Istriku Canduku

Istriku Canduku
Novel anak Mario dan David - Bab 2


Bab 2 - Menggoda


Satu bulan kemudian, Quinza sampai di Jakarta. Keesokan harinya, ia langsung mulai bekerja. Sebelum sampai di sini, sang ibu menangis saat mengantarnya ke Bandara, David pun mengecup kening sang puteri melepas kepergiannya ke kota negara asal sang istri. Di Jakarta, Quinza memang tidak sendiri, ada dua pamannya di sana yaitu Matt adik dari sang ayah dan Ardi adik dari sang ibu. Keduanya sudah memiliki keluarga dan tinggal di tengah kota. Tapi Quinza memilih tinggal di apartemen dengan alasan tidak ingin menrepotkan paman dan bibinya. Padahal baik Matt dan Ardi tidak mempermasalahkan hal itu, bahkan istri-istri mereka pun senang jika Quinza tinggal di rumah salah satu di antara mereka.


Di Jakarta, Quinza bekerja sebagai design interior di perusahaan keluarga Abel. Ia sangat menikmati pekerjaan itu. Perusahaan Abel rekanan dengan perusahaan Adam yang bergerak dibidang properti. Adam membangun rumah atau apartemen dan keluarga Abel sebagai desaign isi rumah atau apartemen itu sehingga terlihat nyaman dan elegan.


“Quin, nanti sore temenin Kak Aron ketemu mister Jhonson ya,” ucap Abel saat wanita itu membuka ruangan Quinza dan duduk di depan mejanya.


Quinza tak menjawab dan hanya menatap sahabatnya sembari berpangku tangan.


“Aku mau pulang siang ini, ada yang belum aku dan Revan beli buat seserahan nanti. Terus besok aku udah mulai cuti ya, Quin. Mau pedicure, manicure,” sambung Abel yang beberapa bulan lagi akan menikah dengan kekasihnya.


Quinza tersenyum dan mengangguk. “Iya. Aku juga mau pedicure, manicure.”


“Ah, kamu mah ga usah. Kulit kamu udah bagus gitu. Ngga pedicure, manicure, cowok udah pada nempel. Ga usah lah.”


Quinza tertawa. “Tapi sampai sekarang malah aku yang belum punya pacar.”


“Itu karena kamu pemilih.”


Quinza kembali tertawa. Ya, ia akui bahwa dirinya memang pemilih dalam urusan itu.


Sore pun tiba. Quinza bersiap untuk berangkat bersama Aron, kakak Abel yang sejak lama menaruh hati padanya. Aron sangat mencintai Quinza. Pria lembut dan berperasaan itu sagat senang ketika Quinza akan bekerja di perusahaan milik ayahnya dan menetap di sini. Tapi sayang, Quinza hanya menganggap pria itu sebagai kakak. Ia tidak bisa menyayangi Aron lebih dari itu.


Aron dan Quinza sampai di sebuah hotel milik keluarga Jhonson. Hotel bintang lima yang sangat dikenal di kota ini hingga ke mancanegara. Hotel yang berada di pusat kota dan pernah menjadi tempat tinggal sementara para petinggi negara Asia Pasifik yang bertujuan membangun kerja sama ekonomi.


Adam sudah berada di restoran itu lebih dulu. Arah matanya menangkap sosok Quinza yang berjalan anggun dan cantik. Sontak, Adam menepis pandangan itu. Quinza memang sangat cantik. Setiap kali berjalan, arah mata pria yang dilewatinya pasti akan melirik ke arahnya.


“Hai, Mister Jhonson. Apa kabar?” tanya Aron sembari mengulurkan tangan pada Adam.


Adam pun berdiri dan menyambut uluran tangan itu. “Hai. I’m Fine.”


“Saya membawa desaign interior terbaik dari London. Namanya Quinza.”


Quinza langsung mengulurkan tangannya pada Adam. Namun, Adam tidak melakukan hal yang sama. Pria itu hanya mengangguk sembari berseru, “oh.”


“Ish, sombong sekali dia. Dia benar-benar pura-pura tidak mengenalku. Lihat saja, aku akan menaklukkanmu Mister Jhonson,” ucap Quinza dalam hati sembari menatap tajam ke arah Adam yang sedang tidak menatapnya.


