Istriku Canduku

Istriku Canduku
Bos kamu, Bucin banget


Ini adalah pengalaman pertama Mario menikmati makan malam di pinggir jalan, di iringi musik yang hanya menggunakan gitar klasik dan suara yang terdengar sumbang silih berganti. Ia tersenyum geli, melihat dirinya sekarang. Sungguh Mario berubah sembilan puluh derajat hanya karena seorang wanita super cuek, tapi kecantikan dan kebaikannya mampu menaklukan hati seorang Mario, di tambah tubuh itu yang tak bisa di gantikan dengan tubuh wanita manapun, membuat Mario tak bisa move on dari Inka.


Kini, Mario dan Inka berada di dalam mobilnya. Ia meluncur ke sebuah tempat nonton di daerah Sarinah dengan jadwal midnight show.


Mario dan Inka tiba di jakarta theater tepat pukul sepuluh malam. Ia masuk dengan tangan yang masih setia di pinggang Inka. Ia tambah gemas memeluk sang istri, karena saat ini Inka tampak lebih sekal dan berisi.


Ternyata di sana, sudah banyak orang, padahal hari ini bukan malam weekend. Terlihat para eksekutif muda dengan beberapa teman pria dan wanitanya, ada juga yang bersama kekasihnya, dan beberapa bule yang menggandeng wanita berkulit sawo matang. Juga ada seseorang yang sangat Mario kenal, tengah tertawa riang dengan seorang wanita.


“Kamu liatin apa, Kak?” Inka mengikuti arah mata Mario.


“Itu, si kampret, katanya pulang cepat mau ketemu ibu panti, ternyata malah pacaran. Kurang ajar!” Kesal Mario.


“Itu, Dhani, sama siapa?”


Mario menggeleng. “Tadi Yank, dia ninggalin aku dengan setumpuk berkas yang masih belum selesai, aku jadi terlambat jemput kamu.”


“Ya udah ngga apa, Kak. Sekali-kali kasih Dhani waktu untuk dirinya sendiri.”


Mario bergegas menghampiri Dhani yang tengah bercengkrama mesra dengan seorang gadis.


“Ekhemm...” Suara Mario sontak membuat pria dan wanita yang sedang asyik bercengkrama mesra itu menoleh.


“Miss Inka?” Gadis yang bersama Dhani terkejut.


“Ternyata kalian beneran pacaran?” Tanya Inka riang.


“Masalahnya ada yang bilang, mau pulang cepet karena rindu ibu panti.” Ujar Mario, membuat Dhani terbatuk.


“Maaf, Boss.” Dhani menangkup kedua tangannya dengan wajah memelas.


“Sejak kapan kalian pacaran?” Inka langsung duduk di samping Bianca.


“Hmm..” Bianca menoleh ke arah Dhani.


“Sejak Pak Rio mencari keberadaaan Bu Inka. Jadi saya sering berkomunikasi dengan Bianca.” Jawab Dhani.


“Ah alasan, emang lo udah ngincer Bianca dari awal istri gue buka butik itu kan? Jujur lo?” Kata Mario.


“Serius, Dhan?” Dhani mengangguk.


“Oh, so sweet,” Ujar Inka.


“Kalau begitu kita double date malam ini.” Kata Inka lagi.


Akhirnya mereka nonton bersama.


“Bu, biar saya aja, yang mengantri tiket nya.” Ujar Dhani yang sudah berdiri bersama Bianca. Namun, Inka tetap berdiri dan menolak tawaran Dhani.


“Ngga apa-apa, Dhan. Kita antri bareng aja Yuk!”


Mario masih tetap duduk. “Biarin, Sayang. Kita duduk di sini aja.”


“Ih, kamu tega banget. Jam kerja Dhani udah selesai tau." Inka tetap berjalan, mau tak mau Mario bangkit dan mengikuti langkah Inka.


“Bos kamu, bucin banget ih.” Kata Bianca yang melihat Mario takluk pada bos nya itu.


“Ya begitu deh.” Jawab Dhani yang berada di belakang Mario dan Inka.


“Kalau kamu, nanti kaya gitu ngga?”


“Tergantung.” Bianca mencubit pinggang Dhani, membuat Dhani berteriak.


Mario menoleh kebelakang. “Woi di sini banyak orang!”


Dhani dan Bianca langsung terdiam. Tak lama kemudian, mereka berempat mengantri untuk membeli tiket. Mario dan Inka berada di depan Dhani dan Bianca.


“Ih dia sendiri aja kaya gitu. Nyiumin lehernya Miss Inka kaya gitu, di kira di sebelah dan di belakangnya ngga ada orang kali.” Kata bianca kesal. Pasalnya, dia becanda saja sudah di omeli.


Dhani malah tergelak melihat ekspresi kekesalan pacarnya.


“Ih, kok malah ketawa. Betah banget ya kamu punya bos kaya dia. Huuuh.” Bianca mengepalkan tangan kanannya keatas yang di arahkan ke kepala Mario.


“Tapi, dia baik, Bi. Dia mengangkatku dari yang bukan siapa-siapa menjadi Dhani yang sekarang.” Lirih suara Dhani, mengingat segala jasa yang di berikan Mario.