
Inka kembali mencoba bangkit dari pangkuan Mario.
“Nanti dulu.” Mario masih menahan Istrinya agr tetap dalam posisi itu.
“Apalagi? Iya aku ngerti. Aku juga minta maaf dan akan menjauhi yang namanya David. Lagi pula urusanku dengannya sudah selesai. Hmm..”
“Di sini dulu, ada lagi yang masih tertunda.” Mario melirik ke arah kejantanannya.
Inka memutar bola matanya malas. “Aaa..Ngga, aku udah rapih, udah bersih, udah wangi.”
“Justru karena kamu sudah wangi, bersih, dan rapih. Aku semakin tegang.” Mario semakin mengeratkan pelukannya, dan terus mencium wajah Inka yang tak mau di cium.
Inka menahan wajah Mario. “Nanti ketahuan Maher dan Mahira lagi.”
“Tidak akan, aku sudah suruh Ambar dan Tari mengurus si kembar, sampai kita keluar kamar.”
Inka tetap menahan Mario, saat ia hendak menggendongnya ke tempat tidur.
"Aku belum masak."
"Biar nanti Ambar atau Tari yang masak."
"Nanrti kesiangan." Kata Inka lagi beralasan.
"Dhani sudah ada hari ini."
"Aaaa.." Teriak Inka manja.
Mario hanya tersenyum mendengar sejuta alasan istrinya dan langsung membawa Inka ke dalam peraduan, sambil tetap mengangkat tubuh Inka yang ada dalam pengkuannya.
Inka di baringkan di ranjang besar itu, lalu Mario mulai menelusuri setiap jengkal tubuhnya.
“Kamu adalah milikku dan akan tetap selalu menjadi milikku sendiri.” Ucap Mario dengan wajah berkabut gairah.
Inka mengangguk, mengikuti sensani di setiap cumbuan yang Mario berikan.
Tangan Mario terus bermain di bagian inti istrinya, sambil menatap wajah sayu istrinya itu. Inka menangkap tatapan Mario yang tengah menyungging senyum tepat di depan wajahnya yang tak berjarak. Lalu Inka manaikkan alisnya, seolah bertanya akan arti dari tatapan suaminya itu.
“Aku suka melihat wajahmu yang sedang seperti ini.” Ucap Mario dengan suara serak.
Inka langsung menutup wajahnya malu. Kemudian Mario membuka kedua telapak tangan Inka, dan ******* lagi bibir itu.
****
“Tuh kan kamu jadi kesiangan.” Inka mondar mandir dapur dan meja makan, menyiapkan makanan yang akan di bawa Mario, juga melayani kedua anaknya yang meminta ini itu padanya.
“Sudah, Sayang. Kalau repot, aku tidak usah bawa makanan, nanti aku minta Sherly pesan saja di luar.” Ucap Mario yang sedang duduk menikmati sarapannya.
“Tapi katanya masakanku lebih enak dari Restoran manapun.” Jawab Inka yang langsung menghentikan aktifitasnya untuk menatap wajah suaminya.
“Iya itu betul.”
“Lalu?”
“Aku hanya tidak ingin kamu repot, tapi terserah, kalau di sediakan, ya mau saja.”
Inka melempar gulungan tissue, yang ada di tangannya ke arah Mario.
“Dasar.”
Mario hanya tersenyum sambil tetap mengunyah makanannya.
Dret.. dret.. dret.. Ponsel Inka berbunyi, saat berada di mobil bersama Mario.
Tertera di sana “Tante Vivian.”
“Halo, tante Vivi apa Kabar?”
“.....”
“Saya juga baik tante.”
“......”
“Untuk tante, selalu bisa.”
“.......”
“Kapan?”
“......”
“Inka usahakan ya tante, tapi kalau Inka tidak bisa, nanti Inka utus orang Inka ke sana.”
“......”
“Baik, tante.”
“......”
“Iya, tante.’
“.....”
Tut.. Tut.. Tut.. Percakapan via telepon itu tertutup.
“Itu tante Vivi, pelanggan butik kamu yang menyebalkan itu.” Kata Mario, sambil menoleh ke arah Inka dengan tetap menyetir.
“Iya. dia pelanggan pertama aku dulu Wallaupun bawel tapi dia banyak berjasa Kak. Dia juga yang telah mengenalkanku ke ajang pagelaran fashion show pertama kali.”
Mario mengangguk.
“Terus nanti malam kalian akan bertemu?” Tanya Mario lagi.
“Iya, sepertinya kamu tidak usah mnjemputku, nanti aku ke tempat tante Vivi bersama Sari.”
“Baiklah.”
****
Di sisi lain, wanita paruh baya yang bernama Vivian, biasa di panggil tentae Vivi ini tengah duduk bersama seorang pria, yang menjadi bahan topik pembicaraan Inka dan Mario di pagi tadi, siapa lagi kalau bukan David.
Vivian yang hobby dugem dan berjudi ini, tengah berada di sebuah club, Ia kalah berjudi dan David dengan sukarela meminjamkan uang padanya. David sengaja melakukan itu. Persis saat sorot matanya menangkap sosok paras vivian yang pernah ia lihat di media sosial Inka.
