Istriku Canduku

Istriku Canduku
Raka vs Karel


Mario berdiri mengungkung Inka dari belakang. Ia menopang kedua tangannya pada kitchen set tempat istrinya berdiri.


Inka terlihat masih asyik mengaduk secangkir kopi di hadapannya. Namun, gerakannya terhenti, ketika Mario mulai menelesuri leher jenjangnya. Ia menengadahkan kepala, memudahkan Mario untuk melakukan apa yang dia mau.


"Mmpphh..." Inka melenguh dan menggigit bibir bawahnya, ketika Mario mulai memberi tanda merah di bagian itu.


Mario melepas gigitannya. "Huh.. apa aku akan kuat menahan hingga 40 hari?"


Inka membalikkan tubuhnya. "Kuat, waktu itu juga kamu kuat menahan hingga dua tahun."


"Ish.. Itu beda cerita." Mario kesal dan menarik ujung hidung Inka, sambil di goyangkan, hingga wajahnya ikut bergoyang.


"Aww.. Sakit." Inka merajuk, mengelus ujung hidungnya, setelah Mario lepaskan.


Lalu Mario meraih cangkir yang berada di hadapan Inka dan menyesapnya.


"Oiya, kemungkinan nanti aku ngga ikut makan malam di rumah."


"Kenapa?" Tanya Inka, menatap intens pria di hadapannya dengan terus memegang dadanya.


"Nanti malam aku akan ketemu klien sekalian makan malam. Kebetulan klienku ini seorang wanita dan salah satu teman kencanku dulu. sekarang aku harus berurusan lagi dengannya karena saat ini dia yang memegang langsung perusahaan ayahnya. Dulu aku mengencaninya untuk memudahkan kesepakatan pada perusahaan ayahnya." jelas Mario panjang lebar.


"Lalu?" Inka masih menatap mata itu.


"Aku tidak ingin kamu tahu dari orang lain tentang ini, atau tiba-tiba ada yang memberikan foto kebersamaan aku dengannya. Jadi aku jelaskan sebelum itu terjadi. Lagipula, aku nanti mengajak Dhani, supaya makan malam kami tidak berduaan."


Inka tertawa, ia menutup mulutnya. Sungguh, Mario terlihat seperti suami yang takut istri.


"Kok malah ketawa? Aku serius, Sayang." Mario meletakkan cangkirnya dan memeluk pinggang Inka.


"Aku percaya." Inka tersenyum.


"Lagian, pasti wanita itu tidak se legit aku kan." Inka kembali berkata, sambil menaik turunkan alisnya. Lalu, menjauh dari Mario dan berjalan menuju meja makan.


Mario tergelak. Ia merangkul bahu Inka dan meraih kepalanya untuk di senderkan pada bahunya. "Wah, semakin pintar kamu ya."


Inka membalas dengan cengiran kuda.


"Ekhem.." Indah dan Karel sudah berada persis membelakangi pasutri yang tengah bermesraan itu.


"Eh, Ma." Inka melepas rangkulan Mario.


Tari dan Ambar, dua gadis muda dengan usia yang masih belasan tahun itu juga sudah berdiri bersama Indah dan Karel. Mereka adalah baby sitter yang Mario sewa satu hari sebelum Inka pulang ke rumah. Mereka dengan cekatan mengambil Maher dan Mahira dari tangan Indah dan Karel.


Inka dan Mario menghampiri kedua bayinya. Lalu, Mario mengecup kening kedua bayinya sekilas.


"Bawa mereka mandi ya!" Inka memerintahkan kepada kedua baby sitternya untuk memandikan bayi kembarnya.


"Ayo Ma, Dad. Kita makan dulu." Ucap Mario.


Tak lama kemudian.


Ting.. Tong.. Terdengar bunyi bel.


Indah yang baru akan mendudukkan dirinya di kursi, tiba-tiba berdiri.


"Biar mama saja yang membukakan pintu." Ujar Indah.


Inka mengangguk dan melanjutkan untuk melayani Mario dan Karel yang sedang sarapan.


Indah melangkahkan kakinya menuju pintu utama. Ia meraih gagang pintu itu dan membukanya.


Ceklek..


Raka tak kalah terkejut. Ia mendapati sosok wanita yang sangat dirindukannya. Sosok wanita yang selalu hadir dalam mimpinya, yang hanya bisa ia lihat rupanya dalam sebuah foto yang di simpan rapih pada lemari kerja di salah satu outlet usahanya.


