Istriku Canduku

Istriku Canduku
separuh jiwa yang hilang


“Ma, maaf ya. Kami pulangnya kesiangan.” Inka mencium pipi Indah. Setelah ia dan Mario tiba di rumah Karel.


Maher dan Mahira yang tadinya sedang asyik bermain dengan kedua baby sitternya, tiba-tiba langsung menubruk sang ayah ketika melihat Mario yang sudah berada di ruang keluarga.


“Pipi kemana aja?” Tanya Mahira.


“Pipi kok jalan-jalan ga ajak kita.” Celetuk Maher.


Mario tersenyum kepada kedua anaknya dan mengelus kepala mereka. “Maaf ya sayang, Pipi sama Mimi kemarin ada urusan penting.”


“Urusan pekerjaan?” Tanya Maher dengan mimik wajah yang serius.


Mario terdiam sebentar, sambil memandang istrinya yang duduk di seberang sana, sambil tertawa bersama Indah dan Karel.


“Hmm... Ya, urursan pekerjaan.” Jawab Mario dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


“Ooo.” Ucap Maher dan Mahira bersamaan dengan bibir membulat.


“Kalian jadi pulang lusa?” Tanya Indah.


Inka mengangguk. “Iya, Ma. Mario sudah lama meninggalkan pekerjaannya, kasihan Dhani.”


“Yah, padahal Daddy sangat senang kalian lama di sini.”


Tiba-tiba Maher menghampiri Karel dan naik ke pangkuannya. “ Tenang, GrandPa. Nanti kami ke sini lagi.”


Gaya bicara Maher yang sok dewasa, membuat yang lain ikut tertawa termasuk Karel, karena Maher dan Mahira selalu memainkan janggut Karel yang memang lebih panjang dari sang ayah.


“Rumahmu ramai, Sayang.” Kata Indah, saat melihat keluarga Inka yang bermain dan bercengkrama di ruang keluarga.


“Ya, tapi mereka akan pulang.” Ucap Karel lesu.


“Walau setiap orang memang akan pulang dan meninggalkan kita.” Kata Karel lagi.


Indah langsung menoleh ke arah suaminya, ia menatap wajah Karel yang berkata aneh.


****


Hari pun semakin gelap, Indah di temani Tari dan Ambar tengah mempersiapkan makan malam, sedangkan Inka dan Mario menemani kedua anaknya yang tak kunjung lelah bermain.


“Kamu masih sibuk?” Karel menghampiri Indah dan berdiri di sampingnya, sambil membantu sesuatu yang bisa ia bantu di sana.


Karel memang sangat manis, ia selalu menemani Indah ketika memasak dengan berbincang santai, membuat Indah tak merasa bosan dengan aktifitas yang ia lakukan ini.


“Sedikit lagi. Kamu tolong potong jamurnya jadi potongan dadu ya!” Indah meyerahkan beberapa jamur pada Karel.


“Schat..” Panggil Karel pada Indah, yang artinya sayang dalam bahasa Belanda.


“Hmm...” Indah menoleh.


“Jika suatu saat nanti aku yang lebih dulu pergi, kamu akan menjaga rumah ini?” Tanya Karel lirih.


Indah menghentikan aktifitasnya, lalu mendekati Karel.


“Jangan berkata yang tidak-tidak, Karel!”


“Maaf. Aku hanya tidak ingin di tinggalkan olehmu.”


“Aku tidak akan kemana-mana, aku akan terus di sini mendampingimu.”


Karel langsung memeluk istrinya dari samping. Indah pun membalas pelukan itu. Entahlah beberapa hari terakhir Karel terlihat aneh dan sering berkata yang aneh. Ia pun sering terlihat lesu, untung ada Maher dan Mahira yang kembali membuatnya ceria.


“Daddy, are you okay?” Tanya Mario, ketika mendapati ayah mertuanya sedang duduk sendiri.


“Okay.” Jawab Karel dengan senyum.


“Tapi wajah Daddy tampak pucat.” Kata Mario lagi.


“Tidak apa, Son. Hmm.. kamu mengingatkan Daddy dengan putra Daddy.” Ucap Karel dengan suara lirih.


Lalu Karel menceritakan tentang putranya. Tentang kebiasaan dan perhatiannya. Kemudian, menceritakan bagaimana putranya itu menyukai Indah, hingga ia pun ikut menyukai wanita indonesia itu. Walau Inka sudah menceritakan sedikit tentang putra Karel yang sudah tiada itu, tapi baru kali ini Mario mendengar ceritanya secara detail.


