
Tok.. tok.. Tok..
Inka memberanikan diri, mengetuk pintu ruangan Mario, karena ia sudah menunggu setengah jam lebih, tapi tamu Mario tak kunjung keluar. Sedangkan ia pun harus segera ke butiknya.
“Masuk.” Ucap Mario.
Inka membuka pintunya perlahan. Kedua pria di ruangan itu langsung menoleh.
“Hmm.. maaf aku menganggu ya?” Tanya Inka dengan mimik wajah seperti anak kecil yang berbuat salah.
“Tidak.” Jawab Mario.
Inka menghampiri kursi Mario, tatapannya hanya tertuju pada suaminya sejak ia membuka pintu.
“Aku bawakan makanan, tadi kamu belum sempat menyentuhnya.”
“Mau nyogok?” Mario tersenyum dengan mata yang masih menatap intens sang istri.
Inka tersenyum manis dan begitu menggemaskan. Pesonanya membuat pria di hadapan Mario pun terpesona, tapi Mario tak menyadarinya.
“Ekhem.” Pria di hadapan Mario bersuara.
“Oh, iya. Aku lupa kalau ada orang juga di sini.” Kata Mario menepuk jidatnya.
“Gue di kacangin.” Ucap pria itu.
“Sorry, Bro. Ini istri gue. Namanya Inka.”
“Oh, saya David.” David mengulurkan tangannya, dan Inka membalas uluran tangan itu.
“Inka.”
David tak henti-henti memandang wajah cantik Inka.
“Wah istri lo cantik banget, Bro. Pantes insyaf.”
Mario menoleh ke arah Inka. “Iya donk, capek menjelajah terus, Bro.”
Inka mengeryitkan dahinya mendengar kedua pria matang ini berbicara.
Kemudian Mario menyadari tatapan temannya yang tak biasa pada Inka. David terus memandangi istrinya.
“Ekhem. Ini punya gue, jangan macem-macem lo!” Ucap Mario tegas.
“Iya, mana berani gue.” David berdiri dari duduknya.
“Kalu gitu gue permisi, lain waktu kita ketemu lagi, Bro.” Kata David lagi.
“Lo masih di Bali?" Mario pun bangkit dari duduknya.
“Masih lah, Bali itu surga dunia, Bro.” Jawab David sambil tertawa.
Mario pun ikut tertawa. Ia berdiri dan mengantar David keluar, di iringi senyum Inka pada David. Mario kesal melihat keramahan istrinya pada temannya yang terkenal lebih berandal darinya. David yang di sebut Mario sebagai salah satu teman berandal semasa kuliahnya yang ikut di tato bersamanya ketika mengunjungi suku Maori di Selandia Baru.
Mario duduk lagi di kursinya dengan wajah yang semakin di tekuk. Inka menutup lagi pintu ruangan Mario, dan menghampiri suaminya.
“Bisa tidak, ngga usah menampilkan senyum manis pada orang lain.” Kata Mario denga suara tak suka.
“Maksudnya?” Tanya Inka bingung. Ia masih setengah duduk di meja kerja Mario, berada persis di hadapan kursi yang di duduki suaminya.
Jika sudah berposisi seperti ini, biasanya Mario akan langsung mendekat dan menghimpit kedua paha Inka dengan kedua kakinya, sambil memegang pinggang Inka.
“Kamu masih marah?”
Mario memutar kursinya, hingga berhadapan dekat dengan Inka. Ia menatap tajam matanya. Tangannya meraih rambut Inka yang di kuncir.
“Ini di lepas. Banyak singa lapar yang akan menatapmu dengan gaya rambut dan pakaian seperti ini.”
Inka berdiri dan melihat dirinya dari dada hingga ke kaki.
“Memang tidak pendek. Tapi tetap aku ngga suka David menatapmu seperti tadi.” Ucap Mario dingin, lalu kembali fokus pada laptopnya.
“Ya.. Maaf.”
