Istriku Canduku

Istriku Canduku
pemakaman Desi


Adhis..” Panggil Inka, saat ia sampai di rumah Raka.


“Kak..” Adhis langsung memeluk Inka di iringi tangis yang tersedu-sedu.


Inka mengelus pundak sang adik. “Sabar, Dhis. Ini adalah yang terbaik, mama Desi sudah tidak merasakan sakit lagi.”


Adhis mengangguk dengan tetap memeluk sang kakak.


Paska kecelakaan itu, Desi memang hanya bisa berbaring di tempat tidur. Kemudian, beberapa minggu terakhir, ia mengalami penurunan kesehatan, hingga akhirnya hari ini ia menghembuskan nafas terakhirnya.


Setelah mendapatkan telepon di lift hotel XX, Inka langsung meluncur ke rumah ayahnya, dan meninggalkan Sari di sana untuk menemui tante Vivi di kamar 201 yang ternyata adalah David. Dengan tergesa-gesa Inka menyetopkan taksi dan memberi kabar pada Mario via telepon.


Inka mengedarkan pandangan dan tak menemukan sang ayah di sini, padahal jasad istrinya masih berada di sini.


“Papa di mana, Dhis?” Tanya Inka setelah peluka itu mengendur.


“Papa masih di kamar, ia tak mau keluar kamar sejak tadi, Kak.”


Sementara Inka melihat Vino yangs edang sibuk mengurus surat-surat dan persiapan pemakaman.


Inka beralih ke kamar sang ayah.


Ceklek.


Ia membuka pintu itu dan melihat sang ayah sedang duduk termenung di tepi tempat tidur.


“Papa..”


“Inka.” Raka meraih tubuh putri sulungnya


“Papa banyak dosa, In. Papa berdosa dengan mamamu dan papa berdosa dengan mama Desi.” Isak tangis Raka pecah.


Raka menyerahkan surat yang di tulis Desi, persis sehari sebelum nafas terakhirnya. Raka menemukan tulisan itu dua jam yang lalu, saat ia tengah mencari pulpen untuk memberikan mandat pada orang suruhannya agar mengurus pemakaman. Tapi tepat di nakas, tergeletak sebuah surat.


Inka meraih surat itu.


“Aku kira selama ini aku adalah wanita yang kamu cintai, ternyata tidak. Aku kira di dalam mata itu masih ada aku, tapi ternyata salah. Di sana sudah tidak ada aku, tapi dia. Dia yang dengan sengaja aku pisahkan darimu karena obsesiku. Dia yang rela mengalah untukku. Namun, aku sadar bahwa selama ini aku hanya memiliki ragamu tapi tidak hatimu. Maaf, karena selama ini aku telah memisahkanmu darinya. Hari itu aku melihatmu menyimpan semua kenangan tentang dia, yang kamu simpan rapi hingga kini. Maafkan aku..”


Inka meletakkan kemvali surat itu di samping ayahnya.


"Papa..” Inka meraih tubuh sang ayah yang lemah tak berdaya.


Raka larut dalam kesedihan. Ia merasa bersalah karena telah menyakiti dua hati wanita yang masuk ke dalam perangkap hasratnya.


Inka pun sedih, melihat keterpurukan sang ayah.


Di balik punggung Raka, Inka melihat Mario yang tengah berdiri di pintu kamar itu. Inka menyuruh suaminya masuk degan isyarat mata. Mario pun menghampiri istri dan ayah mertuanya.


“Pa, turut berduka cita.” Mario meraih punggung tangan Raka.


Raka langsung membalas dan memeluknya. Ia memeluk tubuh Mario erat. Kisahnya dan Mario nyaris mirip, tapi bedanya Mario tidak mengedepankan nafsu, menantunya itu masih bisa membedakan antara cinta dan nafsu, dan ia bisa memilih apa yang membuatnya bahagia.


“Sabar, Pa.” Mario mengelus punggung Raka.


“Terima kasih, Yo.”


Akhirnya, Raka keluar di temani putri dan menantunya.


Tak lama kemudian, Laras dan Andreas pun tiba. Ia dikabarkan oleh Mario dan langsung menuju ke kediaman Raka.


“Saya turut berduka.” Kata Andreas sambil memeluk Raka, bergantian dengan Laras yang hanya berjabat tangan.


“Terima kasih, Pak Andreas. Bu Laras. Terimakasih juga karena telah melahirkan anak sehebat Mario, yang bisa membuat puteri saya bahagia.” Tutur Raka.


Andreas merangkul puteranya. Keduanya tersenyum dan membungkukkan sedikit kepalanya.


Karena hari semakin larut, akhirnya pemakaman di lakukan setelah subuh. Laras dan Andreas pun pamit kepada Raka. Inka dan Mario mengantarkan kedua orang tuanya hingga ke gerbang.


“In, kamu jangan khawatir! Maher dan Mahira biar mama dan papa yang jaga.” Kata Laras, sebelum ia pergi meninggalkan rumah Raka.


“Benar, In. Kamu di sini saja sampai semuanya selesai. Biar kami yang menjaga anak-anak.” Sambung Andreas.


“Terima kasih, Ma.” Inka memeluk Laras lalu bergantian pada Andreas.


“Terima kasih, Pa. Inka sangat menyayangi kalian.”


“Kami juga menyayangimu.” Balas Andreas, di iringi senyum Laras.


Inka mengendurkan pelukannya dan tersenyum, lalu membuka pintu mobil belakang untuk Laras, dan Mario membuka pintu sebelahnya untuk sang ayah.


“Hati-hati, Ma, Pa.” Inka dan Mario melambaikan tangannya


Mario merangkul pundak Inka.


“Terkadang aku iri denganmu, sebenarnya anak mama papa itu aku apa kamu ya? Karena mereka lebih sayang kamu di banding aku.” Ucap Mario tanpa menoleh ke arah Inka.


“Ish, kamu bercanda aja.” Inka mencubit pinggang Mario.


“Aw, sakit. Sayang.” Mario ppura-pura meringis sambil tersenyum.


Di seberang sana, Vino melihat kemesraan Inka dan suaminya. Ia juga melihat kasih sayang yang di berikan kelaurga Mario padanya. Ia pun tersenyum, ia bahagia melihat wanita yang selalu ada di hatinya itu bahagia. Bukankah memang begitulah seharusnya “Cinta”, bahagia melihatnya bahagia, dan sedih jika melihat seseorang yang di cintainya itu sedih, walau tidak harus memiliki.