Istriku Canduku

Istriku Canduku
semoga kamu selalu bahagia


Inka sampai di apartemen jam sembilan malam. Mario sudah nampak duduk di sana, Setelah Inka membuka pintu apartemen itu. Sudah satu minggu, mereka perang dingin, tanpa ada yang memulai untuk bicara.


Kekesalan Mario sudah di ubun-ubun, terlebih melihat Inka yang sering pulang malam.


Inka berjalan melewati Mario yang duduk di ruang TV.


"Kemana aja kamu?" Tanya Mario.


Inka masih belum menjawab, ia lebih memilih mengambil gelas di dapur dan membuka lemari es. Mario menghampiri Inka dan menutup kasar lemari es itu, membuat Inka terkejut saat sedang meminum.


"Aku semakin ngga kenal kamu sekarang." Lirih suara Mario. Inka tetap menghabiskan minumnya dengan santai.


"Jawab Inka, kamu dari mana?" Suara Mario sudah semakin meninggi.


"Hmm.. Bertemu Cinta, Mely, dan Jessy." ucap Inka santai dn meletakkan gelas itu, lalu meninggalkan Mario di sana.


Mario mengejar Inka, menarik lengannya dan membentukan pada dada bidangnya. Mario memegang tengkuk Inka dan menciumnya rakus. Inka tak merespon ciuman itu, tidak seperti sebelumnya yang selalu menerima sentuhan suaminya. Mario mengigit bibir bawah Inka, hingga berdarah.


"Aah..." suara sakit Inka merasakan gigitan yang keras dari Mario. Mario pun menyudahi pangutan itu.


"Jadi, sejak kapan kamu berhubungan dengan pria itu? hingga sekarang akhirnya kamu mulai berubah. Apa yang kalian lakukan di hotel? Apa dia menyentuhmu di sini.. di sini.." Mario menyentuh payudara dan kewanitaan Inka.


Inka mengeleng. "Gila!"


"Apa? ucap sekali lagi!" Teriak Mario.


"Kamu gila." Inka berlalu dari hadapan Mario.


Sungguh Mario tak dapat menahan lagi amarahnya. Tidak pernah ada wanita yang menantangnya, mencacinya, bahkan mendiamkannya.


"Aku tunjukkan seberapa gilanya aku." Mario langsung membopong Inka seperti karung beras.


Ia membanting Inka di ranjang. Ia juga menaggalkan pakaiannya sendiri dengan cepat, merobek pakaian Inka dengan paksa.


"Stop Rio, stop!" Inka memukul dada Mario, kakinya di gerakkan sekuat tenaga untuk lepas dari kungkungan Mario, tapi tetap tak berhasil. Mario seperti orang kesetanan.


"Kalau kamu melakukan seperti dulu, Aku akan membencimu selamanya, Rio. Benci." Suara Inka penuh dengan ancaman.


Namun, ancaman itu tak berarti untuk Mario, ia tetap melakukan itu. Ia melakukan hal yang seperti sebelumnya. Menjamah istrinya dengan sangat kasar, bahkan lebih kasar dari apa yang pernah ia lakukan dulu. Inka sudah tidak mau lagi memandang wajh itu. Wajah yang tengah menggagahinya secara paksa. Dalam hatinya, ia sangat membenci pria ini. Ia bersyukur tidak jadi membuka alat kontrasepsinya, karena ia tak sudi memiliki anak dari pria semacam ini.


Mario tidak sadar apa yang ia lakukan, akan menjadi penyesalannya seumur hidup.


Setelah puas dengan apa yang di lakukan, Mario membaringkan dirinya di samping Inka, dan memeluk istrinya dari samping. Inka tak bergerak, ia hanya memejamkan matanya, berharap esok segera pagi dan tidak melihat wajah pria di sampingnya lagi.


****


Hari ini, Inka berangkat pagi sekali. Walau area kewanitaannya masih sangat perih dan sakit, namun ia tetap bekerja dan meninggalkan Mario yang masih tertidur.


