
Satu hari, dua hari, tiga hari, terlewatkan setelah sepeninggalnya Karel. Pandangan mata Indah kosong, seolah memang ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Ia terlihat sering termenung sendiri.
“Mama, aku mohon jangan seperti ini!” Inka membuyarkan lamunan Indah.
“Ah, tidak apa. Sayang. Mungkin karena Karel begitu cepat meninggalkan Mama dan Mama masih sangat kaget dengan kejadian ini.”
Untungnya, kejadian ini terjadi tepat di saat Inka dan keluarganya tengah di sini. Walau ada Harris dan Bella juga di sini, tapi mereka tidak lagi tinggal di rumah Karel paska menikah, mereka memilih tinggal di apartemen yang di beli hasil kerja mereka berdua.
Saat bermain bersama Maher dan Mahira, Indah tertawa seolah kesedihannya hilang. Namun saat Maher dan Mahira tak di dekatnya, ia kembali termenung sendiri.
“Kak, sepertinya aku tak bisa meninggalkan mama sendirian di sini.” Kata Inka sambil menatap ibunya yang sedang duduk sendiri di taman rumahnya.
“Ya, aku mengerti. Aku pun tak tega melihat Mommy seperti ini.” Jawab Mario sambil menyesap kopi buatan Inka.
Mereka menatap Indah dari dalam dapur dengan pintu belakang besar yang menyuguhkan pemandangan taman buatan.
“Bagaimana kalau kita ajak mommy ikut bersama kita ke Jakarta?” Tanya Mario.
“Apa Mama mau?”
“Tidak ada salahnya, kamu coba ajak bicara.”
“Itu bukan ide buruk.”
Inka mengangguk dan berkata lagi, “akan aku coba bicara pada mama.”
“Tenanglah, semua akan baik-baik saja.” Ucap Mario, sambil memeluk pundak istrinya dari samping.
“Kamu tidak keberatan, jika kita di sini satu minggu lagi?” Tanya Inka lirih.
Mario mengangguk. “Akan aku atur jadwalku. Tenang saja. Aku akan di sini menemanimu.”
Inka mengeratkan pelukannya pada Mario. Suaminya memang paling bisa di andalkan.
Tiba-tiba Inka menangis di pelukan Mario. “Aku mungkin akan seperti mama, jika di tinggalkanmu.”
“Please, jangan pernah tinggalkan aku!” Kata Inka, dengan mata yang tiba-tiba sudah mengalir sendiri.
“Apalagi aku. Mungkin justru malah aku lebih rapuh jika kau tinggalkan, walau badanku lebih besar.”
Sontak Inka tertawa setelah menangis. Mario pun ikut tertawa dan memeluk erat istrinya.
****
Setelah empat belas hari terlewatkan paska meninggalnya Karel. Suasana kembali seperti biasa. Harris pun tak lagi tinggal di apartemennya. Ia lebih banyak berada di rumah ini.
“Ma, Inka akan kembali ke Jakarta. Sudah hampir dua bulan inka di sini dan Mario sudah banyak meninggalkan perkerjaannya.” Ucap Inka saat menemani sang ibu di dalam kamarnya.
“Iya, Sayang. Mama mengerti. Terima kasih karena telah menemani mama di saat-saat seperti ini.”
“Jangan berterima kasih, Mama. Dulu sewaktu Inka terpuruk pun Mama yang selalu menemaniku.” Inka memeluk sang ibu.
‘Inka..” Indah menangis lagi.
“Ma, ikutlah bersama Inka ke Jakarta. Tinggal bersama Inka di sana.”
“Tidak bisa Sayang. Banyak hal yang harus mama urus di sini. Banyak peninggalan Karel yang belum di selesaikan.”
“Rumah dan usaha Daddy, bisa di selesaikan Harris kan, Ma.” Sanggah Inka lirih.
“Tidak, Sayang. Sebelum Karel meninggal, banyak kata-kata yang tersirat. Sebelumnya mama pikir, hanya sebuah omongan, tapi kini mama mengerti apa yang harus mama lakukan sepeninggalnya.”
Inka menarik nafasnya kasar.
“Tenanglah, Sayang. Mama akan baik-baik saja di sini. Jika kamu ingin pulang, pulanglah. Mama akan datang ke sana jika urusan mama di sini sudah selesai. Lagi pula, mama tidak sendiri di sini, ada Harris dan Bella.”
Inka mengangguk, memang benar di sini Indah tak sendirian.
“Baiklah kalau begitu, yang penting mama harus sering-sering berkomunikasi.” Ucap Inka mengalah.
“Tentu, Sayang.”
****
Dua hari kemudian, Mario berserta keluarganya pulang ke Jakarta. Mereka di sambut Laras dan Andreas. Kedua orang tua Mario hanya bisa mengucapkan bela sungkawa melalui video call pada Indah, karena jarak yang sangat jauh, dan kebetulan saat ini kondisi Laras pun sedang tidak baik. Kalau sebelumnya Andreas yang kambuh dengan kolesterol dan asam uratnya, kini malah Laras yang sedang kambuh dengan penyakit maag akudnya.
“Mama..” Teriak Inka merangkul ibu mertuanya yang sangat baik ini.
“Mama sudah sehatan?” Tanya Inka antusias, pasalnya ia sudah di tinggal orang yang ia sayang walau hanya orang tua sambung.
“Alhamdulillah mama semakin baik, Sayang.”
Mario dan Inka menyalami kedua orang tuanya, begitu pun Ambar dan Tari. Maher dan Mahira ikut mencium kedua pipi kakek dan neneknya itu.
“Duh, Opa kangen sekali pada kalian.” Sahut Andreas yang berjongkok ingin menggendong cucunya.
“Jangan, Pa! Mereka semakin berat.” Cegah Mario, khawatir dengan kondisi sang ayah yang tak lagi muda.
“Papa kuat, kamu jangan meremehkan papa, Son. Menggendong mama mu pun, papa masih kuat.”
“Please deh, Pa.” Jawab malas Mario.
Inka dan kedua baby sitternya hanya tertawa dan menampilkan jejeran giginya.
“Tau nih papa, ngga mau banget di bilang tua.” Ledek Laras pada suaminya.
Mereka pun berjalan beriringan menuju mobil.
“Sudah ada yang hidup lagi di sini.” Celetuk Laras, sambil memegang perut rata Inka.
“Segera, Ma. Kalau usaha jangan di tanya sesering apa.” Sahut Mario.
Laras memukul kepala putranya. “Nakal. Kamu masih saja belum berubah.”
Inka tertawa melihat Mario yang selalu dekat pada Laras. Ia berfikir mungkin akan seperti ini ketika Maher dewasa. Asalkan kelakuan mesumnya tak seperti ayahnya saja.
“Like father like son.” Ucap Mario sambil melirik ke arah Andreas.
“Eh.. papa ngga seperti kamu ya.” Sanggah Andreas. Lalu mereka masuk ke dalam mobil.