Sesampainya di apartemen, Quinza melempar tasnya sembarang. Ia masih kesal dengan sikap Adam tadi terhadapnya. Apa salahnya sih bersikap baik padanya? Toh ia juga kerabatnya bukan? Karena dari kecil mereka memang seperti keluarga mengingat persahabatan kedua orang tua mereka yang sangat dekat.


“Benar-benar sombong.” Quinza masih kesal dan mengomel sendiri.


Ia langsung merubuhkan tubuhnya ke sofa, lalu menyalakan televisi agar merasa tidak sendiri. Kemudian, Quinza bangkit dan berjalan ke dapur. Ia mengambil air minum dingin dan membawa kembali ke ruang televisi.


Quinza meneguk satu, dua gelas air mineral dingin yang ia tuangkan dari botol besar.


“Uhuhk … Uhuk .. Uhuk …” Quinza sedikit batuk saat melihat acara televisi yang menampilkan kelaurga kecil Adam.


Adam memang terkenal di kota ini. Ia dikenal sebagai pengusaha muda yang berprestasi. Bukan hanya berprestasi, Adam juga sering mengeluarkan uangnya untuk bantuan pada bencana alam yang beberapa kali terjadi di negeri ini. Hal itu yang membuatnya sering tersorot. Tampan, kaya, dan berhati malaikat. Walau auranya tampak dingin dan menyeramkan, tapi Adam adalah pria penyayang keluarga.


“Sh*t.” Quinza kesal dengan sajian televisi yang akhir-akhir ini sering menampilkan Adam dan keluarganya yang sangat harmonis.


“Lihat saja. Aku akan memilikimu, Maher Adam Jhonson.”


****


Hari ini adalah hari bahagia Abel dan Devan. Mereka merayakan pernikahan di hotel bintang lima, tapi bukan hotel milik keluarga Jhonson. Semua tampak siap. Keluarga Abel pun sudah di dandani, begitu juga Friska dan Quinza sebagai sahabat mempelai wanita.


“Sumpah, kamu cantik banget, Bel.” Quinza menatap sahabatnya dari balik cermin.


“Kamu juga cantik, Quin. Malah seperti mempelai wanita juga,” ledek Abel.


“Ya, gue rasa juga gitu,” sahut Friska menatap Quinza dari atas sampai kaki. “Sumpah, Quin. Kalau gue cowok. Gue juga pasti bakal suka sama lu.”


“Dih, apaan sih?” jawab Quinza geli sembari tertawa. “Ga ada rasanya kalau apem sama apem.”


“Emang lu tau kue apem kaya apa?” tanya Friska pada Quin.


Lalu, Quinza menggeleng. “Ngga. Eh, tapi waktu kecil, aku pernah liat.”


“Uuuh …” sorak Friska dan Abel sembari mentoyor kepala Quinza.


Friska meminta Abel untuk bangkit dan hendak keluar dari kamar itu.


“Eh, beneran. Aku pernah liat kue apem kok,” jawab Quinza berlari menyusul kedua sahabatnya. “Tunggu! Kok aku ditinggal sih.”


Quinza mendampingi Abel dengan berjalan memegangi mempelai itu, sementara Friska memegang gaun belakang Abel agar wanita itu mudah untuk berjalan.


Acara ijab qobul sudah dilaksanakan sejak pagi, sore ini saatnya digelar resepsi. Resepsi yang megah nan mewah tampak jelas di ruangan ini.


Panitia weeding menyusun mengatur posisi mempelai yang akan keluar bersama keluarganya menuju pelaminan. Di paling depan, Abel sudah menggandeng lengan suaminya. Persis di belakang Abel ada kedua orang tua Abel dan kedua orang tua suaminya. di belakang mereka ada Aron, kakak Abel yang di temani Quinza karena qanita itu datang tanpa pasangan. Sedangkan Friska berdiri di belakangnya bergandengan dengan sang kekasih.


“Kamu cantik sekali, Quin,” ucap Aron yang terus memuji Quinza sejak wanita itu datang.


“Ini pujian kak Aron yang ke sepuluh kali.”


Sontak, Aron pun tertawa. Lalu pria itu memasang tangannya untuk digandeng Quinza. Quinza pun tersenyum dan memasukkan lengannya pada lengan Aron.


