
“Emm… Wangi.” Inka menghampiri Sukma di dapur, yang sedang memasak rendang.
“Sudah matang ya, Suk?` Tanya Inka yang sudah berada berdiri di depan makanan favoritnya, yang masih ada di dalam kompor dan sedang mendidih.
“Sudah, Non. Dari semalam saya bikin khusus buat Non Inka.” Jawab Sukma.
“Terima kasih, Suk.” Inka memeluk Sukma dari samping.
Tiba-tiba Mario datang, lalu memisahkan pelukan Inka dan Sukma.
“Apa sih lo, Suk. Jangan peluk-peluk istri gue!” kesal Mario.
“Ya elah, Den. Lebay bener sih. Lagian Non Inka yang meluk saya.” Balas Sukma.
Mario membulatkan matanya, membuat Sukma tertunduk takut.
“Kak. Jangan gitu nanti Sukma nangis. Dia udah masakin makanan kesukaan aku loh.” Inka mengelus lengan suaminya yang sangat posesive itu.
“Maaf ya, Suk. Mario emang gitu.”
“Aku coba ya, Suk!” Ucap Inka lagi setelah mengambil perlengkapan makannya.
“Kak, ayo coba!” Inka menyodorkan makanan itu pada Mario yang masih berdiri di depannya.
Mario menggeleng.
“Den Mario ngga suka rendang, Non.”
“Yah, Cobain donk sayang. Ayo! Aaa…” Inka sudah tahu dari Laras tentang ini sebelumnya. Namun, ia tetap ingin membuat suaminya menyukai makanan itu.
“Nih aku makan.” Inka memasukkan potongan daging itu ke mulutnya.
“Hmm… Enak, Suk. Kamu pinter bikinnya. Hmm… Persis di rumah makan Padang.” Kata Inka lagi.
Inka masih tetap memaksa. Makanan itu sudah ada di depan mulutnya. Namun, Mario menutup mulutnya dengan telapk tangannya. Mario masih menggeleng.
“Ayo sayang, sekali aja coba. Ini daging, bukan seperti yang kamu makan sebelumnya.”
“Ngga, itu pahit.”
“Ini daging. Ayo coba dulu!” Inka tertawa melihat ekspresi lucu Mario.
Kemudian, Inka meraih dagu Mario, membuka mulutnya dan memasukkan makanan itu, lalu membekap mulutnya lagi.
“Di kunyah, ini enak. Enak banget.”
Mario mengunyah makanan yang berada di dalam mulutnya.
“Hmm.. ya bener, enak.” Mario mengunyah lagi, dan menelannya hingga habis.
Lalu, Mario mengambil lagi potongan daging itu dari tangan Inka.
Hap.
“Enak.. nyam.. nyam..” Mario tersenyum seperti anak kecil yang baru mencoba makanan enak.
“Wah lo harus sering-sering bikin ini, Suk. Enak rendang buatan lo, ga seperti yang dulu pernah gue makan.” Kata Mario lagi, pada Sukma.
Inka pun tersenyum melihat suaminya bersikap manis pada Sukma.
“Tante..” Inka memeluk dr. Mediana, setelah ia dan Mario masuk ke dalam ruangan dokter itu.
“Inka..” Mediana menerima pelukan Inka. Ia tahu kisah sahabat anaknya itu.
“Akhirnya, kita ketemu ya.” Ledek Mediana sambil tersenyum.
“Maaf ya tante, waktu itu..”
“Sudah tidak apa, malah tante yang minta maaf. Waktu itu sempat bertemu Mario dan..” Perkataan Inka langsung di potong Mediana, tapi Mediana pun tidak melanjutkan perkataannya, sambil melirik Mario.
“Ya sudah yang penting kalian sekarag sudah di sini bersaa-sama. Dan yang terpenting lagi, sudah ada yang hidup di sini.” Mediana mengelus perut rata Inka.
“Melly apa kabar. Tante?” Mario dengan sigap menggeser tempat duduk pasien, agar Inka bisa langsung duduk tanpa bersusah payah menariknya.
Inka tersenyum melihat hal kecil yang di lakukan suaminya. “Terima kasih.”
Mediana pun melihat senang pasangan suami istri ini. Aura bahagia keduanya sangat terlihat dan ikatan chemistry-nya pun begitu terasa.
“Baik, alhamdulillah. Oh ya berati kalian belum bertemu lagi ya?” Tanya Mediana, dan Inka langsung mengangguk.
“Baiklah, Ayo Inka kita periksa!” Ucap Mediana lagi.
Inka langsung berdiri dan menghampiri ranjang pasien yang di sediakan di sana. Ia mebaringkan dirinya, menerima arahan dari Mediana.
Mediana mengarahkan alat pada perut Inka, sementara ketiga pasang mata itu semua menatap layar monitor yang berada persis di atas kepala mereka. Mediana menggoyang-goyang alat yang sudah dilumuri jeli di perut Inka.
Mario tak henti-hentinya berkedip untuk melihat dengan jelas gambar yang ada pada monitor itu.
“Bulatan itu, janinnya dok?’ Tanya Mario antusias.
“Iya benar, bulatannya masih sangat kecil. Ini baru berusia delapan minggu.” Jawab Mediana.
Mario ingat betul, dua bulan yang lalu itu, saat ia menyekap Inka di hotel, tempat ia menginap untuk pertama kali menemukan istrinya kembali. Dengan cara licik ia menahan Inka hingga tiga hari berturut-turut melakukan penyatuan itu sesukanya.
Mario tersenyum, ternyata usaha tak menghianati hasil.
“Wah ini kantungnya dua.” Kata Mediana tersenyum.
“Maksudnya, Tan?’ Tanya Inka bingung. Tetapi tidak untuk Mario, ia tahu masksud Mediana.
“Anak kami kembar, Dok?’ Tanya Mario. Inka langsung menoleh ke arah suaminya.
Mediana mengangguk. “Benar sekali.”
“Selamat ya In, Mario. Kalian akan memiliki anak kembar.” Senyum Mediana sambil terus menunjukkan gambar itu.
“Nah, di sini kantungnya.” Inka dan Mario mengikuti arah tangan Mediana.
Mario terus mengulas senyum. “Tak sia-sia ia menumpahkan banyak cairan pada waktu itu.” Batinnya.
Selesai pertemuannya dengan Mediaana. Mario menggandeng Inka dan berjalan menuju kasir.
“Duduk saja disini, Sayang. Aku ke sana dulu.” Mario menunjuk letak kasir dan Inka mengangguk.
Di perjalanan, Mario terus memegang tangan Inka. Ia pun menciumi punggung tangan itu. Tepat di lampu merah, ia kembali mencium punggung tangan itu, sambil berkata, “terima kasih, Sayang. Karena sudah membuatku bahagia. Aku pun akan selalu membuatmu bahagia.”
Inka tersenyum dan mengangguk. “Aku percaya.”