Istriku Canduku

Istriku Canduku
kita akan kembali ke Jakarta


Hari ini adalah hari kedua Inka berada di kamar hotel Mario. Tubuhnya terasa remuk, karena Mario yang tidak memberikannya waktu untuk istirahat. Ia terus menggempur Inka, hingga menjelang pagi.


"Hmm.." Tubuh Inka menggeliat.


Suara rintihan Inka menahan perih di area kewanitaannya, ketika ia akan membangunkan sedikit tubuhnya untuk bersandar pada dinding ranjang.


Seharian kemarin, Inka benar-benar tidak di beri pakaian oleh Mario. Mario membiarkan Inka polos. agar tak bisa pergi kemana-mana. Kerjaan Inka hanya makan, dan melayani suaminya saja di ranjang. Inka pasrah atas perlakuan Mario, karena pria itu tidak bisa di tentang. Kalau pun berdebat atau melawan, itu akan sia-sia.


Setelah berhasil menyandarkan diri di dinding ranjang, Inka menarik selimut agar tetap bisa menutupi tubuhnya yang polos. Ia meluruskan pandangan, setelah membenahi selimut itu, agar menutupi bagian dadanya dan menjepit dengan kedua ketiaknya.


Ternyata Mario tengah menikmati apa yang Inka lakukan. Ia menopang dagunya di atas meja sambil menatap lurus kedepan.


Inka menyelipkan rambutnya.


"Apa liat-liat?" Tanya Inka sambil membulatkan matanya ke arah Mario.


Mario tersenyum. "Kamu cantik."


Kemudian, Mario menutup laptopnya. Ia Berjalan menghampiri sebuah nampan yang sudah berisikan makanan dan minuman yang sudah lama di pesan.


"Mulai saat ini, aku yang akan terjaga lebih dulu. Aku tidak mau kecolongan seperti sebelumnya."


Mario teringat saat emosi dan mengkasari istrinya di tengah penyatuan, lalu terbangun dengan kamar yang kosong. Setelah itu, ia tak mendapati Inka kembali. Ia tak ingin hal itu terjadi lagi, maka ia harus bangun lebih dulu dari Inka.


Ia menghampiri Inka dengan membawa nampan tersebut. Lalu duduk di sampingnya.


"Makan dulu ya, kamu harus banyak makan yang bergizi, supaya nanti malam stamina kamu kuat." Mario memgambil makanan dan menyuapi Inka.


"Aaa.." Mulut Mario terbuka, lalu di ikuti Inka.


Sungguh, memang ia sangat lapar.


"Kak, ponselku dimana? Aku belum mengabari mama, mereka pasti mencariku." Tanya Inka dengan mulut yang masih di penuhi makanan.


"Makannya di habiskan dulu, baru bicara." Sungguh Mario selalu di buat gemas oleh tingkah istrinya ini. Tidak salah memang, jika ia selalu rindu kehadirannya.


"No ponsel! Kita akan menghabiskan waktu berdua di kamar ini tiga hari. Lusa aku akan mengantarkanmu pulang ke rumah, sekalian pamit, karena kita akan kembali ke Jakarta." Seketika perkataan Mario membuat Inka terdiam.


"Kenapa?" Tanya Mario.


Inka menggeleng. "Tidak apa."


Kemudian, pandangan Inka tertuju pada dada bidang Mario yang terbuka. Saat ini Mario hanya memakai boxer tanpa baju atasan.


Inka menyentuh luka jahitan panjang yang tercetak pada dada Mario.


"Ini pasti sakit?" Tanya Inka lembut.


"Tidak sesakit, ketika membaca surat yang ada dalam tasmu." Jawab Mario.


Inka menundukkan wajahnya.


Namun, Mario menraih dagu wanita di hadapannya untuk kembali menatap wajahnya.


"Maaf, mungkin kata ini tidak akan cukup walau di katakan beribu kali." Kata Mario lagi sambil menghembus nafasnya panjang dan tersenyum.


"Aku menamai itu di ponselku, sebelum aku sadar bahwa aku mencintaimu. Sekarang aku sudah merubahnya. Kalau tidak percaya, kamu bisa meneleponku sekarang." Mario berdiri dan meraih ponselnya, lalu mengambil ponsel Inka.


