
Terkadang Inka masih memikirkan sikap kasar Vino pada Adhis, seperti yang ia lihat sebelumnya. Pasalnya, selama Inka berpacaran dengan Vino, tak pernah sekalipun pria itu memperlakukan Inka sekasar itu.
"Sayang, nonton apa?" Inka di kejutkan dengan suara Marip yang tiba-tiba duduk di sebelahnya.
Saat ini Inka dan Mario tengah berada di ruang TV apartemennya. Setiap weekend, mereka memang selalu berada di sini, sesuai permintaan Mario. Kemungkinan mulai saat ini, mereka akan lebih lama tinggal di apartemen lagi. Mario menyukai suasana yang hening dan tidak ramai. Ia juga lebih menyukai tinggal berdua saja dengan istrinya tanpa gangguan apapun.
"Nerusin drama korea yang kemarin aku tonton." Jawab Inka.
"Aktornya ganteng banget, Kak." Kata Inka lagi dengan wajah berseri.
"Mana sih yang ganteng?" Mata Mario membulat di depan smart TV 42inc itu.
"Nih, ini nih peran utamanya, namanya Lee Min Ho." Inka menunjuk pada gambar di layar itu, menunjukkan pria berhidung mancung dengan bibir merah dan alis seperti bulan sabit.
"Ih ganteng banget." Wajah Inka berseri dengan menangkup pipinya sendiri.
"Halah segitu aja di bilang ganteng. yang ganteng itu yang berewokan kaya aku, itu baru lelaki. Lelaki kok mulus banget." Ujar Mario tak terima melihat istrinya memuji pria lain.
"Ih, dia ganteng, Kak. Ganteng banget. pokoknya pake banget."
"Aku lebih ganteng."
"Dia, kak. lagian kalo kamu ganteng, kenapa ga jadi artis aja. Hayo!"
"Karena aku ngga mau, ngga jadi artis aja, cewek banyak yang ngejar-ngejar aku, apalagi jadi artis coba."
"Ish.. Narsis." Inka membuang muka dan mengerucutkan bibirnya.
Blep.. Tiba-tiba televisi itu di matikan.
"Iiiih.. kok TV nya di matiin." Inka memukul lengan Mario.
"Udah ngga usah nonton, mending kita bikin film sendiri."
"Ogah!" Inka langsung beranjak dari duduknya, sebelum Mario mulai menggerayanginya.
"Eh, mau kemana? Kok kabur." Mario mencoba menangkap lengan Inka, tapi tak berhasil. Inka sudah menghindar cepat, membuat Mario pun ikut beranjak dan mengejar istrinya.
inka masih berlari kecil menuju dapur. Dengan langkah yang lebih cepat, Mario langsung menangkap tubuh Inka.
Hap. Mario menangkap lengan Inka dan memeluknya. "Ngga boleh lari, Sayang. Aku liatnya ngeri."
Inka tersenyum. Mario begitu protek terhadapnya.
"Iya, ngga lari kok." Inka menampilkan senyum manisnya.
Kemudian Mario duduk di meja bar mini, sedangka Inka masih berdiri di sampingnya.
"Kak, aku mau pasta donk!" Rengek Inka.
"Aku mau spagethi buatanmu, seperti dulu waktu pertama kali aku datang ke apartemen ini. Kamu kan buatin aku tu, enaaak banget." Inka menjelaskan seperti anak kecil, sedangkan Mario tak berkedip menatap istrinya bicara dengan menopang dagunya.
"Kamu ngidam?" Tanya Mario dengan posisi yang masih sama.
"Mungkin." Jawab Inka berseri.
"Baiklah, aku akan buatkan." Mario beranjak dari duduknya dengan semangat.
Kemudian ia mengelus perut Inka, sebelum berlalu. "Papa akan buatkan spagethi terlezat buat kalian."
Inka mengikuti langkah Mario.
Lalu, Mario dengan semangat masuk ke dalam dapur, memutari meja mini bar itu. Ia dengan cekatan memakai celemek dan menyiapkan perlengkapan masaknya. Ia membuka beberapa pintu atas kitchen set dan lemari es.
"Oke, semua perlengkapan masaknya sudah siap."
Ceklek. Inka memfoto aksi langka suaminya.
"Yah, aku belum siap, sayang. Coba ulang fotonya." Ucap Mario setelah menyadari bahwa Inka tengah mengcandidnya.
Inka tergelak dan berkata, "Narsis beud."
Ceklek..
Kali ini pose Mario sudah seperti koki handal dengan kedua jari samping kepalanya dan senyum sumringah.
"Sayang, jangan tiru kenarsisan papamu ya." Kata Inka sambil mengelus perutnya.
Mario tertawa di iringi senyum lebar Inka.
Tiga puluh menit, Mario bergulat dengan perlengkapan dapur dan lainnya. Inka hanya menjadi penonton, yang duduk persis di seberangnya. Tak henti-hentinya Inka juga mengulas senyum, tatkala melihat Mario yang dengan lihai memasak. Akhirnya, spagethi siap di hidangkan.
"Hmm... Harum." Inka menggosokkan kedua tangannya. Ia sudah tak sabar ingin segera melahap makanan yang Mario buatkan. Namun, Mario.masih merangkai sajian itu di piring yang akan di suguhkan untuk istri tercinta.
"Tara.. Spesial untuk satu-satunya wanita yang aku cintai." Mario memutari meja mini bar.
"Waaah.." Wajah Inka sangat berseri, ketika menerima piring dari Mario.
Spagethi di tengah piring di lengkapi saos bolognese dan daging cincang di atasnya, lalu ada saos cabai di sampingnya yang di bentuk hati.
Inka mulai memasukkan makanan itu ke mulutnya.
"Hmm.. Enak, Kak. ini hmm menak buanged." Kata Inka dengan mulut yang penuh mekanan, sambil menampilkan ibu jarinya.
"Kamu ngga ikutan makan?" Tanya Inka, setelah menelan habis makanannya.
Mario menggeleng, "Aku lebih suka makanan yang lain."
Ini seperti dejavu, kejadian dan kata-kata yang di ucapkan Mario pun sama, seperti lima tahun silam, saat mereka tengah mempersiapkan pernikahannya dan kedua kalinya Inka menginap di apartemen Mario dengan status calon istri.
"Hmm.. aku tau sekarang, apa maksud makanan lain itu." Inka menyeringai.
"Apa?"
"Makan aku kan?"
Mario tergelak dan mengacak-acak rambut Inka. "Pinter."
"Habiskan ya!" ucap Mario, sambil menikmati pemandangan istrinya yang sedang menikmati masakan buatannya dengan lahap.
"Ternyata benar ya kata mama Indah. Sebenarnya kamu itu manja." Mario tersenyum dan mengusap rambut Inka.
"Semua wanita itu pada dasarnya manja, Kak. Tapi terkadang, keadaan memaksa kita untuk tidak manja."
Mario menangkup wajah wanita yang menggemaskan itu.
"Mulai sekarang, jadilah dirimu sendiri. Aku suka kamu yang manja, aku suka kamu yang galak, aku suka kamu yang mandiri, dan aku suka kamu yang mulai meminta duluan untuk melayaniku." Mario tergelak dengan ucapannya sendiri. Ia tertawa geli kala mengingat hal itu, hingga tubuhnya bergoyang dan mulutnya di tutup dengan satu telapak tangannya
"Iih.. yang terakhirnya, ngga banget sih." Inka memukul lengan Mario dengan wajah yang bersemu merah.