Istriku Canduku

Istriku Canduku
The Dubai Mall 2


“Asslamualaikum, Mr. Jhonson.” Sapa seorang pria berusia hampir 35 tahunan lebih, dengan postur tubuh tinggi besar dan berjenggot tipis. Wajahnya syarat dengan ketimur tengahan.


“Walalikumsalam.” Jawab Mario dan langsung berdiri memeluk pria itu.


Pria itu adalah rekan kerja yang selama ini bekerja sama dengan Mario di sini. Ia juga yang telah mempersiapkan akomodasi untuk kenyamanan Mario dan keluarganya.


“Kebetulan sekali kita bertemu di sini.” Kata Pria asli Dubai itu, yang juga mahir berbahasa Indonesia.


“Iya, anda juga di sini?” Tanya Mario yang tengah menyantap makan siang yang sudah agak menjelang sore itu, bersama keluarganya di restoran yang terletak di dalam mall, setelah lelah berjalan dan berbelanja.


“Ya, bersama kedua anak saya.” Jawab Pria itu dengan menoleh kedua putrinya yang sedang ia pegang tangannya di sisi kanan dan kiri.


“Sayang, ini Mr. Husein partner kerjaku di sini.” Mario memperkenalkan pengusaha Dubai itu pada istrinya.


Mata Sukma tak lepas memandangi pria yang berdiri persis di depan majikannya itu.


Inka berdiri di iringi Sukma yang mengikutinya.


“Mr. Husein, ini istri saya Inka, dan asisten istri saya Sukma.” Mario memperkenalkan kedua wanita yang tengah bersamanya.


Inka dan Sukma mengantup kedua telapak tangannya di dada, begitupun dengan Husein.


“Wah ini anak-anak anda cantik dan tampan.” Ucap Husein sambil setengah berjongkok menyapa Maher dan Mahira yang duduk di kids chair.


“Anak anda juga cantik-cantik.” Balas Mario dengan mengelus pipi kedua anak Husein di sampingnya yang berusia 8 tahun dan 4 tahun.


“Mari kita makan bersama!” Ajak Mario pada Husein.


Husein pun tak menolak, ia langsung menggeser kursi untuk kedua putrinya yang cantik dan untuknya.


Inka menyenggol lengan Sukma, yang sedari tadi menatap Husein tak berkedip, dan sesekali Husein pun membalas tatapan Sukma.


“Suk, jaga pandangan!” Ucap Inka berbisik.


“Abis, ganteng banget sih, Non. Kenapa sih temen-temennya Den Mario ganteng-ganteng? tapi udah pada punya anak semua.”


Inka tertawa. ‘Ya karena memang usia mereka sudah usia matang, Suk. Dan katanya ketampanan dan kesuksesan pria lebih tampak setelah menikah.”


“Ooo begitu.” Jawab Sukma mengakhiri percakapan bisik-bisik mereka.


Mario lebih sering berbincang dengan Husein, keduanya tampak serius dan ada saja bahan untuk di bicarakan. Inka hanya ikut nimbrung sesekali ketika perbincangan mereka seputar aktivitas sehari-hari di rumah, atau seputar pekerjaan Inka yang di tanya oleh Husein.


“Kamu mau ini?” Tanya Sukma pada anak bungsu Husein yang tidak bisa meraih makanan yang ia inginkan.


Sukma yang memang menyukai anak kecil, tidak begitu sulit mendekati kedua putri Husein. Sukma mengajak Kedua putri Husein dan si kembar yang kembali duduk di stroler dua tempat menjadi satu.


“Asisten istrimu tadi, siapa namanya?” Tanya Husein pada Mario, yang tak di dengar Inka, karena ia tengah sibuk membalas pesan dari Sari di ponselnya.


“Sukma.” Jawab Mario.


“Ooo.. kelihatannya dia sangat menyayangi anak-anak.”


“Hmm.. besok anda akan berkunjung kemana lagi?” tanya Huesin lagi.


“Masih belum tau.”


“Bagaimana kalau kita ke pantai. Kebetulan saya akan membawa anak-anak ke sana juga.”


“Jumeirah Beach?” tanya Mario.


Husein menagngguk. “Betul.”


“Boleh juga.”


“Saya akan menjemput anda di hotel nanti.” Kata Husein lagi, dan langsung di angguki Mario.


Husein adalah seorang single parent. Sudah hampir empat tahun ia di tinggal istrinya yang meninggal pasca melahirkan putri keduanya, akibat pendarahan hebat.


Husein menghampiri Sukma yang tengah bermain bersama anak-anaknya. Mereka tengah menikmati akuarium besar di sana. Sukma dengan antusias memberi tahu nama-nama ikan yang ada di sana. Walau bahasan Sukma tak begitu di mengerti kedua putri Husein, tapi ekspresi tubuh Sukma membuat mereka mengerti.


“Eh, maaf.” Tangan Sukma di tarik kembali, saat menggandeng pundak putri sulung Husein, tapi ternyata tangan Husein sudah ada di pundak putrinya itu lebih dulu.


“Tidak apa.” Balas Husein di iringi senyum cerah di wajahnya.


“Ya ampun, ngga tahan gue liat senyumnya.” Batin Sukma, yang kemudian mengetuk-ngetuk kepalanya. Pasalnya ia tengah membayangkan adegan seperti Inka dan Mario yang suka bermesraan di rumahnya. Ia membayangkan dirinya bermesraan dengan Husein di rumah mewahnya yag entah bayangan rumah siapa itu.


“Kamu kenapa?" Tanya Husein.


“Oh, Ah, ngga apa-apa.” Sukma menggeleng dengan wajah meronanya, membuat Husein pun ikut tersenyum lebar.


Lalu Husein mereka berdua berbincang ringan. Husein bertanya pada Sukma tentang asal usulnya, dan di jawab panjang lebar oleh Sukma. Husein hanya tersenyum sambil tetap menyimak setiap perkataan Sukma.


“Kak, kelihatannya Mr. Husein punya gelagat aneh ke Sukma. Apa itu perasaan aku aja ya?” Tanya Inka, sambil memegang lengan Mario yang tengah menyantol di pundaknya.


Mario mengangguk. “Sepertinya sih begitu.”


Sukma berkulit sawo matang dan bersih. Tubuhnya pun sekal, walau tidak terlalu tinggi. Wajahnya manis dengan alis yang lumayan tebal, hidungnya kecil dan sedikit mancung, di sertai bibirnya yang imut. Ketika tertawa, gigi gingsulnya di sebelah kanan akan terlihat dan semakin menambah rona manis di wajahnya.


“Ya udah comblangin kak.” Kata Inka lagi.


“Aku, jadi mak comblang? Ada-ada aja kamu.” Mario mencubit ujung hidung Inka.


“Iiihh.. emang kenapa? Kalau cocok, kamu punya istana di surga loh.”


“Emang iya?”


“Katanya sih gitu.”


“Wah Sukma bakalan jadi istri konglomerat Dubai nih.” Kata Inka sambil senyam senyum sendiri.