
Tring…
Notifikassi tertera di layar ponsel Inka dari nomor yang tak di kenal. Ia meraih ponselnya dan membukanya.
“Hai, In. Sudah makan?”
Begitulah bunyi pesan yang masuk pada aplikasi whatsap miliknya. Inka bingung karena beberapa hari terakhir, ia sering mendapatkan pesan dan telepon dari nomor ini, tapi tak satu pun yang ia jawab.
Inka menaruh lagi ponselnya sembarang. Tak lama terdengar notifikasi lagi.
Tring…
“Apa kita bisa bertemu? Aku sangat merindukanmu.”
Lagi-lagi, Inka hanya melihat pesan tersebut dan tak menjawabnya. Ia malas untuk mencari tahu siapa pemilik nomor itu? Ia membiarkan saja dan tak mau ambil pusing.
Di gedung MJ Telemedia. Mario masih berkutat dengan setumpuk berkas di hadapannya. Ia berencana ingin mengajak istrinya baby moon, mengingat saat ini usia kehamilan Inka sudah memasuki akhir trimester kedua. Menurut informasi kesehatan, di usia 14 sampai 28 minggu adalah waktu yang tepat untuk melakukan baby moon. Sebelum itu terwujud, Mario mencoba menyelesaikan pekerjaannya, agar mendapatkan waktu luang selama satu minggu kedepan.
“Bos, saya pulang duluan ya.” Ucap Dhani yang tiba-tiba memunculkan kepalanya di pintu ruangan Mario, setelah ia mengetuknya.
“Eh, mau kemana lo. Enak aja balik, ini belum selesai!” Jawab Mario.
“Itu tinggal di tandatangani saja, Bos.” Ujar Dhani.
“Lo mau kemana sih? Buru-buru banget.”
“Saya kangen ibu panti, Bos.” Jika ada maunya, Dhani akan memanggil Mario dengan sebutan Bos. Walaupun memang Mario adalah bosnya.
“Ya udah gih, sana!” Mario mengibaskan tangannya.
Beberapa jam kemudian, Mario melirik jam tangannya, waktu menjemput Inka sudah lewat setengah jam. Ia langsung meraih ponselnya dan melakukan video call.
Dret.. dret.. dret… tertera ‘dering’ di sana.
“Halo..” Terlihat wajah cantik itu sedang tersenyum.
Mario ikut tersenyum melihat senyum itu. “Kamu makin cantik, Sayang.”
Inka tertawa. “Jadi, video call cuma mau bilang itu?”
Mario ikut tertawa. “Ih kamu, kalau di puji ngga asyik, Yank. Bilang terima kasih kek, atau kasih kiss kek.”
Inka langsung mencibir. “Kak, nonton yuk!”
“Ayo, tapi sebelumnya maaf ya, aku terlambat jemput. Ini aku baru selesai dan baru mau on the way.”
“Iya ngga apa, Kak. Hati-hati di jalan ya!”
“Siap. Sayang. Terima kasih pengertiannya ya, aku makin cinta. Mmuaachh.”
Inka membalas dengan senyum yang lebar dan memperlihatkan jejeran giginya yang rapih dan putih.
Tut.. tut.. tut.. Panggilan video call itu terputus.
Inka masih saja tersenyum lebar, walau panggilan video call dari suaminya itu sudah selesai. Semakin hari ikatan cinta keduanya semakin erat, Inka selalu menempel pada Mario dan Mario tidak bisa sama sekali di tinggal Inka. Alhasil tidak ada perjalanan bisnis ke luar kota, apalagi ke luar negeri. Selalu Dhani yang menjadi andalan untuk mengontrol cabang perusahaannya di kota yang lain.
Mario tiba di butik Inka, ia memarkirkan mobilnya dan memasuki rumah toko mminimalis itu. Ia sampai di pintu ruangan Inka dan langsung membuka masuk tanpa ketukan.
“Sayang, kok sepi?” Suara Mario mengagetkan Inka yang sedang menundukkan kepalanya persis di bawah meja kerjanya.
“Aww..” Kepala Inka terbentuk atas meja, ketika ia ingin menegakkan tubuhnya.
Mario langsung berlari menghampiri Inka. “Sshh… kamu ngapain sih, di kolong meja? Kejedot kan.”
Mario membantu mengusap kepala istrinya.
