
Satu minggu sudah Inka mendapatkan perawatan di rumah sakit. Kesehatannya pasca operasi sudah semakin pulih, walau tetap dengan kontrol sesuai yang di jadwalkan. Inka pun sudah terlihat lebih tenang, karena putra putrinya tak lagi rewel karena kekurangan asupan makanan.
Laras dan Andreas baru tiba di rumah sakit itu, ia melihat Mario yang sedang membereskan beberapa hal untuk kepulangan istri dan anaknya.
“Oh iya Yo, kamu belum memberi nama anak-anakmu?” Tanya Laras, sambil melirik kedua anak Mario dan Inka yang tengah tertidur pulas, setelah meminum banyak ASI.
Mata Mario melirik ke arah Inka untuk menjawab.
“Bagaimana kalau Maher dan Mahira.” Ucap Inka.
“Bagus.” Kata Laras, di angguki juga Andreas.
“Maher Adam Jhonson dan Mahira Audrey Jhonson.” Sambung Mario.
“Nama yang penuh arti.” Jawab Andreas.
“Mama suka.” Lalu Laras menyebut nama itu satu persatu pada cucunya yang sedang tertidur pulas dengan mengelus pipi keduanya.
Mario dan Inka sudah meperdebatkan nama itu satu bulan sebelum kelahiran. Inka yang memberi nama depan dan Mario yang memberi nama tengah, dengan tidak lupa di seliipkan nama keluarga Mario di belakangnya.
Mario mendorong istrinya yang duduk di kursi roda. Inka masih terlalu lemah untuk berjalan cepat. Sementara Andreas menggendong Mahira dan Laras menggendong Maher. Mereka berempat memasuki mobil yang sudah ada tepat di pintu lobby. Ujang membantu membuka pintu mobil untuk majikan besarnya. Mobil melaju ke daerah asing yang belum pernah Inka lihat.
“Ini kemana, Kak? Kok arahnya bukan ke apartemen kita atau kerumah papa.” Tanya Inka bingung.
“Aku sudah membeli rumah untuk keluarga kecil kita, kebetulan di sana juga sudah ada tamu spesial.”
“Oh ya..?” Wajah berbinar.
Mobil berhenti tepat di halaman depan rumah yang Mario hadiahkan atas nama sang istri.
Inka keluar dari mobil di bantu Mario. Ia berdiri menatap rumah itu. Rumah minimalis dengan cat berwarna putih abu-abu dan tak mengurangi kesan kemewahannya.
“Bagus.” Kata Inka dengan terus menatap bangunan itu.
“Ini untukmu, untuk ibu yag telah melahirkan anak-anakku.” Ucap Mario tepat di telinga Inka.
Inka memeluk suaminya. “Terima kasih, Sayang. Terima kasih atas cintamu untukku.”
Airmata itu tumpah di pundak Mario.
“Hey, kok nangis.” Mario meraih dagu Inka.
“Aku terharu.” Jawabnya.
“Sudah, Ayo kita masuk!” Andreas mengelus pundak menantunya dan melangkah menaiki tangga teras rumah itu.
Tiba-tiba pintu terbuka dari dalam.
“Sayaaang..” Indah menghamburkan pelukan kepada putrinya.
“Mama..” Inka terkejut melihat kehadiran ibunya.
“Anak mama sudah jadi ibu sekarang.” Ujar Indah setelah keduanya berpelukan lama. Karel juga berdiri di tengah-tengah mereka.
Semua memasuki rumah baru itu
Inka melihat Sukma, yang telah selesai membawa barang bawaan dari rumah sakit tadi ke dalam kamarnya.
Inka memeluk Sukma.
“Selamat, ya Non.” Ucap Sukma di telinga Inka.
“Terima kasih, Suk.” Jawab Inka.
“Udah jangan lama-lama meluk istri gue!” Mario melerai pelukan dua wanita di depannya.
“Ish, Den Mario mah gitu amat.” Sukma memonyongkan bibirnya.
Inka tertawa dan menghampiri orang tua mereka yang sudah berada di ruang keluarga.
“Mama papa, sudah kenal mama Indah dan Daddy Karel?” Tanya Inka pada Laras dan Andreas.
“Sudah sayang, kebetulan, papa dan mama yang menjemput orang tuamu di bandara, di temani Ujang.” Jawab Laras, di iringi senyum semua yang ada di sana.
“Oooh.. Kamu kok ngga cerita sih, kak.” Mata Inka melirik ke arah Mario untuk meminta penjelasan.
“Surprise, Sayang.” Jawab Mario tersenyum.
Sau jam, kedua keluarga itu berbincang hangat. Inka pun pamit kepada kedua pasang orang tua di sana, untuk menemui anak-anaknya yang sedang menangis di dalam kamar mereka.
Beberapa menit kemudian, Mario pun menyusul Istrinya ke kamar si kembar. Terlihat Inka yang tengah duduk di satu sofa menghadap ke jendela, sambil menyusui kedua anaknya bersamaan. Mario ikut duduk di pinggir sofa. Ia mengelus pundak Inka yang terbuka sambil mengecupnya beberapa kali.
