
Setelah kurang lebih 14 jam Inka berada di udara. Kini ia sampai di Bandar Udara Internasional Schiphol Amsterdam. Inka di temani Harris berjalan menuju pintu luar bandara.
"Welcome to Amsterdam, Elma Ainayya" Senyum Harris menoleh pandangannya ke samping, melihat Inka yang sedang berjalan mendorong troli.
"Elma Ainayya.. Dari mana nama itu kamu ambil?" Inka membalas senyum Harris tipis.
"Hmm... Dulu sebelum mama Indah membawaku kesini, aku menyukai gadis kecil yang bernama Elma, aku tambahi Ainayya karena memang matamu indah, In.. Eh El, mulai sekarang aku harus terbiasa memanggilmu Elma." Kata Harris.
"Ck.. ga usah seformal itu kali mas, aku ga masalah kok kalau masih di panggil Inka."
Setelah berdiri di luar pintu bandara, Inka terdiam dan menghirup udara sebanyak-banyak sambil berkata dalam hati. "Welcome new life, goodbye Jakarta, goodbye masa lalu."
"Nah itu dia. Sudah ada orang yang menunggu kedatangan kita." Harris merangkul pundak Inka.
"Apa itu mama?" Tanya Inka pada Harris. Pasalnya wanita yang ia hampiri tengah memunggunginya.
"Coba tebak!" Kata Harris tersenyum.
"Sayang..." Teriak Harris pada wanita yang tengah berdiri memunggunginya.
Wanita itu menoleh kebelakang.
"Say...." ucapan balasan wanita itu, untuk Harris terpotong karena terkejut oleh seseorang yang bersamanya.
"Inka?"
"Bella?"
Kedua wanita itu berpelukan erat. Mereka tak menyangka akan bertemu lagi di sini.
"Tunggu apa hubungan kamu dengan mas Harris?" Tanya Inka.
"Aku dulu yang tanya, mengapa kalian bisa ke sini bersama? Apa ini adik sepupu yang selalu kamu ceritakan sayang? Oh my God." Bella menepuk jidatnya, sementara Harris tersenyum menampilkan jejeran giginya.
"Sayang? Tunggu.. Kalian?" Jari telunjuk Inka berputar ke arah Harris dan Bella.
"Bella ini tunanganku, In. Sudah hampir 3 tahun kami pacaran." Harris merangkul pundak Bella.
"Jadi?" Inka memukul lengan kiri Harris.
"Dia memang penuh dengan rahasia, aku sebel." Bella memukul lengan kanan Harris.
"Sepertinya kita harus cekik dia bersama-sama, Bel." Inka sudah siap dengan kedua tangannya sambil tertawa.
Tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya yang menghampiri mereka bertiga. Inka melihat sosok wanita itu berdiri di hadapannya.
"Mama.." Tanpa di sadari, Inka melepas barang bawaan yang ada di tangannya. Lalu memghampiri wanita itu dan memeluknya.
"Mama..."
"Sayang.." ucap lirih wanita paruh baya itu.
"Maafkan mama sayang.. maafkan mama, maaf mama sudah meninggalkanmu." Indah berkata sambil terus menciumi seluruh wajah putrinya. Sungguh kerinduan yang amat sangat dalam.
Deraian airmata sudah membasahi pipi Inka sedari tadi. Ia tak pernah mimpi akan bertemu ibunya. Ia tak pernah berharap akan bisa melihat bahkan memeluk sosok wanita yang melahirkannya itu lagi. Namun, hari ini seolah semua seperti mimpi. Keinginannya menjadi kenyataan.
Selama di perjalanan, Harris dan Bella selalu bertingkah konyol, membuat Indah dan Inka tertawa. Mereka benar-benar pasangan unik dan lucu.
Inka sampai di rumah Indah. Di sana sudah berdiri pria paruh baya yang bertubuh tinggi, berkulit putih albino, khas dengan paras Belanda.
"Inka, ini suami mama, namanya Karel." Indah tersenyum pada pria paruh baya yang masih terlihat tampan itu.
Karel pun memeluk pundak Indah.
"Hai, sayang. Mommy mu banyak cerita tentangmu. Semoga kamu betah di sini." ucap Karel yang sudah mahir berbahasa Indonesia. Pasalnya Karel pun pernah bekerja di Indonesia selama 8 tahun.
Karel mengulurkan tangannya untuk bersalaman pada putri sambungnya itu. Inka pun menerima uluran tangan Karel. Inka masih terlihat canggung.
Harris dan Bella berada di dapur untuk menyiapkan minuman dan makanan kecil. Sedangkan Indah dan Karel mengantarkan Inka menuju kamarnya.