Ya, Raka adalah cinta pertama bagi Indah. Indah mengagumi Raka sejak ia tahu akan pesona lawan jenis. Raka adalah anak dari sahabat ayahnya Indah. Dua keluarga itu sering bermain dan liburan bersama, sehingga Indah diam-diam memiliki rasa dan rasa itu berkembang seiring kedewasaannya. Gayung bersambut, ketika orang tuanya menjodohkan ia padanya. Raka tidak menolak karena pada saat itu memang Desi tengah pergi meninggalkannya, dan Desi datang lagi setelah satu tahun lebih pernikahan mereka. Tepatnya, dua bulan setelah Indah melahirkan Inka.


Keduanya terdiam, tak ada kata yang terucap, hanya saling memandang satu sama lain, dengan pikiran masing-masing. Ingin rasanya Raka memeluk tubuh itu, ia rindu aroma dan kehangatannya. Menurut Raka, penampilan Indah masih sama seperti dulu, tak ada yang berubah. Gaya rambutnya, postur tubuhnya, dan kecantikannya pun masih seperti dulu.


"Papa." Ucap Inka dari belakang tubuh Indah, memecah keheningan dan membuyarkan lamunan masing-masing.


Inka menyela batas antara ayah dan ibunya yang tengah berdiri berhadapan.


"Papa, kenapa diam saja. Ayo masuk!" ucap Inka lagi.


"Oh iya, silahkan." Indah membentangkan tangannya dan menggeser tubuhnya untuk memberikan Raka jalan.


"Iya, terima kasih." Raka berjalan melewati Indah, tapi arah matanya tetap melirik ke arah mantan istrinya itu.


Indah mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Begitu pun Raka, detak jantungnya berdetak hebat, membuatnya salah tingkah, hingga ia tersandung ketika berjalan. Untung Inka berada persis di samping Raka, dengan cepat ia membantu menyeimbangkan tubuh ayahnya itu.


Sesampainya di meja makan, Mario langsung berdiri dan menghampiri ayah mertuanya. Tak lupa ia pun mencium punggung tangannya.


"Kebetulan kami sedang sarapan, Pa. Ayo kita makan bersama!" Ajak Mario, sambil menarik kursi untuk Raka.


Karel hanya mengamati tamu yang baru saja bergabung di meja itu. Ia pun mengulas senyum, ketika Raka memandangnya.


"Ini suami mama, Pa." Ujar Inka, memperkenalkan Karel pada Raka.


Raka dan Karel berdiri, Lalu berjabat tangan.


"Seperti di arena tinju. Raka vs Karel." Bisik Mario tepat di telinga istrinya. Inka langsung menyenggol bagian sikunya pada perut Mario.


"Husst.."


Indah sudah duduk di posisinya, tepat di samping karel dan berhadapan pada Raka.


"Apa kabar cucu papa?" Tanya Raka pada Indah.


"Baik, Pa. Sekarang mereka sedang di mandikan si mba." Jawab Inka.


"Oh." Raka hanya membulatkan bibirnya.


"Sukma, tolong buatkan papa teh hangat dengan gula berbeda." Perintah Inka pada Sukma yang sedang membawa dua piring lauk pauk ke meja itu.


"Papa mau makan apa? sekalian Inka ambilkan."


"Apa saja." Jawab Raka.


Arah mata Raka selalu mencuri-curi ke arah Indah. Ia melihat mantan istrinya tengah melayani suaminya.


"Kamu ngga suka itu, itu pedas, nanti sakit perut." ucap lembut Indah, sambil mengelus perut Karel, karena Karel ingin cumi saos padang buatan Inka.


"Sedikit aja, Sayang. Please." Kata Karel.


Indah menggeleng dengan senyum hangat. "Kamu ngga bisa makan pedas ya, nanti seperti di Bandara kemarin."


Keduanya tergelak. Karel dan Indah jadi ingat kejadian ketika perjalanan menuju Jakarta. Karel di beri nasi kari yang lumayan pedas di dalam pesawat. Alhasil, ia berlari terbirit-birit untuk mencari toilet, setelah keluar dari pesawat.


"Iya, iya tapi makanan itu terlihat menggiurkan, lagipula ada kamu sebagai obatnya kalau aku sakit."


"Ciye.. Mommy and Daddy romantis banget sih." Ledek Mario.


Wajah Raka memerah melihat Indah begitu perhatian pada suaminya.