Sebelum ke butik, Inka mampir ke rumah Andreas. Ia rindu denga kedua orangtua Mario.


"Mama.." Sapa Inka, menghampiri Andreas dan Laras yang sednag duduk di meja makan.


"Sayang." Laras langsung membentangkan tangannya dan memeluk serta mencium pipi menantunya.


"Sayang.." Andreas pun melakukan hal yang sama seperti Laras.


Kemudian, mereka berbincang di teras. Inka menceritakan kesibukannya dan alasan mengapa jarang pulang ke rumah ini.


"Oiya ma, Inka bawakan obat herbal yang biasa Inka pesan untuk mama." Inka meraih paper bag yang ia bawa dan di serahkan pada Laras.


"Loh, banyak sekali." Ucap Laras sambil menoleh ke arah Andreas.


"Iya, In. Itu banyak sekali." Kata Andreas.


"Ngga apa-apa ma, pa, buat stock." Jawab Inka santai.


"Pokoknya, mama jangan telat makan, jangan diet-diet, karena papa lelaki paling setia." Inka tersenyum pada Andreas dan Laras.


"Terus, jangan banyak pikiran, karena stres bisa buat asam lambung meningkat, dan papa jangan kebanyakan makan enak, nanti kolesterolnya kambuh." Andreas tertawa mendengar penuturan panjang menantunya.


"Kamu udah kaya dokternya papa, mama aja In." Kata Laras.


"Iya, abis kalau udah ga ada Inka, ga ada lagi yang ngjngetin mama papa. Iya kan?" Jawab Inka asal.


"Memang kamu mau kemana?" Tanya Andreas.


"Ngga kemana-mana pa." Inka tersenyum. Laras dan Andreas sudah saling bertatapan.


Inka pun beralih ke dapur. Ia mengumpulkan semua pelayan Mario.


"Sukma..." Jnka memeluk Sukma.


"Ini ada tas branded, jangan liat harganya. yang penting di simpen, hadiah dari aku. Kalau kamu butuh uang di jual. Hmm... bolehlah." Sukma menerima barang itu dengan mulut menganga. Pasalnya tas ini nilainya bisa ratusan juta. Itu adalah tas limited adition yang di belikan Mario.


Lalu Inka, memanggil pelayan yang lainnya. Dan memberikan hadiah mahal satu persatu. Hadiah dengan kisaran harga yang seperti Sukma dapatkan.


Kemudian, Inka meninggalkan rumah Andreas menunu butiknya.


Mario terbangun dan tak mendapati Inka di sampingnya. Ia menghela nafasnya kasar dan mengusap wajahnya. Ia mengingat apa yang telah dilakukannya semalam. Ia melakukan kesalahan itu lagi. Mario mengacak-acak rambutnya sendiri.


Sore ini, ia akan menjemput Inka sepulang kerja. Namun, sebelumnya, ia akan mampir ke apartemen Sasha untuk memberikan obat yang langsung ia pesan dari Jerman. Karena saat ini, Bunga sering kejang-kejang dan Anfal.


Ting Tong..


Sasha membuka lintu apartemennya. Terlihat Mario di sana. Sasha langsung menyambutnya. Mario tidak menyadari bahwa di belakangnya sudah ada sosok wanita yang mengikuti sejak di basement.


"Terima kasih, Yo. Kamu udah bawain obat ini buat Bunga." Ucap Sasha pada Mario yang sudah berada di dalam apartemen milik Sasha.


"Sama-sama, Sha. Aku ke dalam ya, liat Bunga dulu." Jawab Mario dan meninggalkan Sasha menuju kamar Bunga.


Ting Tong.. Tak lama kemudian, pintu apartemen sasha berbunyi kembali. Sasha membukakan pintu itu dan kaget, setelah tahu wanita yang ada di hadapannya.


"Inka?" Sasha terkejut.


"Hai, Sha. Apa kabar? Boleh aku masuk?" Tanya Inka dengan tenang.


Sejak masuk apartemen, Inka sudah melihat sepatu Mario di sana. Inka duduk dan tersenyum pada Sasha.