"Ini kamarmu sayang." Kata Indah dengan senyum sumringah.
"Jangan sungkan sayang, Ini semua adalah milkmu, jadi anggaplah seperti rumahmu sendiri." Kata Karel yang juga dengan senyumnya sambil terus merangkul Indah.
"Terima kasih, hmm.." Inka bingung harus memanggil Karel dengan sebutan apa.
"Daddy, panggil aku daddy sayang." Karel menyela perkataan Inka.
Kemudian Inka menatap wajah Indah dan Indah mengangguk, agar Inka menyetujui permintaan ayah sambungnya itu.
"Iya, Dad." Inka mengangguk.
"Sudah lama Daddy ingin sekali mempunyai seorang putri, akhirnya impian Daddy terkabul." ucap Karel tersenyum sambil memegang kedua bahu Inka.
Kemudian mereka berpelukan, di ikuti Indah.
"Terima kasih, Mom, Dad." Inka benar-benar seperti memiliki keluarga baru.
Karel adalah teman satu kantor Indah, di perusahaan yang terletak pada pusat kota Amsterdam. Saat itu Indah lari dari negaranya untuk bekerja di sini. Alasan terbesar Indah menerima tawaran temannya dulu untuk bekerja sebagai TKI di negara ini adalah untuk menghindari Raka dan segala sakit hatinya di negara tempat kelahirannya itu. Pria duda beranak satu ini selalu membantu dan perhatian terhadap Indah selama ia bekerja dan tinggal di negara kincir angin ini. Indah pun dekat dengan anak Karel, hingga akhirnya Indah memilih bercerai dan mengabdikan dirinya pada Karel beserta putranya dan Harris keponakan Indah. Namun, putranya Karel meninggal karena sebuah kecelakaan climbing. Putranya Karel adalah seorang pendaki sejati. Sudah beberapa benua ia jelajahi, tapi naas ia harus meninggal tragis, ia tergelincir pada saat akan selfie di ujung tebing.
Pandangan Inka menelusuri setiap sudut ruangan itu. Kamar itu di hias dengan dekorasi yang 'girly'. Semua berwarna pink, membuat Inka tersenyum sendiri. Tak lama kemudian, suara langkah kaki menghampiri kamarnya.
"Aku bantu beresin, In." ucap Bella.
"Ngga nyangka ya, ternyata kita bakalan jadi sodara." Inka tersenyum sambil menata barang bawaannya yang tidak banyak itu.
****
Di sisi lain , Mario masih dengan kesedihannya. Ia masih mencari keberadaan sang istri.
"Bagaimana bisa tidak ketemu? Dia tidak akan pergi jauh. Cari terus sampai ketemu! Gue ga mau tau. Lo cari, atau gue pecat lo semua." Teriak Mario pada ponsel yang tengah di pegangnya.
Lalu, Mario melempar ponsel itu sembarang. Ia masih di temani dengan botol-botol alkohol di depannya. Ia memegangi kepalanya yang pusing, sambil duduk di meja mini bar apartemennya.
Mario tak lagi konsentrasi dengan pekerjaannya. Sudah tiga hari ia tak masuk kantor. Ia juga tak mendengar kabar duka dari Sasha. Ia hanya berdiam di apartemen, tidak peduli dengan kabar apapun, yang ia pedulikan adalah kabar tentang istrinya saja. Hal ini membuat Andreas dan Laras turun tangan. Andreas kini yang memegang lagi perusahaannya, juga usaha lain yang sudah di akuisisi Mario sendiri. Laras pun ikut sibuk, ia mengambil alih butik Inka, agar nanti ketika Inka kembali tetap dalam keadaan yang sama.
"Mario, sayang.." Laras memeluk Mario yang sedang berbaring di sofa.
Keadaan Mario sangat memprihatinkan. Rambut acak-acakan, kantung mata yang tebal, kemeja yang kusut, dan aroma alkohol yang menyengat sejak pintu apartemennya terbuka. Mario belum membersihkan diri selama tiga hari, sejak hari di mana Inka pergi. Mario masih menggunakan pakaian yang sama.
"Bangun!" Andreas menendang sofa yang di tiduri Mario.
"Bangun! Jangan jadi lelaki pengecut Rio! Kamu yang memulai semua ini, terima akibatnya." Teriak Andreas.
Andreas menarik Mario menuju kamar mandi, lalu menyalakan shower dan menguyur Mario paksa.
"Papa.. Jangan Pa!" ucap laras dengan tangis yang tersedu-sedu.