Inka malah tertawa. “Ngga apa-apa, aku hanya melihat ini! Kakiku sepertinya bengkak ya?” Ia menunjuk pada kedua kakinya.
“Kamu kecapean tuh, nanti di rumah aku pijitin.”
Inka menggeleng. “Justru ngga kecapean, malah dari tadi aku duduk terus.”
“Bengkak, Kak.”
“Sedikit.” Mario mengelus kaki Inka hingga naik ke atas.
“Ih, apaan sih ini.” Inka memukul tangan Mario yang sudah menjalar ke daerah sensitifnya.
“Maaf, kebablasan.” Cengir Mario, membuat Inka semakin tergelak.
“Udah yuks!” Inka bangun dari duduknya, dan mengambil tasnya. Mereka berdua berjalan keluar.
“Yang lain sudah pada pulang, Yank?” Tanya Mario, saat ia memasangkan istrinya seatbelt.
Inka mengangguk. “Iya, Bianca pamit pulang lebih awal karena ada urusan, terus Sari juga sama karena mau di ajak makan malam sama calon mertuanya.”
“Oh, akhirnya teman-teman kamu sudah melepas lebel jombolnya.” Ledek Mario.
“Ish.. sombong.” Inka mencubit pinggang Mario.
“Aww.. Sakit, Sayang. Untung cinta, jadi sakitnya cepet ilang.” Mario mengusap pinggangnya, sambil tetap menyetir. Hingga keduanya tergelak bersama.
“Berhenti di sini aja, Kak.” Inka mendadak meminta Mario untuk memberhentikan mobilnya di pinggir jalan.
“Aku mau nasi bebek, di situ!” Inka menunjuk pada gerobak makan yang berada di pinggir jalan itu.
“Itu ngga higienis, Sayang.” Larang Mario.
“Sesekali tidak apa, Kak. Supaya anak kita kuat, terlalu higienis juga ngga bagus, nanti ga kebal sama kuman.”
“Emang begitu? Teori dari mana?”
“Dari aku.” Inka menunjuk dirinya sendiri, sambil nyengir kuda.
Akhirnya, Mario menuruti kemauan istrinya dengan berat hari. Ia duduk di sebelaj Inka dengan wajah yang tak bisa di artikan. Sebelum duduk, kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri, lalu mengelap kursi dan mejanya dengan tisu basah milik Inka.
“Wah.. makanan datang.” Inka menerima dengan wajah berseri.
“Ayo coba, Kak! Ini enak banget.” Inka menggulung lengan kemeja Mario.
“Makannya pakai ini? Langsung?” Tanya Mario aneh, karena seumur-umur ia tak pernah memakan langsung menggunakan tangan, tanpa alat makan.
Mario mencoba memakan hidangan yang ada di depannya dengan kelima jari kanannya. Ia meraup semua nasi dan mengepal-ngepal menjadi bulatan, lalu di makan.
Inka hanya melihat sambl tertawa. “bukan seperti itu, Kak. Kalau makan kaya gitu mah lama.”
Lalu, Inka menunjukkan caranya makan dengan menggunakan tangan langsung. Mario pun mengikuti arahan darinya.
“Nah, seperti itu.” Kata Inka dengan terus mengulas senyum. Lucu sekali melihat seorang Mario, makan dengan cara seperti ini.
“Maaf, Sayang. Aku ngga lagi ngerjain kamu loh.” Batin Inka.
“Kenapa tersenyum?” Tanya Mario yang melihat Inka yang tak lepas memandangnya.
Lalu, Inka menggeleng. “Ngga apa-apa.”
Tidak ada setengah jam, setelah pedagang nasi bebek itu memberikan makanan di meja Inka dan Mario, ternyata, piring Mario sudah bersih.
“Kamu laper, apa enak?” Tanya Inka dengan masih memakan makanannya yang baru habis separuh piring.
“Ternyata enak, boleh aku nambah lagi?”
Inka tergelak. “Bolehlah, bahkan kamu membeli sama gerobaknya juga bisa.”
“Mohon maaf, itu sebuah sanjungan apa ledekan ya?” Mario menatap Inka dengan menyelidik.
“Bukan dua-duanya, hanya sebuah pernyataan.”
“Ih, sekarang jago ngejawab, jago ngegombal, jago.. Hmm.. di ran..” Inka langsung membekap mulut Mario.
“Stop! Di sini banyak orang, Kak.”