Istriku Canduku

Istriku Canduku
Dia.. Adik kelasku


"Sar, gimana? udah nemuin model yang cocok belum? Tanya Inka, yang sedang berada di ruang kerjanya.


"Semua foto-foto model sudah saya kasih ke miss Bianca." Jawab Sari dan kebetulan Bianca pun duduk di sebelah Sari saat ini.


"Iya miss, saya sudah seleksi, ada 10 foto yang menurut saya oke. Tapi ngga tau kalau menurut miss Inka." ucap Bianca sebagai salah satu perancang yang ikut membangun butik Inka dari nol.


Saat ini, Inka tengah mencari model untuk promosi beberapa gaun terbarunya, sekaligus mengikuti ajang pagelaran fashion show perdana yang akan ia gelar bersama designer-designer terkenal lainnya.


"Kita hanya butuh 2 model lagi miss. ini foto-fotonya menurut miss yang oke, yang mana?" Bianca meletakkan 10 foto model di meja Inka.


"Hmm.." Inka menopangkan dagunya sambil berpikir dan terus membolak-balik kertas foto yang berisikan wanita-wanita cantik.


Inka melihat beberapa foto dan ada satu foto yang menarik perhatiannya. Inka meraih foto itu. Ia ingat-ingat dengan seksama wajah yang tercetak dalam foto itu. Ia seperti pernah melihatnya, tapi dimana? Entahlah, ia lupa.


"Ini dan ini." Inka mengambil dua foto di tangannya.


"Bagaimana menurut kalian?" Tanya Inka dengan menunjukkan dua foto di tangannya.


"Oke." jawab Sari.


"Keduanya ini model baru miss, lumayanlah untuk menekan budged kita, dan lagi kalau model baru ga terlalu banyak maunya." Bianca bersuara, lalu di angguki cepat oleh Inka dan Sari.


"Kapan kira-kira kita kontrak dengan mereka?" Tanya Inka lagi.


"Secepatnya saya akan panggil mereka satu-satu miss." Jawab Sari.


"Oke, semoga sukses." Senyum Inka pada Bianca dan Sari di iringi kepalan tangan ke atas utuk menyemangati karyawannya itu.


****


Inka mengambil tangan Mario yang tengah melingkar di pinggangnya. Sejak awal menikah, hingga kini, ketika tidur, Mario selalu mendekap Inka seperti guling. Dengan perlahan, Inka meletakkan lengan suaminya. Inka menoleh ke arah Mario yang sudah terlelap. Seperti biasa, Mario akan mudah terlelap setelah melakukan ritual malam, sebelum itu terjadi, ia tidak akan bisa tidur dan terus mengganggu istirahat Inka.


Inka turun dari tempat tidur dan meraih pakaian yang berserakan di lantai. Kemudian, ia memakai pakaian itu, lalu berjalan menuju meja dan sofa yang masih berada di kamar itu. Inka terjaga karena masih bayak pekerjaan yang belum di selesaikan, mengingat akan ada acara besar untuk menaikkan kepamorannya nanti.


Jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Namun, Inka masih berkutat dengan pensil dan kertas-kertasnya. Ia masih asyik menggambar, beberapa jenis model pakaian. Tiba-tiba Mario memeluknya dari belakang, ia mencium pipi Inka dan menempelkan dagunya pada punggung Inka. Sesekali ia pun mengecup leher dan pundak Inka.


"Dari tadi kamu ngga tidur, sayang?" Inka langsung menoleh pada suara yang terdengar tepat di telinganya.


Inka mengecup bibir Mario dan berkata, "sudah selesai, sedikit lagi. Tanggung subuh juga."


"Setelah subuh, kamu harus tidur lagi! Aku izinin kamu kerja, tapi aku ngga izinin kalau ini semua membuatmu lelah dan sakit." ucap Mario tegas.


"Siap boss." Inka langsung menjawab dengan senyum di iringi empat jarinya yang berjejer dan menempel di ujung pelipisnya.


Sebelum Inka berdiri menuju kamar mandi. Mario langsing meraih kepala Inka dan mengecup keningnya.


"Bandel." Mario memukul bokong Inka, setelah Inka berdiri dari duduknya dan hendak melangkah.


Inka hanya membalas dengan cibiran di bibirnya.


