
“Hira, panggil nenek.” Lirih suara Inka dengan penglihatan yang meremang.
Maher masih berdiri mematung, ia takut untuk menghampiri sang ibu, sementara Mahira berlari memanggil sang nenek yang berada di taman belakang.
“Nenek..” Hira berlari terengah-engah menghampiri Indah dengan tangan yang masih berlumuran tanah.
“Ada apa, sayang.”
“Mimi, Nek. Mimi.”
“Kenapa mimi?” Indah langsung mencuci tangannya. Ia panik melihat wajah cucunya itu pucat dan berkeringat.
“Mimi jatuh.”
Indah berlari, begitu pun pelayan yang sedang membantu Indah, yang sempat memberikan kursi pada Inka.
“Ya, Allah. Sayang.” Indah terkejut.
“Ibu.” Pelayan Inka yang juga panik dengan keadaan majikannya.
Indah berteriak, meminta bantuan pada satpam rumahnya. Ambar dan Tari yang masih bersih-bersih di lantai dua pun bergegas turun mendengar teriakan dari ibu majikannya. Inka segera di angkat, ketika kedua satpam itu sudah berada di sana.
“Sayang,” Indah menangis melihat kondisi putrinya dengan darah yang terus mengalir di kakinya.
“Bertahan, Sayang.” Ucap Indah sambil berjalan menuju mobil.
Maher dan Mahira menangis.
“Nenek, kami ikut.” Ucap Mahira.
“Tidak, sayang. Kalian tunggu di sini ya, di temani mba Ambar dan mba Tari.”
Maher menggeleng. Air matanya tak kunjung berhenti.
“Ikut, Nek.” Ucap Maher lirih dengan wajah iba.
“Baiklah, pesan taksi dan ikuti saya.” Perintah Indah pada Ambar dan Tari.
Di perjalanan Indah langsung menelepon Mario, yang kebetulan sedang dalam perjalanan bersama Dhani setelah pertemuan dengan satu orang klien.
Dret.. Dret.. Dret..
Ponsel Mario berdering.
“Mommy.” Gumam Mario, dan langsung menekan tombol hijau.
“Halo.”
“.......”
“Apa? Bagaimana bisa?’
“......’
Tut... Tut... Tut.. Telepon terputus.
“Ada apa pak?” Tanya Dhani dari tempat duduk depan.
“Ke rumah Sakit XY, Dhan. Cepat!”
“Iya, Pak.” Dhani panik melihat bos nya yang panik, walau ia tak tau apa yang sedang terjadi.
“Kurang cepat, Dhan.” Teriak Mario persis di telinga Dhani, karena dia duduk persis di belakang kursi mengemudi.
“Berhenti di pinggir!”
“Tapi, Pak.”
“Berhenti, Dhan!” lalu Dhani menepikan mobilnya.
“Keluar, biar gue yang bawa.” Keduanya bertukar posisi.
Mario duduk di bangku kemudi, sementara Dhani berada di sebelahnya.
“Pak, pelan pelan. Pak.” Dhani gemetar, ia terus memegang pegangan yang berada di atas kepalanya.
“Pak, Awas!” Teriak Dhani saat Mario mencoba menyalip di situasi yang sulit.
Mario menyetir seperti orang kesetanan.
“Pak, Ada apa?”
“Inka jatuh.” Jawab Mario datar, sambil tetap fokus menyetir dengan kecepatan yang sanagt tinggi.
Dhani langsung terdiam. Pantas saja bosnya seperti ini, apalagi ini menyangkut kabar yang tidak baik mengenai istrinya.
Ngiiik..
Bunyi rem mobil Mario yang berhenti mendadak persis di lobby rumah sakit itu. Mario berdiri di sana, dan melihat mobilnya yang baru saja tiba.
****
Indah baru memasuki mobil sang puteri yang di kemudi oelh satpamnya. Maher tiba-tiba tak mau terlepas dari sang ibu.
“Aku mau menemani, Mimi.” Ucapnya.
Indah masih tak mengerti dengan sikap Maher, padahal Mahira saat ini mau berada di taksi bersama Ambar dan Tari.
Kemudian Indah meraih ponselnya dan menelepon Mario.
“......”
“Mario, segera ke rumah sakit XY, Inka pendarahan.”
“......."
“Dia terjatuh."
Indah langsung memutuskan panggilan itu sepihak. Ia terus memegangi kepala putrinya.
Maher yang duduk di samping pengemudi, terus menoleh ke belakang, melihat sang ibu yang terbaring lemah.
“Nenek, Maher minta maaf. Ini semua karena aku.” Ucap Maher.
