
Usia kandungan Inka sudah memasuki trimester kedua. Masa-masa mual di pagi hari sudah tak di rasa lagi. Ia ingin sekali memulai aktifitasnya di butik, karena sebelumnya Mario tidak mengizinkan untuk bekerja kembali di butik itu. Butik yang ia bangun bersama Sari dan Bianca. Padahal, Ia merindukan suasana di sana.
Sudah satu bulan lebih, Inka pulang dari Belanda, dan tak melakukan aktifitas apapun di luar. Mario hanya mengizinkan Inka keluar untuk hang out bersama ketiga sahabatnya, berbelanja atau perawatan diri dari ujung kepala hingga ujung kaki. Mario akan senang hati, jika mengetahui Inka menghabiskan uangnya. Karena Mario tahu betul hormon wanita hamil, semakin hati Inka senang dan bahagia, maka akan berdampak baik untuk anaknya yang tersimpan di rahim istrinya saat ini.
"Kak.." Panggil manja Inka pada Mario. Ya, dari awal kehamilan, Inka begitu manja pada suaminya dan itu membuat Mario sangat senang.
"Hmm.." Jawab Mario dengan senyum sambil pandangan yang tetap pada laptop yang di pangkunya.
Inka duduk di meja tepat di hadapan Mario. Namun jari Mario masih sibuk menekan keyboard laptopnya.
"Kaaaak.." Panggil Inka, tapi Mario masih sama hanya menjawab dengan deheman.
Inka merajuk, kedua tangannya di lipat di dadanya.
"Apa?" kini wajah Mario di angkat dan mengarah pada Inka.
"Apa sayang?" Tanyanya lagi.
"Udah sih kerjanya." Rengek Inka.
Mario melihat ekpresi Inka yang sedang merajuk, membuatnya lagi-lagi tersenyum geli. Hormon ibu hamil memang lucu.
"Sedikit lagi sayang, tinggal email ke Dhani, sebentar ya.." Jawab Mario dengan penuh kelembutan.
Beberapa menit kemudian, Mario menutup laptopnya dan meletakkannya di meja yang berada persis di samping Inka.
Setelah melihat Mario selesai dari aktifitasnya, Inka langsung berdiri dan menghampiri suaminya. Ia naik ke pangkuan Mario.
"Wah wah.. tumben banget, agresif." Senyum Mario.
Inka tersenyum dan menggigit bibir bawahnya.
"Jangan di gigit bibirnya!" Mario mengelus bibir ranum sang istri.
"Hmm.. aku mau minta izin ke butik, besok. boleh ya?" Tanya Inka sambil memainkan jarinya di dada bidang Mario.
"Stop! Jangan di mainin begini jarinya! nanti ada yang tegang di sana. Kamu ga tau kan rasanya gimana menahan hasrat satu bulan lebih." Sontak pernyataan Mario membuat Inka tergelak dan tidak melanjutkan kembali aktifitasnya.
"Lagian siapa suruh di tahan."
"Kan emang kata dokter ngga boleh melakukan itu dulu, sebelum janin kamu kuat."
"Boleh tapi pelan-pelan."
"Iya, tapi kalau udah di mulai, aku ga bisa berhenti
dan ngga tau bisa pelan-pelan apa ngga."
"Ish.. nyebelin." Inka langsung memukul dada Mario dan beranjak dari pangkuannya. Tapi, mario menahan pinggul Inka dengan kedua tangannya. Ia menyukai kemanjaan istrinya.
"Tetap di sini! Aku kan belum jawab pertanyaan kamu tadi." Kata Mario.
"Boleh ya?" Inka mengerjapkan kedua matanya.
Melihat kedua mata Inka yang kedap kedip, Mario tergelak. "Kamu cacingan?"
Lalu keduanya tertawa.
"Boleh ya? Please!" Inka merajuk lagi.
"Oke, boleh. Tapi aku yang antar dan jemput. Jangan berangkat dan pulang sendiri!"
"Siap, bos." Jawab Inka dengan senyum sumringah dan langsung mengecup bibir Mario sebagai tanda terima kasih.
