hatinya. Tapi siapa yang harus disalahkan atas semua ini.


Takdir? ya mungkin takdir yang memang tidak menggariskan mereka harus bersatu. Mungkin memang mereka tidak berjodoh. Ratna harus segera bisa menerima kenyataan pahit ini.


Sesampainya di apartementnya Ratna segera membersihkan tubuhnya. Kemudian Ratna menyusun semua barang - barangnya ke dalam koper.


Malam ini sudah sangat larut biar besok saja dia pergi dari tempat ini. Yah Ratna sudah memutuskan untuk pergi, meninggalkan semuanya untuk sementara waktu.


Ratna sudah merencanakannya dengan sangat matang. Dia sudah menulis surat pengunduran dirinya juga surat pernyataan pribadinya kepada Wildan bahwa dia berjanji akan melunasi semua uang Wildan yang telah Wildan keluarkan untuk membantu keluarganya.


Pagi - pagi sekali Ratna pergi dari apartement Melodi. Walau dia belum tau kemana arah tujuan dia pergi tapi satu yang Ratna yakini dia harus pergi menjauh dari kehidupan Wildan.


Ratna naik ke dalam bus yang pertama kali dia temui. Dia sendiri tidak tau kemana arah tujuan bus ini akan berjalan. Yang penting dia harus pergi sejauh mungkin.


Di dalam perjalanan Ratna sempat mengirimkan pesan kepada keluarganya yang isinya untuk sementara waktu untuk tidak menghubunginya dulu. Ratna meyakinkan keluarganya kalau dia dalam keadaan baik - baik saja. Dia hanya butuh waktu sendiri.


Ratna juga mengirimkan pesan kepada Cinta yang isinya dia sangat berterimakasih pada Cinta dan Melodi karena sudah banyak membantunya selama ini. Ratna juga mengatakan kalau dia sudah pergi meninggalkan apartement Melodi.


Dan tadi sebelum berangkat Ratna sudah mengirimkan surat pengunduran dirinya melalui ojek online ke kantor Wildan. Keyakinan Ratna sudah bulat, dia harus pergi menjauh dari semuanya.


Tidak tau sampai kapan? Yang jelas Ratna tak ingin pergi selamanya dari Cinta. Dia hanya ingin melupakan Wildan dan menata hatinya.


Nanti jika semua sudah sembuh dia mungkin akan menghubungi Cinta kembali. Bagaimanapun Cinta sudah jadi keluarganya di Jakarta ini.


Cinta yang mendapat pesan pagi - pagi sekali dari Ratna merasa sangat terkejut. Dia segera menghubungi Ratna tapi nomor ponsel Ratna sudah tidak aktif.


"Kamu kenapa sayang panik begitu?" tanya Melodi.


"Ratna Mas" jawab Cinta cemas.


"Ada apa dengan Ratna?" tanya Melodi penasaran.


"Dia pamit pada kita. Katanya dia tidak akan tinggal lagi di apartement kamu. Dia titip salam pada kamu dan mengucapkan terimakasih karena selama ini sudah memberikan dia tempat tinggal disana" ungkap Cinta.


"Lalu kemana dia pergi?" tanya Melodi ingin tahu.


"Dia tidak ada mengatakan kemana dia akan pergi dan tinggal. Dia hanya pamit. Aku hubungi ponselnya sudah tidak aktif" jawab Cinta.


"Sudah kamu tenang saja ya, nanti Wildan yang akan mencarinya. Wildan pasti menemukannya, percayalah" ucap Melodi menenangkan Cinta.


Sekitar jam setengah sembilan pagi Wildan terkejut tidak melihat Ratna di kantornya. Walau ini hari sabtu tapi dia dan Ratna sepakat lembut karena ada pekerjaan yang harus mereka selesaikan


Tadi Wildan sudah berusaha pergi lebih cepat agar bisa bertemu Ratna tapi Ratna ternyata sudah pergi. Wildan masuk ke dalam ruangannya dan mencoba menghubungi ponsel Ratna. Tapi operator yang menjawab panggilan Wildan.


