Istriku Canduku

Istriku Canduku
bersamamu sudah seperti menaiki roller coaster


Keesokan sorenya, Mario sengaja ingin mengajak Inka jalan-jalan berdua.


“Ssst..’ Panggil Mario pada Inka yang tengah membungkuk, menaruh Mahira di tempat tidur, setelah lama tertidur di pangkuanny.


Mario pun baru saja membaringkan Maher lebih dulu di tempat tidur yang berjejer dua.


“Apa?’ Tanya Inka pelan, sambil menaikkan kepala dan alisnya


“Jalan-jalan, yuk!”


“Kemana?”


“Kemana aja.” Mario langsung menarik tangan Inka.


“Tunggu!” Inka menutup pintu kamar Maher dan Mahira dengan pelan.


“Tar, titip kembar ya.” Ucap Inka, setelah mendapati Tari yang sedang menaiki tangga.


Tari mengangguk.


Mario dengan tergesa-gesa mengajak Inka turun dari tangga.


“Mommy, tolong titip cucu Mommy ya. Mario lagi mau berduaan sama anak mommy dulu.” Kata Mario saat berpapasan dengan ibu mertuanya.


Indah hanya tersenyum melihat sikap manis Mario. Setelah memakaikan istrinya blezer, kemudian Mario mengecup pipi ibu mertuanya itu.


“Gih, sana! Hati-hati ya.” Teriak Indah dengan senyum yang mengembang.


Inka berlari mengikuti langkah kaki Mario yang lebar.


“Kak, kita mau kemana sih?”


Mario menunggu Inka yang masih tertinggal dan mengulurkan tangannya. “Jalan-jalan aja, aku mau pacaran terus sama kamu.”


Inka meraih tangan Mario, kemudian mereka jalan berdua dengan bergandengan tangan.


Inka melompat, seperti sedang bermain dampu, saat menemukan jalan dengan bagian yang berkotak-kotak.


Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam blezer selutut yang ia kenakan, tanpa melihat ke arah Mario yang sedang memperhatikannya, ia tetap melompat dengan satu kaki, lalu di bentangkan. kemudian melompat lagi. Mario yang iseng, mengeluarkan ponselnya, lalu mengabadikan moment istrinya yang seperti anak kecil itu ke sebuah foto dan video.


Inka yang sedang asyik melompat sambil menunduk, kemudian menengadahkan kepalanya, dan mendapati Mario yang sedang membidiknya.


“Aaa.. Jangan di videoin!’ Inka berlari mengejar Mario, tapi Mario dengan cepat menghindar,


“Aaaa.. Sini, kembalikan.” Inka memeluk Mario dan berusaha meraih tangan Mario yang bersembunyi di belakangnya.


“Dih, memang ini ponsel siapa?”


“Sini aku hapus dulu.” Rengek Inka.


“Ngga usah di hapus, ini bagus. Natural.”


“Ya udah liat dulu.” Rengek Inka, sambil menghentakkan kedua kakinya.


Mario mengalah dan memberikan ponselnya pada Inka. Mereka mencari tempat duduk di sekitar area itu, lalu Inka mulai memperhatikan isi ponsel suaminya. Ia memang jarang sekali memegang ponsel itu, karena ia percaya sepenuhnya dengan suaminya itu.


Inka membuka galeri ponsel Mario yang sebagian besar isinya adalah foto Inka, separuhnya foto-foto Maher dan Mahira, sedangkan foto dirinya sendiri hampir tidak ada. Inka tersenyum ke arah Mario dan Mario sesekali melihat apa yang sedang Inka buka.


“Di sini ngga ada yang privasi kan?” Tanya Inka meledek.


Mario menenggak air mineral, hingga kedua pipinya menggelembung, lalu menggeleng.


Inka kembali senyam senyum, saat memutar video aksinya tadi.


“Jangan di hapus!”


Inka menoleh ke wajah Mario sambil tersenyum. “Iya, ngga.”


“Aaa....” Teriak Inka saat mendapati videonya yang lain.


Mario langsung mendekati istrinya dan melihat video apa itu.


“Ini hapus! Aaa.. apa-apaan sih, Kak.” Wajah Inka memerah setelah mendapati videonya yang tengah mendesah, di iringi wajah sayu, sambil berkata “Terus, Kak. Faster. Hmmm..”


Mario tergelak, dan langsung menyambar ponselnya.


“Ngga akan aku hapus.” Kata Mario sambil tersenyum.


“Iiihh.. itu hapus. Jelek banget. Ngga banget.” Rengek Inka lagi.


Mario terus menyungging senyum. Ia pun memasukkan kembali ponsel miliknya ke dalam saku.


“Ayo, kita jalan lagi!” Mario meraih telapak tangan Inka, dan mengajaknya kembali berjalan.


“Kak, yang tadi di hapus.” Inka masih merengek, ketika mereka hendak berjalan beriringan.


Mario menggeleng dengan tetap tersenyum. “Aku suka video itu, Sayang.”


“Iiih..”


Mario memeluk istrinya dari samping, dan mencium bibirnya. Orang di sekitar area jalan itu, hanya tersenyum melihat mereka yang tengah berciuman bibir.


Cup.


“Sekali lagi merengek, aku cium.”


Inka memukul pelan dada Mario. “Menyebalkan.”


Lalu, ia berjalan sendiri mendahului Mario.


Tiba-tiba langkah kaki Inka terhenti saat tak lagi mendengar langkah kaki di belakangnya. Ia menoleh ke belakang, ternyata tak ada Mario di sana.


Tiba-tiba, pundaknya di tepuk seseorang.


Mario menutup wajahnya dengan sepuket bunga.


