
"Mommy.." Teriak Mario, setelah mendapati istrinya tengah duduk menyusui si kembar di kamarnya.
Selama di perjalanan menuju rumahnya, bibir Mario tak henti-henti mengulas senyum. Ia selalu ingat kejadian di Restoran tadi.
"Hmm.. anak papi kerjaannya nyusu terus." Mario mengusel ke pipi kedua anaknya.
"Ih jangan cium mereka dulu, kamu baru pulang kerja dan belum bersih-bersih." Inka menyingkirkan tubuh Mario dari si kembar.
"Kalau gitu cium kamu aja." Mario menubruk istrinya dan menciumi leher serta pundaknya yang terbuka.
Kali ini Inka memang tengah memakai pakaian yang luamayan sexy. Ia hanya mengenakan kaos oblong tanpa lengan dengan belahan dada yang cukup panjang, hingga bagian sisi kanan baju itu bisa melorot sampai ke siku. Ia pun tak mengenakan pakaian bawahan, padahal kaos yang ia kenakan panjangnya hanya 1 jengkal dari pinggul.
"Geli, Kak." Inka tertawa dan coba menghindar dari bulu-bulu halus di wajah suaminya.
Mario melepas ciumannya dan mulai memperhatikan Inka yang sedang menaruh si kembar ke tempat tidurnya masing-masing. Pandangan Mario menyorot tubuh Inka dari ujung kaki hingga kepala.
"Kamu sexy sekali, di sini ada Daddy Karel. Kalau dia melihatmu seperti ini bagaimana?" Tanya Mario dengan nada kesal.
Inka hanya tersenyum, Ia faham betul dengan keposesifan suami tercintanya itu.
"Jam segini Daddy udah ga akan keluar kamar." Inka menepuk pundak Mario.
Mario mendekati tempet tidur putra putrinya.
Ia menoel pipi bulat Maher dan Mahira. "Papi pinjam mommy kalian dulu ya."
Inka menyilangkan tangannya. "Jadi nanti Maher dan Mahira manggil kita mama papa apa mami papi sih?" Karena terkadang Mario memangil dirinya papa, terkadang papi seperti sekarang.
"Papi Mommy aja deh, Sayang." Jawab Mario, yang kini beralih pada leher dan pundak Inka yang terbuka.
"Ih galau, udah kaya anak abege." Cibir Inka dan keluar dari kamar si kembar.
Mario gemas dan dari arah belakang, Inka langsung di bopong ala bridel.
"Aaa.." Inka kaget dan berteriak.
Tari dan Ambar hanya senyum-senyum melihat majikannya yang selalu mesra.
"Bener ya kata mba Sukma, Pak Mario mesum banget sama istrinya." Kata Tari.
"Ya gimana ngga mesum, Bu Inka cantik banget, terus sexy lagi. Gue aja sebagai perempuan mengagumi, apalagi laki-laki." Sahut Ambar.
"Iya bener." Tari mengangguk.
"Sungguh ciptaan Tuhan yang indah." Kata Tari lagi.
"Lo kalo cakep kaya Bu Inka juga ngga bakalan jadi baby sitter, Tar." Kata Ambar, yang membuat keduanya tergelak dan saling berkhayal.
Mario membawa Inka hingga kamar dan mendudukkannya di tepi tempat tidurnya.
"Aku siapkan air hangatmu dulu." Inka langsung beranjak ke kamar mandi.
Mario sudah menghadap cermin dan membuka dasi, juga kancing kemejanya satu persatu. Inka datang dan membantu melepaskan pakaian Mario.
"Kamu sudah makan? Aku siapkan." Kata Inka.
"Aku sudah makan."
Mario tergelak mengingat lagi kejadian itu.
"Kenapa? kok ketawa." Tanya Inka bingung dengan tingkah suaminya.
"Akhirnya aku bisa menyelesaikan wanita gila itu, Sayang." Jawab Mario antusias.
Lalu Mario menceritakan kejadian makan malam di Restoran XX itu dengan detail. Awalnya Inka geram dengan kelakuan Chintya yang menggoda suaminya, tapi kemudian Inka tertawa terbahak-bahak, hingga tak berhenti dan sedikit mengeluarkan air di ujung matanya.
"Kalian itu cocok banget sih. Asisten sama bos, sama. klop." Kata Inka, sambil memegangi perutnya yang sakit karena tertawa lama.
"Dhani emang andalan, nanti kalau aku ketemu cewek kaya Chintya lagi, aku sama Dhani bisa berakting seperti itu lagi." Mario menaikan alisnya dengan seringai licik.
Inka masih tertawa, tapi kali ini tawanya sudah memelan.
"Lagian punya mantan kok tipenya kaya gitu semua." ledek Inka
"Justru, kan aku bilang, aku nyosor sama cewek yang mau di sosor." Kata Mario, sambil melepaskan celananya dan memberikan pada Inka.
Inka melihat cetakan bibir dan tanda tangan Chintya di celana itu. Ia menggeleng sambil tersenyum. Ia tak mengerti mengapa ada wanita yang segila itu mengejar laki-laki?
"Terus kalau ceweknya ngga mau di sosor, gimana?" Tanya polos Inka dengan menatap lekat mata Mario.
"Aku nikahin supaya bisa di sosor."
"Ini dia orangnya." Jawab Mario lagi, dan langsung mendekap tubuh Inka.
"Haish.. gombal." Wajah Inka bersemu merah.
Mario yang tingga hanya memakai boxer saja, terus menjahili Inka dengan menggesekkan bulu-bulu halus di dagunya yang menyentuh wajah, leher, serta pundak istrinya.
Mereka bercanda dan berguling di tempat tidur itu. Mario terus menempelkan tubuhnya pada tubuh Inka.
"Sudah selesai kan?" Tanya Mario, setelah pelukan itu mengendur.
"Mandi dulu!" Inka mencoba untuk lepas dari kungkungan Mario dan berdiri.
"Jawab dulu!" Mario tetap mengungkungnya.
"Iya." Inka mengangguk.
"Yes, kita malam pertama lagi." Mario dengan riang bergegas menuju kamar mandi.
Inka mengeryitkan dahinya.
"Apa setiap suami seperti ini?" Tanyanya dalam hati.
..............................................................................
Harinya untuk vote..
Terima kasih untuk teman-teman yang terus manteng di novel ini. Terima kasih untuk like, komen, vote, dan hadiahnya.
pokoknya juara... Aku padamu 😘😍🤗