
Adhis menjemput Vino di penjara. Wajahnya tertunduk tatkala melihat Adhis yang berdiri di seberangnya. Ia tahu bahwa Adhis yang telah berjuang untuk kebebasannya.
“Maafkan aku.” Ucap Vino ketika keduanya sudah saling berhadapan.
“Maafkan aku juga, Kak.” Keduanya langsung berpelukan. Airmata mengalir di pipi masing-masing.
“Aku akan tetap memperjuangkan keutuhan rumah tangga kita, karena ada Deandra yang sangat membutuhkan kasih sayang kita.” Kata Adhis.
Ia tahu betul bagaimana rasanya memiliki satu orangtua, karena ketika ia lahir, kehadiran Raka hanya bisa di hitung jari. Oleh karenanya, ketika Raka membawanya ke rumah itu, ia menjadi anak yang ingin memiliki segalanya, termasuk setiap kepunyaan Inka kala itu.
“Kita memulai semuanya lagi dari awal, kamu bersedia kan?” Tanya Vino, setelah pelukan mereka mengendur.
Adhis mengangguk. “Aku mau, Kak.”
Keduanya tersenyum dan berjalan beriringan keluar dari tempat itu.
****
“Jadi? Kita babymoon kemana? Inka bertanya pada Mario, setelah selesai merapihkan dasi suaminya itu.
Mario langsung menopang kedua tangannya pada bahu Inka. “Kamu maunya kemana?”
“Hmm… Lombok.”
Mario mengeryitkan dahinya, ternyata permintaan Inka hanya tempat yang dekat dan mudah di jangkau, Mario pikir Inka akan minat untuk keliling Eropa.
“Lombok? Hanya ke Lombok” Mario mempertegas dengan mendekatkan wajahnya pada wajah istri cantiknya itu.
Inka melebarkan senyumnya dan menaikan turunkan alisnya. “He em..”
Mario semakin tersenyum geli, melihat ekspresi istrinya. “Memang apa istimewanya tempat itu, aku kira kamu mau ke Maldives, Paris, atau Itali.”
“Ih, kamu tuh harus cinta tanah air. Lombok itu ngga kalah bagus dari yang tadi kamu sebutin.”
“Oke..Oke.. kalau cemberut, nanti aku terkam lagi nih!” Mario sudah siap akan menbuka dasi dan kemejanya.
Sontak Inka menahan tangan Mario. “Ini udah rapih, Kak. Nanti kamu kesiangan.”
Mario tergelak.
Kemudian keduanya berjalan beriringan menuju ruang makan. Sukma sudah menyediakan beberapa makanan dan minuman di sana.
“Tau ngga kenapa aku minta ke lombok?” Inka mengeluarkan suara di saat keduanya tengah menyantap sarapan.
Mario menggeleng, sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
“Karena di lombok, akan ada pameran lukisannya Boy.”
Mario menghentikan aktivitasnya, ia meletakkan sendok dan garpu yang tadi di pegang.
“Aku suka lukisan-lukisan Boy, Kak. Aku juga sudah janjian sama dia untuk melukis kita.” Imbuh Inka lagi.
Mario meletakkan gelas yang telah di teguknya. “Sejak kapan kalian berkomunikasi?”
“Sejak aku berpikir untuk mendekor tata ruang lantai 3 di butik.”
“Baiklah.”
****
Hari ini, Mario dan Inka berdiri di Bandara Soekarno Hatta. Mario mengikuti jalan Inka yang santai dan melakukan boarding pass. Inka tidak mengizinkan Mario menggunakan jet pribadinya, ia ingin perjalanan mereka layaknya orang biasa.
Setiap mereka berjalan, Mario selalu menjadi tatapan wanita-wanita yang di lewatinya, membuat Inka cemberut. Padahal, Mario pun tidak menyadari hal itu.
“Kamu kenapa sih? Dari tadi kok diem aja.” Mario melirik Inka yang duduk di sebelahnya. Mereka menunggu di ruang kedatangan.
Inka menggeleng. “Nggak apa-apa.”
Kebetulan saat ini, Inka dan Mario tepat duduk di seberang segerombalan gadis-gadis heboh. Tatapan mereka pun selalu tertuju pada Mario. Sesekali mereka melihat ke arah Mario, lalu tertawa.
“Mereka ngetawain apa sih?’ Tanya Inka kesal. Mario pun melihat arah mata istrinya.
“Mereka tuh ngeliatan kamu terus, makanya kalau dandan jangan ganteng-ganteng.”
Mario tergelak. “Oooo.. Jadi dari tadi kamu cemberut karena ini.”
“Aku emang udah ganteng dari lahir, Sayang.” Inka mencibir, mendengar pernyataan suaminya.
Tiba-tiba salah satu gerombolan gadi di hadapan Mario dan Inka bernyayi,
“Ini gimana e, kok om-om manise, buah jatuh cinta terngiang-ngiange. Aku jadi gimana gitu ya om. Aku masih kecil suka sama om-om.”
Lalu segerombol gadis remaja itu tertawa.
“Ih nyebelin banget sih, anak abege jaman sekarang.” Ujar Inka ketus dan memalingkan wajahnya.
Mario tergelak lagi. “Lagian siapa suruh, nolak tawaran aku untuk naik pesawat pribadi.”
Inka bangkit untuk memilih tempat duduk yang lain, yang jauh dari para gadis remaja itu.
“Iya, nanti pulangnya kita naik pesawat pribadi kamu aja.”
Mario tersenyum dan mengikuti langkah Inka. Kemudian merangkul leher Inka dan menempelkan kepalanya pada dada bidang Mario.
“Ngga ada wanita yang se legit kamu.” Ucap Mario tepat di telinga Inka.
Lagi-lagi Inka mencibir dan mengambil tangan Mario yang bertengger di atas pundaknya.
“Emang aku kue lapis.”
Mario kembali tertawa renyah. “Ih, kok kamu makin lucu, sih.” Ia mencubit pipi wanita buncit ini.
Mario mengeratkan pelukannya. Tangannya semakin menarik leher Inka, ketika mereka mulai berjalan menuju pesawat yang sudah tiba sesuai arahan yang terdengar dari pengeras suara. Lalu, Mario menggigit daun telinga Inka.
“Aww.. Kak, ih” Teriak Inka, membuat orang yang di sekelilingnya menoleh. Tak terkecuali segerombolan gadis itu, karena mereka ternyata sudah berada persis di belakang Mario dan Inka, hendak antri untuk masuk ke dalam pesawat.
Mario tertawa.
“Uuuhh… si om romantis banget sih.” Ucap salah satu gadis remaja itu, yang terdengar oleh Mario dan Inka.