Diantara para tamu, Adam dan satu orang temannya berada di sana. Adam menghadiri pesta pernikahan ini untuk menghormati ayah Abel sebagai rekan kerja yang bekerja sama hampir delapan tahun.


Adam menatap Quinza yang berjalan bersama Aron dengan penuh tawa dan tangan yang menggandeng pria itu. Quinza terlihat sangat cantik. Adam mengakuinya, bahkan diantara para tamu yang hadir, Quinza adalah wanita tercantik saat ini. Namun, Adam memalingkan wajahnya saat Quinza tertawa dengan Aron.


“Lu kenal cewek itu, Dam?” tanya Vincent, teman sekaligus satu\=satunya sahabat yang Adam miliki. Walau Vincent sedikit konyol dan sering tidak serius, tapi pria itu bisa membuat Adam nyaman untk berteman.


“Ngga,” jawab Adam singkat.


“Oh, kirain lu kenal. Kalau kenal, gue minta dikenalin,” sahut Vincent. “Cantik banget, Bro. dia cewek paling cantik yang pernah gue liat.”


“Halah, semua cewek yang di dandanin pasti lu bilang cantik. Basi.” Adam berjalan melewati Vincent untuk berdiri ke sisi yang lain.


Vincent pun mengikuti Adam.


“Eh, beneran. Dia emang cantik banget. Cantik banget, Dam.”


Lagi-lagi Vincent mengajak Adam untuk melihat ke arah Quinza. Adam pun dengan terpaksa menatap kembali Quinza yang saat ini berdiri di pelaminan bersama kedua mempelai untuk mengucapkan selamat.


Tak lama kemudian, Vincent juga mengajak Adam untuk bersalaman pada kedua mempelai dan orang tuanya.


Quinza yang semula berdiri di atas pelaminan pun turun, karena di sana Abel sudah siap bersalaman dengan para tamu. Arah mata Quinza lurus ke depan dan melihat Adam tengah menatapnya. Gaun yang Quinza kenakan benar-benar membuat mata para pria membulat. Pasalnya belahan dada pada gaun itu cukup panjang dan memperlihatkan sedikit bagian kenyal, bulat, dan putih itu. Bahkan halus pada kulit itu pun sudah terasa.


Penampilan Quinza mirip seperti seorang jal*ng menurut Adam. Ia tidak menyukai wanita liar dan bin*l seperti itu.


Sembari menuruni anak tangga, Quinza tersenyum manis pada Adam saat melewati pria itu yang hendak bersalaman dengan kedua mempelai juga. Quinza sengaja menampilkan senyum yang menggoda agar terlihat semakin cantik di depan pria sombong itu. Namun, Adam tidak membalas senyum itu. Ia justru mengarahkan pandangannya ke arah lain.


“Dam, Cewek itu senyum ke arah kita loh,” ucap Vincent sembari menyenggol lengan Adam.


“Ya, terus kenapa?” tanya Adam ketus.


“Berarti lu kenal dong?” Vincent balik bertanya.


“Kenalin ke gue, Dam. Please!” kata Vincent berbisik.


“Ngga, gue ga kenal. udah berapa kali gue bilang. Kalau mau kenalan, ya kenalan sendiri lah,” jawab Adam tegas.


Adam menyalami ayah Abel dan mereka berpelukan. Setelah bersalaman dengan kedua mempelai dan rekan bisnisnya, Adam turun menuju makanan yang tersedia. Di sana ia kembali bertemu Quinza dan Adam segera menjauh dari wanita itu. Ia tidak ingin berlama-lama berada di dekat Quinza, karena aura wanita itu mampu mengalihkan hati dan pikirannya.


Sejak dulu Quinza memang sering menggodanya. Sebagai pria normal, Adam pun tergoda. Bahkan sudah tergoda. Tapi untung saja tidak terjadi apa-apa pada Quinza sehingga Adam dapat melanjutkan rencana hidupnya. Quinza bukanlah tipe wanita yang Adam inginkan untuk menjadi teman hidup. Gaya Quinza yang bebas membuat Adam tidak menginginkan anak-anaknya lahir dari wanita itu. Padahal Quinza tidak seburuk yang Adam lihat.