
Inka memasuki mobil Bianca. Mereka pulang kerja bersama, kebetulan arah rumah Bianca melewati rumah Raka.
Ciit.
Mobil bianca berhenti persis di depan rumah Raka. Inka memang ingin sekali ke rumah ayahnya untuk membawakan obat kolesterol yang kemarin ia berikan, dan ternyata cocok. Raka sudah terlihat lebih segar.
“Terima kasih ya, Bi.” Inka melambaikan tangannya setelah keluar dari mobil itu.
Bianca membuka jendela mobilnya dan menampilkan ibu jarinya ke atas.
“Hati-hati ya. Bi.” Inka berkata lagi, sebelum Bianca menginjak pedal gasnya.
Inka perlahan memasuki rumah Raka. Suasana rumah itu terlihat sepi. Ia melihat seseorang yang tengah berbaring lemah di tempat tidur kamar tamu. Pintu kamar itu tak tertutup, sehingga dengan mudah Inka melihat dan memasukinya.
“Adhis, kamu kenapa?’ Tanya Inka setelah ia menghampiri orang yang tengah berbaring itu.
“Eh, kak Inka. Kapan datang?” Adhis berusaha bangkit.
“Ngga usah bangun, tiduran aja kalau sedang tak enak badan.” Ujar Inka. Tiba-tiba tubuh Inka di peluk Adhis.
“Kak, maafin aku. Maafin sikap aku yang selalu buruk padamu.” Adhis menangis tersedu-sedu.
“Sudah, Dhis. Sudah aku maafkan sejak dulu.” Ungkapan Inka membuat Adhis semakin terisak.
“Ternyata, kita saudara Kak. Aku anak papa.” Inka mengangguk.
“Iya, kamu adalah adikku, walau kita berbeda ibu.”
“Kamu sakit apa? Lalu kemana yang lain? Papa, mama, Deandra?” Tanya Inka.
“Mama, Papa, dan Denadra sedang ke supermarket. Aku mungkin kelelahan, hanya sedikit pusing. Jadi ibu itu capek, kak.” Adhis merajuk.
“Ngga capek, Dhis. Kalau kamu melakukannya dengan senang hati.”
“Mungkin karena hatiku tidak senang ya, Kak.” Adhis menunduk.
Inka terdiam, karena ia tau persis apa yang di rasakan Adhis. Ia tahu bagaimana Vino memperlakukan Adhis.
“Mengapa kamu masih bertahan dengan pernikahanmu, Dhis?"
“Mau bagaimana lagi, kak. Vino telah mengambil 50% saham papa. Aku tidak bisa meninggalkan dia dan tidak rela, jika dia menikmati harta papa dengan wanita lain.”
Inka terkejut. “Maksudmu?’
“Vino meminta syarat itu, ketika ia mau menikahiku.” Jawab Adhis dengan lesu.
Inka langsung meraih pundak Adhis dan memeluknya. Tubuh Adhis terlihat sanagt kurus. Inka seperti hanya memeluk tulang.
“Aku buatkan makanan di dapur ya, Dhis, sambil menunggu papa dan mama datang.” Inka bergegas ke dapur, membuatkan makanan dan minuman untuk adiknya.
Di kantor, entah mengapa hati Mario begitu resah. Ia khawatir karena tak menemani istrinya ke rumah Raka. Ia juga takut terjadi sesuatu pada Inka. Tak lama kemudian, Mario meraih kunci mobilnya dan meninggalkan pekerjaannya begitu saja.
Di rumah Raka, Inka masih berada di dapur, di temani Bi Asih. Tiba-tiba terdengar suara gaduh di kamar tamu.
Prang..
“Bi, suara apa tuh?’ Inka panik, lalu ia dan Bi Asih berlari menghampiri suara gaduh itu.
“Apa yang kamu, lakukan Hah? Kamu ngadu apa ke Mario?” Vino memecahkan barang-barang di kamar itu, ia juga menarik rambut Adhis dan memukulnya.
“Aaaa...” Inka teriak, melihat apa yang terjadi di kamar itu.
Vino langsung menghentikan aksinya. Ia terkejut dengan kehadiran Inka. Vino langsung menghampiri Inka.
“Ini tidak seperti yang kamu lihat, In.” Vino bingung, karena perilaku kasarnya di lihat langsung oleh wanita yang ia cintai.
