Istriku Canduku

Istriku Canduku
Mama....


Inka sampai di gedung tinggi, tempat Mario bekerja.


"Pagi bu." Sapa semua karyawan yang berpapasan padanya.


"Pagi." Inka hanya mengangguk, ini adalah kali kedua ia bertandang ke kantor Mario.


Sudah hampir 2 tahun menjadi istri Mario. Namun, Inka jarang sekali ke kantor Mario, karena lebih sering Mario yang mendatangi kantor Inka.


"Sherly." Sapa Inka pada sekertaris Mario, yang sedang duduk pada kursinya.


"Eh, bu Inka." Jawab Sherly.


"Bapak, ada di ruangannya?" Tanya Inka lembut.


"Tidak bu, bapak baru saja keluar, baru banget, sekitar lima belas menit yang lalu." Kata Sherly.


"Hmm.." Inka berpikir sejenak.


"Ya sudah kalau begitu, saya titip ini ke bapak ya, Sher." Inka menyerahkan tempat makan dan ponsel Mario.


"Baik bu. Nanti kalau bapak tiba, akan segera saya serahkan." Sherly menjawab dengan senyum.


"Terima kasih, Sher." Inka pergi meninggalkan gadis manis dengan kulit sawo matang itu.


"Sama-sama, bu." Sherly berkata sambil membungkukkan tubuhnha.


Inka berjalan keluar dan melihat jam pada tangan kanannya. Terlihat di sana sudah menunjukkan pukul 10.30. Inka.sudah janji dengan dr. Mediana akan sampai rumah sakit tepat pukul.11.00.


Ia segera mendapatkan taksi, dan meluncur ke sebuah rumah sakit. Kali ini Mediana sedang tidak bertugas di rumah sakit yang sudah di akuisisi Andreas sejak hampir 3 tahun silam. Namun, Inka ke rumah sakit lain yang juga cukup mewah dan ekslusif.


Inka sampai di rumah sakit tepat waktu. Ternyata dr. Mediana terlambat datang, membuat Inka harus menunggu beberapa menit. Inka mengelus perutnya sendiri. Sebentar lagi, mungkin akan ada yang hidup di sini nanti, mengingat Mario sering sekali menjamahnya, setelah alat kontrasepsi itu di lepas, kemungkinan beberapa bulan kemudian ia akan hamil, atau ini adalah masa periode terakhirnya.


Dari kejauhan, ia melihat pintu lift yang sedang terbuka. Terlihat sosok pria yang sangat ia kenal, berdiri di sana sambil menggendong bayi perempuan. Inka menghampiri lift itu. Ia memencet tombol ke atas. Arah matanya mengikuti angka yang tertera di atas pintu lift. Tepat di lantai 5, Lift itu berhenti lama, tanpa pergerakan angka.


Inka mulai menggigit kuku di ibu jarinya. Sekali lagi, ia tidak mau berspekulasi buruk.


Inka berjalan dengan tenang, setelah lift itu terbuka. Ruangan itu banyak menunjukkan foto-foto bayi sehat, banner perkembangan anak, dan gambar-gambar penyakit yang sering di alami anak.


Ketika Inka melangkahkan kakinya lebih jauh, terlihat sosok pria bertubuh tegap dan berparas tampan itu sedang meletakkan balita perempuan pada timbangan bayi.


"Ih cantiknya." ucap suster yang memeriksanya.


Di sana pria itu tengah di dampingi seorang wanita yang juga sangat Inka kenal.


"Wah, timbangan Bunga naik ya pak." Kata suster itu lagi.


"Wah.. anak papa sudah semakin besar sekarang." Mario menggangkat Bunga ke atas, Setelah di timbang. Kemudian mencium pipi bayi itu. Terlibat wajah Mario yang cerah ceria.


"Papa?" Sebutan Mario untuk dirinya sendiri itu, yang membuat hati Inka sakit.


Inka membalikkan tubuhnya menempel pada dinding, ketika mario berbalik dan berjalan menuju kursi tunggu.


"Papa?" Lagi-lagi Inka memgulangi sebutan Mario tadi terhadap bayi perempuan itu. Seketika Air mata Inka memgalir deras.


Apa selama ini Mario membohoginya? Mario sudah punya anak dari Sasha. Bahkan usia anak perempuan itu baru sekitar 10 bulan.


"Apa Mario menikahiku juga Sasha secara bersamaan?" Batin Inka, sambil terus menangis dan menutup mulutnya.


Ia berjalan dengan gontai, dunia serasa runtuh. Tidak ada lagi kepercayaannya terhadap lelaki. Tidak ada lagi cinta pada lawan jenis. Tidak ada lagi pria yang pantas menadapatkan cintanya. Tidak ada lagi, tidak ada lagi.


Inka berlari ke toilet. Ia mengambil banyak tisu yang tersedia di sana. Tangisnya begitu pilu. Sesekali suara sesegukan terdengar nyaring di sana. Kebetulan ruangan ini adalah ruang periksa VVIP, sehingga tidak banyak orang yang berkunjung ke toilet ini.


Inka menyandarkan tubuhnya pada kaca besar, ia memeluk lututnya sendiri. Dunia begitu kejam padanya. Ia tak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang yang namanya 'lelaki'. Cinta pertamanya kandas, karena sikap sang ayah yang begitu di puja tiba-tiba berubah 90 derajat. Kini cinta nya kandas untuk kedua kalinya.


"Mama... Di mana Mama? Aku rindu." Inka menangis lagi.