Indah langsung menoleh ke arah suara lelaki berusia hampir enam tahun itu.
“Maksudnya?”
“Mimi, sedang menaiki kursi di dapur dan Maher menyenggol kursi yang mimi naiki, sehingga mimi terjatuh.” Maher menangis.
“Maafkan Maher, Nenek.” Ia menangis sesegukan.
Indah hanya terdiam.
****
Mario melihat mobilnya berhenti persis di depannya. Ia berlari menghampiri dan membuka pintu belakang. Suster dan tenaga medis sudah menyiapkan tempat tidur darurat untuk membawa Inka.
Mario menggendong sang istri dengan tangan gemetar, pasalnya tangan kanan yang menggendong bagian kakinya langsung terkena darah yang mengalir.
“Sayang. Sadarlah.” Kata Mario yang terus berlari mengikuti dorongan tempat tidur itu.
Inka hanya menampilkan senyum.
“Tolong, jangan Marahi Maher! Jangan benci padanya. Aku yang salah. Maaf aku tidak bisa menjaga dia dengan baik.” Tangan kanan Inka mengelus perutnya, sementara tangan kirinya mengelus wajah sang suami.
“Sayang, bertahanlah. Semua akan baik-baik saja.” Ucap Amrio dengan hati yang tak tenang.
Tempat tidur itu berhenti setelah tiba di sebuah ruangan.
“Maaf, pak. Anda hanya bisa mengantarnya sampai di sini.” Ucap salah satu petugas medis di sana.
“Dok, selamatkan istri saya.” Mario menarik lengan pria paruh baya yang menggunakan jas putihnya.
“Apapun yang terjadi, selamatkan ibunya, Dok. Ibunya.” Kata Mario berulang-ulang.
“Saya akan lakukan yang terbaik, Pak Rio. Tenanglah dan memohonlah padaNya.” Ucap sang dokter, lalu menutup ruangan itu.
Mario menatap nanar pintu ruangan itu. Kakinya terus mondar mandir di depan pintu. Airmata itu pun terus mengalir di pipinya. Berkali-kali ia mengusap pipinya yang basah. Ia pun menatap Maher yang sedang duduk di sana, bersama Indah, Mahira, Ambar dan Tari. Kata-kata Inka masih saja menari di kepalanya, walau ia belum bertanya apa yang terjadi?
Indah menghampiri Mario.
“Yo.”
“Apa yang terjadi, Mom?”
Lalu Indah menceritakan kronologis ceritanya, sesuai yang di tuturkan Maher ketika di mobil tadi. Maher menatap wajah sang ayah dengan sendu. Begitu pun Mario yang menatap wajah sang putera.
Tiba-tiba tubuhnya melemah, ia tak menyangka kejadian hampir dua puluh delapan tahun silam itu terjadi lagi. Ia teringat, ketika Marisa, adik perempuan yang merupakan kembarannya itu tengah berada di ruangan seperti ini, mempertaruhkan diri antara hidup dan mati karena ulahnya. Ia pun sedih bercampur takut. Dan kini apa yang ia rasakan dulu, tengah di rasakan oleh puteranya, duduk menunggu di tengah rasa sedih dan takut itu di rasakan oleh bocah yang belum genap enam tahun. Mario menatap wajah Maher dari kejauhan. Kini ia merasakan bagaimana menjadi Laras dulu, sekaligus pernah menjadi Maher sekarang.
Maher berjalan mendekati sang ayah.
“Pipi..” Ia terus menangis.
“Maafkan aku, Pi.”
Namun, kini berbeda. Sesaat Mario menatap Maher lekat, ia teringat bahwa dirinya pernah seperti ini, pernah memohon maaf pada Laras dengan deraian air mata, tapi Laras tak menatapnya sama sekali. Hingga di rumah pun Laras tetap mendiamkannya sampai dengan satu tahun berlalu, ia baru mendapatkan pelukan lagi dari sang ibu.
“Mario..” Panggil Laras, membuyarkan lamunannya.
Maher langsung menoleh dan berlari ke arah Andreas.
“Opa..” Andreas menangkap anak kecil itu dan memeluknya.
“Mama..” Mario memeluk erat sang ibu.
“Mama tahu perasaanmu, Sayang. Mama tau.” Laras memeluk erat puteranya dengan deraian air mata.
Sebelumnya, Indah telah mengabarkan kejadian ini pada Laras dan Andreas. Indah pun menceritakan kronologisnya kepada orang tua Mario. Laras dan Andreas pun langsung datang ke rumah sakit ini. Perasaan Laras campur aduk, satu sisi ia memikirkan cucunya, satu sisi ia pun tau perasaan puteranya. Andreas tak-henti-henti mengelus punggung sang istri selama dalam perjalanan.
