
Inka membuatkan kopi untuk suaminya yang sedang bekerja dari jarak jauh. Pasalnya ia sangat enggan kembali ke Jakarta, sehingga ia tetap harus mengerjakan pekerjaannya dari sini. Dhani sangat uring-uringan di sana, karena sudah hampir dua minggu Mario berada di Belanda. Kini, Mario dengan setia berada di depan laptopnya dari pagi hingga menjelang sore.
“Ini kopimu!” Inka meletakkan secangkir gelas di samping Mario.
“Terima kasih, sayang.”
“Dhani ngga marah, kamu belum ke Jakarta?” Tanya Inka, sambil mendudukkan diriya di samping Mario.
“Dia mah ngga bakal berani marah sama aku, paling Cuma uring-uringan aja.” Jawab Mario sambil menyandarkan punggungnya di sofa.
“Kasihan dia, Kak.”
“Dhani ngga perlu di kasihani, Sayang. Yang kamu perlu di kasihani tuh aku. Bagaimana aku nanti, kalau kamu tetap di sini dan aku pulang ke Jakarta sendiri?”
“Hayolah sayang, Please. Pulang bareng aku!” Mario memeluk Inka dari samping dengan wajah memelas.
Inka menggeleng. “Kamu pulang aja dulu, nanti kan kamu bisa ke sini lagi.”
Mario melepas pelukan itu, dan kembali menyandarkan punggungnya di sofa.
“Sampai kapan, In?’
Inka terdiam. “Hmm.. Kapan ya?”
“Inka, aku serius!” Mario kembali menatap mata Inka.
“Aku juga serius, Kak.”
Mario cemberut dan melipat kedua tangangnnya.
“Ish.. Lucu banget sih kalau cemberut gini.” Inka mencubit pipi suaminya.
“Jemput aku dua atau tiga minggu lagi. Aku janji mau pulang. Tapi sekarang izinkan aku untuk membereskan urusanku di sini. Pekerjaanku yang utama, banyak janji design yang belum aku selesaikan, Kak.”
“Janji pekerjaan atau janji dengan ayah anak kecil itu?” Tanya Mario yang masih dengan muka cemberut.
“Ayah anak kecil? Siapa?”
“Halah, pura-pura lupa.” Ucap Mario dengan mengalihkan pandangan pada laptop yang ada di hadapannya.
“Angel maksudmu? Oalah mas Pras? Aku ngga pernah menjanjikan apa-apa ke dia, walaupun iya, dia pernah menyatakan cintanya padaku.”
“Apa? Mas? Kamu memanggilya mas? Mesra sekali, bahkan sama aku aja, kamu ngga pernah panggil dengan sebutan mesra seperti itu.” Mario menoleh lagi ke arah Inka, kali ini wajahnya benar-benar kesal.
Ekspresi Mario sontak membuat Inka tertawa terbahak-bahak.
“Tunggu, ceritanya kamu cemburu?” Tawa Inka masih terdengar renyah, sambil menutup mulut dengan telapak tangannya.
“Iya cemburulah, apalagi kamu bilang tadi, dia pernah menyatakan cintanya padamu.”
“Kamu tahu aku, Kak. Aku paling susah jatuh cinta.” Jawab Inka.
Mario menatap lagi kedua mata coklat itu. Keduanya terdiam dengan mata yang masih saling memandang.
Mario meraih dagu Inka. “Jadi aku pria paling beruntung, yang dapetin hati kamu?”
Inka mengangguk. “Bisa di bilang begitu.”
Mario tersenyum lebar, menampilkan jejeran giginya yang rapih dan putih. Ia mulai mendekatkan bibirnya. Namun, Inka lebih dulu menghindar, ketika Mario hendak menciumnya. Inka langsung berdiri dari sofa.
“Aku mau ke dapur, bantu mama menyiapkan makan malam.”
“Awas ya, berani menghindar. Nanti aku buat kamu yang minta sendiri!” Mario tersenyum licik, sementara Inka menjawab dengan juluran lidahnya.
Tiga puluh menit kemudian, Mario ikut turun dan menemani Karel berbincang di teras. Mario dan Karel terlihat sangat akrab, menurutnya lebih mudah mengakrabkan diri dengan Karel di bandingkan dengan Raka. Karena memang, Raka memiliki sifat pendiam dan agak sulit untuk di dekati, sama seperti Inka.
