Istriku Canduku

Istriku Canduku
image baru


Inka mengantarkan suaminya hingga depan pintu.


"Sayang. Kamu jangan kemana-mana, pisahin papa Raka sama Daddy Karel, kalau mereka adu jotos." Kata Mario di iringi tawanya. Sebelum ia mengecup kening sang istri.


"Emang kamu, apa-apa langsung tonjok." Inka memukul pelan dada Mario.


Mario tertawa dan langsung menaiki mobilnya.


Inka memasuki rumahnya kembali. Terlihat Raka yang masih duduk di meja makan sendirian.


"Loh, papa kok sendiri, Mama sama Daddy kemana?" Tanya Inka pada ayahnya.


Raka menjawab dengan mengerdikkan bahunya.


"Mana Maher dan Mahira, In? Papa kangen ingin ketemu kedua cucu papa."


"Ada di kamarnya, pa. sebentar ya." Inka berjalan menuju kamar si kembar.


Ketika, Inka keluar untuk mengantarkan suaminya yang hendak berangkat kerja, Karel menerima telepon dari Belanda perihal pekerjaannya, ia langsung pamit ke kamar. Sedangkan Indah, berada di dapur. Inka memang sangat menginginkan kue kastangel buatan ibunya.


Tiba-tiba, Raka menghampiri Indah di dapur, setelah melihat Karel yang tak kunjung keluar dari kamarnya. Ia berpura-pura membawa piring kotor ke dapur.


Raka melangkahkan kakinya menuju wastafel, di mana tepat ada Indah yang sedang berdiri di samping wastafel itu.


Indah menyadari keberadaan Raka di sampingnya. Namun, Ia tak menoleh. Sampai akhirnya, Raka yang lebih dulu menoleh.


"Apa kabarmu?" Tanya Raka, sambil terus memandang wajah Indah yang tak memandangnya.


"Hmm.. Baik." Jawab Indah, sambil tetap menatap bahan makanan ďi tangannya.


Tiba-tiba Raka memeluk Indah.


Indah terkejut dan melepas semua bahan makanan yang sedang ia pegang.


"Lepas, Mas."


"Aku rindu, Ndah. Sebentar saja." ucap Raka.


"Jangan seperti ini, Mas! Saya tidak mau suami saya salah faham."


Lalu, Raka melepaskan pelukan itu.


"Maaf, Ndah. Maaf." Raka langsung keluar meninggalkan Indah yang masih mematung di sana. Hatinya kembali nyeri, entah mengapa sakit itu masih terasa walau sudah 15 tahun berlalu.


"Pa.." Inka mencari-cari Raka, Ia sudah membawa Mahira dan Maher yang berada di gendongannya dan Tari.


"Ma, Papa mana?" Tanya Inka pada Indah yang masih berada di dapur.


"Ma.." Inka menyentuh pundak ibunya, sambil menggendong bayi Mahira.


"Mama, kenapa menangis?" Inka menyerahkan Mahira pada Ambar yang dengan sigap dengan keadaan majikannya saat inj.


"Mama.." Inka memeluk ibunya.


Indah hanya bisa menangis dan tak bicara apapun pada putrinya.


"Maaf, Ma. Inka tidak bilang ke papa kalau mama ada di sini." Inka mengelus bahu ibunya.


"Maaf, Inka sengaja ingin mempertemukan kalian berdua, Inka kangen kebersamaan kita. Maaf jika hal ini membuka luka mama lagi."


Indah menggeleng. "Tidak apa, Sayang. Mama juga engga tau kenapa mama masih saja menangis, padahal semua telah lama berlalu."


"Itu manusiawi, Ma." Inka mengelus lagi pundak ibunya dan mengeratkan pelukan.


"Mama istirahat saja dulu di kamar. Sekalian temani Daddy di sana." Kata Inka.


"Tapi mama baru mulai membuat kue yang kamu suka."