“Buat Inka melahirkan anak yang banyak, Son. Agar masa tua mu tak kesepian.” Kata Karel di akhir ceritanya.


“Schat,, Ayo makan!” Indah merangkul pundak Karel dan mengajak Mario.


“Wah.. ini lezat sekali.” Mario menggosok kedua telapak tangannya.


Di sana tersaji Sup Ercis, sup yang sangat di gemari Mario ketika berada disini. Sup Ercis memiliki tekstur yang mirip dengan bubur. Selain kacang ercis, juga terdapat prei, kentang, daging sapi, ayam, dan wortel di dalamnya.


“Kamu sudah bisa membuat ini, Sayang?” Tanya Mario pada istrinya.


Inka menggeleng dan mengerucutkan bibirnya. “Masih belum bisa. Kemarin sudah coba tapi rasanya tidak seenak buatan mama.”


“Nanti, kalau mama kesana, akan mama ajarkan lagi.” Jawab Indah sambil tersenyum.


Hari semakin larut. Semua sudah berada di kamarnya masing-masing. Inka dan Mario jangan di tanya sedang apa? Pasti sudah berlabuh di tempat peraduannya.


“Schat..” Panggil Karel, saat Indah akan berbaring di sampingnya.


“Kamu lebih mencintai aku atau Raka?”


Indah mengeryitkan dahinya, pasalnya tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba Karel bertanya sesuatu hal yang tak pernah ada dalam topik pembicaraan mereka selama hidup bersama.


“Apa maksudmu?”


“Hmm.. tidak apa. Hanya bertanya saja. Kalau kamu tak mau menjawab pun tak apa.” Jawab Karel dan langsung membaringkan lagi tubuhnya.


“Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Indah bingung.


“Tidak ada.”


Suasana hening, Karel masih menatap langit-langit kamarnya. Indah menoleh ke arah suaminya yang belum memejamkan mata.


“Kalian dua pria yang berbeda. Aku mencintaimu, walau aku pun tak bisa menghilangkan rasa cintaku pada Raka. Tapi aku tetap bahagia, bersamamu.” Ucap Indah sambil memeluk tubuh suaminya yang sedang terlentang.


Perkataan Indah, memecah keheningan di kamar itu.


Karel membalas pelukan Indah dengan erat. “Terima kasih, Schat. Terima kasih telah menemaniku hingga akhir.”


Karel mengelus bahu belakang Indah hingga ia terlelap.


“Maaf, aku egois menginginkanmu selalu berada di sini.”


****


“Inka....”


“Mario...” teriak Indah menggelegar di pagi hari.


Inka langsung terbangun. Mario pun demikian. Mereka bergegas keluar dari kamarnya. Di luar sana ternyata Ambar dan Tari sudah berdiri di tangga dan tengah menuruni anak tangga itu.


“Mama kenapa?”


Mario menggeleng dan segera berlari ke kamar mertuanya.


“Inka, Mario.. Daddy..” Tangis Indah pecah, melihat suaminya tak bisa di bangunkan.


Mario berusaha mengecek nadi dan hembusan nafas Karel. Tidak ada tanda-tanda di sana. Namun, ia tak mau berspekulasi sendiri. Inka pun ikut menghampiri dan memegang nadi ayah sambungnya itu.


“Bagaimana bisa seperti ini, Ma?”


Indah menggeleng. Ia hanya menangis tersedu-sedu.


Mario langsung memanggil panggilan darurat. Tepat lima menit kemudian petugas medis datang dan Karel di nyatakan sudah tak bernyawa.


Tangis Indah semakin pecah. Ia menggoncangkan tubuh Karel.


“Apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu meninggalkan aku sendiri seperti ini? Aku mencintaimu, Karel. Tolong buka matamu!” Indah terus menggoyangkan tubuh Karel.


Inka menangis melihat Indah yang sangat terpukul. Ia membayangkan dirinya sendiri, mungkin akan seperti ini jika ia di tinggalkan Mario. Di tinggal oleh separuh jiwanya, yang biasanya bersama, kini hilang dan tak lagi ada di sampingnya. Rintihan Indah terdengar perih. Inka merangkul sang ibu, mencoba untuk membagi kesedihan padanya. Sementara Mario sibuk mengurus kejadian ini bersama petugas darurat yang berada di sana.


“Mama..” Inka merasakan apa yang ibunya rasakan. Indah terus saja menangis seolah airmata itu tak pernah kering.