Istriku Canduku

Istriku Canduku
cinta tak harus memiliki


Jari tangan Inka berputar menyentuh dada Mario yang tercetak tato Maori. Sebelum tidur Mario memang selalu medekap Inka dalam pelukannya, hingga mereka terlelap.


Inka langsung menceritakan pertemuan Indah dan Desi pada Mario, ketika ia pulang kerja. Mario pun sudah tak sabar mendengar kisah cinta segitiga ayah mertuanya itu. Memang kisah Raka sama seperti dirinya, tapi bedanya Mario sudah menyadari hatinya di saat yang tepat, walau tetap terlambat, tapi setidaknya Mario tak kehilangan cintanya untuk selama-lamanya.


"Kak, kamu sudah tidur." Jari tangan Inka masih berputar di dada Mario.


"Kak." Inka menengadahkan kepalanya untuk melihat wajah suaminya.


Ternyata Mario masih terjaga, matanya terbuka dan menatap wajah istrinya.


"Mana bisa aku tidur, kalau tangan kamu seperti ini." Mario menangkap pergelangan tangan Inka yang masih berputar di dadanya.


Inka hanya menampilkan jejeran giginya.


"Salah ngga sih? kalau aku masih berharap papa dan mama bersatu." Kata Inka, yang masih memainkan jarinya di dada Mario.


"Salah, karena saat ini mama Indah punya suami. Kalau mama Indah ngga punya suami, bolehlah kamu berharap. Lagipula aku lebih menyukai papa Karel. Dia baik dan lebih enak di ajak ngobrolnya. Kalau papa Raka kaku. Aku agak sulit mendekatinya."


"Iya sih, papa Karel baik dan menyenangkan." Inka pun setuju atas pernyataan suaminya.


"Sudahlah, biar waktu yang menjawab. Kalau mereka memang di takdirkan berjodoh lagi, akan ada jalannya nanti. Seperti kita." Mario mengelus lembut rambut Inka.


Inka memgangguk dan terdiam.


"Sayang.." Panggil Mario, membuat Inka menoleh dan menengadahkan kepalanya lagi.


"Mau lagi." suara lembut Mario, sambil terus mengelus pundak Inka yang terbuka.


Saat ini, tubuh keduanya masih polos, hanya di balut selimut tebal dengan warna dan corak yang sama seperti sprey tempat tidur yang mereka tempati.


Inka bangkit dan tengkurap di dada Mario. Memperlihat gunung kembar yang bulat menempel di dada suaminya.


"Kamu emang ngga pernah puas kalau hanya sekali." Inka tersenyum dan mencubit hidung Mario.


"Kamu.. siapa suruh pakai susuk, buat mikat aku."


Inka bangun dan memegang selimut untuk menutupi dadanya.


"Enak aja.." Inka mencibir.


Dengan cepat, Mario bangun dan memeluk tubuh Inka untuk kembali berbaring di dadanya.


"Pasti kamu pakai susuk di sini, di sini, di sini, dan di sini." Jari Mario menyentuh bibir, dada, meremas bokong sintalnya, dan terakhir di bagian intinya.


"Bukan pakai susuk, tapi emang kamu aja yang mesum." Ledek Inka sambil menutup wajah suaminya.


"Gimana ngga mesum, kalau servisannya selalu luar biasa." Mario menekan kalimat akhirnya dengan ekspresi yang tak bisa di artikan.


Inka tergelak. "Kak... Ih geli banget sih, ekpresinya. Bener-bener udah kaya om om mesum tau ngga."


Keduanya tertawa, dan tak lama kemudian, mereka melakukannya lagi. Mario memang tak terbantahkan, tapi dengan senang hati, Inka melayaninya, karena ia pun suka berada di bawah kungkungan suaminya itu. Hah.. ini mah namanya sebelas dua belas.


****


Tok.. Tok.. Tok..


