
Di dalam perjalanan, Mario memberikan pelayanan maksimal kepada Inka, bak seorang pramugara.
"Sudah selesai makannya?" Tanya Mario, setelah Inka menghabiskan dimsum, makanan yang sudah tersedia sesuai permintaan Mario sebelumnya.
Inka mengangguk.
Kemudian, Mario membereskan makanan yang ada di hadapan Inka. Menutup meja itu kembali dan membenahi kursi yang Inka duduki agar lebih nyaman.
"Sudah nyaman? Tidak mual kan?" Tanya Mario lagi.
"Tidak, terima kasih." Senyum Inka tak henti-hentinya mengembang.
Inka tak menyangka dengan sikap Mario yang begitu bahagia karena akan menjadi seorang ayah. Ia tak meragukan lagi, bahwa selama ini memang Mario menginginkan anak darinya. Ia yakin dengan keputusannya kali ini, akan sepenuhnya percaya pada suaminya itu. Setiap pernikahan pasti ada ujian, yang utama adalah komunikasi, dan ia mulai belajar untuk selalu membicarakan apapun pada Mario. Ia tak ingin memendam sendiri apa yang ia rasakan.
Mario pun demikian, ia berjanji tidak akan merahasiakan apapun pada istrinya, mulai saat ini ia akan selalu terbuka dari hal yang terkecil sekalipun. Ia akan selalu melibatkan Inka dalam keputusan apapun yang berhubungan dengan rumah tangga.
Mario dan Inka sampai di Bandara Soekarno Hatta pukul 11 malam.
"Kita bermalam di hotel dekat sini ya. Aku tidak mau kamu kelelahan." Mario berkata sambil mendorong trolinya.
"Iya." Inka tersenyum dan mengangguk patuh.
****
Akhirnya, Inka menginjakkan kakinya lagi di kediaman Andreas yang asri dan luas.
Mario meraih tangan Inka, untuk membantunya berdiri.
"Mama.." Inka sedikit berlari menghampiri Laras.
"Sayang, Jangan lari!" Teriak Mario, kemudian langkah Inka terhenti dan mengikuti perintah suaminya.
Laras membentangkan kedua tangannya. "Sayang."
Inka dan Laras berpelukan erat. Di sertai senyuman dari Andreas yang berada persis di samping Laras
"Papa.." Inka memeluk Andreas dan langsung di bakas dengan pelukan hangat dari ayah mertuanya itu.
"Maafin Inka, Ma Pa. Maaf Inka sudah.."
"Tak apa, sayang. Yang lalu biarlah berlalu. Yang penting kita menatap masa depan." ujar Laras, memotong perkataan Inka.
"Biar semua menjadi pelajaran untuk kalian dan semua yang terjadi, membuat ikatan cinta yang kalian rasakan semakin kuat." Kata Andreas menambahi.
Inka tersenyum. "Terima kasih, Ma Pa."
"Non.." Sapa Sukma.
"Sukma.." Inka memeluk maid wanita Mario yang sangat dekat dengannya.
"Ya ampun, non. Saya kangen banget." Sukma memeluk erat Inka.
"Sukma.. Lo meluk istri gue jangan kenceng-kenceng, nanti dia kehabisan nafas." Ketus Mario.
"Ngga, Den." Sukma melonggarkan pelukannya.
"Ngga kan ya, Non?" Tanya Sukma lagi pada Inka.
"Ngga, Suk." Jawab Inka tertawa. Mario terlalu berlebihan dan semakin protektif padanya.
Mario pun menyalami kedua orangtuanya.
Inka mengangguk, dan menyalami semua pelayan yang bekerja di rumah Andreas.
"Non, non. Kalau saya tau, hadiah-hadiah yang non kasih itu sebagai kado perpisahan, saya ga akan terima." Kata Sukma, ketika mereka berjalan ke dalam rumah.
Inka menggeleng. "Yang penting kan aku sudah balik lagi ke sini." Inka tersenyum lagi.
"Iya sih, tapi hah.." Sukma bernapas panjang dan mengeluarkannya kasar. Pasalnya ia tahu betul apa yang terjadi di rumah ini paska sepeninggalnya Inka. Dan, itu cukup melelahkan.
"Rio, kamu jangan balik ke apartemen dulu ya! Mama masih kangen Inka." Ujar Laras.
"Iya mama sayang." Jawab Mario sambil memeluk ibunya.
"Eh tunggu, kelihatannya ada yang berbeda dari kamu." Laras kembali berujar.
Mario tersenyum lebar. "Oiya. Mario juga ingin mengatakan kabar bahagia. Ma, Pa, alhamdulillah Inka sedang hamil."
"Aaaaa..." Laras berteriak sambil menghamburkan pelukannya kembali kepada menantunya.
"Selamat sayang." Andreas tersenyum lebar.
"Kalau begitu, kalian harus tinggal di sini." ucap Laras yang kemudian beralih pada Inka.
"Paling tidak, di sini banyak orang kalau kamu butuh sesuatu, In. Dari pada di apartemen, kamu akan tinggal sendirian kalau Mario bekerja."
"Iya, Ma." Inka tersenyum patuh dan mengangguk.
Semua orang mengatur ini itu, terutama mama mertuanya. Namun, hal itu membuat Inka senang, karena ternyata banyak orang yang perhatian dan menyayanginya.
Setelah beberapa jam beristirahat di kamar. Inka menuju dapur, sudah lama ia tak berbincang dengan Sukma.
"Suk, lagi siapin makan malam ya? Aku bantu ya!" Kata Inka menghampiri Sukma di dapur.
"Jangan, non. Non kan lagi hamil." Jawab Sukma khawatir.
"Emang orang hamil ga boleh nagapa-ngapain, Suk?"
"Ya, tapi Non kan tau sendiri, Den Mario kaya apa orangnya. Lebay."
"Siapa yang lebay?" Suara bariton Mario muncul tiba-tiba.
"Si ujang yang lebay, Den. Dia suka caper sama saya." Jawab Sukma.
"Siapa yang caper, saya? sama situ? yah kali." Sukma kaget setelah ada suara Ujang juga di sana.
"Ih, kenapa jadi pada ngumpul di sini sih." Kata Laras yang juga tiba-tiba datang.
"Kangen sama non Inka, bu." Kata Ujang.
"Eh.. eh siapa yang kangen sama istri gue? kurang ajar lo ya, Jang." Suara bariton Mario lagi sambil telunjuknya mengarah pada Ujang.
"Ngga, Den. Ngga." ucap Ujang panik.
"Syukurin!" Ledek Sukma sambip tertawa.
"Awas ya lo, Suk." ujar Ujang yang di balas cibiran Sukma.
Inka terus tertawa melihat Sukma dan Ujang yang seperti 'Tom and Jerry' di tambah Mario yang seperti 'spike' anjing galak dan tidak bisa di ganggu.
Kebersamaan di rumah ini, yang selalu Inka rindukan.