Istriku Canduku

Istriku Canduku
merajuk 4


“Pekerjaan kamu sudah di delegasikan ke yang lain kan?” Tanya Mario saat ia tengah merapihkan dirinya untuk berangkat kerja pagi ini.


Inka mengangguk. “Sudah. Selebihnya nanti bisa di email saja.”


“Good.” Mario menampilkan ibu jarinya, tapi Inka hanya membalas dengan bibir yang mencibir.


Mario menyungging senyum melihat ekpresi Inka yang pagi-pagi sudah sangat menggemaskan.


Di tambah, semalam dan pagi ini ia belum mendapatkan mood boaster itu. Mood boaster apalagi yang Mario maksud, kalau bukan jatah yang sudah di debatkan sejak semalam. Tapi akhirnya ia tak melakukannya hingga kini karena tak tega melihat Inka yang langsung tertidur sesampainya di rumah, belum lagi ia melihat Inka yang bangun pagi-pagi sekali untuk mengurus bayi kembarnya.


Pagi ini Mario sengaja tak berangkat pagi, ia ingin berangkat bersama istrinya.


“Tari, Ambar. Kalian belum punya paspor ya?” Tanya Inka pada kedua pengasuh bayi kembarnya yang sedang membereskan mainan si kembar yang berserakan di ruang tengah.


Ruangan tengah yang luas dengan sofa melingkar dan terdapat televisi 56 Inc di depannya. Sengaja Mario mendesign ruangan ini untuk bersantai dan berkumpul dengan keluarga kecilnya. Ruangan itu juga terdapat dua pintu yang sedang terbuka dan menyuguhkan alam terbuka dengan pemandangan kolam renang. Udara pagi dan sinar mataharinya sampai hingga ke ruangan itu.


“Belum bu.” Jawab Tari dan Ambar bergantian.


Inka lupa tentang hal ini, padahal ia ingin mengajak kedua baby sitter itu untuk menemaninya selama di Dubai.


Marioyang tengah duduk di sofa, asyik bermain dengan Maher yang berada di pangkuannya. Sedangkan Inka menyuapi Mahira yang duduk di kursi makannya. Sudah hampir dua bulan Maher dan Mahira mulai memakan maknan pendamping ASI.


Tiba-tiba Sukma datang membawakan makanan camilan, yang akan ia suguhkan kepada majikannya.


“Sukma, lo pernah nganter mama ke Jepang kan? Itu kapan?’ Tanya Mario.


“Tiga tahun yang lalu sepertinya, Den.” Jawab Sukma ragu, saat menaruh makan di meja persis di hadapan Mario dan Inka.


“Kamu di temenin Sukma aja, berarti Beib.” Kata Mario.


“Kalau Sukma sudah ada paspor tinggal Dhani urus visa sehari juga kelar.” Kata Mario lagi.


Inka mengangguk.


“Kamu kerepotan ngga, kalau kita hanya membawa Sukma?” Tanya Mario pada Inka dengan menatap intens istrinya.


Hal itu saja, sudah membuat Sukma, Tari, dan Ambar meleleh. Pasalnya perhatian dan tatapan yang Mario berikan pada istrinya itu membuat semua orang yang melihat akan menginginkannya.


“iya, ngga apa-apa kok.” Jawab Inka dengan membalas menatap wajah suaminya sambil tersenyum.


“Hmm.. memang saya mau di bawa kemana, Non?” Tanya Sukma bingung.


“Oh iya, saya lupa belum memberitahu. Besok saya, Pak Rio, Maher, dan Mahira akan berangkat ke Dubai. Karena ini dadakan jadi supaya urus surat-suratnya cepat, saya bawa Sukma yang memang sudah mempunyai paspor.” Jawab Inka.


Inka mendekati ketiga pekerjanya yang masih muda-muda itu.


“Nanti setelah ini, Tari dan Ambar juga akan di buatkan paspor dan visa. Tahun baru, kita jalan-jalan ke Belanda. Ya, Sayang?” Mata Inka mengarah pada Mario untuk meminta persetujuan dengan keputusannya yang sepihak. Pasalnya hal ini tidak pernah di bicarakan sebelumnya, tapi justru menurut Mario ini juga rencana yang bagus.


Mario mengangguk. “Rencana bagus. Oke.” Ia menamilkan ibu jarinya ke atas.


“Saya di ajak ke Belanda, Bu?” Tanya Ambar senang.


“Saya juga, Bu?” Kemudian Tari pun bertanya.


“Iya, nanti saya ajak kalian jalan-jalan di sana. Kita main kerumah Daddy karel dan Mama Indah.”


Tari, Amber, dan sukma berpelukan, kemudian berjingkrak senang.


“Yeay.. saya jalan-jalan ke Eropa.” Ucap Tari.


“Saya akan bilang sama si mbo di kampung.” Mata Ambar berbinar.