"In, ini tak seperti apa yang kamu lihat. Aku dan Mario tidak punya hubungan apapun dan...."


"Tidak apa, Sha. Aku yang seharusnya sadar diri. Lagi pula aku dan Mario menikah karena sebuah kesepakatan. Aku saja yang bodoh dengan mudah menerima kesepakatan itu." Inka memotong kata-kata Sasha yang belum selesai.


"Tapi..." Sasha ingin melanjutkan penjelasannya.


"Aku titip kertas ini untuk Mario. Ini surat perceraianku dengan Mario, sudah ku tandatangani lengkap." Inka memotong lagi perkataan Sasha.


Tak lama kemudian, Mario keluar dari kamar Bunga dengan menggendong Bunga di tangannya.


"Sha, ini waktunya Bu.." Ucapan Mario tak selesai, setelah melihat Inka sedang duduk bersama Sasha.


"Inka?" Mario terkejut, sangat terkejut. Dadanya bergemuruh.


"Hai..." Inka menyapa Mario dengan senyum.


"Oh, Ya. Aku sudah tandatangani surat cerai kita. Maaf kalau selama ini, aku menjadi penghalang untuk kalian." Inka berdiri dan segera meninggalkan tempat itu.


"Tunggu.. Ini tak seperti yang kamu lihat, In." Mario mendudukkan Bunga di sembarang tempat duduk. Ia berlari mengejar Inka.


Bruk..


Bunga terjatuh, tangisannya begitu kencang. Sehingga menahan kaki Mario untuk mengejar Inka. Mario berlari membantu Bunga.


"Sudah, Yo. Jangan perdulikan Bunga. Cepat kejar Inka!" Ucap Sasha.


Mario mengejar Inka, tapi sosoknya tidak lagi terlihat di semua lorong apartemen itu.


"Mario.." Teriak Sasha.


Mario langsung berlari ke dalam apartemen dan mendapati Bunga yang tengah muntah darah, karena benturan di kepala belakang akibat terjatuh tadi.


Mario langsung membantu Sasha dan membawa Bunga ke rumah sakit. Selesai urusannya dengan Sasha dan Bunga. Mario bergegas ke butik Inka.


"Sar, Inka di ruangannya?" Tanya Mario, Setelah mendapati Sari di lobby.


"Tadi Miss Inka keluar, katanya mau beli makanan di warung makan seberang. Tapi belum muncul-muncul lagi sampe sekarang pak." Jawab Sari.


"Udah berapa lama?" Tanya Mario lagi.


"Udah ada sejam lebih, Pak. Tapi saya lihat tas Miss Inka ada di ruangannya, jadi pasi nanti balik lagi." Jawab Sari lagi.


Mario mengangguk dan memilih menunggu di ruangan Inka.


Satu jam, dua jam, tiga jam berlalu. Namun, Inka tak terlihat batang hidungnya. Mario berinisiatif untuk ke rumah makan yang di tunjuk Sari. Namun, setelah di tanya, tak pernah ada sosok wanita yang ia cari mampir ke warung makan ini. Mario mengecek kembali CCTV depan butik Inka yang terpasang. Hanya terlihat sosok Inka yang berjalan menyebrangi jalan, tak ada tanda-tanda Inka di jemput orang lain.


Kepala Mario semakin berat. Ia memegang tas Inka. Meraih apapun yang ada di dalamnya. Tas ini masih lengkap, ada dompet, ada Ponsel dan beberapa kertas di sana. Ada satu kertas yang menjadi perhatiannya, Mario pun membuka lipatan kertas itu


"Hai Partenr s*xku...


Maaf mulai hari ini aku pensiun jadi Jal*ngmu. Terima kasih sudah memberikan banyak materi padaku selama ini. Mulai hari ini, aku tidak akan merepotkanmu lagi. Selamat tinggal, semoga kamu dan Sasha selalu bahagia.


Bye..."


Mario merobek kertas itu, dan menghancurkan seluruh isi ruangan. Semua orang yang ada di sana kebingungan dan tak bisa menghentikan apa yang Mario lakukan.