
Bab 1 – Pria sombong
“Quin, katanya kamu mau ke Jakarta?” tanya Inka.
“Iya, Mi. kebetulan teman kuliah Quin juga tinggal di sana dan mengajak Quin kerja di perusahaannya.”
“Mengapa tidak bekerja di perusahaan Adam. Mimi bisa bilang sama Adam.”
“Tidak usah, Mi. Quin sudah mengiyakan bekerja di perusahaan teman Quin.”
“Yah, sayang sekali,” ujar Inka lirih.
Sari datang dan bergabung bersama putri juga sahabat sekaligus mantan bosnya. “Dia tuh kekeh banget pengen ke jakarta, Miss. Katanya pengen suasana baru.”
“Karena Friska dan Abel juga di sana, Ma,” jawab Quinza dengan menyebut kedua sahabatnya.
“Ya, ya.” Sari mengangguk. keinginan sang putri memang sudah kuat.
“Memang Papanya ngizinin, Sar? Bukannya Kak David tuh protec banget ya sama Quin,” sahut Inka.
“Ya, mau gimana lagi? Anaknya kekeh. Padahal Papanya juga khawatir dia sendirian di Jakarta.”
“Ngga sendirian Mama, kan ada Uncle Matt dan Aunty Nina,” ucap Quinza. “Lagi pula, Quin sudah besar, Ma.”
“Ya … Ya.” Sari kembali mengangguk, sedangkan Inka hanya tertawa.
“Ya, begitulah anak sekarang, Sar,” ucap Inka pada Sari.
Sari pun mengangguk. “Pokoknya, Mama dan Papa percaya padamu. Kamu harus bisa jaga diri di sana. Oke!”
Quinza menghampiri ibunya dan mengecup pipi sang ibu. “Iya, Mamaku sayang.”
Quinza Osborne adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Namun, ia satu-satunya putri di keluarga Osborne, karena sang kakak dan sang adik berjenis kelamin laki-laki. Quinza perpaduan darah Jawa dari sang ibu yang bernama Sari dan darah asli Inggris dari sang Ayah yang bernama David Osbornr terlahir di London berasal dari keluarga kaya di negaranya.
Quinza lahir di negara sang ibu dan besar di London, karena sang ayah memboyong seluruh keluarganya saat ia berusia sepuluh tahun. Kini, Quinza tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik dan bertubuh indah. Perpaduan Jawa Inggris membuatnya memiliki paras yang sangat cantik dan kulit putih sehalus kapas tanpa bintik-bintik seperti orang Eropa asli pada umumnya. Tak ada yang tidak menyukai Quinza. Setiap kaum Adam akan berlutut di hadapannya, terkecuali pria yang bernama Maher Adam Jhonson. Pria yang lahir dari keluarga Jhonson, lebih tepatnya Mario Jhonson dan Inka Permatasari. Kedua orang tua Adam panggilan Maher adalah sahabat baik orang tua Quinza. Sejak kecil mereka sering libur bersama baik saat Quinza dan keluarga masih tinggal di Jakarta hingga berada di London.
Malam ini, keluarga Jhonson tengah bertandang ke keluarga Osborne. Kebetulan Mario sedang berlibur bersama menantu dan cucunya ke London. Maher Adam membawa istri dan putrnya yang baru berusia lima tahun.
Quinza beranjak dari kursinya. Sofa yang ia duduki di isi oleh para orang tua. Inka dan Mario terus memuji kencantikan putri Osborne itu. Mereka juga memberi banyak wejangan pada Quinza untuk berhati-hati karena diluaran sana banyak para lelaki hidung belang yang menginginkan wanita seperti Quinza.
Quinza menggeleng dan melangkah menuju tempat minum untuk mengambilnya. Ia berpapasan dengan Adam panggilan putra Mario yang bernama lengkap Maher Adam Jhonson.
“Hai, Kak Adam,” sapa Quinza,
“Hm.” Pria itu langsung melewati Quinza dan hanya menjawab dengan berdehem saja.
Entah apa kesalahan Quinza dulu. Yang ia ingat, sejak kecil Adam memang tidak menyukainya karena ia cengeng dan sering menggerocoki apa yang pria itu kerjakan saatbertemu. Bahkan Adam sempat marah besar ketika hasil lukisan prakarya sekolahnya hancur karena Quinza, saat itu Quinza masih berusia delapan tahun. Dan kala itu, Mario dan David masih tinggal di Jakarta. Hingga saat ini Adam masih saja bersikap dingin pada Quinza, padahal wanita itu mengaguminya sejak kecil. Tapi kekaguman itu sirna saat Adam mempersunting Bintang.
Jika bersama Bintang, sikap Adam berbanding terbalik. Pria dingin dan sangar itu, tiba-tiba lembut dan bucin di hadapan istrinya. Dan, hal itu membuat Quinza sangat cemburu, seperti saat ini.
“Cih. Norak,” gumam Quinza melirik ke arah pasangan suami istri itu.
