
Mario membuka pintu kamar mandi, dan mendapati sosok wanita yang sangat ia hafal sedang berdiri di depan cermin.
Mario menghampirinya dan berkata, "kamu lagi apa?"
"Massage." Jawab Inka sambil memutar jari kanannya pada dada kirinya dengan tangan yang sedang di bentangkan ke atas.
Mario melihat dengan intens istirnya yang sedang me-massage pay*d*r*nya.
"Ini supaya nanti ASI aku lancar, Kak." Jawab Inka lagi
"Ooo.." Mario membulatkan mulutnya.
"Sini aku bantu." Ucap Mario lagi.
"Ngga, nanti malah minta yang aneh-aneh." Jawab Inka ketus.
"Kok tau sih." Mario mencubit pipi Inka dengan senyum menyeringai.
Inka menggelengkan kepalanya. Lalu, Mario langsung membuka jubahnya dan masuk ke bath up.
****
waktu Inka melahirkan tinggal menghitung hari. Mario telah menjadwalkan hari kelahiran putra putri nya di tanggal yang bagus, karena Inka akan melahirkan langsung dengan metode caesar. Mario tidak ingin melihat istrinya kesakitan dengan mengejan, dan tidak mau beresiko karena yang hidup ada dua janin.
Inka hanya pasrah dengan ke posesifan suaminya. Selagi itu yang terbaik, ia tidak akan membantah.
Mario mengantar Inka yang akan melakukan operasi caesar. Laras dan Andreas pun menemaninya di sana. Sedangkan Indah, sudah memberitahu Mario dan Inka untuk datang seminggu setelahnya, karena Indah dan Karel akan berada di Indonesia lebih dari satu bulan, maka Karel harus menyelesaikan semua pekerjaannya.
"Sayang, kamu jangan tegang ya! Aku akan selalu menemanimu di sini." Ucap Mario yang sedang berjalan mendorong tempat tidur Inka bersama para suster menuju ruang operasi.
Inka mengangguk. Mario tak melepas genggaman tangannya pada jari Inka. Inka pun sama, ia justru malah mengeratkan genggaman itu.
Jari tangan keduanya terlepas, tatkala Mario sampai di pintu operasi. Namun, tak lama kemudian, dokter membuka pintu itu lagi.
"Pak Rio, anda boleh ke dlaam untuk melihat prosesi kelahiran anak anda."
Dengan wajah sumringah, ia mengikuti perintah dokter dan perintah suster di sana. Ia memakai baju sesuai dengan petugas medis yang ada di ruang itu.
Inka sudah tampak lemah, obat bius sudah mempengaruhinya. Namun, ia tetap sadar.
Mario mendekatkan wajahnya pada Inka. Ia terus mengelus pipi istrinya, sambil menceritakan bagaimana pertama kali ia menyukai Inka hingga saat ini dan seterusnya. Ia menceritakan rencananya yang akan membeli sebuah rumah, dengan kebun dan taman bermain.
Mario terus mengoceh, agar Inka tetap terjaga, Karena hal itu yang di sarankan Laras, seperti yang Andreas lakukan pada saat dia melahirkan.
Laras dan Andreas menunggu di depan dengan harap-harap cemas.
Empat puluh menit terlewati, terdengar suara tangisan bayi laki-laki dari ruangan itu, lalu di susul tangisan bayi perempuan lima menit kemudian.
"Pa, cucu kita lahir." Ujar Laras dengan penuh suka cita.
Andreas memeluk istrinya dari samping.
Sebelum di bersihkan, kedua suster yang memegang bayi Mario dan Inka segera menunjukkannya. Mario melihat kedua anaknya dengan haru, begitupun Inka.
"Terima kasih, Sayang." Mario mengecup seluruh wajah Inka.
Inka mengangguk, dan masih dalam perawatan selanjutnya.
Semantara, Mario menghampir kedua bayinya yang telah di bersihkan. Ia meneggendong dan mengazaninya satu persatu. Airmatanya tak henti membasahi pipi, tatkala ia berazan. Air mata itu mengalir deras dengan sendirinya. Sungguh, ia benar-benar bahagia, sangat bahagia.
Lalu, Laras dan Andreas masuk ke ruangan itu. Mereka menggendong kedua cucunya. Andreas menggendong bayi laki-laki sedangkan Laras mengendong bayi perempuan.
"Pa, ini seperti dejavu." Laras menangis.
Ia ingat, ketika dirinya melahirkan bayi kembar. Persis seperti yang di alami Inka sekarang, dan dengan jenis kelamin yang sama. Ia juga ingat adik perempuan Mario. Anak perempuan yang cuek dan tak banyak bicara, persis seperti Inka. Oleh karenanya, Laras langsung menyukai Inka sejak pandangan pertama, karena wajah dan perangai Inka persis seperti adik perempuan Mario yang pergi di usia 12 tahun.
"Terima kasih, Tuhan." Ucap Andreas dan mencium kening cucu yang sedang di gendongnya.
Laras menirukan gaya suaminya.
Mario yang melihat hal itu semakin terenyuh. Mungkin setelah ini, Inka tetap tidak akan memakai alat kontraksepsi, karena ia sangat menyukai istrinya ketika hamil. Karena kehamilan membuat Inka lebih manja dan agresif.
..........................................................................................
Jiahh... Mario mau bikin kesebelasan ya 🤭
Oiya, biasanya hari senin sistem NT/MT membagikan vote.
mohon dukungan lewat vote nya ya teman-teman...
Terima kasih,, salam sehat dan sukses selalu 😍