Wajah Inka berbinar, di iringi senyum mengembang di bibirnya.


“Ini untuk wanitaku yang cantik, ibu dari anak-anakku, dan teman ranjangku.”


Mata Inka membulat mendengar penuturan kata terakhir di kalimat Mario tadi.


“Eh, salah. Maksudnya teman hidupku.” Wajah Inka kembali cemberut.


“Kalau cemberut..”


“Nanti di cium.” Inka langsung memotong kalimat Mario yang belum selesai. Kemudian mengganti ekspresinya menjadi tersenyum lagi.


“Pintar.” Mario mengusap kepala Inka dan merangkulnya.


Mereka berjalan menyusuri kota Amsterdam yang padat di kala sore. Inka mengikuti langkah pelan Mario, sambil sesekali menghirup aroma wangi bunga mawar putih yang Mario berikan tadi.


“Aku mau naik sepeda.” Inka menunjuk ke area sepeda yang berjejer rapih terparkir di sana.


“Ayo!” Tangan Inka langsung di dekap dan Mario mengajaknya menyebrangi jalan, mendekati area penyewaan sepeda di sana.


“Memang kamu bisa?” Tanya Inka, setelah melihat Mario yang sudah bertengger di sepeda itu.


“Bisalah, Cuma naik sepeda. Bikin kamu hamil aja, aku bisa.”


“Aww...” Mario meringis, setelah langsung mendapat cubitan dari Inka.


“Lagian omongannya ke situ terus, ih.”


Mario nyengir, lalu meminta Inka duduk di antara tempat duduknya dan setir sepeda.


Inka menurut, dan duduk di sana.


“Siap ya.” Mario mulai menggowes pelan sepeda itu.


Angin menyibak rambut Inka hingga ke wajah Mario, aroma tubuhnya pun semakin menyeruak mengenai hidungnya.


“Kak, gowesnya jangan kencang-kencang.”


“Aaa...”


“Aaa....”


Keduanya berteriak sambil terus tertawa, tatkala mereka melewati arus jalan yang sedang turunan tajam.


Mario mengerem, lalu satu tangannya memeluk bagian depan tubuh Inka, agar tak terbentur oleh setang sepeda di depannya yang keras karena terbuat dari besi.


Ngiiik..


Mario berhenti persis di pinggir area jalan. Mereka tertawa dengan nafas yang masih terengah-engah.


“Ih, jantungku mau copot, Kak. Tadi itu seperti naik roller coaster.” Ucap Inka dengan nafas yang masih naik turun.


“Bersama mu sudah seperti naik roller coaster, Sayang. Jadi ini tidak seberapa.” Jawab Mario santai, sambil tetap tersenyum.


“Hmm...” Inka meraih kepala Mario untuk di peluk.


Kemudian mereka menaiki taksi, Mario mengajak Inka ke taman bunga Keukenhof. Karena ia tahu bahwa istrinya sangat menyukai bunga, persis seperti ibunya.


“Wah..” Mata Inka berbinar, ketika melihat bunga berjejeran di sana.


“Indah sekali, Kak.” Mata Inka tak berkedip, walau ini bukan kali pertama ia menginjakkan kaki ke tempat ini. Namun memang tempat ini layak untuk di kagumi.


Taman Bunga Keukenhof merupakan salah satu taman bunga terindah di dunia. Taman ini memiliki koleksi bunga tulip yang sangat banyak. Selain tulip, taman ini juga mengoleksi bunga sub tropis lainnya, seperti Anggrek, Mawar, Lavender, Sakura, dan lain-lain.


Sore hingga menjelang malam, Mario dan Inka menghabiskan waktu bersama. Dan tak terasa hari semakin larut, setelah mereka menikmati makan malam di area itu.


Selain memiliki koleksi bunga yang sangat indah, taman ini juga memiliki fasilitas wisata yang lengkap. Dari mulai paviliun, restoran, sampai dengan penjual cendera mata. Semuanya bisa di temukan dengan cukup mudah di taman bunga ini.


Mario pun memesan Paviliun kecil, untuk mereka bermalam.


Inka menelepon Indah untuk menitipkan kedua anaknya pada sang ibu, dan Indah dengan senang hati mengiyakan permohonan sang puteri.


“Baiklah, tenang saja. Mama akan menjaga cucu mama dengan baik. Kalian jangan khawatir!” Ucap Indah, ketika mereka tersambung dalam percakapan selular.


Tak lama kemudian, Inka menutup teleponnya.


“Mommy tidak keberatan?” Tanya Mario, saat merangkul pundak istrinya menuju paviliun yang ia pesan.


Inka menggeleng. “Mama tidak masalah, dia malah tertawa.”


“Mommy mu memang the best.” Mario menampilkan ibu jarinya.


Inka tersenyum.


Setelah memasuki paviliun, Mario langsung membaringkan tubuhnya di ranjang mungil itu. Ia meluruskan badan dan kakinya. Sedangkan Inka langsung memasuki kamar mandi, ia menyalakan air hangat, sambil melepaskan pakaiannya satu persatu.


Mario mendekati bunyi gemericik air di sana, ia melihat tubuh istrinya yang sudah polos dan hendak menaiki bathup. Mario mendekap tubuh itu dari belakang.


“Istriku, canduku.”


Inka menoleh ke wajah Mario dan tersenyum.


Kini keduanya tengah menikmati malam di tengah indahnya Taman bunga Keukenhof. Mereka bertukar peluh, walau suhu di luar paviliun itu begitu dingin. Terlihat dari luar kaca jendela kamar mandi yang buram, semakin buram karena uap air di dalam sana di sertai uap nafas keduanya yang menempel pada kaca itu dengan menggelora.