"Ayo, coba telepon aku sekarang!" Kata Mario.


Inka menggeleng sambil memegang ponselnya. "Di sini, tidak ada nomormu."


"Oh, di sini juga sudah tidak ada namaku?" Tanya Mario sambil menunjukkan dada Inka.


Inka hanya terdiam. Bibirnya sulit untuk berkata, padahal hatinya berkata, "masih, di sini, masih terus ada namamu."


Kemudian, Mario mraih ponsel yang ada di tangan Inka. Wajahnya menunduk, seolah ada yang di sembunyikan dari wajah itu. Ya, Mario ingin sekali menangis.


"Nih, nomorku sudah ada di sini. Ayo coba telepon!"


Inka mendial nomor Mario. Di sana tertera "My ĺife". Inka tersenyum dan tersipu malu.


"Namaku Inka, bukan Life." Sontak membuat Mario tergelak dan mencubit pipi Inka.


"Udah, Kak. Aku udah kenyang." Inka menahan suapan Mario yang terakhir.


"Kamu mau kemana?" Mario menahan pergelangan Inka yang hendak berdiri, setelah ia meletakkan sendok di tangannya.


"Aku mau ke kamar mandi. Aku ingin menghirup udara segar di luar, aku bosan di sini!" kesal Inka, karena Mario telah mengurungnya di kamar hotel ini selama dua malam.


"Kamu menyebalkan." Inka memukul dada Mario, yang tengah berdiri di samping dan ingin menggendongnya.


"Kamu juga menyebalkan karena sudah memasang alat kontrasepsi itu diam-diam." Kata Mario.


"Kamu lebih menyebalkan, karena sudah menikah diam-diam." Kata Inka, yang kemudian duduk lagi di tempat tidur itu.


Mario berjongkok di hadapan Inka. "Berarti kita satu sama donk." Mario tersenyum menampilkan jejeran giginya


"Karena udah satu sama, berarti seri. Sekarang kita baikan. Okey!" Mario menampilkan jari kelingkingnya.


Inka menggeleng dan tidak membalas jari kelingking yang sudah Mario ulurkan.


"Sayang, kamu tahu, aku menikahi Sasha karena apa? Pasti Sasha sudah menceritakan banyak padamu. Aku tidak pernah mencintai wanita lain sebelumnya, seperti aku mencintaimu sekarang. Aku tidak pernah menyentuh wanita selain dirimu setelah kita menikah. Karena aku hanya ingin kamu."


Inka mencibir. "Masa?"


"Ck.." Mario langsung menggendong Inka ala bridal, Ia langsung memasukkan istrinya ke sebuah bathup besar, yang sudah Mario siapkan.


Dengan telaten, Mario menggosok punggung dan kaki Inka. Lalu, mencuci rambutnya dengan shower. Tidak lupa Mario juga selalu mengecup punggung terbuka Inka di saat ia sedang membersihkan tubuh istrinya itu.


"Sayang, kamu sudah melepas alat kontrasepsi itu kan?" Tanya Mario, Setelah tangannya sampai pada perut Inka.


Inka mengangguk. Ia memang langsung melepas alat kontrasepsi itu, setelah sampai di Belanda, karena ia berpikir tak akan bertemu lagi dengan Mario.


Senyum Mario mengembang, ia terus mengelus perut rata Inka.


"Semoga kamu cepat ada di sini ya, sayang. Papa menantimu."


Inka terenyuh melihat ekspresi Mario ketika mengatakan hal itu. Ternyata Mario sangat menginginkan seorang anak darinya.


Sepersekian detik, keduanya terdiam. Mario menangkup wajah istrinya, keningnya di tempelkan pada kening istrinya hingga hidung mancung keduanya beradu.


"Kita mulai lagi semuanya dari awal. Aku mohon." Suara lirih Mario.


Inka mengangguk, dari lubuk hatinya yang paling dalam, memang ia masih mencintai suaminya, masih ingin bersamanya. Namun, untuk kembali tinggal di Jakarta, ia masih ragu.


Mario mengangkat Inka, sehingga ia mau tidak mau melingkarkan kakinya pada pinggang Mario. Kemudian, Mario memulai pangutan itu lagi.


Dengan rakus Mario ******* bibir bawah Inka, bergantian dengan bibir atasnya. Bibir Inka seperti permen yang tengah di makan dan di sesap Mario.