“Terima kasih, Non.” Sukma langsung memeluk Inka yang tengah duduk dari samping, lalu di ikuti Tari dan ambar yang memeluknya dari arah sebelahnya.


Mario tersenyum melihat istrinya yang begitu baik. Ia memang tak salah pilih menjadikan Inka sebaga istrinya pada saat itu. Inka cantik, sexy, pintar, baik, dan perhatian pada semua orang.


“Huuuu.. lebay. Mulai deh possesive nya.” Gerutu Sukma yang langsung melepas pelukannya pada Inka, di ikuti Tari dan Ambar. Mereka pun pergi dari hadapan kedua majikannya.


Inka hanya tertawa.


“Beresin baju lo, Suk. Awas nanti jangan bikin ribet di sana!” teriak Mario saat Sukma sudah berjalan jauh darinya.


“Iya, Den.” Jawab Sukma dengan suara teriakan juga.


“Kamu manjain dia tuh, jadi kurang ajar kan?” Ucap Mario pada Inka.


Inka hanya tersenyum. “Lagian kamu juga suka ngeledekin sih.”


Inka menghampiri Mario dan menggendong Maher. Bergantian, Mario sekarang yang menggendong Mahira, ia mengambil Mahira dari kursi makannya.


“Pipih..” Ucap Mahira.


Sejak usia 6 bulan Mahira sudah bisa mengucapkan ‘mimih’ dan ‘pipih’. Sedangkan Maher baru mulai mengucapkan kata itu satu bulan setelahnya.


“Apa? Nanti kita jalan-jalan. Okeh. Mahira mau kan?” Mario berbicara dengan bayi perempuan kecilnya.


Mahira tertawa lebar, menampilkan dua gigi di atas dan di bawahnya. Ia menyentuh pipi sang ayah yang di tumbuhi bulu-bulu tipis. Kemudian Mario menggelitiki anak perempuannya dengan bulu-bulu halusnya ke bagian wajah Mahira, membuat ia semakin tertawa geli, hingga perut bulatnya ikut bergoyang.


Inka yang mendekati Mario dan Mahira yang tengah tertawa. Mario merangkul Maher dan istrinya. Ia menggelitiki satu persatu anaknya dengan bulu halusnya. Ia juga melakukan hal yang kepada Inka.


“Mommy mau juga di gelitiki seperti ini.” Mario mendusel ke leher dan pundak Inka dengan posisi si kembar yang masih di pangku oleh kedua orang tuanya.


Inka menghindari wajah Mario sambil tertawa.


“Stop! Nanti lama-lama ada yang bangun di sana, terus aku kesiangan lagi sampai butik.”


Mario tergelak dengan ucapan istrinya.


“Kamu tau aja.” Mario mencubit hidung Inka. Lalu menaruh mahira di lantai yang sudah di lapisi karpet permadani tebal dengan berbagai mainan bayi di sana.


“Kalau gitu, ayo berangkat! Nanti kamu kesiangan.” Ucap Mario, sambil berjalan menuju ruang kerjanya, mengambil yang ia perlukan untuk di bawa.


Tari mengambil Maher dari tangan Inka dan ikut bermain bersama Mahira di lantai. Inka mengejar Mario.


“Kamu marah?”


Langkah Mario terhenti dan menunggu Inka yang mengejarnya di belekang.


“Marah? Kenapa?” Tanya Mario dengan tetap tersenyum, dan mulai melingkarkan tangannya ke pinggang Inka.


“Aku takut kamu marah, karena dari semalam dan tadi pagi kan kamu belum..”


Mario tergelak mendengar perkataan Inka yang tak di teruskannya.


“Aku mencintaimu, sayang. Aku tidak akan marah hanya karena hal seperti itu. Lagian aku maklum karena kamu lelah. Kecuali kalau kamu pergi dari ku, baru aku akan marah, sangat marah. Hmm..” Mario memainkan ujung hidung Inka dengan ujung hidungnya.


“Aku juga mencintaimu, mungkin tanpa kamu sadari cinta aku lebih besar dari kamu.”


“Oh, ya. Apa buktinya?” Kata Mario meledek.


“Ini.” Inka menampilkan bekas jahitan di perutnya, dan membuat Mario tersenyum lebar.


“Aku juga punya bukti cintaku.” Ucap Mario tak mau kalah.


“Mana?”


“Ini.” Mario membuka dua kancing kemejanya, dan menampilkan jahitan di dadanya, karena operasi transplantasi hati.


Inka menyentuh dada itu. Lalu mencium bibir Mario. Mario membalasnya dengan semakin mendekap tubuh Inka. Suara pangutan itu terdengar mengecap beberapa kali, dan akan terdengar juga oleh orang yang ada di sekitarnya. Hal itu adalah pemandangan yang sudah biasa untuk Sukma, dan sekarang untuk Tari juga Ambar.