Inka berjongkok dan menopang dagunya, persis di samping laptop Mario. Ia menatap Intens suaminya yang tengah fokus.
“Maaf, udah jangan marah!” Tangan Inka menarik lengan kemeja Mario.
“Kak..”
“Apa?” Jawab Mario dengan mata yang masih tertuju pada laptopnya. Inka seperti yang tengah di acuhkan.
“Kamu ngga laper, kan belum sarapan.”
“Engga, orang kesel mana ada laper.” Jawab Mario ketus.
“Kak..” Lagi-lagi Inka mnarik lengan kemeja Mario dan mengelus dadanya.
Mario menoleh, ia melihat Inka yang tengah mengedip-ngedipkan matanya.
Mario tersenyum. “Kamu cacingan. Minum obat gih!”
“Ih..” Inka memukul lengan Mario dan berdiri.
“Ya udah aku mending ke butik aja, dari pada di sini di cuekin.”
Tangan Inka di cekal, saat ia hendak meninggalkan Mario.
“Suapin!” Mario mengangkat tempat makan yang Inka bawa dan menyodorkannya.
Inka tersenyum sumringah, lalu meraih tempat makan itu, membukanya dan menyondokkan pada mulut suaminya.
Mario memakan setiap suapan yang di berikan Inka.
“Masakanmu semakin hari, semakin enak.” Kata Mario, sambil menerima suapan dari Inka.
“Iya donk, orangnya juga semakin hari semakin cantik dan sexy kan?’
Mario mengeryitkan dahinya.
“Sejak kapan kamu jadi centil begini?” Mario menatap wajah Inka dekat dan mencubit dagunya.
“Hmm... sejak jadi istri dari suami yang mesum.” Jawab Inka dengan senyum menggoda.
Ia menjauh dari tempat Mario duduk dan membereskan tempat makan yang sudah kosong di meja sofa tamu yang berada di seberang kursi kebesaran suaminya. Posisi Inka memang sedikit agak menungging, karena meja itu lebih rendah dari dirinya.
Mario mendekati Inka, dan menempelkan dirinya dari belakang. Inka merasakan sesuatu di sana, lalu berdiri. Mario semakin mengeratkan pelukannya dengan posisi yang masih berada di belakang Inka.
“Kak..” Inka memegang tangan Mario yang sudah melingkar di perutnya. Ia menoleh ke belakang.
“Siapa suruh pagi-pagi udah ngajak debat, dan sekarang malah menggoda.” Jawab Mario dengan membalikkan tubuh Inka.
Inka mengusap wajah tampan suaminya.
“Aku akan berusaha mengatur pekerjaanku, agar bisa ikut menemanimu ke Dubai.”
Mario tersenyum mendengar ucapan istrinya. Ia meraih dagu Inka dan mengecupnya.
Cup
Mario mengecap bibir merah muda yang beraromakan strauberi itu. Ia mel*matnya dengan rakus, hingga tubuh Inka terdorong ke belakang. Lalu menggendong istrinya ke kamar, yang tersedia di ruangan itu. Kamar yang luas, yang berada di balik lemari besar ruangan itu, khusus Mario buat untuk tempat istirahatnya sejenak.
Mario membuka dres Inka perlahan, membuat bahu Inka terbuka perlahan, sambil bibir Mario menelusuri bagian itu.
“Aku tidak suka dia memandangmu seperti itu. Cukup aku yang boleh seperti itu.” Kata Mario lagi di sela-sela ciumannya. Di kepala Mario masih saja teringat mata David yang memandangi Inka dengan tatapan yang sulit di artikan, tapi sebagai mantan seorang playboy, ia mengerti arti tatapan itu.
Lagi-lagi mereka menyelesaikan permasalahannya di ranjang. Inka pun tak keberatan, walaupun mungkin ia akan sampai di butiknya dengan sangat siang, yang penting Mario tak mendiamkannya lama-lama, karena ia pun tak bisa di acuhkan oleh suami tercintanya itu.