****


Di kantor Mario masih sibuk dengan beberapa pekerjaannya. Pada waktu jam istirahat, Mario menyempatkan untuk video call dengan anak dan istrinya. Sekarang, merekalah yang menjadi mood boasternya setiap hari. Melihat si kembar membuat Mario rajin untuk bekerja dan melihat Inka membuat Mario rajin untuk bisa membuat si kembar lagi. OMG!


"Dhan, ini gimana sih kerjaan lo. salah semua." Mario melempar semua berkas di mejanya.


"Maaf Pak." Jawab Dhani lesu. Ia masih duduk di hadapan Mario.


"Lo lagi banyak pikiran?" Tanya Mario, yang langsung berdiri dan menghampiri Dhani.


Mario bersender pada meja kerjanya.


"Cerita sama gue, karena ngga biasanya lo ga fokus gini." Ia masih menatap intens asisten andalannya itu.


Dhani menggeleng.


"Entahlah, Pak. saya juga bingung. Ini yang saya takutkan kalau berurusan dengan cinta. Rasa, hati, hah..." Dhani mengacak rambutnya sendiri.


"Oh.. jadi ini tentang Bianca?"


Dhani mengangguk.


"Emang kenapa? Bianca selingkuh?"


"Bukan, Bukan itu bos. Dia wanita baik yang pernah saya kenal." Ucap Dhani.


"Terus?" Mario semakin mencondongkan wajahnya ke arah Dhani.


"Orang tua nya tidak setuju, kalau Bianca dengan saya."


"Dia bilang asal usul saya tidak jelas." Ucap Dhani lagi.


"Lo udah ngelamar Bianca?" Tanya Mario serius.


Dhani menggeleng. "Tadinya iya, tapi tidak jadi terucap. Padahal malam itu saya datang untuk itu. Tapi melihat papinya yang tidak suka dengan kedatangan saya, maka saya mengurungkan niat untuk berkata itu."


"Kapan lo mau ngelamar Bianca lagi? Nanti gue temenin. Siapa dia yang berani nolak asisten gue." Kesal Mario.


"Serius, Bos?" Mata Dhani berbinar.


"Emang pernah gue ngga serius?" Mario malah balik bertanya.


Kata-kata Mario, sontak membuat Dhani menghamburkan pelukannya. Dhani langsung menyambar tubuh Mario yang sedang duduk tidak sempurna, hingga membuatnya agak terhuyung kebelakang. Dhani menahan tubuh Mario seperti sepasang kekasih yang tengah berpelukan. Bibir Dhani pun tak sengaja menyentuh pipi Mario.


"Ups.. Maaf pak, saya menganggu." Tiba-tiba Sherly datang dan langsung menutup wajahnya dengan map yang ada di tangannya. Kebetulan Sherly langsung membuka pintu ruangan Mario tanpa di ketuk, ia melihat aksi Mario dan Dhani di sana.


"Eh, lo salah faham. Sher." Mario dan Dhani melepas pelukannya dan berdiri sambil membereskan pakaian masing-masing.


"Maaf, Pak. Saya tidak melihat apa-apa. Sumpah!" Dua jari tangan Sherly di naikkan ke atas.


"Saya juga janji ngga akan kasih tau bu Inka." Ucap sekertaris Mario yang cantik, tapi sedikit polos itu.


"Apalagi sih ini!" Mario melempar pandangan ke sembarang arah.


"Udah keluar lo semua, kerja kerja!" Mario kembali duduk di kursinya sambil memijit pelas pelipisnya.


Sherly langsung keluar dari ruangan Mario dan Dhani hanya tertawa geli melihat bos nya mempunyai image baru.


"Jangan ketawa lo, Dhan! Gara-gara lo si Sherly jadi salah faham nih." Ancam Mario, sebelum Dhani keluar dari ruangannya.


Dhani tetap menampilkan jejeran giginya dan menutup pintu ruangan Mario dengan pelan.


"Pedang sama pedang mana enak, ngebayanginnya aja gue geli." Batin Mario sambil mengerdikkan bahunya.