Tak lama seorang office boy datang ke ruangan Wildan untuk mengantarkan sebuah surat. Wildan segera membuka dan membacanya.


Wildan segera merobek - robek kertas itu hingg menjadi serpihan. Dia sangat marah kali ini, sangat - sangat marah kepada Ratna.


Bruk... praaaaang....


Kaca sofa di ruangan kerja Wildan pecah karena terkena pukulan Wildan. Walau tangannya terluka tapi Wildan sedikitpun tidak merasakan kesakitan.


"Rat kamu tidak bisa pergi begitu saja. Kamu pasti salah sangka kemarin. Aku tidak punya hubungan apapun lagi dengan Bela. Semua sudah berakhir, aku hanya memilih kamu. Mengapa kamu pergi Ratna?" tanya Wildan kesal.


Tak lama seorang OB datang ke ruangan Wildan.


"Maaf Pak tadi saya dengar ada suara kaca pecah?" tanya pria itu.


"Bersihkan semua ini" perintah Wildan.


"Baik Pak" jawab pria tersebut.


Wildan meraih tas, ponsel dan kunci mobilnya. Dia membuka dasinya dan melilitkanya di tangannya yang luka. Sedikitpun dia tidak merasa kesakitan.


Wildan memerintahkan asisten pribadinya untuk membatalkan janji mereka hari ini. Dia tidak ingin diganggu. Wildan ingin mencari keberadaan Ratna.


Wildan kembali ke apartementnya dan mencoba membuka pintu apartement yang dipakai Ratna. Setelah dia memencet kode sandi pintu terbuka. Tapi dia tidak menemukan Ratna di dalamnya.


Wildan masuk ke kamar, semua tertata rapi dan bersih. Tetap tidak ada Ratna. Wildan semakin panik dan marah dengan keadaan ini.


"Kamu gimana Ratna?" teriak Wildan marah.


Wildan keluar dari apartement dan kembali ke mobilnya. Dia berpikir keras kemana harus mencari Ratna. Apa dia pergi ke rumah Melodi dan Cinta?


"Aaaaakh lebih baik aku ke sana" gumam Wildan.


Wildan melajukan mobilnya menuju rumah Cinta dan Melodi. Untung saja hari ini hari libur. Pasti Melodi dan Cinta ada di rumah.


Satu jam kemudian Wildan sudah sampai di rumah Cinta dan Melodi. Dia segera masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju teras belakang. Hari libur seperti ini sepasang suami istri itu biasanya lebih banyak menghabiskan waktu mereka di belakang rumah.


Melodi dan Cinta biasanya pasti sedang duduk santai di gazebo sambil menyaksikan Pak Ilham dan Bik Sumi berkebun. Atau biasanya Melodi dan Cinta sedang berenang di kolam renang mereka.


Dan dugaan Wildan benar, Cinta dan Wildan sedang duduk santai di gazebo menikmati udara pagi Kota Bogor yang sejuk.


"Mas" ucap Cinta, memberi isyarat pada Melodi kalau Wildan datang pasti akan membahas masalah Ratna..


Melodi membalas isyarat dari istrinya dengan kode agar Cinta tenang. Wildan langsung duduk di gazebo bergabung bersama mereka. Wajahnya tampak sangat kusut.


"Apa Ratna ada di sini?" tanya Wildan langsung.


"Tidak ada Wil" jawab Melodi.


"Apa kalian sudah tau kalau Ratna pergi dari apartement?" tanya Wildan.


"Sudah, tadi pagi - pagi sekali Ratna mengirim pesan kepada Cinta. Dia mengucapkan terimakasih karena selama ini sudah diperkenankan tinggal di apartementku. Aku kira kamu bisa menemukan Ratna tapi mengapa kamu malah ke sini?" tanya Melodi.


Sontak Wildan semakin putus asa mendengar jawaban Melodi.


"Ya Tuhaaaan... kemana kamu Rat?" tanya Wildan.