
"Kak.. Udah, Hmm..." Suara Inka tertahan karena aktifitas Mario yang masih mendusel di dada istrinya.
"Nanti kamu telat. Hmm.. kasihan Dhani." Kata Inka lagi, sambil mengusap kepala Mario yang berada persis di dadanya.
Kemudian, Mario memghentikan aktifitasnya dan mendongah ke wajah Inka.
"Kamu kasihan terus sama Dhani. Kalau sama aku ngga kasihan?" Tanya Mario lesu.
"Enggak." Jawab Inka dengan ekspresi menyebalkan.
"Tuh, kan. kamu seneng banget bikin aku kesel." Kata Mario.
"Iya terus nanti aku di hukum, karena aku suka sama hukumannya." Ledek Inka.
Mario tergelak, di iringi senyum sumringah. "Oh gitu."
Mario mel*mat lagi bibir Inka dengan penuh nafsu. mengecapnya lagi dan lagi, hingga terdengar jelas suaranya.
Lalu, ia melepas pangutan itu dan segera bangkit. Mengedipkan satu matanya ke arah Inka dan bergegas menuju kamar mandi.
Inka tersenyum melihat suaminya yang mesum dan manja.
****
“Gimana udah keren kan?’ Kata Mario yang sedang berdiri di depan cermin.
“Ngga usah keren-keren sih.” Jawab Inka yang sedang duduk di tempat tidur, sambil mengerucutkan bibirnya.
Mario melihat ekspresi Inka, lalu menghampirinya.
“Lagian siapa suruh ngga mau ikut.” Mario menyodorkan lengannya untuk minta Inka mengancingkan kemejanya.
“Nanti deh, aku datang pas lamaran resmi nya saja. Lagian kalau hari ini kan memang urusannya pria.” Jawab Inka sambil mengancingkan lengan kemeja Mario.
“Ya udah, jangan salahin aku kalau nanti ada kerabat Bianca yang ngegodain ya.” Ucap Mario dengan mengedipkan satu matanya.
“Ish... Sok ganteng banget.” Cibir Inka.
“Lah kan emang ganteng, dunia mengakui, Sayang.” Mario mencubit dagu Inka yang masih duduk di tempat tidur, sementara ia tengah berdiri dekat di depannya.
“Kalau nanti ada kerbaat Bianca yang cantik dan sexy ngegodain kamu. Kira-kira kamu akan tergoda ngga?’ Inka menengadahkan kepalanya untuk menatap mata Mario.
“Menurut kamu, aku akan tergoda ngga?’ Mario malah balik bertanya.
“Enggak.”
“Pinter. Tapi kenapa masih tanya kalau tau jawabannya? Hmm.." Mario kembali mencubit Inka, tapi kali ini di bagian ujung hidungnya.
“Iseng aja.”
“Tadinya aku pikir kamu akan jawab, ngga tau.”
“Ngga mungkin.” Inka menggelengkan kepalanya.
“Kenapa? Pe-De banget.” Mario menyeringai.
“Karena aku tau kalau hanya aku yang bisa memuaskanmu di ranjang.”
Pernyataan Inka, Sontak membuat Mario tergelak. Ia langsung tertawa terbahak-bahak. Selesai ia tertawa karena jawaban Inka yang luar biasa, lalu Mario berjongkok mensejajarkan dirinya pada Inka.
“Kamu benar, sejak pertama aku menyentuhmu terasa sangat berbeda. Hanya kamu yang bisa membuatku seperti ini, hanya kamu yang membuat hidupku berwarna, hanya kamu yang membuatku lupa dengan duniaku, hanya kamu yang membuatku mempunyai tujuan. Oleh karena itu, tetaplah selalu ada di sisiku selamanya. Jangan pernah lebih dulu pergi dariku, karena mungkin aku tidak akan sanggup.’ Mario mengecup kedua tangan Inka.
Inka tersenyum, menatap kedua bola mata suaminya yang tengah berkaca-kaca. Tiba-tiba percakapan yang awalnya hanya candaan berubah menjadi serius.
“Aku akan tetap selalu di sisimu, hingga rambut kita memutih, mempunyai cucu, seperti papa Andreas dan mama Laras.”
Mario meraih kepala Inka, Ia memeluk erat pundak istrinya.
“I Love you, more.”
“Me too.” Jawab Inka.
“Bu, maaf ya saya pinjam Pak Mario sebentar.” Kata Dhani.
Inka mengangguk. “Iya Dhan, semoga lancar ya.”
“Iya bu. Terima kasih.” Dhani menundukkan separuh tubuhnya, ketika akan pergi meninggalkan Inka.
Mario mengecup kening istrinya, lalu pergi. Inka melambaikan tangnnya sesaat sebelum Mario masuk ke dalam mobil Dhani, dan Mario pun langsung membalasnya dengan sebuah kecupan jarak jauh, yang kemudian di lempar ke arah Inka. Inka pun langsung menangkap kecupan yang tak kasat mata itu, lalu di tempelkan ke dadanya.
Mario tertawa dan menggeleng, melihat balasan spontan dari istrinya yang tak pernah ia bayangkan. Sungguh, semakin lama, selalu ada saja hal yang mengejutkan dari istri tercintanya itu. Hal yang mebuat Mario semakin hari semakin mencintainya dengan sangat dalam.
