Istriku Canduku

Istriku Canduku
Terima kasih, Mom


"Kak, air hangatnya sudah siap." Inka menghampiri Mario yang sedang menatap perlengkapan Inka sudah terpacking rapih.


"Kamu sudah siapkan ini?" Senyum Mario, ia sangat senang dengan apa yang di lihat. Ternyata istrinya sudah siap untuk kembali ke Jakarta.


"Bahkan, mama sudah menyiapkan kue kastangel dan pastel khas belanda untuk mama Laras."


"Hmm.. Mommy mu memang luar biasa." Mario tersenyum dan merangkul Inka dari samping, Inka menempelkan kepalanya pada Mario, begitu pun sebaliknya.


"Kalau begitu, kita pulang besok." Ujar Mario lembut.


Inka mengangguk. "Sudah sana mandi! Bau tau."


"Tapi, suka kan?" Seringai licik Mario.


Mario semakin mempererat pelukannya, mengingat saat ini, Inka sedang berada dalam rangkulannya. Kepala Inka tepat di ketiak suaminya.


"Aaaa.. Hahahahaha.." Inka mencoba melepaskan diri dari pelukan sang suami sembari tertawa.


"Ini apa?" Tangan Inka mencoba terlepas dari genggaman Mario yang sudah berada di depan pintu kamar mandi.


"Mandiin!" rengek Mario.


Inka mengeleng dan menggelembungkan mulutnya "Dasar bayi besar."


Mario hanya tersenyum melihat ekspresi gemas sang istri dan mengecupnya sekilas sebelum berlalu.


Mario memasuki kamar mandi yang tidak terlalu besar itu. Ia merelaksasi diri dengan air hangat dan aroma terapi yang ada di dalam bathup. Harinya dari kemarin sangat melelahkan, setelah bekerja ia langsung terbang ke sini dengan perjalanan yang lumayan lama.


Sementara Inka, menyiapkan makan malamnya bersama sang ibu di dapur. Indah dan Karel tahu bahwa Mario tengah berada di kamar putrinya sekarang.


"Mama bilang apa, suamimu sangat mencintaimu, Sayang. Dia rela langsung terbang ke sini untuk menjelaskan masalah ini ke kamu." Ujar Indah, sambil tangannya mengaduk tumisan makanan yang ada di atas kompor empat tungku itu.


"Iya, Ma." Inka tersenyum, sambil memotong wortel kecil-kecil dan berdiri di samping Indah.


Inka melepaskan aktifitasnya, lalu memeluk sang ibu dari samping. Tangannya di lingkarkan pada pinggang Indah dan dagunya menempel di bahu Indah.


"Ma, Inka pasti akan selalu merindukan mama. Merindukan nasihat mama, pelukan mama, masakan mama."


Lalu Indah mengecup kepala putrinya. "Mama juga pasti akan merindukanmu. Kita akan sering video call dan mama akan ke sana, menjelang kamu melahirkan. Mama akan menemanimu, Sayang." ucap Indah lembut.


"Benar ya, Ma?" Indah langsung mengangguk.


"Terima kasih, Ma. Memang seorang ibu itu the best banget." Inka semakin mengeratkan pelukannya pada Indah dengan senyum mengembang.


Di kamar mandi, Mario sudah selesai dengan ritual bersih-bersihnya. Ia mengambil handuk yang sudah Inka sediakan, lalu melilitkan pada pinggangnya di depan cermin. Ia melihat benda kecil yang ada di pinggiran cermin. Kemudian, Mario meraih benda itu dengan tangan kanannya. Seketika, tangan kirinya mengusap wajah yang masih sedikit basah.


"Terima kasih, ya Allah. Engkau telah sudi mengabulkan doa-doaku, mengabulkan doa dari seorang hamba yang penuh dosa." Gumam Mario sambil memejamkan matanya.


Ia tak menyangka hidupnya akan lurus seperti ini. Padahal, tak pernah ada dalam bayangannya, ia akan menikah dan punya anak. Karena menurutnya 'living together' saja sudah menyenangkan, walau hanya kesenangan sesaat. Ternyata mempunyai keluarga, lebih membahagiakan, ada tujuan, dan benar-benar membuat hidup seorang lelaki menjadi teratur. Tanpa di sadari airmatanya menetes. Airmata bahagia.


"Kak.." Inka membuka pintu kamarnya dan memanggil Mario.


Ia melihat Mario yang masih mematung di depan cermin sambil memegang benda kecil yang sengaja ia taruh di sana.


Mario menoleh ke arah Inka dan mengangkat benda itu. Inka mengangguk dengan penuh senyum. Ia langsung menghamburkan pelukan ke tubuh Inka.


"Kenapa ga bilang?"


"Surprise." Senyum Inka mengembang, dan di balas dengan senyum yang sama oleh Mario.


"Nakal." Mario kini menciumi seluruh wajah Inka.


