
Inka dan Mario mengantarkan Indah dan Karel ke Bandara Soekarno Hatta.
Tanpa terasa Karel dan Indah sudah berada di sini selama hampir tiga bulan. Beberapa kali Indah pun membawa Karel jalan-jalan, seperti ke Yogya dan Bandung. Mereka juga sempat mengunjungi kota lain yang mudah di jangkau. Karel sangat menyukai Borobudur. Mereka sudah seperti pasangan yang tengah honeymoon dan mengunjungi beberapa tempat wisata. Tentunya semua ini dengan akomodasi lengkap yang di siapkan oleh menantu Indah satu-satunya itu.
Inka memeluk Indah. "Lain waktu Kami yang akan datang ke Belanda, Ma. Inka juga kangen dengan Harris dan Bella."
Indah mengangguk.
"Kami tunggu, Sayang." Jawab Karel.
Mario pun memeluk Karel. Lalu bergantian, Inka memeluk Karel dan Mario memeluk Indah.
"Terima kasih ya, Ma. Maaf sudah merepotkan." Kata Mario saat memeluk ibu mertuanya.
"Mama yang terima kasih, karena kamu telah membuat putri mama bahagia." Jawab Indah, setelah melepas pelukannya dan tersenyum ke arah Inka.
"Selama ini mama tidak pernah bisa membahagiakan Inka." Kata Indah lagi.
"Ma.." Inka meneteskan air matanya. Mereka berpelukan lagi.
"Inka pasti akan sangat merindukan, Mama."
"Mama juga apalagi sama cucu-cucu mama ini." Indah mencubit gemas Maher dan Mahira yang ada di stroler bayi kembar.
Tak lama kemudian, Karel dan Indah memasuki tempat yang tak bisa lagi di antar. Mereka saling melambaikan tangan. Indah tak henti-hentinya menoleh ke belakang, padahal jarak mereka sudah sangat jauh. Berat rasanya meninggalkan anak, cucu, dan negara tempat kelahirannya ini. Namun, pilihan ini sudah ia putuskan sejak lima belas tahun yang lalu, ia harus menelan konsekuensi buruknya, karena mencari kebahagian diri sendiri.
Mario merangkul pundak Inka yang masih sesegukan.
"Sudahlah, nanti kalau Maher dan Mahira sudah bisa di bawa perjalanan jauh. Kita akan ke sana."
Inka memeluk erat Mario. Suaminya memang selalu tahu apa ia mau.
Kepala Inka mengangguk.
Kemudian, Mario menyetir mobilnya menuju kediaman Andreas. Kedua orang tuanya sudah sangat merindukan si kembar. Inka hanya membawa Sukma. Tari dan Ambar sedang bebas tugas, karena Inka meliburkan semua pekerja di rumahnya ketika hari Sabtu dan Minggu, karena ketika weekend pasti Mario akan mengajak keluarga kecilnya jalan-jalan. Bahkan Inka juga memberi uang mingguan untuk para pekerja di rumahnya agar memanjakan diri di waktu weekend mereka. Baik bukan?
Sukma akan di antar Mario menuju stasiun, karena ia izin untuk melihat pamannya yang sedang sakit. Ia juga lama tak pulang, ia pun sudah sangat merindukan kampung halamannya itu. Sukma tak mempunyai ayah dan ibu, di kampung ia hanya di asuh paman dan bibinya.
"Paman kamu sakit apa, Suk?" Tanya Inka yang masih berada di dalam mobil.
"Diabetes, Bu. Sepertinya sekarang malah makin parah."
"Bibi saya di kampung itu berjualan donat, dan paman saya setiap pagi memakan donat yang baru di buat bibi. Memang orang diabetes ngga boleh makan donat ya, Non?" ucap Sukma, di iringi sebuah tanya.
"Ya karena donat kan pakai gula bubuk, Suk. udah gitu terbuat dari tepung. semuanya mengandung gula." Jawab Mario, sambil menyetir.
"Orang diabetes boleh kok makan donat, tapi yang di makan tengahnya aja." Sambung Inka, yang membuat Mario menoleh lalu tergelak.
"Ternyata istriku bisa ngelawak." Mario kembali tergelak dan mencubit ujung hidung Inka.
"Lama-lama Non Inka sama gilanya kaya Den Mario." Batin Sukma.
Mario berhenti persis di lobby stasiun gambir. Inka membuka kaca mobilnya, memperhatikan Sukma yang tengah turun dan membawa barang bawaannya keluar. Inka juga membawakan Sukma banyak makanan khas Belanda yang di buat Indah kemarin.
"Suk, titip salam buat Ujang ngga?" Celetuk Mario yang menongolkan kepalanya dari pundak Inka.
"Ish.. apaan sih, Den." Sukma menunduk dengan rona wajah merahnya.
"Ih, dia malu." Ledek Mario.
"Udah sih, Kak. kamu seneng banget ledekin Sukma." Kata Inka sambip tersenyum juga.
"Hati-hati ya, Suk. Salam untuk keluargamu di sana." Inka berkata lagi, sambil melambaikan tangan.
Sukma pun langsung membalas lambaian tangan dari majikan kesayangannya itu.
Selang beberapa jam, akhirnya Mario dan Inka sampai di kediaman Andreas, setelah menurunkan Sukam di stasiun.
Laras menyambut heboh kedatangan anak, menantu, dan kedua cucunya. Ia langsung menggendong Mahira. Andreas pun tak mau kalah, ia langsung menggendong Maher.
Maid di rumah Andreas memang lebih banyak, karena kediaman ayah Mario itu sangat luas.
"Kalian menginap di sini, kan?" Tanya Laras pada Mario dan Inka.
Inka mengangguk. "Iya, Ma."
"Yeaayy.. opa ada temennya." Kata Andreas tersenyum lucu.
Mario tersenyum lebar melihat ekspresi ayahnya yang tak pernah seperti itu.
"Kamu sudah mulai ke butik, In?" Tanya Laras, ketika mereka sudah sama-sama duduk di ruang keluarga.
"Rencananya mau mulai besok, Ma. paling hanya sebentar saja untuk cek keadaan di sana." Jawab Inka dan di angguki Laras.
"Oke.. Nanti oma yang akan menjaga kalian." Kata Laras.
"Opa juga." Sambung Andreas.
Tingkah oma dan opa ini sungguh lucu, padahal mereka dulu tak seperti ini.
Kedua oma opa ini tak henti-hentinya tertawa melihat kedua cucunya yang lucu dan menggemaskan.
Ini dia Maher dan Mahira.