Ceklek..
Tiba-tiba pintu ruang gawat darurat itu terbuka.
Mario berlari menghampiri dokter dan perawat yang sudah berdiri di pintu itu, di ikuti Indah, Laras, dan Andreas.
“Bagaimana, Dok?” Tanya Mario dengan wajah yang berantakan.
Dokter itu terdiam.
“Mohon maaf pak, bayi anda tak dapat di selamatkan, karena plasenta sudah terlepas dari dinding rahim akibat jatuh dengan posisi tengkurap. Tidak ada oksigen di dalam, sehingga jantung melemah dan kami tak dapat menyelamatkannya.” Ucap dokter paruh baya itu dengan nada lirih.
Mario mengusap kasar wajahnya. Indah dan Laras menangis berpelukan.
“Lalu, istri saya? Istri saya baik-baik saja kan, Dok?”
Dokter itu mengangguk. “Istri anda baik-baik saja.”
Tak lama kemudian, suara salah satu suster yang berada di sana berteriak.
“Dok...”
Pria paruh baya berjas putih itu pun berlari ke dalam, di iringi Mario dan orang tuanya.
“Kenapa ini, Dok?” Mario panik lagi. Bulir-bulir keringat menempel di dahinya. ia melihat sang istri yang belum sadar.
“Dok, pasien masih pendarahan.” Kata salah satu suster di sana.
“Kita ambil tindakan lagi. Siapkan ruang operasi.”
“Ada apa, Dok?’ Mario mengguncangkan lengan sang dokter.
“Maaf, pak Rio. Saya mohon kesediaan anda untuk menandatangani operasi besar ini.”
“Maksudnya? Kata dokter tadi istri saya baik-baik saja.”
“Iya, tadi pendarahan sudah berhenti, tapi ternyata tindakan kami belum berarti.”
“Lalu?” Tanya Mario dengan wajah yang sedih bercampur kesal. Rasanya ia ingin mengobrak abrik ruangan ini.
“Maaf pak, benturan yang terjadi pada bu Inka begitu keras, pendarahan pun sangat parah, sehingga kami harus mengambil tindakan histerektomi atau pengangkatan rahim.”
Tubuh Mario langsung terhuyung. Ia memegang ujung tempat tidur untuk menetralisir tubuhnya yang lemah. Andreas memegang pundak sang putera.
“Apapun, Dok. Selamatkan istri saya. Selamatkan.”
“Tenang, Rio.” Ucap Andreas yang kian memeluk puteranya yang semakin tak bertenaga.
“Saya akan lakukan yang terbaik, Pak. Berdoalah!” Ucap sang dokter.
Tiga puluh menit, Mario dan keluarganya menunggu operasi itu. Ambar dan Tari membawa Maher dan Mahira ke kantin untuk makan dan berisitirahat.
Tatapan Mario masih kosong. Ruangan itu hening. Di antara Indah, Laras, Andreas dan Mario, tak ada satu pun yang mengeluarkan suara. Semua duduk dengan menyandarkan tubuhnya pada kursi ruang tunggu itu.
Tiba-tiba Mario berdiri dari duduknya.
“Mau kemana kamu?” Tanya Andreas.
“Ke musholla, Pa.”
Ketika duduk tadi, Mario mengerlingkan pandangannya, di sudut sana, tertera tulisan dan tanda “Musholla”.
Mario mengambil air wudhu dan bersujud. Setiap gerakan ia lakukan sambil meneteskan air mata. Pikirannya teringat, bagaimana Tuhan memberikan jalan untuk bertemu dengan wanita yang menjadi istrinya ini, ingat bagaimana mereka terpisah karena sebuah kesalahpahaman, ingat bagaimana ia pernah sangat bahagia. Semua membuatnya terisak dengan isakan yang terasa dalam, hingga di ujung gerakan ibadahnya. Ia masih menangis.
Selesai sholat, Mario menengadahkan tangannya. Ia ingin berdoa, memohon pada Sang pemilik kehidupan.
“Ya, Robb. Ampunkan aku, begitu banyak dosa yang kulakukan di masa lalu. Namun Engkau tak pernah kurang memberikan kebahagiaan padaku. Memang aku tak cukup baik untuk meminta. Tapi kepada siapa lagi aku meminta. Aku mohon, berikan kami waktu yang lama untuk selalu bersama. Jangan pisahkan kami, ya Allah. Sungguh aku tak bisa hidup tanpanya.” Mario mengusap wajahnya.
Kedua telapak tangannya masih menutup wajahnya yang deras dengan air mata.