Mario mengangkat tubuh Inka dan membawa ke singgasana mereka, dengan masih aktifitas yang sama. Kemudian, Mario membaringkan tubuh istrinya perlahan.
"Bener kan sayang, dia di sini tidak kenapa-kenapa kalau aku melakukannya?" Mario masih ragu, walau suaranya sudah sangat berat, menahan hasrat yang tak tersalurkan selama satu bulan lebih.
"Boleh, kak." Jawab Inka tersenyum. Sisi lain Mario yang baru terlihat sekarang, membuat Inka semakin mencintainya.
****
"Kamu sudah rapih, In?" Tanya Laras, melihat Jnka yang sudah berpakaian rapih, di iringi Mario yang menggandengnya turun dari tangga.
"Mulai sekarang, Inka akan kembali ke butik, Ma. Alhamdulillah si bos udah bolehin." Inka mengulas senyum, sambil menoleh ke wajah Mario.
"Tapi tetap, ngga boleh capek-capek." Inka mengangguk patuh.
"Mama, terima kasih sudah memegang kendali butik itu selama Inka pergi." Ucap Inka dengan kedua tangan yang melingkar di tubuh mertuanya.
Laras menangkup wajah menantunya dari samping. "Sama-sama, Sayang. Memang mama ingin semuanya tetap sama, ketika kamu kembali, karena mama yakin kamu akan kembali, dan sekarang semua jadi kenyataan."
Inka semakin memeluk erat mertuanya. "Terima kasih, mama. Inka beruntung memiliki mama mama yang hebat."
"Papa sudah berangkat, Ma?" Tanya Mario yang tak melihat kehadiran Andreas di sana.
"Sudah, tadi pagi-pagi sekali. Sahabat papamu itu lagi kritis, jadi papa langsung menemuinya di rumah sakit." Jawab Laras.
Mario mengangguk menanggapi jawaban ibunya. Andreas dan Laras tinggal menikmati masa tua nya di rumah, kerjaannya jalan-jalan atau berkeliling mengunjungi saudara dan teman-teman dekat yang sudah di anggap seperti keluarga. Laras pun berniat akan membangun panti asuhan, sebagai kontribusi untuk menjadi manusia yang berguna di akhir hidupnya.
****
Mobil Mario berhenti tepat di lobby butik Inka. Mario mengantarkan Inka ke dalam.
Inka membuka pintu dan,
Pret.. Duar.. Bunyi terompet dan balon yang sengaja di pecahkan bersamaan terdengar di sana.
Inka terkejut, mulutnya menganga, lalu langsung di tutup dengan kedua tangannya. Senyum lebar tampak pada wajah cantiknya. Wajah yang selalu di hiasi dengan riasan tipis itu menampilkan wajah naturalnya. Sementara, lipstik merah muda yang sering ia pakai, menambah kesegaran di wajahnya.
Prok.. Prok.. Prok..
"Selamat datang, Miss." Sari, Bianca dan pegawai lainnya mengucapkan kata-kata itu.
"Yeahh.." Mereka menebar beberapa kertas kerlap kerlip kecil di kepala Inka.
Inka menoleh ke arah Mario.
"Ini pasti ulah kamu." Inka mencubit perut sixpeck suaminya.
Mario tersenyum. "Surprise."
Inka tersenyum sambil terus menempelkan lengan kanannya pada pinggang Mario. Sementara Mario masih merangkul pundaknya.
"Terima kasih." Ucap Inka.
"Miss, jangan nempel sama suaminya terus donk! Gantian donk peluk aku sini, aku kan kangen." Rengek Sari, sambil membentangkan kedua tangannya.
Inka dan Mario melepas rangkulannya satu sama lain. Kemudian, Inka menyambut pelukan teman-teman seperjuangannya itu.
"Kangen, Miss." Sari dan Bianca bergantian memeluk Inka.
"Sama, aku juga kangen banget. Makasih ya, kalian sudah menjaga butik ini." Inka terharu dengan keloyalitasan teman-temannya.