Mario, Inka, Indah, dan Karel berada di meja makan. Kali ini Harris izin tidak makan malam di rumah, karena harus menyelesaikan deadline pekerjaannya.
“Kamu jadi akan pulang lusa, Yo?” tanya Indah.
Mario menggangguk. “Iya, jadi Mom”
“Inginnya seminggu kemudian, Mario ke sini dan menjemput Inka ke Jakarta. Tapi Inka meminta dua atau tiga minggu lagi saja, Dad.” Jawab Mario.
“Loh, In. Tega sekali kamu.” Kata Indah.
“Iya, Mom. Putrimu memang tega sekali.” Ucap Mario merengek.
Inka hanya tertawa. “Bukan begitu, Ma. Inka hanya ingin menyelesaikan pekerjaan Inka dulu di sini, sudah terlanjur janji.”
Indah menghempaskan nafasnya kasar. “Seperti itulah Inka, Yo. Kamu harus sabar.”
“Sabar kok, Mom. Karena Mario sudah terlanjur cinta sama putri mommy yang menyebalkan ini.”
Pernyataan Mario sontak membuat Indah dan Karel tertawa, Inka pun hanya tersipu malu.
Inka membereskan piring piring kotor yang berserakan di meja, lalu membawanya ke westafel. Mario pun membantu Inka di sana.
“Sudah, Yo. Kamu istirahat saja.” Kata Indah yang tengah mengambil piring kotor di tangan Mario.
“Tak apa, Mom. Mommy saja yang istirahat di sana, dan menemani Daddy.” Mario mendorong Indah untuk duduk di ruang TV bersama Karel.
“Duh, so sweetnya menantu mommy.” Indah mencubit pipi Mario, dan Mario pun membalas dengan senyum.
Sesampainya di dapur, Mario memberikan piring kotor itu pada Inka. Inka meraih piring yang Mario berikan sambil berkata,
“Duh, so sweetnya menantu mommy.” Inka memeragakan omongan Indah dengan suara sensual dan bibir agak monyong gemas.
Mario melipat kedua tangannya, dan berdiri persis di samping istrinya yang tengah membersihkan piring kotor itu. Ia tersenyum dengan ekspresi meledek Inka.
“Ngga ada yang luput dari pesonaku, Sayang.”
“Uweek..” Inka mengekspresikan dirinya dengan pura-pura muntah.
Mario langsung memeluk pinggang Inka dari belakang. “Termasuk kamu, kan? Aku tahu kamu sudah menyukaiku saat pertemuan pertama kita di pernikahan Jessy.”
“Kamu yang menyukaiku duluan, karena kamu yang ngeliatin aku sampe ngga kedip.”
Mario tertawa, “Iya iya, kamu benar. Aku menyukaimu sejak saat itu, sejak pertemuan pertama kita. Habis gimana ya? Kamu cantik banget sih di dandanin kaya gitu. Jadi aku terpesona, kan?”
“Hmm.. Gombal.”
“Eh, iya ada yang ngga suka sama kamu, di sini.” Kata Inka lagi.
“Siapa?”
“Harris.”
“Itu sih justru karena dia terpesona sama aku, tapi aku milih kamu, jadi dia marah.”
“Maksudnya?” Tanya Inka bingung.
“Harris itu lelaki atau setengah lelaki sih?’
“Kamu!” Inka mengetuk kening Mario.
“Ya, kadang gerakannya agak gemulai.”
“Tapi dia kuat mukul kamu waktu itu.” Kata Inka.
“Hmm.. iya sih.” Jawab santai Mario.
“Emang dulu begitu, tapi sekarang enggak kok. Buktinya dia mau nikah sama Bella.”
“Ya kali.” Mario melepaskan pelukan pada pinggang Inka dan melangkahkan kakinya lagi ke atas.
“Sayang, nanti langsung ke kamar ya!” Pinta Mario dengan wajah innocent.
“Hmm..” Inka menjawab malas, tapi tetap tersenyum.
Inka menggelengkan kepalanya, ketika Mario sudah tak terlihat lagi di tangga. Sungguh, tidak pernah menyangka ia akan terjebak cintanya Mario. Cinta seorang playboy yang selengeyan dan arogan. Takdir itu memang aneh, ia di satukan oleh sesuatu yang tak terduga. Namun, di situlah cinta sesungguhnya hadir.