
Hampir empat bulan berlalu, setelah kepulangan Inka dan Mario dari Dubai.
"Kak, aku buat perayaan kecil untuk satu tahun Maher dan Mahira ya?" Tanya Inka, sebelum mereka mulai tidur.
Waktu yang paling berkualitas di hari kerja mereka adalah saat pagi dan menjelang tidur.
"Perayaan besar pun, tidak masalah." Jawab Mario.
Inka menggeleng. "Tidak perlu, cukup keluarga dan sahabat aja ya."
"Terserah kamu." Mario mencubit ujung hidung Inka sebelum ia hendak berbaring.
Keesokan harinya, Inka mencoba mensearching beberapa tempat untuk perayaan bayi kembar yang sekarang sudah menjadi balita.
"Mimih." Mahira merangkul leher Inka dari belakang.
Inka memang tengah menemani kedua anaknya di ruang bermain yang berada di dalam rumahnya. Ya, Mario sengaja membuat satu kamar luas yang berisikan lengkap permainan untuk balita seperti, ayunan, perosotan, kuda-kudaan, trampolin, dan segala macamnya yang berdominasi terbuat dari bahan plastik, persis seperti tempat bermain anak yang ada di mall.
"Gih, pa. Mih?" Tanya Mahira pada ibunya.
Inka menoleh kebelakang dan mencium pipi Mahira. "Ini mimih lagi cari tempat Hira buat ulang tahun."
Maher yang mendengar ibunya mengucapkan ulang tahun, langsung turun dari tempat trampolin.
"Iup yiyin ya, Mih?" Tanya Maher.
"Iya." Jawab Inka.
"Ini.." Mahira menunjuk ke laptop Inka.
"Ole.. Ila mo yup yiyin." Kata Mahira.
"Ole.." Maher ikut riang dan mereka saling berjingkrakan.
Tak lama kemudian, Inka mendial nomor Mely, Cinta, dan Jessy untuk melakukan video call.
Dret.. Dret.. Dret..
"Hai, In." Mely lebih dulu mengangkat video call dari Inka.
"Hai, Mel. Apa kabar?"
"Baik, donk. Hadeh, nyonya Mario makin sexy aja sih." Ledek Mely, karena melihat Inka yang tengah memakai tangtop hitam dengan rambut yang di gelung ke atas.
"Hai." Cinta melambaikan tangannya.
Tak lama kemudian, Jessy pun muncul. "Hai." sapanya.
"Hai." Inka dan Mely berbarengan menyapa kedua sahabatnya yang baru saja bergabung.
"Sibuk ya Ta?" tanya Mely.
"Engga kok" senyum Cinta dan berkata lagi "apa kabar?"
"Gue baik" kata Inka.
"Gue juga sehat Ta" kata Jessy.
"Lo sendiri gimana kabarnya?" tanya Mely.
"Baik, semua sehat alhamdulillah" jawab Cinta.
"In, lo makin sexy aja." Kata Cinta lagi, yang di angguki Jessy.
Inka tertawa. "Mungki efek sering di rumah, jadi badan gue makin berisi karena makan mulu."
"By the way gue mau undang kalian di ulang tahun yang ke 1 nya Maher dan Mahira."
"Kapan In?" tanya Jessy.
"Minggu depan, bisa ya semua," jawab Inka.
"Oke." Cinta menampilkan jempolnya.
"Gue juga yess, kebetulan minggu depan free." ucap Jessy.
"Asyik akhirnya kumpul lagi kita." ucap Mely
"Oke deh, sampai ketemu minggu depan." Kata Jessy, menutup pembicaraan four angels.
"Bye.. bye.. bye.." ke empat wanita yang sudah mempunyai buntut itu saling melambaika tangan.
Tut..tut..tut.. sambungan telepon terputus.
****
Akhirnya, perayaan satu tahun Maher dan Mahira tiba. Hari ini Laras dan Andreas tampak bahagia di temani kedua cucunya yang mulai bawel dan tidak bisa diam.
Inka dan Mario menerima tamu yang datang.
"Hai, Bro." Teriak Bryan dari kejauhan, yang tengah menggendong anak laki-laki yang berusia 10 bulan.
"Hai." Balas Mario dengan wajah ceria.
"Apa kabar lo, long time no see." Kata Mario lagi.
Inka pun menyapa Sasha yang berjalan beriringan di samping Bryan.
Inka dan Sasha saling menempelkan kedua pipi mereka.
"Udah hamil lagi, Sha?" Tanya Inka tak percaya.
"iya nih, kebobolan aku, In." Jawab Sasha malu.
"Kebobolan apa doyan lu." Ucap Mario.
"Dua-duanya bener." celetuk Bryan.
Sontak Bryan dan Mario tertawa. Inka hanya menggelengkan kepalanya. Kedua lelaki ini memang benar-benar somplak.
"Iya, tapi ternyata kita juga menyukai suami kita yang seperti ini. gimana donk?" Rengek Sasha dengan mengerdikkan bahunya. Lalu keduanya tertawa.
"Udah lama di sini, Sha?" Tanya Inka pada Sasha sambil menemaninya menuju Laras dan Andreas.
"Baru tiga hari, In. Aku kangen ingin ke makam mama."
Inka mengangguk.
Lalu Sasha bersalaman pada kedua orang tua Mario, kemudian pada kedua balita yang tengah berulang tahun.