Kini, David memanfaatkan Vivian untuk menjebak Inka masuk dalam pelukannya.
“Hutangmu lunas, jika kau mau bekerjasama.” Kata David dingin, sambil duduk di sofa dengan menyilangkan kakinya.
Kini bisnis David bisa terbilang semakin menjulang, sehingga pundi-pundi uang pun sudah banyak ia dapati. Ia juga tak lagi menggunakan uangnya untuk bersenang-senang, ia juga ingin bahagia seperti teman-temannya yang lain, yang memiliki anak dan istri. Tentunya dari istri baik-baik.
“Apa yang kau unginkan?” Tanya Vivi sinis.
“Mudah. Ajak Inka ke hotel ini, di kamar ini, sendiri.”
“What? Kau menginginkan Inka istri Mario Jhonson? Pemilik butik langgananku?”
David mengagguk.
“Memang kenapa? Ada yang salah?” David kembali bertanya.
“Ya, kau tau, suaminya memiliki kekuasaan, kau akan mudah di jatuhkan jika berani macam-macam dengannya.”
“Itu urusanku. Saat ini kau hanya menjalankan urusanmu atau hutangmu akan berkali lipat.” Kata David dingin.
“Tidak, Jangan lakukan itu! Vivi mengangkat telapak tangannya.
“Oke, aku akan melakukan apa yang kau mau.” Ia berkata lagi, membuat David menyunggingkan senyum.
“Oke, aku tunggu nanti malam, tepat pukul 8 di kamar ini.” David bangun dari duduknya dan meninggalkan Vivian yang masih kebingungan di sana.
Tak lama kemudian, Vivi mengambil ponselnya dan menekan nomor Inka.
Sebenarnya ia tak ingin melakukan ini. Ia tau Inka itu gadis yang baik, walau ia bawel tapi dengan ramah dan penuh senyum Inka selalu menerima setiap kritik pedas tentang desainnya. Ia sadar setelah ini, mungkin ia tak akan lagi bisa berhubungan baik dengan Inka. Namun, apa boleh buat, hutangnya terhadap David sangat banyak, ia menyesal karena dengan bodohnya masuk perangkap perjudian itu lagi.
Tut.. Tut.. Tut..
“.....”
“Hai, In. Saya baik. Kamu juga apa kabar?”
“........”
“Saya ingin pesan gaun, bisa?”
“.......”
“Tapi saya tidak bisa ke butik mu, bisa kamu yang mendatangi tante.”
“......”
“Malam ini jam 8 di hotel XX kamar 201. Kebetulan tante ada urursan dan menginap di sini.”
“.......”
“Tapi tante maunya kamu sendiri yang datang. kamu tau kan tante kalau pesan gaun itu maunya yang perfect dan hanya kamu yang bisa seperti itu.”
“......”
“Terima kasih, In. Tante tunggu ya!”
“......”
“Bye.”
Vivi menutup teleponnya. Ia melempar ponselnya di tempat tidur kamar itu, lalu menjatuhkan dirinya di sana.
“Maafkan tante, In.” Batinnya.
****
"Bi, kamu pucat sekali." Kata Inka, saat mereka tengah makan siang bersama di pantry butik Inka.
"Hmm.. mungkin saya kelelahan, Miss." Jawab Bianca.
"Lagian kamu kalau masih capek, ngga usah masuk dulu. Baru kemarin kan tiba di Jakarta?"
Bianca mengangguk.
"Tidak enak, Miss. saya sudah libur 2 minggu, masa masih mau nambah libur lagi." ucap Bianca lirih.
"Ya tidak apa, Bi." Jawab Inka.
"Ya udah setelah ini, kamu langsung pulang saja dan istirahat." Inka berkata lagi.
"Memangnya tidak apa, Miss?" Tanya Bianca ragu.
Inka mengangguk. "Iya, tidak apa."
"Terima kasih, Miss." Bianca tersenyum sumringah.
Beberapa jam kemudian, pesan masuk dari ponsel Inka.
"In, jangan lupa nanti jam 8 malam ya."
Inka membaca pesan itu dari tante Vivi, membuat ia yakin bahwa tante Vivi sangat membutuhkan gaunnya segera. Ia tak ingin mengecewakan.
Tok.. Tok.. Tok..
Sari membuka pintu ruangan Inka.
"Miss, maaf sepertinya saya tidak bisa menemani Miss menemui tante Vivi."
"Yah, kenapa?"
"Saya ada urusan mendadak, Miss. beneran deh." Sari mengangkat kedua jarinya ke atas.
"Maaf ya, Miss." Ucap lirih Sari.
"Ya sudah, tidak apa kalau begitu. Nanti saya kesana sendiri, sekalian pulang."
"Maaf ya, Miss." Ucap Sari lagi, lalu meninggalkan ruangan Inka.
Sepertinya Inka akan pergi dengan menggunakan taksi saja, mengingat Mario pun mengirimkan pesan akan menjemputnya terlambat karena ada klien di jam yang sama dengan tempat yang berbeda.