Melihat Vino yang lembut terhadap Inka, Adhis berlari ke arah Vino dan memukul lengan suaminya.
Vino menepis kasar tangannya hingga membuat Adhis terjatuh. Lalu Inka dengan sigap menolong adiknya.
“Mengapa kamu seperti ini Vino? Bukankah sejak awal, kamu sendiri yang sudah memilih Adhis.” Inka bingung dengan sikap Vino kepada Adhis sekarang.
“Dia licik, In. Aku salah memilihnya, aku menyesal. Aku sadar kalau aku lebih mencintaimu.” Vino meraih tangan Inka.
Adhis berdiri dan masih memukul dada Vino. “Aku benci kamu kak, aku benci.” Adhis kesal, karena di hadapannya, Vino masih saja mengutarakan cinta pada Inka.
Vino dan Adhis saling mendorong, lalu Inka berusaha melerai. Ketika Vino akan memukul Adhis, Inka hadir di antara mereka. Inka terpental karena pukulan Vino. Perutnya tepat membentur ujung meja rias yang berada di dalam kamar itu.
“Aww.. Ssh..” Inka merintih kesakitan, akibat benturan itu.
“Inka..” Vino menghampiri Inka.
“Sayang..” Sebelum Vino menghampiri Inka, teriakan Mario sudah terdengar.
Bugh..
Mario langsung meninju Vino yang sedang berusaha menolong Inka.
Mario langsung membopong istrinya dan segera keluar dari kamar itu.
“Kalau terjadi sesuatu dengan anak dan istri gue, lo semua yang akan tanggung jawab.” Mario menunjuk ke arah Vino dan Adhis. Lalu bergegas keluar, dan membawa Inka ke mobilnya.
Mario meletakkan Inka di kursi penumpang, dengan cepat ia berlari memutar untuk kembali ke posisi mengemudi. Inka masih meringis menahan sakit pada perutnya.
“Sayang, kamu kuat, sabar ya!” Inka mengangguk, Mario terus menggenggam tangannya.
Inka tersenyum melihat perhatian dan tanggung jawab yang besar dari Mario.
Mario selalu mengumpat, tatkala ia harus tertahan karena lampu merah. Ketika jalan sepi, ia langsung menerobos lampu merah itu.
Sesampainya di rumah sakit terdekat, Mario berteriak sambil membopong istrinya.
“Suster.. Dokter.. Tolong istri saya, cepaat!” Suara Mario yang menggelegar, membuat seluruh isi rumah sakit itu mendengar dan menghampirinya.
Semua tim medis di sana sibuk untuk menolong Inka.
Mario mondar mandir, menunggu pintu ruang periksa itu terbuka. Tubuhnya bergetar. Ia takut kehilangan orang yang di cintainya.
Ceklek..
Pria yang memakai jas putih itu membuka pintu.
Mario langsung menghampirinya. “Bagaimana istri saya, Dok?”
“Tenang, Pak. Istri anda baik-baik saja. Janinnya kuat. Istri anda hanya mengalami flek saja. Saya sudah menyuntikkan obat penguat dan penghilang rasa nyeri untuk istri anda.” Pria berjas putih itu menepuk pundak Mario.
“Silahkan masuk, Pak!” Ucap suster yang berada di samping dokter itu.
“Sayang..” Mario langsung menghampiri Inka, memeluk dan mengecup seluruh wajahnya.
“Aku takut, aku takut kehilangan bayi kita, aku takut kehilanganmu.” Ujar Mario yang sudah meneteskan airmata. Inka menangkup wajah mario dan menciumnya.
****
Vino kabur, ia pergi menenangkan diri di rumah orangtuanya. Rumah yang sudah lama tak berpenghuni.
Tok.. Tok.. Tok...
Beberapa orang mengetuk rumah iti, tapi vino enggan untuk membuka. Ia takut itu pihak berwajib yang akan menahannya, karena Mario sudah pasti tidak akan tinggal diam, setelah apa yang terjadi pada Inka tadi.
Pintu rumah itu terus saja di ketuk, dan dengan terpaksa pihak berwajib itu mendobrak pintu. Terlihat Vino yang hendak kabur. Para polisi itu dengan sigap menghalangi langkah Vino.
Vino di bawa ke kantor polisi dan di tahan sesuai laporan Mario.