****


"Sayang, nanti siang aku jemput ya! Kita makan siang bareng." Ucap Mario setelah mengantarkan Inka persis di lobby butik miliknya.


"Baik, Pak Bos." Jawaban Inka membuat Mario tersenyum dan melemparkan kiss dari mulutnya, setelah ia menjauh. Inka hanya tersenyum dan menggeleng melihat kelakuan alay suaminya itu.


"Sar, hari ini, Siapa model yang akan datang untuk tandatangan kontrak?" Tanya Inka pada Sari sebelum memasuki ruangannya.


"Yah benar, dia miss." Sari berkata lagi.


"Coba saya lihat lagi fotonya." Inka mengambil foto itu dari meja Sari. Ia penasaran dengan nama dan wajah yang tidak asing di telinganya itu.


"Sasha Amelia?" Gumam Inka sambil memandang wajah di foto itu.


Kemudian Inka mengingat sesuatu. Ya, ini wajah wanita yang di peluk Mario dalam lukisan itu. Walau wajah yang ada dalam lukisan sedikit berbeda dengan wajah yang tercetak dalam foto ini. Jika di dalam foto wajah wanita ini begitu anggun dan dewasa, sedangkan wajah dalam lukisan terkesan seperti masih beranjak remaja.


"Mungkinkah, ini orang yang sama? Ini mantan kekasih Kak Rio?" Inka bergumam sambil menggelengkan kepalanya. Ia pun kembali berjalan menuju ruang kerjanya.


Tok.. Tok.. Tok..


Sari mengetuk pintu ruangan Inka.


"Masuk!" seru Inka.


"Sorry miss, ini model yang akan kita kontrak." ucap Sari, memperkenalkan Sasha pada Inka.


Sasha terkejut, bahwa yang ada di hadapannya adalah Inka. Walaupun Sasha tak pernah bertemu atau melihat Inka secara langsung, tapi Mario sering menunjukkan sari ponselnya.


"Sasha." Sasha mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


Inka masih mematung dan berasumsi sendiri. Tak lama, ia pun menerima uluran tangan itu.


"Inka."


"Mari, silahkan duduk!" Inka tersenyum dan menunjukkan tangannya pada sofa.


Inka bertanya pada Sasha seputar data pribadi. Sasha menjelaskan ia lulusan apa, tinggal dimana, dan pernah bersekolah dimana saja, serta pengalamannya sebagai model. Fix, jawaban dimana letak SMAnya berasal, sudah meyakinkan, jika Sasha adalah benar Sasha yang ia maksud.


"Sar, Inka ada di ruangannya?" Tanya Mario yang baru saja tiba untuk menjemput istrinya sesuai janji akan makan siang bersama.


"Sayang, kamu.." Perkataan Mario tertahan, karena melihat Inka dan Sasha berhadapan, setelah ia membuka pintu ruangan Inka. Detak suara jantungnya begitu keras.


"Maaf, saya menganggu." ucap Mario yang hendak menutup kembali pintu itu.


Inka langsung berlari menghampiri suaminya.


"Tidak kak, tidak ganggu kok. Ayo duduk di dalam saja!" Inka menggiring Mario untuk duduk di sofa.


"Oh iya, sebelumnya kenalkan dulu kak, ini Sasha. Model yang akan ikut serta memeriahkan acara fashion show aku nanti."


Tatapan Mario dingin dan hanya mengangguk sekilas.


"Sasha, ini Mario suamiku."


Sasha pun terkejut saat Mario membuka pintu tadi. Namun, ia mampu menyembunyikan wajahnya. Sasha ikut mengangguk saat Inka memperkenalkan suaminya.


"Oh iya, kalian sudah saling kenal sebelumnya?" Tanya Inka pada Mario dan Sasha.


Sasha menggeleng, tetapi Mario mengangguk.


"Dia adik kelasku di SMA dulu." Kata Mario.


Saat ini, Sasha memang tengah memulai karirnya sebagai model. Selepas Mario menceraikannya, ia ingin bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri. Ia juga tak mau Mario memberikannya jatah bulanan lagi. Karir Sasha pun tak lepas dari campur tangan Mario yang membantunya. Sasha juga mendapat izin dari Mario untuk menjual rumahnya yang ia berikan di Yogya, lalu membeli apartemen di Jakarta. Karena saat ini job Sasha banyak datang dari Jakarta.