
Weekend kali ini, Mario dan Inka hanya menikmatinya di apartemen. Inka sedang tidak ingin keluar rumah, begitupun dengan Mario. Di tambah telepon dari Dhani yang mengingatkan beberapa pekerjaan yang mengharuskan Mario untuk mengambil keputusan.
Selesai sholat maghrib berjamaah, Inka kembali ke ruang TV untuk melanjutkan drama korea yang berjudul 'Legend Of The Blue Sea'. Tak lama kemudian, Mario pun keluar kamar.
"Sayang, aku ke ruang kerja dulu, ya." Mario melewati Inka yang tengah duduk di sofa ruang TV sambil mengusap kepalanya.
Inka mengangguk.
Hampir satu jam, Mario berada di ruang kerjanya. Lalu, ia mendengar suara tangisan di luar ruangannya.
"Inka.." Mario langsing teringat istrinya yang ada di sana. Karena di apartemen itu hanya ada mereka berdua. Jadi, sudah pasti suara yang menangis itu adalah suara Inka.
Mario bergegas keluar dari ruang kerjanya, menuju tempat di mana istrinya berada tadi.
Mario mendapati Inka yang tengah menangis tersedu-sedu, isakan tangisnya begitu menyayat hati.
"Kamu kenapa, Sayang?" Tanya Mario panik.
Mario langsung memeluk tubuh yang sekarang semakin sekal.
Inka belum bersuara, hanya isakan tangisnya yang terdengar.
"Hei, kamu kenapa? Jangan bikin aku khawatir!" Mario menangkup wajah Inka untuk melihatnya.
Mario melihat ke arah TV yang masih menyala, juga terlihat di sana aktor Lee Min Ho itu sedang menangis.
"Ya ampun, kamu menangis karena drama ini?" Mario menunjuk pada TV itu.
Inka mengangguk.
"Ya ampun, Sayang. Aku panik sampai berlari dari sana hanya karena ini.." Mario menepuk jidatnya.
"Aku kangen papa, Kak." Ucap Inka.
Inka tengah menonton drama korea itu, di bagian ketika Heo Joon Jae terlambat menyelamatkan sang ayah. Akhirnya, mendapati ayahnya sudah meninggal dunia. Sang ayah di racuni oleh istri keduanya sendiri, yang merupakan ibu sambungnya dan sang ayah juga selalu mementingkan ibu sambung dengan anak tirinya itu. Kisah Heo Joon Jae mengingatkan akan kisah dirinya dengan sang ayah.
"Aku mau ketemu papa." Ucap Inka lagi.
"Aku kan selalu mengajakmu untuk bertemu papa Raka. Tapi kamu sendiri yang menolak." Jawab Mario.
Inka mengangguk. "Sekarang aku mau ketemu papa."
"Ya sudah, besok kita ke rumah papa."
"Beneran? Bisa?" Inka menghentikan tangisannya seketika. Mario mudah sekali mewujudkan semua keinginannya.
"Iya beneran. Memang kenapa ngga bisa? Besok masih hari minggu kan?"
Inka mengangguk. "Iya."
"Jadi sekarang udah ngga nangis lagi kan?" Inka menggeleng.
****
"Assalamualaikum." Ucap Mario dan Inka, ketika sampai di depan pintu rumah Raka.
"Papa ada, Bi?" Tanya Inka yang masih berdiri di pintu.
"Ada, Non. Ayo masuk! Mari, Den." Ajak Bi Asih pada Inka dan Mario.
"Ada siapa, Bi?" Tanya Desi yang keluar dari kamarnya.
"Eh, ada Inka." Ujar Desi yang melihat Inka biasa saja.
Inka dan Mario langsung menghampiri Desi dan mencium punggung tangannya. Karena biar bagaimanapun, Desi tetap orang yang lebih tua. Walau Inka tak menganggapnya seorang ibu sungguhan.
"Papamu ada di dalam." Jawab Desi.
"Papa sakit, Ma?" Tanya Inka yang mulai panik. Untungnya, Mario tetap menggandeng tangan Inka, dan memberi isyarat dengan menggengam erat telapak tangan Inka, agar istrinya tidak dan bersikap biasa saja.
"Papa.." Inka memeluk Raka yang sedang berbaring di tempat tidurnya.
"Inka, anak papa sudah kembali." Raka memaksakan diri untuk setengah bangkit.
Mario dengan sigap menahan punggung ayah mertuanya.
"Papa sakit?" Tanya Inka lirih.
Raka mengangguk. "Hanya pusing karena kolesterol papa naik."
"Papa kangen kamu, In." Raka langsung memeluk putri sulungnya itu. Inka pun membalas pelukan itu dengan erat.
"Maafkan papa, Nak." Kata Raka lirih.
"Maafkan Inka juga, Pa." Jawab Inka.
Raka menangis, membuat Inka pun demikian.
Raka melepas pelukan itu, setelah lama meluapkan rindu. Lalu, Raka meraih tangan Mario.
"Terima kasih, karena kamu berhasil untuk memilih dan mengambil keputusan yang tepat." ucap Raka.
Mario menggengam punggung tangan Raka uang masih menggengam tangannya.
"Iya, Pa. Karena Mario memang sangat mencintai Inka."
"Terima kasih, Nak. Papa bisa melihat putri papa ini sekarang bahagia." ucap Raka lagi dengan senyum.
Senyum yang sudah jarang sekali terlihat di wajahnya. Kini senyum itu hadir. Bahkan, untuk Mario pun ini adalah kali pertama melihat ayah mertuanya itu tersenyum lebar.
"Rio janji akan selalu membahagiakan putri papa. Jangan khawatir, Pa." Kata-kata Mario membuat Raka semakin mengulas senyum.
Berbeda dengan kedua wanita yang beda usia, tengah berdiri di pintu kamar, menyaksikan adegan haru itu. Namun, bagi mereka itu bukanlah keharuan, melainkan keirian yang terpancar dari wajah keduanya. Desi iri melihat Inka yang di cintai suaminya. Apalagi suami anak tirinya itu lebih kaya dan lebih tampan di bandingkan suami putrinya. Sedangkan Adhis menatap iri Inka sekaligus miris pada nasibnya sendiri.
Mario pun mengangkap sinyal aneh dari kedua wanita itu.
"Sayang, kamu harus hati-hati dengan ibu dan adik tirimu." Ucap Mario di telinga Inka.
Inka pun mengangguk.