“Senengnya liat Pak Rio bahagia.” Kata Dhani yang melihat Bos nya sedari tadi senyum-senyum sendiri.
“Iya, Dhan. Gue bahagia banget. Semoga setelah ini, lo juga akan bahagia. Mempunyai istri tuh bahagianya ngga bisa di ucapkan dengan kata-kata deh.”
“Bener banget Pak, sepertinya saya juga ngga akan lama-lama. Setelah lamaran ini, saya ingin dua bulan kemudian menikah, tidak ada acra tunangan.”
“Busyet deh, itu mah lo emang udah kebelet aja kali. Atau jangan-jangan lo udah nge-DP-in Bianca ya?” Mata Mario membulat.
“Ih amit-amit, Pak. Ya ngga lah. Saya ngga mau ngerusak wanita yang saya cintai, Pak.”
“Good. Bagus kalau gitu. Lo jangan pernah coba-coba nge-s*x sebelum nikah. Nanti nagih. Kalau lo udah nikah kan udah ada yang bisa di salurin.”
“Curhat, Pak.” Ledek Dhani.
“Ah sial lu, gue ngebilangin ini.” Jawab malas Mario.
“Iya, Pak.” Dhani tersenyum meledek, pasalnya ia tahu betul bagaimana kelakuan bosnya itu sebelum menikah.
Dhani dan Mario sampai di kediaman rumah Dharmawan, ayah Bianca.
Kedatangan Mario dan Dhani di sambut meriah oleh keluarga Bianca. Kedua orang Bianca pun sangat ramah dan hangat. Tidak banyak orang yang hadir malam ini, hanya ada keluarga inti. Kedua orang tua Bianca, kedua kakak laki-laki Binca, dan Bianca. Ternyata Bianca adalah putr satu-satunya keluarga Dharmawan yang seorang Pegawai Negeri Sipil di sebuah Institusi Kepolisian dengan jabatan yang berpengaruh. Kedua Kakak laki-laki Bianca pun seorang Tentara Angkatan Darat.
“Macem macem sama Bianca, Mati lo, Dhan.” Ledek Mario, setelah berada di ruang tamu dan melihat foto keluarga Bianca yang terpampang besar di sana. Tampak ayah dan kedua laki-laki Bianca yang tengah memakai seragam, di iringi Bianca dan ibunya yang memakai kebaya.
Mario dan Dhani duduk. Suasana horor sudah terasa di sana. Dhani sudah duduk dengan gelisah. Mario bisa melihat kegugupan Dhani, karena ia pun merasa seperti itu. Bagaimana tidak? Mereka sudah seperti nara pidana yang akan menerima serentetan pertanyaan, dan akan di sengat listrik bila pertanyaan yang mereka lontarkan di jawab dengan kebohongan.
“Ekhem..” Dharmawan mengeluarkan suaranya saat ia mulai menduduki dirinya persis di hadapan Mario dan Dhani.
Kedua kakak laki-laki Bianca pun mengikuti ayahnya dengan duduk di sisi kiri dan kanan sang ayah. Ibu Bianca duduk di samping Dhani.
“Apa kabar Mario Jhonson? Bagaimana bisnismu?” Tanya Dharma.
“Baik Om, Alhamdulillah semua lancar.”
“Bagaimana keluargamu? Sehat? Saya dengar kamu sudah menjadi ayah. Selamat ya.” Kata Dharma lagi.
“Iya om, terima kasih.”
Mereka berbasa-basi, menanyakan bisnis Mario, pekerjaan Dhani dan latar belakangnya. Mario juga sesekali menanyakan pekerjaan ayah dan kedua laki-laki Bianca. Semua percakapan mengalir dengan sendirinya.
“Dhani sudah seperti adik bagi saya, Om. Tanggung jawab dan kegigihannya sudah tidak di ragukan lagi. Oleh karena itu, saya bersedia menemaninya di sini. Saya juga mungkin satu-satunya kerabat yang paling dekat yang di miliki Dhani saat ini.” Mario menjeda ucapannya.
“Saya melihat kesungguhan Dhani terhadap Bianca, kebetulan Bianca juga bekerja di tempat istri saya. Saya mohon Om mengizinkan Dhani untuk meminang Bianca dan menjadikannya istri.” Mario berkata lagi dengan lantang.
Dhani terharu dengan kata-kata yang di ucapkan bosnya itu. Tidak sia-sia ia mengabdikan dirinya untuk Mario.
Dharma menoleh ke kanan dan kirianya. Kedua kakak lelaki Bianca menagngguk.
“Saya bukan orang jahat, saya hanya selektif. Pak Rio punya anak perempuan, kelak nanti akan menjadi seperti saya.” Jawab Dharmawan.
Mario pun mengangguk. “Benar.”
“Kami terima lamaranmu, Dhan. Mari kita langsung bicarakan kapan lamaran resmi di laksanakan, dan kapan tanggal pernikahan yang cocok.” Ucap Dharmawan lagi.
“Alhamdulillah.” Dhani mengusap wajahnya dengan kedua teleapk tangannya.
Tak lama kemudian, Bianca datang dengan membawa nampan minuman, senyum mengembang terlihat di bibirnya. Bianca dan Dhani pun saling mencuri-curi pandang. Keduanya terlihat sangat senang dan bahagia.