Mario membaringkan lembut Inka di ranjang besar itu. Ia mulai menggigit leher Inka dan memberinya tanda merah di tempat yang berbeda. Padahal tanda merah semalam, masih berbekas dan masih terlihat dengan jelas warnanya. Kemudian secara bergantian, ia menyesap bagian gunung kembar Inka, membuat tumbuh Inka melenguh. Sedangkan tangannya pun tak tinggal diam. Tangan Mario sudah menelusuri bagian kewanitaan Inka dan memainkannya. Membuat Inka semakin terbang ke langit ketujuh.


"Boleh, aku melakukannya lagi?"


Inka menjawab dengan anggukan. Matanya sudah terlihat sayu, dan menikmati permainan suaminya. Sungguh, Inka pun merindukan sentuhan itu.


****


Harris kebingungan mencari Inka. Sudah tiga hari Inka tak memberi kabar pada siapapun. Bahkan Inka tak mengabari ketidakhadirannya di butik selama tiga hari itu.


Di rumah, Indah selalu menangis. Karel hanya bisa menenangkannya. Karel pun sudah memerintahkan orang-orangnya untuk mencari keberadaan Inka.


Mario sengaja melakukan itu, ia hanya ingin berdua dengan Inka tanpa gangguan. Terlebih lagi, ia berniat membalas Harris yang telah membawa istrinya pergi dari sisinya dengan cara memalsukan identitas Inka.


"Bel, kemana Inka terakhir pergi?" Tanya Harris panik.


"Terakhir itu, dia menemui klien kami, Ris. Kami sudah menelusuri alamat dan nama klien itu, tapi nihil. ternyata data yang di berikan fiktif." Kata Bella dengan nada yang gemetar.


"Kok bisa seperti itu?" Tanya Pras.


"Aku juga ga tau om." Bella sudah ingin sekali menangis.


Mario memang memberikan identitas dan alamat hotel palsu pada butik Inka. Namun, ketika Inka di perjalanan, Mario mengabari Inka bahwa ia pindah hotel. Lalu, memberikan alamat hotel yang sekarang mereka tempati.


Harris, Pras, dan Bella memasuki mobilnya kembali. Penelusuran mereka di jalan-jalan kecil yang biasa Inka lewati tak berhasil. Merka sudah bertanya pada toko bunga, yang biasa Inka singgahi. Mereka pun bertanya pada toko kue atau cafe yang biasa Inka lalui. Namun, tidak ada yang mengetahui keberadaanya. Melihatnya pun tidak.


"Apa kita lapor polisi?" Tanya Pras, sambil menyetir mobilnya.


"Kita pendatang, Pras. Apalagi identitas Inka di sini palsu, itu sama saja menyerahkan diri sebagai penjahat."


Pras terdiam. Kata-kata Harris ada benarnya.


"Ya sudah, kita kembali saja ke rumah tante Indah. Paling tidak kita menenangkan tante Indah dulu." Kata Bella yang berada di bangku belakang.


Mereka sampai di halaman rumah Karel. Indah sudah berdiri di sana, menunggu kabar dari ketiga orang yang tengah mencari Inka.


Harris menggeleng, setelah dirinya semakin dekat pada Indah. Indah menatap Karel sedih, dan Karel memeluknya.


"Kita akan terus mencarinya." Ujar Karel. Indah semakin sesegukan.


Tak lama kemudian, suara mobil sedan keluaran Eropa berhenti di halaman rumah Karel. Inka membuka pintu mobil itu, dan berlari menghampiri Indah.


"Mama.." Teriak Indah walau masih dalam kejauhan.


"Sayang.." Indah membentangkan kedua tangannya, lalu menggapai tubuh Inka dan memeluknya erat.


"Kamu kemana aja, Sayang. Kami mencarimu kemana-mana, bahkan Daddy mu hingga mengerahkan seluruh anak buahnya." Ucap indah dengan nada yang masih sesegukan.


Inka pun ikut menangis, ia terharu dengan suasana di sini. Begitu banyak orang yang menyayanginya dengan tulus.


Mario menghampiri Indah, karel, Harris, Bella, dan Pras, yang masih berdiri di depan pintu rumah itu.


