
Satu bulan, dua bulan, tiga bulan berlalu.
Bulan sebelumnya, Mario absen untuk menemui Sasha. Lagi pula, putri yang Sasha lahirkan dengan nama Bunga, telah berangsur membaik. Operasi serambi jantung buatan untuknya berjalan dengan lancar dan tidak pernah lagi ada keluhan. Hanya saja, ketika Bunga tumbuh, tetap tidak bisa bermain seperti anak yang lainnya. Jantungnya lemah, tidak menutup kemungkinan akan drop atau berhenti berdetak sewaktu-waktu. Namun, semua adalah kuasaNya.
Mario bertekad, ketika nanti jadwalnya bertemu Sasha, ia akan bicara baik-baik untuk menceraikannya, walau tetap ia akan bertanggung jawab atas biaya Bunga dalam hal, kesehatan dan pendidikan.
Mario sedang menatap foto-foto Inka yang berada di galeri ponselnya. Delapan puluh persen, isi galeri di ponselnya adalah foto-foto Inka, entah itu dari candid, selfie, atau foto berdua. Mario tersenyum, tatkala melihat aksi selfie sang istri dengan pose tak biasa. Inka memang paling suka men-selfie dengan pose jelek, tapi itu menambah kesukaan tersendiri bagi Mario. Perempuan unik, mandiri, berkepribadian, dan yang paling tak bisa lepas adalah tubuh itu yang selalu membuatnya candu.
Mario teringat, ketika bulan kemarin ia mengalami drop dan demam tinggi, alasan itu juga yang membuat ia tak datang mengunjungi Sasha pada waktu itu. Inka merawatnya dengan telaten, hingga meninggalkan semua pekerjaannya. Membuat Inka di komplain beberapa pelanggan yang tidak menerima pesanannya sesuai janji.
Mario tersenyum sumringah, tatkala mengingat Inka yang dengan sukarela menanggalkan seluruh pakaiannya, demi mempercepat menurunkan demam tinggi yang di alami Mario, melalui metode skin to skin. Kekhawatiran Inka padanya pada waktu itu, menambah keyakinan bahwa Inka pun mencintainya.
"Aku tau kamu mencintaiku, walau bibirmu belum pernah mengucapkan itu." Ucap Mario sambil mengelus foto istrinya.
****
Untuk Inka, hari ini hari yang sangat melelahkan. Kebetulan bulan ini dan beberapa bulan ke depan adalah bulan kawin. Sehingga banyak sekali orderan pakaian pengantin di butiknya.
Di saat yang bersamaan dengan Mario tadi. Inka pun melakukan aktifitas yang sama. Di sela-sela waktu istirahatnya, ia melihat-lihat whatsapp dan berakhir dengan membuka galeri pada ponselnya. Ia tersenyum saat melihat foto dirinya berdua bersama Mario, ada beberapa foto yang terlihat berchemistry dan natural.
"Kak, sepertinya aku sudah mencintaimu. Aku seperti ketergantungan padamu, sekarang." Ucap Inka sambil mengelus wajah Mario di ponselnya.
Inka mulai tidak biasa tidur tanpa pelukan suaminya itu. Ia juga sudah terhipnotis dengan sentuhannya.
"OMG!" Kedua telapak tangan Inka menutup wajahnya. Ia mengingat betapa liar dirinya sekarang ketika di ranjang. Ia pun sudah mulai yakin untuk melepas alat kontrasepsi yang tertanam di rahimnya.
****
Beberapa hari kemudian, Mario meminta izin kepada Inka untuk tidak bermalam di apartemennya, karena ia akan ke Yogja. Kali ini ia ke Yogya sendirian, tidak di temani Dhani, karena ia bertekad akan menyelesaikan hubungannya dengan Sasha.
Tok.. Tok.. Tok..
Sasha membuka pintu rumahnya.
"Rio.." Senyum sumringah Sasha melihat lelaki pujaannya tepat di depan mata. Sasha langsung meraih punggung tangan Mario dan menciumnya.
"Bagaimana keadaan Bunga, Sha?" Tanya Mario sambil mengendurkan dasinya.
"Alhamdulillah sehat." Jawab Sasha dengan penuh senyum
Sasha dengan telaten, menyiapkan air hangat, handuk dan baju tidur Mario. Tak lupa, ia langsung ke dapur untuk memasak makanan kesukaan Mario, saat Mario tengah membersihkan diri.
Sasha menggeleng. "Kamu aja, aku dari tadi udah makan mulu, maklum ibu menyusui bawaannya laper terus." Senyum Sasha.
Ouwe.. Ouwe.. Ouwe..
