Istriku Canduku

Istriku Canduku
aku akan tetap memilihmu


Selesai makan siang, Adhis segera meninggalkan Vino yang masih duduk di meja makan. Ia menghampiri putra semata wayangnya yang sedang menangis. Desi pun menemani Adhis keluar untuk mengajak cucunya bermain dan menenangkannya.


Sementara Raka masih terus berbincang dengan Mario seputar Bisnis. Raka bertanya pada Mario seputar bisnis starup, ia tertarik untuk mencoba bisnisnya melalui aplikasi android, karena saat ini bisnis penjualan retail dalam bentuk mini marketnya perlu pengembangan. Ia tidak hanya ingin mengandalkan mini market secara offline saja, walaupun mini market yang Raka dirikan sudah ratusan jumlahnya di berbagai titik kota di Indonesia. Namun, Raka menginginkan penjualan secara online di sebuah aplikasi yang mudah di akses. Mengingat Raka telah memberikan 50 persen mini market miliknya untuk Vino, sebagai syarat agar Vino mau menikah dengan Adhis pada waktu itu.


"Bi, Inka bantu bereskan ke belakang ya." Inka membantu membersihkan meja makan dan membawa piring kotor ke dapur.


Vino tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, ia ikut ke dapur, tak lama Inka masuk ke sana. Mario melirik ke arah Vino yang berdiri dari duduknya dan melangkah cepat ke dapur. Namun, Mario tak bisa meninggalkan Raka yang sedang serius menanyakan banyak hal sebagai saran untuk bisnisnya.


Mario mulai tak berkonsentrasi menjawab pertayaan-pertanyaan mertuanya.


Benar saja. Vino menghampiri Inka yang tengah meletakkan piring kotor di wastafel. Ia pun berdalih membawa piring kotor itu ke wastafel, padahal tak pernah sekalipun ia melakukan hal ini sebelumnya. Ketika Inka hendak berbalik, Vino sengaja mendekat, hingga kedua tubuh mereka hampir saja bersentuhan. Untung Inka langsung sigap dan berhenti melangkah.


"Maaf." Kata Vino pura-pura.


Inka masih menunduk dan tidak membalas tatapan Vino. Ia hanya mengangguk dan segera melangkah keluar. Namun, Vino menahan tangan Inka.


"Apa kabar?"


Inka melepas genggaman tangan Vino yang masih ada di pergelangan tangannya.


"Kita sudah tidak ada urusan lagi, Vin."


"Tapi untukku kamu tetap yang terindah, In." Ungkap Vino.


Inka hanya mencibir dan menggeleng, lalu bergegas meninggalkan pria gila itu.


****


Inka dan Mario pamit pada Raka. Ketika Inka ingin melangkah, kakinya hampir terpeleset karena menghindar mainan Deandra yang berserakan.


"Sayang." Mario dengan cepat meraih lengan Inka dan menggendongnya sedikit, agar Inka tidak terjatuh.


"Maaf ya, mainannya Deandra berserakan di mana-mana." ucap Adhis dengan cepat memungut benda-benda yang ada di sana.


"Iya tak apa." Jawab Inka.


"Lain kali, kamu harus perhatikan ini, walaupun ini hal kecil tapi bisa membahayakan orang lain, apalagi saat ini istriku sedang hamil." Ujar Mario kesal.


"Apa? Inka hamil?" Tanya Raka sumringah.


"Iya, Pa." Jawab Mario di iringi anggukan Inka.


"Kami juga lupa, Pa." Ujar Inka sambil tertawa kecil.


"Selamat ya, In." Kata Desi menambahi.


Kini, Mario dan Inka audah di depan mobilnya.


"In, lebih sering-sering datang ke sini ya!" Teriak Raka.


Mereka pun meninggalkan rumah itu.


Di dalam mobil, Mario diam. Inka menoleh ke wajah suaminya.


"Kenapa?" Tanya Inka sambil mebgelus pundak Mario.


"Aku tadi melihat Vino ke dapur. Dia pasti mengganggumu? Aku lihat dia tak lepas memandangimu sejak makan tadi." Kesal mario.


"Ingin rasanya aku mencolok kedua matanya." Mario berkata lagi, suaranya lebih dingin dan tak ada senyum sama sekali.


"Terserah dia mau melakukan apa, Kak. Sejak aku memutuskan hubungan dengannya, aku merasa sudah tidak ada urusan apapun padanya dan Vino sudah bukan siapa-siapa lagi bagiku." Jawab Inka dengan terus menatap Mario.


Mario menoleh ke arah Inka, tapi tetap dengan fokus menyetir.


"Hmm.." Mario menaikkan alisnya.


"Sungguh, aku hanya mencintai orang menyebalkan di sampingku ini. Siapapun pria yang datang sebelumnya, saat ini atau nanti, aku akan tetap memilihmu, suamiku." Inka menekankan kata terakhirnya, tepat di telinga Mario.


Mario tersenyum lebar. Lalu menyentuh pinggang Inka.


"Aww.. Geli!" Inka membulatkan matanya sambil tetap tersenyum.


"Siapa yang ngajarin gombal? Hah."


"Kamulah."


Mario melakukan hal yang sama. Ia terus mencolek pinggang Inka, hingga tubuhnya bergoyang, merasakan geli sambil tertawa.


Mario pun tertawa, melihat istrinya yang berteriak kegelian.