Tak lama, datang Rey bersama keluarganya. Sepuluh menit kemudian, Jessy dan Melly datang bersamaan bersama keluarganya.
"Tumben lo Jes, kaga telat." Ucap Inka.
"Khusus buat lo, gue ngga pake telat." Mereka pun tertawa.
Kemudian datang Andre, beserta istri dan kedua anak lelakinya.
"Yee.. lame." Kata Mahira.
"Rayyan. Sapa dulu yang lagi ulang tahun." Kata Cinta pada putranya.
"Selamat ya." Rayyan mengulurkan tangan kanannya.
"Ayo, Sayang, salaman dulu." ucap Laras pada Mahira.
"Ndak, ndak au." Mahira menggeleng.
Tangannya yang sedang bertumpu pada meja terpeleset lalu wajahnya mengenai kue yang tingginya satu meter dengan dekorasi sofia and family.
Pluk.
Wajah Mahira menjadi berwarna putih keunguan, karena kue ulang tahunnya menempel di mata, hidung, dan bibirnya.
"Huwaa.." Inka menangis kencang.
Maher hanya menonton adik kembarnya yang tengah menangis.
Mario langsung menggendong putrinya, sedangkan Inka membersihkan wajah Mahira dan menenangkannya
Maher mengambil alih untuk menyalami anak dari sahabat orang tuanya itu, yang hendak mengucapkan selamat.
Suasana kembali riang. Acara perayaan ulang tahun Maher dan Mahira yang cukup meriah di sebuah hotel salah satu milik Mario, Rey, dan Andre ini membuat semua yang berada di sana gembira.
"Proyek lu gimana, Rey?" Tanya Mario, ketika ke empat pria yang saling bersahabat itu tengah duduk di tempat yang sama.
"Alhamdulillah lancar." Jawab Rey.
"Katanya lo kerjasama dengan David?" Tanya Bryan, sontak membuat Mario menyemburkan air yang tengah ingin di minumnya.
"Lo ngajak David kerjasama di proyek lu, Rey? Proyek lu yang mana?" Tanya Mario lagi.
"Jalan under pass dan fly over di Bali." Ucap Rey santai.
"Lu kenapa, Yo? Kok kaget gitu denger nama David." Tanya Andre aneh dengan tingkah Mario.
"Ngga apa-apa. Gue kaget aja dia udah mulai bisnis lagi."
"Udah kaya lagi malah dia, Yo. Gue akuin insting bisnisnya jago. Jadi cepet dia naiknya lagi." Jawab Andre.
"Baguslah, tuh anak udah ngga terpuruk lagi. sejak bokapnya meninggal, dia seperti yang kehilangan arah." sahut Bryan.
Rey dan Andre mengangguk. Tapi tidak dengan Mario. ia diam dan melamun.
"Hey, kenapa lo? Kok jadi bengong begini." Bryan menjentikkan jarinya tepat di wajah Mario.
"Eh ngga, gue sedikit nangkep gelagat aneh si David." Jawab Mario.
Kemudian ia menceritakan pertemuan awal Inka dan David di kantornya. Ia juga sengaja men-screenshoot status-status David yang mengunggah dengan kata-kata yang menjurus pada istrinya.
"Salah ngga sih kalau gue curiga sama tuh anak?" Tanya Mario pada ketiga sahabatnya sejak di bangku SMA hingga kuliah. Namun hanya Bryan yang memang akrab di saat kuliah saja.
"Cukup aneh." Sahut Rey.
"Ini sih udah bukti banget, Yo. lu harus hati-hati." Ucap Andre.
"Lagian sih, lu juga dulu gila. Cuma lu berdua yang mau aja pacar di tuker-tuker." Celetuk Bryan.
"Ya gimana ngga, kalau yang jadi cewek gue waktu itu catty. Lu tau dia maniaknya kaya apa." Jawab Mario.
"Rey aja pernah pake juga." Jawab Mario lagi.
"Sssttt.. suara lu jangan kenceng-kenceng napa, Yo. Bisa di gorok gue kalau Cinta denger." Ucap Rey dengan suara lirih.
Bryan tertawa. "Kenapa kita jadi ikatan suami-suami takut istri ya."
Andre pun ikut tertawa, di iringi Mario dan Rey juga.
Setelah bergurau, Mario kembali berkata, "So, bagaimana?"
"Sorry, Yo. gue ngga tau David seperti ini. Waktu itu dia minta tolong sama gue buat bantuin ngelancarin proyeknya. Ya namanya temen, gue bantuin aja." Kata Rey.
"Lo tenang. Yo. kalau David sampe macem-macem sama istri lo, gue turun tangan." Bryan menepuk pundak Mario.
"Gue juga lah, pasti gue bantuin lo kalau David sampe ngerusak rumah tangga lo." Sahut Andre dan di angguki Rey.
"Thanks, Bro. Kalian emang saudara terbaik gue." Jawab Mario yang agak sedikit tenang.
Di seberang sana. Inka, Cinta, Mely, Jessy, Alisha dan Sasha saling bercengkrama.
"Para cowok di sana ngobrolin apa sih? Serius banget." Kata Sasha.
"Lah lo baru liat ya, Sha?" Jawab Jessy.
"Mereka memang selalu seperti itu kalau ketemu." Ucap Inka.
"Ternyata bukan perempuan aja yang yang suka gosip. cowok juga ya." Kata Alisha sambil tertawa. lalu ke lima wanita di sebelahnya pun ikut tertawa.