“Hmm.. enaknya anak-anak papa.” Kemudian, tangan Mario beralih untuk mengelus pipi Maher dan Mahira yang sedang tenang dalam dekapan sang ibu.
“Papa ngiri tuh.” Inka meledek.
“Berapa lama, kamu memberi Maher dan Mahira ASI?” tanya Mario yang beralih mengelus rambut Inka.
“Hmm.. harusnya dua tahun.” Jawab Inka.
“Apa? Lama sekali. Bukannya hanya 6 bulan?” Mario merajuk.
“Itu paling sedikit, minimal 6 bulan dan paling banyak 2 tahun.’
“Kalau begitu 8 bulan.”
“Dua tahun, Kak.”
“Kamu tuh, sama anaknya aja ngga mau ngalah.” Inka menggelengkan kepalanya.
Tak lama kemudian, Laras dan Andreas membuka pintu kamar kembar untuk pamit pulang pada yang punya rumah.
Mario berdiri dan menggendong Mahira dari pangkuan Inka, sementara Inka meraphkan pakaiannya. Kebetulan Maher dan Mahira sudah lama menyusu hingga terlelap.
“Papa sama Mama pamit ya, In.” Kata Andreas sambil mendekati cucunya dan menciumnya.
“Iya, nanti kami ke sini lagi.” Sambung Laras, yang juga melakukan hal sama seperti Andreas.
“Terima kasih banyak ya, Ma, Pa.’ Inka mencium pipi Laras dan Andreas.bergantian.
“Terima kasih, Ma.” Mario memeluk Laras dan Laras mencium pipi putranya.
“Sekali lagi, selamat my son.” Kata Andreas pada Mario dengan pelukan khas pria dewasa.
“Terima kasih, Pa. Terima kasih atas semuanya.” Mario memeluk erat lagi ayahnya.
****
Keesokan paginya, Indah dan karel tengah menjemur si kembar di halaman belakang rumah itu. Halaman yang di penuhi banyak bunga seperti keinginan Inka, membuat udara di pagi itu terasa segar. Sinar matahari yang cerah juga menambah kehangatan.
Di kamar, Inka tengah menyiapkan keperluan Mario yang akan berangkat kerja. Sudah satu minggu ia meninggalkan pekerjaannya.
Inka meraih ponselnya yang berdering.
“Halo, pa. Iya Inka sudah share lokasi ke whasapp papa ya.”
“.....”
“Papa ke sini sama siapa?”
“.....”
“Baiklah, hati-hati, Pa.”
“......”
Panggilan telepon berakhir.
“Papa mau ke sini?” Tanya Mario setelah keluar dari kamar mandi dan melihat Inka yang sedang menerima telepon dari ayahnya.
“Iya.”
“Papa tahu, di sini ada mama Indah dan suaminya?” Tanya Mario lagi, sambil memakai pakaiannya di hadapan Inka. Sudah biasa Mario melakukan itu di depan istrinya.
Inka menggeleng. “Aku sengaja tidak memberi tahu.”
“Kamu liatin apa?’ Mario melihat arah mata Inka yang menatap tubuhnya.
“Kangen.” Mario tersenyum meledek.
Inka mencibir. “Kamu yang kangen, tapi harus tahan ya, puasa 40 hari.” Inka menoel dagu Mario sebelum meninggalkannya.
Namun, gerakan Mario lebih cepat. Ia menarik lengan Inka dan meraih pinggang yang hampir ramping lagi.
Cup
Mario ******* bibir kesukaannya. Menyesap berkali-kali dengan brutal, hingga Inka kuwalahan dan mendorong dada suaminya.
“Kak.. Ih kamu..” Kesal Inka, tangannya memukul pelan dada bidang Mario. Marah tapi suka juga di perlakukan seperti itu oleh suaminya.
‘Kalau cium ngga puasa kan?’
Cup
Dengan cepat Mario mengulangi pangutan itu, dan melepasnya setelah puas memainkan bibir itu.
“Ini pasti bengkak. Malu sama mama dan Daddy.” Rengek Inka sambil mengusap bibirnya. Lalu menghentakkan kakinya meninggalkan Mario.
Mario tertawa. Ia berhasil menjahili istrinya yang selalu tampil cantik.
****
Di jalan dari Pasar Minggu menuju Pondok Indah, Raka mengendarai mobilnya sendiri. Ia memang berniat mengunjungi putrinya di rumah barunya. Walaupun Raka dan keluarganya sudah menemui Inka di rumah sakit pasca dua hari melahirkan. Tapi hari ini ia sudah rindu ingin melihat lagi kedua cucunya. Raka mendial nomor Inka dan meneleponnya.
Tut.. Tut... Tut...
Panggilan telepon itu di angkat.
“.......”
“Iya, Sayang. Papa berangkat ke sana ya!”
“......”
“Sendiri, Sayang. Kebetulan papa lagi ingin mengunjungi outlet di jalan Radio Dalam”
“......”
“Iya, Sayang.”
Panggilan telepon terputus.
Raka akan bertemu Indah setelah 15 tahun berpisah. Bagaimana kira-kira reaksi dan ekspresi keduanya?