Inka terbangun karena ketukan di pintu kamarnya, di sertai suara halus Ambar yang menyebut namanya.


Inka memindahkan tangan Mario yang masih melingkar di pinggangnya.


"Hmm..." Mario terusik dengan gerakan Inka dan merubah posisi tidurnya.


"Siapa sih? pagi-pagi udah ganggu tidur aja." Kata Mario dengan mata yang masih setengah terpejam.


"Mungkin Ambar atau Tari. Aku minta mereka ke sini kalau Maher dan Mahira rewel dan sulit di tenangkan."


"Aku ke kamar kembar dulu ya." Mario memgangguk.


Inka membuka pintu dan menongolkan kepalanya.


"Iya, Mbar."


"Maaf, bu menganggu. Maher masih nangis terus, sepertinya susunya kurang bu."


"Iya aku kesana, sebentar ya."


"Baik bu. permisi."


Ambar meninggalkan kamarnya.


Lalu, Inka beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan sisa yang tertinggal akibat penyatuan yang di lakukan Mario beberapa kali. Ia memakai dres tanpa lengan dengan kerah berbentuk 'V' dan panjang di atas lutut. bercak merah bekas gigitan Mario pun tercetak jelas di leher dan bagian lengannya, karena Mario menggigit pundak Inka saat pelepasannya semalam.


"Mama.." Inka menyapa Indah yang sudah berada di kamar anaknya.


Inka mendekati ibunya yang dengan telaten menenangkan Maher. Ia pun melihat Mahira yang tengah asyik dengan Mainan di atas tempat tidurnya. Kaki Mahira bergerak di iringi tangannya dengan mata bulat sempurna memandang mainan yang berputar di hadapannya.


Indah menoleh ke arah Inka dan menggelengkan kepalanya.


"Itu tanda merahnya di tutupi dulu." Kata Indah sambil tersenyum.


Inka langsung menyentuh lehernya.


"Oh iya lupa." Inka tertawa menampilkan jejeran giginya, menutupi wajah meronanya.


"Mario selalu seperti ini tiap malam?" Tanya Indah, yang langsung di angguki Inka.


"Mama senang melihatmu bahagia." Indah memeluk Inka dari samping dan langsung di balasnya.


"Inka juga ingin mama selalu bahagia."


"Mama bahagia kam bersama Daddy?" Tanya Inka dengan melepas pelukan itu, lalu menadang mata ibunya.


"Bahagia." jawab Indah, tapi tak menatap mata Inka.


"Bohong. Ma.." Inka menarik lengan ibunya, agar mereka bertatap mata.


"Lihat mata Inka, jawab dengan jujur, Mama bahagiakan dengan papa Karel?"


"Mama juga menjawab dengan jujur, In. Karel selalu membuat mama bahagia, dia baik, lembut, dan penyayang. Tidak ada alasan untuk tidak mencintainya."


"Tapi mama masih mencintai papa?" Tanya Inka lagi.


"Selalu." Jawab Indah, membuat Inka mengeryitkan dahinya.


Inka bingung dengan jawaban Indah.


"Cinta mama ke papamu akan tetap ada di sini." Indah melanjutkan perkataannya dan menunjuk dadanya.


"Tapi mama bahagia bersama Karel, karena cinta tak harus memiliki. kita akan tetap bisa bahagia dengan cara kita sendiri."


Inka semakin tak mengerti. Ia menggeleng.


"Aku ngga ngerti maksud mama."


Indah tersenyum dan menelus lengan Inka. "Sudahlah."


Di tengah percakapan Inka dan Indah di dalam kamar, ternyata ada Karel yang mendengar percakapan itu dari awal. Karel yang hendak menyusul istrinya ke kamar cucunya itu, tiba-tiba terhenti di depan pintu. Ia mendengar pertanyaan putri sambungnya. Sesungguhnya pertanyaan itu pula yang mau ia tanyakan pada Indah, tapi tak berani di ucapkan.