"Nanti, kalau sampai Jakarta, ngga boleh capek-capek. Ga boleh ke butik dulu, harus banyak istirahat dan makan makanan bergizi." ucap Mario dengan gaya diktatornya.


"Siap, Bos." Mario mencubit hidung Inka gemas.


Beberapa menit kemudian, Inka dan Mario bergabung ke ruang makan untuk makan malam bersama Indah dan Kerel. Usai makan malam bersama, mereka bercengkrama. Di sana juga ada Harris dan Bella yang tiba-tiba datang. Harris sudah lebih bersahabat kepada Mario, melihat sikap Harris yang lebih hangat membuat Mario pun melakukan hal yang sama.


"Udah baikan sekarang?" Tanya Inka meledek, sambil bergelayut manja di lengan Mario saat berjalan menuju kamar.


"Siapa? Harris?" Mario balik bertanya.


"Inka mengangguk. "Dari tadi ngobrol terus sama mas Harris."


"Masa sih." Inka mencubit dagu Mario dan berlari kecil hingga ke kamarnya.


"Eits.. Jangan lari! Kamu lagi hamil." Mario mengejar Inka.


Inka sudah bersiap menaiki tempat tidurnya. Mario sudah berada di sana, dengan menyandarkan diri pada dinding tempat tidur, kakinya di biarkan selonjor. Mario memperhatikan istrinya sedari tadi.


"Kamu kenapa? mukamu merah." Inka menangkup wajah Mario dengan kedua tangannya


Mario menggeleng seperti anak kecil, dengan wajah yang datar.


"Aku ingin, sayang. Ingin sekali." Kata Mario tiba-tiba.


"Ingin apa?" Tanya Inka bingung.


"Ingin kamu." Mario berkata dengan tangan yang mulai mengelus bahu terbuka Inka. Seperti biasa, Inka pasti akan mengenakan tangtop satu tali dan hotpan pendek sebagai baju tidurnya sehari-hari.


"Terus, kenapa? Biasanya aku langsung di terkam aja." Inka tersenyum.


Mario menggeleng dan memegang perut rata Inka. "Itu ga mungkin, sekarang ada dia di sini. Aku takut mengganggunya, apalagi dia masih sangat muda."


"Oooh.. so sweet." Inka memasang wajah imut.


"Ya udah sini aku peluk aja." Inka berkata lagi sambil membentangkan kedua tangannya.


"Jangan, nanti aku khilaf!" Kata Mario.


"Kamu tidur aja duluan." Kata Mario lagi, kemudian membaringkan Inka dan menyelimutinya. Dengan masih posisi duduk dan menyadarkan punggung di dinding kasur, Mario mengelus-ngelus kening istrinya hingga terlelap.


****


"Hoeek.." Mata Inka sudah mulai terbuka, karena hentakan di perutnya. Sementara tangan Mario masih setia melingkar di pinggangnya.


Inka mengambil tangan Mario untuk di pindahkan. Lalu, segera ke kamar mandi. Setiap pagi rasa mual itu selalu datang.


"Hoeek.." Suara Inka yang sedang munta-muntah, membangunkan Mario.


Mario langsung menghampiri istrinya dan mengelus punggungnya.


"Setiap pagi seperti ini?" Tanya Mario.


Inka langsung mengangguk.


Lalu, Mario mengelus perut istrinya. "Jangan buat mama susah ya, Nak. Baik-baik di dalam sini."


"Baik, papa." Jawab Inka dengan nada anak-anak.


Mario tersenyum. Sungguh ia benar-benar bahagia.


****


Karel, Indah, Harris, dan Bella mengantar Inka dan Mario ke Bandar Udara Internasional Schiphol.


Inka memeluk Indah lama, kemudian berganti ke Karel dan Harris. Ia juga memeluk lama Bella.


"In, aku minta maaf atas apa yang di lakukan om Pras." Bisik Bella pada Inka.


"Tidak apa, Bel. Aku mengerti. Tolong kasih pengertian juga pada Angel, jika dia bertanya tentangku." Bella langsung mengangguk.


"Ayo!" Mario menggenggam tangan Inka, setelah ia bersalaman dengan semua keluarga Inka yang mengantarnya.


"Salam buat orangtuamu, Nak. Kami akan ke sana nanti." ucap Karel di sertai anggukan Indah.


"Baik, Mom Dad." Jawab Mario dengan membungkukkan sedikit tubuhnya


"Terima kasih, daag.." ucap Mario dan Inka sambil melambaikan tangannya.


"Hati-hati, sayang." Teriak Indah dari kejauhan.


Kali ini Mario meminta Dhani untuk menyiapkan jet pribadinya. Demi kenyamanan dan keamanan sang istri yang tengah hamil muda. Dhani pun harus menyiapkan segala sesuatunya dalam waktu satu malam.


Kasihan, Dhani. Yang sabar ya, punya bos seperti Mario.