Kemudian, Harris lebih dulu melangkah menghampiri Mario.


Bugh..


Harris meninju pipi Mario, hingga sudut bibir Mario mengeluarkan darah. Pukulan Harris sangat kencang. Namun, Mario menahan emosinya. Ingin sekali ia membalas pukulan itu, terlebih Harris adalah orang utama yang membantu Inka pergi dari sisinya.


Mario melewati Harris, dengan gaya tenangnya, ia tetap melangkah menghampiri Indah dan Karel.


"Mommy, saya Mario suami Inka." Mario mengulurkan tangannya pada Indah dan bergantian pada Karel.


"Maaf, membuat mommy dan Daddy khawatir." ucap Mario lagi.


"Inka bersama saya selama tiga hari ini." Mario berucap lagi, dengan penuh kesantunan.


Karel langsung merangkul Mario. "Mengapa kamu tak mengabari kami."


"Maaf, Dad. Saya dan Inka sangat menikmati kerinduan kami, sehingga lupa yang lain." Senyum licik Mario dengan tatapan penuh arti pada Pras.


Ptas terkejut, ternyata pria yang pernah mengajaknya bekerjasama itu adalah suami Inka.


"Sial." Pras merutuki kebodohannya sendiri.


Mario di persilahkan duduk oleh Indah dan karel. Indah terlihat suka dengan Mario, ia begitu ramah terhadap menantunya itu. Begitu pun Mario, sosoknya yang arogan, sombong, dan keras, tiba-tiba berbeda di hadapan Indah dan karel. Mario terlihat santun, bersahaja, dan lembut.


"Ma, Dad. Inka ke atas ya!" Inka menaiki tangga menuju kamarnya, di ikuti oleh Bella.


Setelah Inka memasuki kamar, Bella pun masuk ke sana dan menutup pintunya rapat.


"Jadi, dia di sini?" Bella menanyakan Mario.


Inka mengangguk. "Dan yang mengikutiku beberapa hari yang lalu adalah dia."


Inka membuka lemari dan mengambil pakaiannya. Pasalnya saat ini, Inka tengah memakai kemeja Mario saja. Ia membuka kemeja itu, di hadapan Bella. Baru Inka ingin membuka sebagian kemeja itu. Bella sudah berteriak.


"Inka.. punggung kamu penuh dengan kismark." Ujar Bella sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Lalu ia menyikap rambut Inka. "Ya ampun, leher kamu juga, In. Merah semua."


"Ish.. udahlah, Bel. Salah nih aku ganti baju depan kamu." Ucap Inka santai.


"Sebegitu ganasnya suamimu, In." Bella menggeleng tak percaya.


"Yah, begitulah." Inka mengerdikkan bahunya dan berlalu meninggalkan Bella yang masih mematung di sana.


Inka tak kunjung keluar dari kamarnya. Padahal sudah dua jam, Mario menunggunya di bawah. Mario di ruang tamu hanya di temani oleh Karel.


Pras sudah pergi satu jam yang lalu, karena tak kuasa melihat Inka kembali pada suaminya. Sedangkan Harris hanya berdiam diri di dapur, di temani oleh indah.


"Inka akan meninggalkanmu lagi, Ma." Ucap Harris.


"Tidak apa, Ris. Yang penting putri mama bahagia." Kata Indah.


"Ngga jamin pria itu bisa membahagiakan Inka, Ma." Kali ini suara Harris terdengar lirih.


"Tapi mama lihat kesungguhannya. Mama lihat cinta dimatanya yang begitu besar terhadap Inka. Dan, mama lihat juga Mario jauh berbeda dari Raka." Indah berkata dengan penuh senyum.


Di kamar, Inka masih terduduk di meja riasnya.


"In, ayo keluar kamar? Kasihan suami kamu udah nunggu di bawah lama." Kata Bella sambil menarik lengan Inka.


"Kamu aja yang kebawah duluan, aku masih mau di sini." Jawab inka dengan raut wajah yang sedih.


"Kenapa, In? Aku tahu sebenarnya kamu bahagiakan, Mario menjemputmu?"


Inka terdiam. Sejujurnya, Ia juga tak mau meninggalkan Indah. Di sini ia seperti mempunyai keluarga baru, yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.


"Entahlah, Bel. Aku bingung."