Istriku Canduku

Istriku Canduku
ingin hibernasi


Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Inka sudah berjam-jam menghabiskan waktu bersama Pras dan putrinya.


"Kamu bawa mobil?" Tanya Pras saat mereka hendak pulang.


Inka mengeleng. "Aku takut kalau mau belajar nyetir, mas."


"Katanya terkenal galak, masa' nyetir mobil aja takut. Payah.." Ucap Pras sambil tersenyum meledek.


"Ih.. emang apa hubungannya galak sama takut nyetir?" Inka memukul pelan lengan Pras.


Pras menggeleng dan mengerdikkan bahunya. Kemudian tersenyum.


"Ya udah, kalau gitu aku antar pulang." Kata Pras.


Inka mengikuti langkah kaki Pras dan Angel.


Sesampainya di depan kediaman Andreas. Pras menghentikan mobilnya. Terlihat angel sudah tertidur di pangkuan Inka.


"Maaf ya, Angel ngerepotin kamu terus." Pras memindahkan Angel ke tangannya. Lalu menidurkannya di kursi belakang.


"Ngga kok mas, aku ga ngerasa keberatan sama sekali." ucap Inka dengan tetap mengulas senyum.


Inka turun dari mobil Pras, dan melambaikan tangannya.


"Semoga kita bertemu lagi, In." Kata Pras, Sebelum ia menjalankan mobilnya.


Baru sampai beberapa kilometer Pras menjalankan mobilnya, tiba-tiba ia teringat sesuatu.


"Ah, lupa lagi nanya nomor hape Inka." Pras berkata pada dirinya sendiri sambil menepuk jidatnya.


****


Mario sudah uring-uringan. Inka sama sekali tak bisa di hubungi. Keberadaanya pun tak terdeteksi, karena ponselnya mati jadi sinyal GPS yang terhubung pada ponsel Mario, tak menunjukkan pergerakan.


"Dhan, lo cari bini gue sampe ketemu." Teriak Mario dengan nada kesal dan marah.


Sherly pun kena imbasnya, ia selalu di marah-marahi bosnya, padahal tak melakukan kesalahan. Siang tadi, Mario.masih bersikap ramah danselalu tersenyum. Lalu malam ini, berubah menjadi singa.


Mario pulang ke apartemennya. Ia mencari Inka tak ada, lalu ke rumah Andreas, tapi tak ada juga Inka di sana. Ia memutar setirnya dan melaju ke rumah Raka. Se sampainya di rumah Raka, Mario hanya berdiri di gerbang. Ia bimbang untuk masuk, karena sepertinya, setelah menikah Inka sangat jarang menginjakkan kakinya di rumah ini.


"Inka, kamu di mana?" Mario mengacak-ngacak rambutnya. Ia menatap lagi ponselnya dan mendial nomor Inka. Namun, masih nihil, suara operator yang masih menjawab.


Mario kembali lagi ke apartemennya. Matanya terus terjaga, ia menunggu kedatangan Inka di ruang TV. Hingga ia tertidur dan sinar matahari dari jendela menyilaukan pandangannya.


Mario terbangun, dan menatap jam dinding. Terlihat di sana sudah pukul 7 pagi.


"Inka..." Mario langsung bangun dari sofa dan mencari Inka di kamarnya. Kosong.


Beberapa.menit kemudian, suara ponselnya bergetar. Tertera nama Dhani di sana.


"Di mana dia, Dhan?"


"......"


"Oke. saya ke sana."


Rahang Mario mengeras. Ia tak menyangka istri yang dari semalam di tunggu, sekarang berada di sebuah hotel.


"Saya minta kunci kamar itu sekarang! sekarang!" Mario menggebrak meja resepsionis.


Mario bergegas ke kamar di mana terdapat istrinya di sana.


Brak.. Mario membuka pintu kamar itu dengan kasar.


Ya, Inka memang sedang menginap di hotel. Setelah Pras mengantarnya persis di depan gerbang rumah Andreas, Inka tak langsung masuk ke rumah itu. Ia masih butuh sendiri. Ia ingin hibernasi.


Kemudian, Inka beralih ke sebuah cafe. Lalu disana, Ia bertemu dengan seorang pria, dan pria itu mengantarkan Inka ke hotel, juga menemaninya hingga tengah malam.


Inka yang masih bermalas-malasan di tempat tidur terkejut, dan membuka matanya.


"Aku ga bisa tidur mikirin kamu, ternyata malah enak-enakan di sini. Bangun!" Mario menarik selimut yang membungkus tubuh Inka.


Inka menarik selimut itu lagi. "Apaan sih."


"Kamu bilang apaan? Mana laki-laki itu?" Ucap Mario sambil meremas dagu Inka.


"Laki-laki apa?" Tanya Inka bingung.


"Aku melihatnya di CCTV resepsionis. Jangan pura-pura ngga tau, In." Teriak Mario.


"Oh, itu saudaraku." Jawab Inka santai.


"Bohong." Mario menarik tangan Inka dan membawa pulang paksa. Saat ini, Inka hanya mengenakan piyama yang baru ia beli di mall.


Mario terus menyeret Inka.


"Lepas, aku bisa jalan sendiri." Inka berkata dengan ketus.


"Kamu kenapa sih, kenapa?" Lagi-lagi Mario berteriak di wajah Inka. Ia tak habis pikir dengan sikap aneh istrinya.


Inka hanya diam dan tak menjawab.