"Sha, Bunga bangun nih," ucap Riska sambil menggendong Bunga, menghampiri Mario dan Sasha yang sedang berada di meja makan.
"Sini, Mario gendong. Bun." Mario menyudahi makanannya yang tinggal sedikit lagi dan langsung mengambil Bunga dari gendongan Riska. Bunga terlihat tak lagi rewel, setelah berada dalam pelukan Mario.
"Kamu udah cocok banget jadi ayah, Yo." Kata Riska. Mario hanya menyambutnya dengan senyum, lalu meletakkan Bunga di kamarnya.
"Titip Bunga ya, Bun. Sasha ngurusin Mario dulu." Ucap Sasha dan menyusul Mario ke kamar. Sebelum itu, Sasha pun sudah menyiapkan jeruk hangat kesukaan Mario.
Malam ini, mata Mario tidak mau langsung terpejam. Ia mengingat Inka yang akhir-akhir ini tidak bisa tidur, jika tidak berada dalam pelukannya. Mario memutuskan untuk menonton televisi dulu di kamarnya. Kemudian, ia di kejutkan dengan suara pintu yang terbuka. Ia melirik Sasha yang keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sangat sexy. Hampir semua tonjolan di tubuhnya dapat terlihat.
Kali ini, Sasha ingin sekali di sentuh suaminya. Walau selama ini, Mario tak pernah meminta haknya, tetapi kali ini Sasha akan berinisiatif sendiri. Aksi Sasha tidak berefek pada Mario, ia tidak terangsang. Mario cuek dan biasa saja. Tiba-tiba, Sasha mendudukkan dirinya di pangkuan Mario.
"Sha, apa-apan ini." Mario mencoba menghindari ciuman Sasha.
"Kamu udah ngga cinta sama aku, Yo?" Tanya Sasha dengan suara lirih.
"Maaf, Sha." Mario menggeleng.
"Sebegitu besar cinta kamu ke Inka, hingga kamu kuat untuk menahan. Padahal aku udah sangat menggodamu."
Mario mengangguk. "Daya tarik Inka begitu besar, Sha. Aku juga ngga tau kenapa? Mungkin karena aku bener-benar mencintainya." Sasha lemas dan langsung memindahkan dirinya ke samping Mario.
"Lalu, mengapa kamu menikahiku, Yo? Aku kira kamu menikahiku karena masih mencintaiku, ternyata kamu menikahiku hanya karena kasihan." Airmata Sasha sudah menggenang.
Mario mendekatkan wajahnya pada Sasha.
"Aku punya adik perempuan, dia lahir beberapa menit setelahku. Saat itu, kami berusia 11 tahun. sepulang sekolah, biasanya kami latihan hobby masing-masing. Aku latihan wushu dan adikku les piano. Biasanya supir papa selalu mendahulukan untuk menjemput adikku, baru kemudian menjemputku. Namun, hari itu aku memaksa untuk minta di jemput duluan, karena tidak mau terlambat untuk menonton kartun fiksi kesukaanku. Alhasil, supir papa terlambat menjemput adikku, ternyata adikku sudah tidak berada di tempat itu. Salah seorang rival papa menculiknya, lalu memperkosanya. Sesampainya di rumah sakit, adikku tak terselamatkan, karena tubuhnya tidak kuat dengan kekerasan seksual yang dialaminya, mengingat usianya yang masih sangat kecil. Mama shock, satu tahun mama harus terapi, dan selama itu pula mama tak pernah menyapa dan mengurusku. Mama menyalahkanku atas kejadian itu, tapi ia tak pernah mengatakannya. Hingga akhirnya mama sembuh, itu pun dengan cara menghilangkan semua jejak tentang adikku. Tidak ada foto atau apapun tentang adikku di rumah. Kejadian itu terjadi, karena salahku. Menurutmu, setelah apa yang terjadi padamu waktu itu, apa mungkin aku akan membiarkanmu? Aku melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya." Mario menangis.
"Aku sudah menganggapmu sebagai adik, Sha. Tidak lebih. Mungkin sebenarnya, sejak dulu rasaku padamu seperti ini. Ingin melindungi seperi sang kakak pada adiknya." Mario memperjelas lagi perasaannya.
Sasha sudah terisak. Ia tak lagi bisa bicara. Ia harus terima kenyataan pahit ini. Cintanya bertepuk sebelah tangan. Namun tak apa, menjadi adik pun tak apa, yang penting ia menjadi salah satu orang yang di sayang Mario.
Mario memeluk Sasha. Mereka menangis bersama.
"Kita harus bercerai, Sha. Aku tidak bisa menyakiti Inka lebih lama. Karena aku sangat mencintainya." ucap Mario dengan tegas.