Andreas memukul pipi Mario dengan guyuran shower yang membasahi keduanya.
"Siapa yang mengajarimu menyakiti wanita? Siapa? Hah. Apa semua akan selesai dengan berdiam diri dan mabuk-mabukan?" Andreas terus memukul Mario.
Laras hanya bisa menangis melihat putranya seperti mayat hidup. Mario tidak membalas perkataan Andreas, juga tidak menghindari pukulan sang ayah.
Tatapan Mario masih kosong. Laras dengan telaten memakaikan putranya pakaian dan mengeringkan rambutnya.
"Rio, yakinlah Inka akan kembali bersamamu. Jangan seperti ini, Nak! Justru dengan seperti ini, kamu tidak akan membuat istrimu kembali." ucap Laras sambil memeluk Mario yang masih dengan tatapan kosong.
Andreas dan Laras ingin sekali memberi pelajaran pada Sasha dan ibunya. Namun, Dhani menceritakan kronologis Mario menikahi Sasha. Dhani juga menceritakan keadaan Sasha saat ini yang tengah berduka. Akhirnya, Andreas dan Laras melunak. Mereka sadar ada kisah masa lalu yang mengaitkan keputusan Mario. Kini saatnya, mereka membantu putranya untuk bangkit lagi.
****
Di malam hari, Andre mendapat kabar tentang sahabatnya itu. Andre pun langsung mengabarkan berita ini pada Rey. Pasalnya mereka salah satu orang yang mengetahui pernikahan Mario dan Sasha, bahkan Andre adalah saksi pernikahan itu.
"Apa? Inka memghilang?" Tanya Rey yang sedang mendapat telepon dari Andre. Rey tengah duduk di tepi tempat tidur kamarnya.
"Siapa yang menghilang?" Tanya Cinta yang sedang merapihkan pakaian di lemari kamar.
"Iya Ndre, pasti. Kita akan membantu mencari keberadaannya. Oke." Rey menutup teleponnya.
Cinta memghampiri suaminya dan ikut duduk di samping.
"Siapa yang menghilang, By." Tanya Cinta sambil menggoyangkan bahu Rey.
Rey terlihat bingung untuk menjawab.
"Hmm.. Inka."
"Inka? Menghilang bagaimana?" Cinta panik.
"Begini, Inka dan Mario sedang tidak baik-baik saja."
"Maksudnya?"
"Mario menikahi mantan pacarnya karena sesuatu hal, di saat Inka berada di Paris pada waktu itu dan sekarang Inka mengetahuinya, lalu pergi entah kemana." Rey menjelaskan dengan tenang kepada istrinya.
"Jadi, selama ini Inka..." Cinta menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia tak habis pikir, mengapa bisa tidak mengetahui kesulitan sahabat sekaligus saudara baginya.
"Terus, kamu tahu tentang ini dari dulu. By?" Tanya Cinta marah.
Rey mengangguk. "Malah tadinya Mario minta aku untuk menjadi saksi di pernikahannya dengan Sasha, namun aku menolak karena Inka adalah sahabatmu, jadi pasti kamu akan marah kalau tahu itu. Jadi Andre yang menjadi saksi pernikahan itu." Wajah Cinta sudah sangat memerah menahan marah.
"Hubby..." Teriak Cinta.
"Kamu ga cerita hal ini padaku, hal sepenting ini?" Dada cinta bergemuruh, sungguh rasa marah dan sedih bercampur di dadanya.
"Lelaki paling pintar menyimpan rahasia, sayang. Ada hal yang bisa di katakan dan ada hal yang tidak harus di katakan." Jawab Rey.
"Oh begitu, jadi rahasia apalagi yang kamu simpan?" Cinta berdiri dan mengambil selimut hendak keluar dari kamarnya.
"Kamu mau kemana, Sayang?" Tanya Rey bingung melihat istrinya memegang selimut dan melangkahkan kakinya keluar kamar.
"Aku tidur di kamar Rayyan. Dasar semua laki-laki sama aja." Cinta berjalan ke kamar putranya di ikuti Rey di belakangnya.
"Loh, kok kamu yang jadi marah?" Rey masih bingung
"Itu Mario yang punya rahasia. Kalau aku ga ada rahasia. Ga ada yang aku tutupi dari kamu. Sumpah!" Rey mengangkat kedua jarinya.
Tangan Rey menghentikan pintu kamar putranya yang hendak Cinta tutup.
"Mario dan Inka yang berantem, kenapa kita yang jadi bertengkar juga?" Rey masih menahan pintu itu.
"Kamu pikir aja sendiri." Cinta menutup pintu kamar itu dan menguncinya.