Setelah lama ia berdoa dan menenangkan diri. Ia kembali ke ruang tunggu. Selang beberapa menit, pintu ruang operasi pun terbuka.
Semua keluarga yang sedang menunggu lengsung berdiri dan menghampiri dokter itu. Mario lebih dulu berlari.
“Bagaimana keadaan istri saya, Dok?”
“Alhamdulillah, operasi berjalan dengan lancar. Anda bisa menemui istri anda di ruang perawatan.”
Mario mengusap lagi wajahnya. “Terima kasih, ya Allah.”
Laras memeluk sang putera.
Di ruang perawatan, Mario menunggu Inka siuman. Ia pun meminta Indah, Laras, dan Andreas untuk istirahat sejenak di luar.
Mario selalu berada di samping istrinya, ia terus mengelus wajah Inka yang pucat. Tangannya terus menelusuri hidungnya yang mancung, bibirnya yang tebal, yang sering ia lum*t hingga bengkak. Lehernya yang sering ia gigit, dan rambutnya.
Mata Inka mengerjap. Lalu terbuka perlahan dan makin sempurna. Ia melihat Mario dengan mata yang sembab, rambut yang berantakan, serta hidung yang merah karena selalu menangis.
“Kak..”
Mario langsung memeluk tubuh itu, ia menangis sejadi-jadinya di tubuh yang menjadi candunya, sejak ia mengenal tubuh itu.
“Kenapa kamu selalu membuat jantungku tak karuan? Mengapa kamu selalu membuatku takut kehilangan? Mengapa mencintaimu seperti naik roller coaster?”
Inka tersenyum. “Masa sih?”
“Nyebelin.” Mario menarik ujung hidung Inka, hingga kepalanya ikut bergoyang.
Kemudian mereka tertawa. Lalu tawa mereka terhenti, karena wajah Inka yang mulai serius.
“Kak, jangan salahkan Maher! ini takdir. Lagi pula aku juga salah karena tidak hati-hati.” Ucap Inka, sambil mengelus wajah suaminya yang tepat di samping wajahnya.
Mario mengangguk. “Iya, ini takdir.”
“Apa aku sudah tidak bisa lagi punya anak?” Tanya Inka lirih.
Mario terdiam. Ia bingung bagaimana menjelaskan ini pada Inka.
“Kamu ingin memiliki anak yang banyak, tapi aku tidak bisa mewujudkannya. Maaf.” Tangis Inka pecah.
“Setiap orang punya keinginan, tapi tidak semua keinginan itu tercapai. Aku memang ingin memiliki anak yang banyak, tapi memilikimu, bersamamu adalah satu-satunya keinginanku yang paling besar.”
Inka memeluk suaminya. Mereka menangis bersama. Ia tak menyangka akan mendapatkan belahan jiwa dari sebuah pernikahan yang di dasari karena kesepakatan yang saling menguntungkan. Inka yang ingin keluar dari rumah dan membuktikan bahwa dirinya mampu sukses tanpa batuan sang ayah, sedangkan Mario yang tidak mau di jodohkan sang ayah. Namun takdir, menyatukan mereka dalam sebuah cinta yang tak bisa di pisahkan.
“Kita akan membesarkan Maher dan Mahira bersama-sama, dengan cinta dan kasih sayang yang penuh.” Ucap Mario.
Inka mengangguk, dengan air mata yang masih membasahi pipinya.
Ceklek..
Pintu ruang perawatan Inka terbuka.
“Mimi.. Maafkan Maher.” Bocah lelaki menghampiri kedua orang tuanya sambil sesegukan.
Sedangkan Mahira langsung duduk di pangkuan sang ayah.
“Pipi, Maafkan Maher.”
Mario mendekati Maher dan memeluknya dari samping. Mereka mendekati sang ibu yang masih terbaring lemah.
“Kami memaafkanmu, lain kali kamu harus hati-hati!” Kata Mario.
Maher mengangguk.
“Sudah tidak ada lagi dede bayi di sini?” Tanya Mahira.
“Dede bayinya sudah sama Tuhan, dia sedang mendoakan kita dari sana.” Mario menatap langit dari dalam ruangan itu, dengan jendela yang terbuka lebar.
“Jadilah anak yang baik, agar kita dapat bertemu adik di sana.” Ucap Mario lagi pada kedua anaknya sambil menatap langit bersama.
Inka tersenyum dan para orang tua di sana hanya melihat keluarga kecil sang anak dengan haru.
Mereka berempat berpelukan.
“Berempat, kita hebat.” Kata Inka, kemudian Mario menciumi anggota keluarga kecilnya itu satu persatu.
T A M A T