Adam selalu menempel pada istri tercintanya. Sejak lahir, Bintang memiliki kelainan jantung. Ia tak memiliki serambi kiri di jantungnya. Hal itu membuatnya lemah. Sejak menganal Bintang, sebenarnya keluarga Jhonson kurang setuju, karena mereka khawatir dampak kelainan jantung itu akan menurunkan ke keturunan mereka nantinya. Tapi untunglah, Ethan lahir dalam keadaan normal. Gen Adam yang memiliki jantung sehat lebih dominan.
Lalu, Adam menatap lurus ke depan, ke arah Quinza yang masih berdiri di meja minuman tadi. Ia akui, Quinza memang cantik, sangat cantik hingga melebihi istrinya. Tetapi untuk Adam, Bintang tetaplah yang tercantik, karena di dalam diri Bintang ada kelembutan dan jiwa keibuan yang Adam sukai. Berbeda dengan Quinza yang manja dan seenaknya. David memang sangat memanjakan sang putri, mengingat Quinza adalah putri satu-satunya di keluarganya, membuat Quinza tumbuh menjadi wanita manja dan selalu memiliki apa yang ia inginkan, karena David tidak pernah tidak memberi apa yang ia inginkan sejak kecil. Dan di situlah salahnya.
****
Satu bulan kemudian, Quinza sampai di Jakarta. Keesokan harinya, ia langsung mulai bekerja. Sebelum sampai di sini, sang ibu menangis saat mengantarnya ke Bandara, David pun mengecup kening sang puteri melepas kepergiannya ke kota negara asal sang istri. Di Jakarta, Quinza memang tidak sendiri, ada dua pamannya di sana yaitu Matt adik dari sang ayah dan Ardi adik dari sang ibu. Keduanya sudah memiliki keluarga dan tinggal di tengah kota. Tapi Quinza memilih tinggal di apartemen dengan alasan tidak ingin menrepotkan paman dan bibinya. Padahal baik Matt dan Ardi tidak mempermasalahkan hal itu, bahkan istri-istri mereka pun senang jika Quinza tinggal di rumah salah satu di antara mereka.
Di Jakarta, Quinza bekerja sebagai design interior di perusahaan keluarga Abel. Ia sangat menikmati pekerjaan itu. Perusahaan Abel rekanan dengan perusahaan Adam yag bergerak dibidang properti. Adam membangun rumah atau apartemen dan keluarga Abel sebagai desaign isi rumah atau apartemen itu sehingga terlihat nyaman dan elegan.
“Quin, nanti sore temenn Kak Aron ketemu mister Jhonson ya,” ucap Abel saat wanita itu membuka ruangan Quinza dan duduk di depan mejanya.
Quinza tak menjawab dan hanya menatap sahabatnya sembari berpangku tangan.
“Aku mau pulang siang ini, ada yang belum aku dan Revan beli buat seserahan nanti. Terus besok aku udah mulai cuti ya, Quin. Mau pedicure, manicure,” sambung Abel yang beberapa bulan lagi akan menikah dengan kekasihnya.
Quinza tersenyum dan mengangguk. “Iya. Aku juga mau pedicure, manicure.”
“Ah, kamu mah ga usah. Kulit kamu udah bagus gitu. Ngga pedicure, manicure, cowok udah pada nempel. Ga usah lah.”
Quinza tertawa. “Tapi sampai sekarang malah aku yang belum punya pacar.”
“Itu karena kamu pemilih.”
Quinza kembali tertawa. Ya, ia akui bahwa dirinya memang pemilih dalam urusan itu.
Sore pun tiba. Quinza bersiap untuk berangkat bersama Aron, kakak Abel yang sejak lama menaruh hati padanya. Aron sangat mencintai Quinza. Pria lembut dan berperasaan itu sagat senang ketika Quinza akan bekerja di perusahaan milik ayahnya dan menetap di sini. Tapi sayang, Quinza hanya menganggap pria itu sebagai kakak. Ia tidak bisa menyayangi Aron lebih dari itu.
Aron dan Quinza sampai di sebuah hotel milik keluarga Jhonson. Hotel bintang lima yang sangat dikenal di kota ini hingga ke mancangara. Hotel yang berada di pusat kota dan pernah menjadi tempat tinggal sementara para petinggi negara Asia Pasifik yang bertujuan membangun kerja sama ekonomi.
Adam sudah berada di restoran itu lebih dulu. Arah matanya menangkap sosok Quinza yang berjalan anggun dan cantik. Sontak, Adam menepis pandangan itu. Quinza memang sangat cantik. Setiap kali berjalan, arah mata pria yang dilewatinya pasti akan melirik ke arahnya.
“Hai, Mister Jhonson. Apa kabar?” tanya Aron sembari mengulurkan tangan pada Adam.
Adam pun berdiri dan menyambut uluran tangan itu. “Hai. I’m Fine.”
“Saya membawa desaign interior terbaik dari London. Namanya Quinza.”
Quinza langsung mengulurkan tangannya pada Adam. Namun, Adam tidak melakukan hal yang sama. Pria itu hanya mengangguk sembari berseru, “oh.”
“Ish, sombong sekali dia. Dia benar-benar pura-pura tidak mengenalku. Lihat saja, aku akan menaklukkanmu Mister Jhonson,” ucap Quinza dalam hati sembari menatap tajam ke arah Adam yang sedang tidak menatapnya.