Istriku Canduku

Istriku Canduku
kamu baik sekali


Sudah seminggu, Vino di dalam jeruji besi, dan sudah empat hari Inka hanya berdiam di apartemennya. Sukma terpaksa di boyong Mario untuk menemani Inka di apartemen, karena Mario ingin tetap berada di tempat tinggalnya.


Ting.. Tong..


Bel apartemen Mario berbunyi.


"Biar saya aja Non, yang buka." Ujar Sukma yang tengah berada di dapur, bersama Inka.


Lama Sukma tak kembali. Kemudian, baru lah ia muncul.


"Non, ada perempuan nyari Non Inka dan Den Mario."


"Siapa?"


"Katanya adiknya Non Inka."


Mendengar jawaban Sukma, Inka langsung melepas celemeknya dan menghampiri tamu yang di sebutkan Sukma tadi.


"Adhis.." Panggil Inka, dan berjalan menghampiri Adhis yang tengah duduk di sofa.


"Kak.." Adhis langsung bangkit dan memeluk Inka.


"Kak, tolong kak Vino, tolong bujuk kak Rio untuk mencabut laporannya." Adhis langsung menuturkan maksud kedatangannya, setelah pelukan mereka mengendur.


Inka menarik nafasnya kasar, karena ia juga belum bisa membujuk Mario untuk hal ini. Mario selalu menolak untuk mencabut laporannya. Padahal Inka sudah membujuk Mario dalam keadaan yang paling membuat Mario senang, tapi tak berhasil.


"Ada siapa, Sayang?" Tanya Mario, setelah keluar dari ruang kerjanya.


"Kamu, ngapain kamu ke sini?" Suara ketus Mario, setelah melihat Adhis.


Mario menghampiri kedua wanita itu dan duduk di sofa.


"Sayang, Adhis datang ke sini, untuk meminta.."


"Tidak, aku bilang tidak, tidak!" Mario memotong perkataan Inka, karena ia tahu betul maksud kedatangan Adhis.


Adhis langsung sujud di kaki Mario. "Aku mohon kak, aku mohon, tolong cabut laporan itu."


Inka langsung mmbungkuk dan memegang lengan Adhis untuk memintanya berdiri.


"Dhis.."


Adhis bersikukuh, ia terus bersujud di kaki Mario, membuat Inka iba.


"Sayang.." Inka memanggil Mario dengan suara memelas. Ia memberi isyarat agar Mario bisa lebih lunak.


"Sudah lah, jangan terlalu dramatis." Kata Mario dingin.


"Bangun, Dhis. Ayo duduk!" Inka menuntun adiknya untuk duduk di sofa.


"Jaminannya apa, kalau dia tidak akan mengganggu Inka lagi?" Tanya Mario.


"Saya jaminannya, Kak. Kak Rio dan Kak Inka bisa pegang kata-kataku. Vino sudah berubah, beri dia kesempatan, Kak. Tolong kasihani anakku, dia selalu menanyakan ayahnya." Jawab Adhis lesu.


"Dhis, aku salut padamu, walaupun kamu sering di sakiti, tapi kamu tak lelah berjuang untuknya." Ucap Inka, sambil mengelus pundak Adhis.


"Karena aku mencintainya, Kak. Biar bagaimana pun dia adalah suamiku, dan karena aku juga manusia yang pernah berbuat salah. Sekali lagi aku mohon, kak Rio."


Inka menatap mata Mario, begitupun sebaliknya. Sesaat Mario terdiam.


"Baiklah, aku cabut laporan itu."


Inka tertawa melihat ekspresi adiknya, ia tahu betul bahwa Adhis masih takut pada Mario, di tambah ekspresi Mario yang saat ini memang sangat menakutkan.


Inka menerima pelukan Adhis, dan mengelus pundaknya.


"Semoga setelah ini, kalian akan hidup rukun dan bahagia." Ucap Inka.


"Aamiin.." Jawab Adhis.


Inka mengendurkan pelukannya.


"Terima kasih, Kak Rio." Adhis membungkukkan sebagian tubuhnya ke arah Mario.


"Terima kasih, Kak Inka." Adhis memeluk erat Inka kembali.


"Maaf, maaf atas sikapku yang dulu. Hidup mengajarkanku banyak hal. Terima kasih, kak." Ucap Adhis lagi.


Inka tersenyum. "Sama-sama, maafkan kak Inka juga ya."


Walau Mario masih kesal dengan apa yang di lakukan Vino sebelumnya. Namun, ia tetap tersenyum melihat kakak beradik ini saling berpelukan.


"Kalau begitu, aku permisi ya, Kak." Adhis pamit pada Inka dan Mario.


Sebelum pergi, ia sempatkan mengelus perut Inka yang sudah sangat terlihat membuncit.


"Aunty pulang dulu ya, sayang." Kata Adhis sambil mengelus perut Inka.


"Iya, aunty. Hati-hati." Inka menjawab seperti suara anak kecil.


Adhis pergi meninggalkan apartemen itu, setelah Inka mengantarnya hingga depan pintu.


Kemudian, Inka menghampiri Mario yang masih duduk di sofa.


"Sini.." Mario menyuruh Inka untuk duduk di pangkuannya.


Inka menurut, ia naik ke pangkuan Mario dan mengalungkan tangan pada lehernya. Inka menangkup wajah Mario.


"Terima kasih ya, Sayang." Kata Inka.


"Kalau bukan karena wajahmu yang memelas tadi, aku mungkin belum tentu akan memenuhi permintaan adikmu."


Inka tersenyum. "Apa pun itu, terima kasih." ucap Inka dengan suara manja dan senyum yang manis.


"Kamu baik sekali, padahal Adhis sering berlaku buruk padamu." Kata Mario sambil menempelkan keningnya dengan kening Inka.


"Aku bahagia, Kak. Sehingga rasanya, apa yang aku alami dulu menjadi tak terasa sekarang. Sepertinya aku sudah bisa menjadi Inka yang pemaaf." Ia tersenyum sendiri dengan ungkapan di akhir kalimatnya.


Cup.


Mario ******* bibir itu lagi. Bibir yang mulai banyak bicara dan pandai menjawab, juga lihai berciuman.


"Kak. Aku mau liburan, katanya kamu mau ngajak aku babymoon." Ucap Inka dengan melepas sepihak pangutan itu, padahal Mario masih sangat menginginkannya.


"Sudah aku siapkan, tapi sebelumnya.." Jawab Mario menggantung sambil menaik turunkan alisnya dan membawa Inka menuju kamar dalam posisi koala, kaki Inka masih setia berada di pinggang Mario.


"Mesuuumm." Teriak Inka, sambil tertawa dan menutup wajah Mario dengan kedua tangannya.


Sukma yang juga berada tak jauh dari mereka, hanya menggeleng dan tersenyum, melihat kemesraan kedua majikan kesayangannya itu.


"Gue jadi pengen buru-buru nikah juga kalau kaya gini." Batin Sukma, sambil senyam senyum sendiri.